Rabithah Alawiyah

25 Catatan Tentang Leluhur Nabi Muhammad ﷺ

الصورة

Berikut ini beberapa catatan tentang leluhur Nabi ﷺ yang bersumber dari kitab-kitab Sirah dan kitab Is’adur Rafiq.

  1. Nasab Nabi

Nasab Beliau ﷺ dari pihak ayah adalah Sayidina Muhammad ﷺ bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka`ab bin Luaiy bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`add bin Adnan yang adalah keturunan dari Nabi Ismail alaihissalam putra Nabi Ibrahim alaihissalam.

Nasab Beliau ﷺ dari pihak ibu adalah Sayidina Muhammad ﷺ bin Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Nasab dari Kilab sama dengan nasab Beliau ﷺ sebelumnya.

  1. Abdullah Ayah Nabi Dzabih Tsani (orang kedua yang disembelih)

Ibnu Atsir mengatakan nama Kunyah Abdullah adalah Abu Qutsam (Qutsam merupakan salah satu nama Nabi ﷺ yang artinya dermawan) ada pula pendapat yang mengatakan Abu Muhammad dan Abu Ahmad.

Abdullah wafat saat Nabi ﷺ masih dalam kandungan. Beliau dijuluki dengan Adz-Dzabih (yang disembelih) sebab Abdul Muthalib (kakek Nabi ﷺ) pernah bersumpah akan mengorbankan satu anaknya jika dianugrahi sepuluh anak lelaki. Setelah ia memiliki sepuluh anak, terpilihlah Sayyid Abdullah melalui undian untuk disembelih,  namun karena desakan para tokoh Quraish yang khawatir ini akan menjadi adat yang buruk, Abdul Muthalib mengurungkan niatnya dan diminta untuk menggantinya dengan 100 ekor unta. Oleh sebab itu Nabi ﷺ pernah mengatakan dalam sebagian riwayat:

أَنا ‌ابْن ‌الذبيحين

Aku adalah putra dari dua orang yang ‘disembelih’. (HR Hakim) Yakni Nabi Ismail alaihissalam dan Abdullah.

Abdullah merupakan pemuda yang sangat tampan dan bersifat ksatria. Banyak wanita yang tertarik dengan ketampanannya.

  1. Abdul Muthalib Muth’imus Sama (Pemberi Makan Langit)

Nama asli Abdul Muthalib adalah Syaibatul Hamd (uban pujian) sebab ketika lahir terdapat rambut putih dikepalanya. Nama kunyahnya Abul Harits. Dijuluki Abdul (budak) Muthalib sebab pamannya yang bernama Muthalib saat membawa pulang beliau ke Mekah, memboncengnya dalam kondisi sangat tidak terawat. Setiap kali ada yang bertanya mengenainya, Muthalib  menjawab: ‘Budakku’ karena malu mengatakan ‘keponakanku.’ Setelah diurus dengan baik barulah beliau diperkenalkan sebagai keponakan. Oleh sebab itu beliau dinamakan Abdul Muthalib.

Beliau merupakan tokoh Quraish yang menjadi rujukan ketika kaumnya tertimpa kesusahan. Beliau terkenal mustajab doanya, dan mengharamkan minuman keras bagi dirinya. Beliau adalah orang pertama yang beribadah menyendiri di gua Hira. Beliau kadang membawa hidangan ke atas puncak gunung untuk burung dan hewan buas. Sehingga beliau dijuluki juga dengan Al-Fayyadh (Yang Dermawan), dan Muth’imus Sama (pemberi makan langit). Beliau hidup selama 140 tahun.

  1. Hasyim (Peremuk)

Nama asli Hasyim adalah Amr diambil dari kata Umr yang bermakna umur (masa hidup). Dinamakan Hasyim (Peremuk) karena saat terjadi kekeringan, beliau meremukkan roti ke dalam bubur daging dan membagikannya kepada kaumnya. Beliau juga melakukan itu untuk menjamu orang-orang Arab yang berhaji ke Makkah.

Beliau merupakan tokoh yang paling dibanggakan kaumnya dan paling tinggi kedudukannya. Beliau tidak pernah berhenti menghidangkan makanan baik dalam kondisi mudah maupun susah. Cahaya Nabi ﷺ nampak jelas di wajahnya sehingga tiada seorang pun yang memandangnya kecuali akan mencium tangannya, tidak pula ia melewati sesuatupun kecuali sesuatu itu akan tunduk untuknya. Tokoh-tokoh Arab berlomba-lomba menawarkan putri mereka padanya, bahkan dikisahkan bahwa raja Romawi pun pernah mengirim utusan padanya untuk menawarkan putrinya.

Saat Hasyim menuju Syam beliau singgah di Yatsrib/Madinah beliau menikah dengan Salma binti Amr dari Bani Najar. Beliau pergi untuk berdagang saat istrinya mengandung Abdul Muthalib, dan wafat di Guzzah (Palestina). Beliau wafat pada usia 25 atau 26 tahun.

  1. Abdu Manaf Sang Rembulan Tanah Bat`ha

Abdu Manaf memiliki nama asli Mughirah (yang menyerang) dengan harapan ia dapat tumbuh besar dan menyerang musuhnya. Beliau dijuluki dengan Abdul Manaf sebab ayahnya melihat beliau menyerupai Abdul Manaf bin Kinanah. Manaf sendiri artinya adalah ketinggian dan kemuliaan. Beliau juga dijuluki Qomarul Bat`ha, rembulan tanah Bat`ha karena ketampanannya. Beliau menampakkan cahaya Nabi ﷺ, di tangannya beliau memegang panji Nizar dan busur Nabi Ismail alaihissalam. Beliau telah menjadi pemimpin Quraish saat ayahnya masih hidup.

Az-Zubair pernah menemukan satu tulisan yang diukir di sebuah batu yang berisi: “Akulah Mughirah bin Qushai, aku memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah dan bersilaturahim.”

  1. Qushai Al-Mujammi’ (Sang Penyatu)

Qushai artinya jauh, dijuluki demikian karena beliau tumbuh jauh dari keluarganya di Suku Qudha’ah. Beliau dibawa oleh ibunya Fatimah binti Saad ke sana. Nama asli beliau adalah Zaid. Beliau menyatukan suku Quraisy yang tercerai berai oleh sebab itu beliau dijuluki Mujammi’ (Sang Penyatu).

Beliau juga mengumpulkan kaumnya di pada Hari Jum’at untuk memberi nasihat pada mereka dan memerintahkan mereka mengagungkan tanah haram, serta mengabaran mereka akan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mengurus hijabah, siqoyah, rifadah, darun nadwah. Beliau berwajah tampan, tegas, dan berpengetahuan luas.

  1. Kilab

Nama asli Kilab adalah Hakim. Beliau dinamakan Kilab (anjing-anjing) sebab menyukai anjing-anjing pemburu dan mengumpulkannya. Beliau yang menamai bulan-bulan Arab yang berlaku sampai sekarang.

8.Murrah

Murrah adalah seorang yang terpandang dan ditaati keluarganya. Beliau yang menjadi pewaris kepemimpinan keturunan Adnan setelah ayahnya. Beliau memiliki tiga anak yaitu Yaqdzon (oleh sebab itu Murah dinamai Abu Yaqdzon), Kilab, dan Taim. Taim merupakan leluhur dari sahabat Abubakar As-Shidhiq dan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhum.

  1. Kaab

Ka’ab bin Luaiy adalah pembicara ulung. Beliau yang pertama kali mengumpulkan orang di Hari Arubah/Jumat untuk menyampaikan khutbah, mengingatkan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ yang berasal dari keturunannya dan memerintahkan mereka untuk mengikutinya dan beriman padanya. Beliau juga yang pertama kali menggunakan kata ‘Amma Bakdu’ menurut sebagian ulama.

  1. Luaiy

Luaiy bin Ghalib. Luaiy maknanya adalah banteng atau sapi jantan. Beliau bersifat santun dan selalu berkata bijak sejak kecil. Beliau adalah pemimpin yang dihormati dan ditaati oleh kaumnya. Beliau memiliki nama Kunyah Abu Ka’ab, dan memiliki tujuh putra.

  1. Ghalib

Beliau adalah yang paling unggul di antara putra-putra ayahnya dan yang paling nampak kemuliaannya. Beliau mendapatkan wasiat agung saat ayahnya hendak wafat, di antaranya: “Sedikit yang ada padamu itu lebih mencukupimu dari banyak yang menghinakan wajahmu, walaupun setelah itu ia menjadi milikmu.” Beliau menjadi pewaris kepemimpinan ayahnya..

  1. Fihir

Fihir bin Malik dinamakan juga dengan Quraisy. Kepadanya semua suku Quraish bernasab.. Fihir dinamakan Quraisy (Qorrosya artinya mencari nafkah) sebab beliau selalu meneliti kebutuhan orang-orang yang membutuhkan lantas memenuhi dari hartanya. Anak anaknya juga memenuhi kebutuhan orang-orang yang datang di musim haji oleh sebab itu mereka dinamakan Quraisy. Ada pula yang mengatakan Quraisy adalah nama Hewan laut yang besar (hiu).

Fihir menyatukan kabilah Arab untuk melawan pasukan Hassan bin Kalal, pemimpin Yaman yang bersama kaum Himyar hendak merampas batu-batu kakbah untuk dipindah ke Yaman agar haji dialihkan ke sana. Pasukan Fihir mengalahkan mereka dan menawan Hassan bin Kallal selama tiga tahun, sampai akhirnya dibebaskan dengan tebusan. Oleh sebab itu Arab menyegani Fihir.

  1. Malik

Malik dinamakan demikian karena beliau bagaikan Malik (raja) di Arab. Nama Kunyahnya adalah Abul Harts.

  1. An-Nadhr

Nama asli an Nadhr adalah Qais, beliau dinamakan An-Nadhr (bercahaya) sebab wajahnya bercahaya dari Nur Nabi Muhammad ﷺ. Ada yang mengatakan beliau yang pertama dijuluki Quraish. Ulama berbeda pendapat siapa yang dinamakan Quraish dalam lima pendapat: Qushai, Fihir, An-Nadhr, Ilyas, dan Mudhar.

  1. Kinanah

Kinanah (tersembuyi) dinamakan demikian karena beliau menjaga rahasia-rahasia kaumnya. Beliau adalah seorang tokoh yang diagungkan. Orang Arab mendatanginya karena ilmu dan kemuliaannya, beliau pernah berkata: “Telah tiba waktu munculnya Nabi dari Mekah yang dipanggil Ahmad. Ia berdakwah kepada Allah ta’la dan perbuatan baik, ihsan dan akhlak akhlak terpuji. Ikuti dia maka kalian akan bertambah mulia dan jaya di atas kejayaan kalian. Jangan kalian dustakan kebenaran yang ia bawa.”

  1. Khuzaimah

Khuzaimah adalah tashghir dari Khazmah yang artinya mengumpulkan dan mengikat erat. Beliau dinamakan demikian sebab terkumpulkan di dalamnya cahaya Baginda Nabi ﷺ yang berasal dar leluhurnya. Beliau wafat dalam agama Nabi Ibrahim alaihissalam.

  1. Mudrikah

Mudrikah artinya yang menggapai. Sebab beliau menggapai segala kemuliaan dan kebanggaan yang telah dicapai oleh leluhurnya karena sebab Nur Nabi ﷺ. Cahaya itu nampak jelas di padanya. Adapun nama asli beliau menurut jumhur ulama adalah Amr ada pula yang berpendapat namanya ‘Amir.

  1. Ilyas

Ilyas dinamakan demikian sebab ia lahir ketika ayahnya sudah sangat tua dan putus asa dari mendapatkan anak maka dinamakan Ilyas (putus asa).  Beliau yang pertama kali menqorbankan unta untuk Baitul Haram, orang pertama yang menemukan Maqam Ibrahim  semenjak Ka’bah terendam dari zaman Nabi Nuh As, lalu beliau menempatkan Maqam Ibrahim di pojok Kakbah.

Beliau adalah tokoh terpandang dalam kaumnya dan pemipin keluarganya. Tidak ada urusan yang diputuskan tanpa beliau. Telah beredar kabar yang luas bahwa dari sulbi Ilyas terdengar suara Talbiyah Nabi ﷺ dalam haji. Datang dalam hadits, “Jangan kalian mencela Ilyas sebab beliau adalah orang beriman. Beliau bagi Arab seperti Luqman al Hakim bagi kaumnya.”

Orang Arab selalu mengagungkannya karena ketampanannya yang istimewa.

  1. Mudhar

Mudhar diambil dari kata Madhar yaitu mengaduk. Beliau mengaduk hati dan membuat tertarik kepadanya sebab ketampanannya. Tidak ada yang melihat beliau kecuali jatuh cinta kepadanya sebab nampaknya Cahaya Nabi ﷺ padanya. Beliau memiliki suara yang indah dan orang pertama yang mendendangkan lagu (huda) ketika mengendarai unta. Beliau memiliki suara yang sangat indah. Dikatakan bahwa ketia muda ia jatuh dari untarnya, lalu ia berteriak maka unta-unta berkumpul mendekatinya karena mendengar suara beliau yang indah.

Di antara nasihat beliau,

  • Siapa yang menanam keburukan akan memetik penyesalan.
  • Kebaikan terbaik adalah yang disegerakan.
  • Paksalah nafsumu untuk melakukan yang tidak ia sukai, dan palingkan nafsumu dari yang ia sukai.
  1. Nizar

Nizar diambil dari kata Nazr artinya sedikit. Saat beliau dilahirkan, ayahnya melihat cahaya Nabi ﷺ di antara kedua matanya maka beliau sangat senang,  lantas menyembelih unta dan memberi makan dan berkata: “Semua yang aku keluarkan ini adalah sedikit jika dibandingkan dengan keagungan anak yang dilahirkan ini.” Oleh sebab itu beliau dinamakan Nizar. Beliau adalah orang yang paling tampan dan berakal di zamannya.

  1. Ma’add

Ma’ad (Bersiap) dinamakan demikian karena beliau sering berperang melawan Bani Israel. Beliau selalu memenangkan peperangan karena sebab keberkahan cahaya kenabian ﷺ yang nampak di dahinya.

Ketika Nebukadnazer menaklukan Arab. Allah memerintahkan Nabi Armiya alaihissalam untuk membawa Ma’add bersamanya di atas Buraq agar tidak tertimpa bencana dan befirman: “Sungguh aku akan mengeluarkan dari sulbinya seorang nabi yang mulia, yang aku tutup dengannya para rasul.” Armiya alaihissalam melakukannya dan membawanya ke Syam, maka beliau tumbuh bersama Bani Israel kemudian kembali ke Arab setelah fitnah mereda.

  1. Adnan

Adnan (menetap) dinamakan demikian karena Allah menetapkan para malaikat untuk menjaganya.  Mata para jin selalu mencari celah untuk membunuhnya. Mereka berkata, “Jika kita biarkan anak ini sampai dewasa, maka dari sulbinya akan muncul seorang yang menjadi pemimpin manusia.” Maka Allah mengutus para malaikat untuk menjaganya.

Adnan adalah orang pertama yang menutupi Ka’bah atau di zamannyalah ka’bah ditutupi kain. Diriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas beliau berkata: “Adnan, Ma’ad, Rabi’ah, Mudhar, Khuzaimah dan Asad berada pada agama Ibrahim. Jangan kalian sebut mereka kecuali dengan kebaikan.”

  1. Leluhur Di Atas Adnan

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu mengatakan, bahwa Nabi ﷺ apabila menyebut nasab sampai Ma’add bin Adnan maka beliau berhenti dan berkata:

‌كَذَبَ ‌النَّسَّابُونَ

Para ahli nasab (yang menyebutkan nasab di atas Adnan) telah keliru.

Lalu beliau membacakan ayat:

‌وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا

Dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. (QS Al-Furqon : 38)

Para ulama mengatakan bahwa semua sepakat bahwa Adnan adalah keturunan Nabi Ismail alaihissalam, akan tetapi banyak perbedaan pedapat tentang generasi  antara Adnan dan Nabi Ismail alaihissalam. ٍ Sebagian ulama menyebut nasab Nabi ﷺ sampai ke Nabi Adam alaihissalam, namun tidak ada kata sepakat tentang nama-nama di atas Adnan.

  1. Semua Jalur Leluhur Nabi Terbebas Dari Perzinahan

Semua jalur dari leluhur Nabi ﷺ adalah orang-orang yang mulia dan bernasab suci tanpa tercampur perzinahan baik dari jalur ayah mau pun ibu. Dikatakan bahwa Hisyam bin Muhammad Al-Kalbi meriwayatkan ucapan ayahnya, “Aku meneliti lima ratus wanita yang menjadi leluhur Nabi . Dan aku tidak mendapatkan di dalamnya perzinahan, tidak pula hal-hal yang menjadi adat kaum jahiliyah.”

Nabi ﷺ bersabda:

إنَّمَا خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ لَمْ أُخْرَجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ ، لَمْ يُصِبْنِي سِفَاحُ الْجَاهِلِيَّةِ

Aku hanya dilahirkan dari hasil pernikahan. Aku tidak dilahirkan dari perzinahan sejak masa Adam. Aku tidak ternoda dengan perzinahan kaum Jahiliyah. (HR Ibnu Abi Syaibah)

25 Semua Leluhur Nabi Adalah Manusia Terbaik Di Masanya

Allah ﷻ senantiasa memindahkan Nabi ﷺ dari sulbi-sulbi terbaik menuju rahim-rahim yang suci dan disucikan. Tidak ada nasab yang bercabang kecuali Nabi ﷺ berada pada yang terbaik di antara keduanya. Nabi ﷺ bersabda:

لم يلتق أبواي قطُّ على سفاح؛ لم يزل الله ينقلني من الأصلاب الطيبة إلى الأرحام الطاهرة، مصفى مهذبًا، حتى لا تتشعب شعبتان إلا كنت في خيرهما”

Kedua orang tuaku (leluhur) tidak pernah sama sekali bertemu dalam perzinahan. Allah senantiasa memindahkanku dari sulbi-sulbi yang baik menuju rahim-rahim yang suci yang dibersihkan dan disucikan. Sehingga tidaklah bercabang dua cabang keturunan kecuali aku berada dalam yang terbaik dari keduanya. (HR Abu Nuaim). RA(*)