Rabithah Alawiyah

ADAB MENGUNDANG DAN MENERIMA UNDANGAN

Keterangan foto tidak tersedia.

Nabi Ibrahim alaihissalam merupakan nabi yang menjadi teladan dalam mengundang tamu. Apabila ingin makan, beliau keluar mencari tamu untuk diundang makan bersama. Terkadang sampai satu atau dua mil beliau berjalan untuk mengajak makan bersama, oleh sebab itu beliau dijuluki Aba Dhifan (Ayah para tamu).

Adanya tamu yang berkunjung ke rumah merupakan satu berkah yang patut disyukuri. Justru kita harus waspada jika tidak ada tamu yang mengunjungi rumah. Sahabat Anas radhiyallahu anhu pernah berkata,

كل بيت لا يدخله ضيف لا تدخله الملائكة

“Semua rumah yang tidak dimasuki tamu maka tidak dimasuki malaikat.”

Adab mengundang tamu

Jika kita hendak mengadakan penjamuan, undanglah orang-orang yang bertakwa hindari mengundang orang yang fasik. Nabi ﷺ bersabda:

وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

Hendaknya tidak memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa. (HR Ahmad)

Menyajikan makanan kepada orang shalih termasuk bentuk bantuan untuk ketaatan. Sebaliknya, menyajikan makanan bagi orang fasik sama dengan menguatkannya untuk berbuat fasik.

Hindari pula mengundang orang yang diketahui tidak dapat hadir kecuali dengan sudah payah. Juga orang-orang yang dapat membuat tamu-tamu lain terganggu.

Disunahkah untuk sengaja mengundang orang-orang miskin. Jangan mengkhususkan undangan bagi orang kaya saja. Dikatakan bahwa seburuk-buruk makanan adalah makanan undangan yang dikhususkan bagi orang kaya tidak untuk fakir miskin.

Jangan lupa memasukan kerabat dalam daftar undangan. Mengabaikan mereka dapat menyebabkan permusuhan dan terputusnya tali silaturahim. Aturlah pula undangan untuk para sahabat, jangan mengkhususkan  undangan bagi sebagian saja karena dapat merusak ikatan persahabatan.

Hal terpenting yang tak boleh dilupakan adalah niat. Jangan mengundang tamu dengan niat mendapatkan pujian atas  jamuan atau untuk berbangga diri. Niatkan untuk mempererat persaudaraan dan menjalankan sunah Nabi ﷺ. Termasuk sunah adalah memberi makan dan menggembirakan hati orang-orang mukmin.

Menjawab Undangan

Menghadiri undangan termasuk sunah yang sangat ditekankan, bahkan dikatakan wajib dalam beberapa keadaan. Nabi ﷺ bersabda:

لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ

Andai aku diundang walau untuk jamuan kaki kambing pasti aku akan menghadirinya. Dan andai aku diberi hadiah walau pun hanya kaki kambing aku pasti menerimanya. (HR Bukhari)

Ada beberapa sunah yang perlu diperhatikan dalam menghadiri undangan, diantaranya adalah :

  1. Jangan mengkhususkan hadir pada undangan orang kaya dan menolak undangan orang miskin. Itu adalah bentuk takabur (kesombongan) yang dilarang dan bertentangan dengan sunah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menghadiri undangan walau pun yang mengundang adalah budak atau orang miskin.

Sayidina Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma pernah berkendara melewati kaum miskin yang sedang makan. Beliau pun mengucap salam kepada mereka. Setelah menjawab salam, mereka mengundang beliau ikut makan, “Mari makan bersama kami wahai putra dari putri Rasulullah ﷺ.”

Sayidina Hasan berkata, “Baiklah, sungguh Allah tidak menyukai orang sombong.” Beliau turun dari kendaraan dan duduk makan bersama mereka di atas tanah. Setelah tuntas, beliau berpamitan, menaiki kendaraannya dan berkata, “Aku telah menerima undangan kalian, sekarang terimalah undanganku.”

Mereka pun menyetujuinya. Beliau menentukan waktu undangan. Ketika mereka datang, beliau menyajikan makanan istimewa dan duduk makan bersama mereka.

Apabila ia merasa yakin bahwa orang yang mengundangnya tidak ikhlas dalam mengundang. Berat hati mengeluarkan biaya untuk makanan. Ia melakukan penjamuan semata untuk berbangga diri, maka bukan termasuk sunah menjawab undangannya. Lebih baik ia beralasan untuk tidak hadir. Sebagian arifin pernah berkata, “Jangan kau hadir kecuali undangan orang yang yakin bahwa engkau hanya memakan rizkimu sendiri. Dia meyakini dirinya hanya diserahi titipan (makanan) untukmu dan merasa berutang budi karena engkau menerima titipan itu.”

Begitulah pula Rasulullah ﷺ selalu menghadiri undangan karena beliau mengetahui bahwa tuan rumah menganggap kedatangan beliau ﷺ sebagai kemuliaan dan simpanan kebaikan baginya di dunia dan di akhirat.

Orang yang mengundang dengan ikhlas tanpa ada maksud tertentu tidak pantas untuk ditolak undangannya. Abu Turab an Nakhasyi ra pernah berkata, “Aku pernah ditawarkan makanan namun aku menolak. Kemudian aku diuji dengan kelaparan selama empat hari. Aku pun sadar bahwa itu adalah hukumannya.”

  1. Hendaknya ia tidak menjadikan jauhnya tempat undangan sebagai alasan untuk tidak hadir. Selama jarak itu masih bisa ditempuh maka tidak baik menolak undangan. Dikatakan dalam sebagian kitab terdahulu, “Jalanlah satu mil untuk menengok yang sakit. Jalanlah dua mil untuk mengiringi jenazah. Jalanlah tiga mil untuk mengadiri undangan. Dan jalanlah empat mil untuk mengunjungi saudara karena Allah.”
  2. Tidak menjadikan puasa sunah sebagai alasan menolak undangan. Tetaplah hadir, bahkan jika memakan jamuan dapat membuat saudaranya merasa senang, disunahkan untuk membatalkan puasa dengan niat menggembirakan hati saudara. Puasa berpahala dan menyenangkan hati saudara termasuk ke dalam akhlak terpuji yang pahalanya di atas pahala puasa.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada orang yang menolak undangan dengan alasan puasa:

دَعَاكُمْ أَخُوْكُمْ وَتَكَلَّفَ لَكُمْ وَتَقُوْلُ إِنِّي صَائِم أَفْطِرْ وَصُمْ يَوْماً مَكَانَهُ إِنْ شَئْتَ

Saudara kalian telah mengundang dan bersusah payah untuk kalian namun engkau berkata, “Aku puasa.” Batalkanlah puasamu dan gantilah puasa itu di hari lain jika engkau kehendaki. (HR Thabrani)

Ibnu Abbas ra juga mengatakan, “Termasuk kebaikan paling utama adalah memuliakan teman duduk dengan membatalkan puasa.”

Jika tuan rumah sudah merasa senang dengan kehadirannya dan tidak merasa terganggu dengan puasanya maka tidak perlu membatalkan puasa.  Cara menjamu orang yang berpuasa adalah dengan wewangian, dupa dan perkataan yang baik. Telah dikatakan bahwa celak dan wewangian termasuk salah satu dari dua jamuan tamu.

  1. Hendaknya ia menolak menghadiri undangan jika makanan yang disajikan syubhat (tidak jelas halalnya) atau tempat undangan dan hamparan alasnya diambil dengan tidak Begitupula jika dalam undangan terdapat kemunkaran seperti bentangan kain sutra, wadah emas dan perak, gambar hewan di atap atau di tembok, nyayian yang tidak halal, atau acaranya penuh kelalaian dan permainan, terdapat ghibah dan adu domba, kebohongan, kezaliman dan semisalnya. Tolaklah juga undangan jika tuan rumahnya adalah orang yang zalim, pelaku bid`ah, orang fasik, orang yang buruk akhlaknya, atau yang mengundang untuk mencari muka.
  2. Hendaknya niatnya dalam menghadiri undangan bukan untuk melampiaskan syahwat perut sehingga perbuatannya termasuk amal  Baguskanlah niat agar termasuk dalam amal akhirat. Niatkan mengikuti sunah Nabi ﷺ dan menghindari maksiat. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

 مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَه

Siapa yang tidak memenuhi undangan (tanpa udzur) maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Niatkan pula memuliakan saudaranya, menyenangkan hatinya, dan juga niat berkunjung kepadanya. Salah satu ciri dua orang yang saling mencintai karena Allah adalah saling memberi dan berkunjung. Tuan rumah telah memberikan makanannya dan yang diundang membalas dengan mengunjunginya.

Termasuk niat yang baik adalah niat menjaga diri supaya tidak menjadi sasaran prasangka buruk karena tidak hadir, dan tidak dibicarakan dengan buruk. Tidak disangka sombong dan berakhlak buruk atau disangka merendahkan saudara muslim dan persangkaan-persangkaan lain.

Jika salah satu dari niat ini dilakukan maka perbuatanya digolongkan sebagai ibadah apalagi jika niat-niat itu digabungkan semua. Tentunya itu lebih baik lagi. Sebagian salaf mengatakan: “Aku ingin ada niat (yang baik) pada setiap perbuatanku bahkan dalam makan dan minum.”

Adab ketika hadir

Ketika hadir hendaknya ia masuk ke tempat undangan, jangan mencari-cari tempat di depan agar terlihat penting atau tempat terbaik, hendaknya ia bersikap tawadhu. Jangan membuat menunggu dengan hadir telat dan jangan pula datang terlalu awal sebelum persiapan penjamuan selesai. Jangan berdesak-desakan, jika tuan rumah mengisyaratkan satu tempat hendaknya ia patuh. Terkadang tuan rumah telah mengatur tempat bagi setiap orang. Menentangnya dapat menyakiti hati.

Jika sebagian tamu mengisyaratkan kepadanya untuk maju karena memuliakannya hendaknya ia tetap bersikap tawadhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

” إِنَّ مِنَ التَّوَاضُعِ لِلهِ الرِضَى بِالدُّوْنِ مِنَ الْمَجْلِس”

Sungguh termasuk tawadhu karena Allah adalah rela mendapatkan tempat duduk yang lebih rendah.

Tidak pantas bagi lelaki duduk dekat dengan pintu ruangan wanita atau dekat pembatas wanita. Hendaknya ia tidak banyak melihat kepada tempat keluarnya makanan sebab itu adalah tanda kerakusan. Dan jangan lupa ucapkan salam dan sapalah orang yang terdekat dengan tempat duduknya.

Jika ia melihat kemunkaran, barusahalah untuk menghilangkannya. Jika tidak mampu cukup mengingkari dengan hati dan pulang.

Adab menyajikan makanan

Tuan rumah dianjurkan untuk bersegera menyajikan makanan walau pun ada satu atau dua orang undangan belum datang. Kecuali jika yang belum datang adalah orang fakir yang hatinya berat jika ditinggalkan maka tidak mengapa mengakhirkan penyajian makanan.

Hatim al Asham mengatakan, “Tergesa-gesa berasal dari setan kecuali lima hal yang termasuk sunah Rasulullah ﷺ. Memberi makan tamu, mengurus mayit, menikahkan perawan, melunasi utang dan taubat dari dosa.”

Tuan rumah juga dianjurkan untuk tidak segera membereskan makanan sampai  semua tamu undangan selesai dan mengangkat tangan mereka dari makanannya.

Jangan lupa sebelum menyajikan makanan untuk menyisihkan terlebih dahulu bagian bagi keluarganya sendiri. Ini supaya keluarganya tidak mengharap-harap makanan yang disajikan pada tamu undangan. Bisa saja para tamu menghabiskan semua makanan dan akhirnya keluarganya sendiri merasa kecewa.

Adab selesai bertamu

Ketika tamu berpamitan, hendaknya tuan rumah mengantar tamunya sampai pintu rumah. Diriwayatkan bahwa termasuk sunah adalah mengantarkan tamu sampai ke pintu rumahnya. Termasuk kesempurnaan penghormatan adalah dengan berwajah ceria dan berkata-kata baik ketika tamunya datang dan pulang dari penjamuan.

Bagi tamu hendaknya ia pulang dalam keadaan bersih hati walau pun ada kelalaian dari pihak tuan rumah. Ini termasuk bentuk akhlak terpuji dan ketawadhuan. Mintalah izin untuk pulang dari tuan rumah, dan jangan pulang kecuali dengan kerelaan tuan rumah. Perhatikan suasana hatinya untuk mengukur kapan waktu yang tepat untuk pulang.

Jika tamu memiliki niat menginap hendaknya tuan rumah menunjukkan arah kiblat, kamar mandi dan tempat berwudhu. Dianjurkan agar tidak menginap lebih dari tiga hari. Karena mungkin saja tuan rumah merasa bosan dengannya dan ingin mengeluarkannya dari rumah. Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا زَادَ فَصَدَقَة

Melayani tamu (yang wajib) adalah tiga hari, selebihnya adalah sedekah.

Jika tuan rumah memaksanya tinggal dengan hati yang tulus maka ia boleh tetap tinggal di sana. Ketika itu disunahkan bagi tuan rumah untuk menyediakan tempat tidur khusus bagi tamunya.

Demikian sekelumit adab seputar undangan semoga bermanfaat untuk kita semua. Wallahu a`lam.RA(*)

 

*Disarikan dari kitab Ihya Ulumiddin