Rabithah Alawiyah

Adab Ulama Dan Murid


Adab Seorang Alim

Jika kamu adalah seorang alim, maka adab seorang alim adalah:

  1. Lapang dada dalam menghadapi gangguan orang lain
  2. Selalu bersifat santun
  3. Duduk berwibawa dengan penampilan yang terhormat ketika bersama orang lain
  4. Tidak sombong kepada semua hamba Allah kecuali kepada orang zalim sebagai bentuk teguran atas kezaliman mereka
  5. Lebih mengutamakan bersifat tawadhu ketika berada dalam perkumpulan dan majelis-majelis
  6. Tidak suka bergurau dan bercanda.
  7. Lemah lembut kepada murid.
  8. Telaten dalam menghadapi orang yang tidak beradab.
  9. Menangani murid yang lambat berpikir dengan memberikan keterangan yang jelas.
  10. Tidak marah kepadanya.
  11. Tidak malu untuk mengatakan, “Aku Tidak Tahu.”
  12. Memusatkan perhatian kepada orang yang bertanya.
  13. Berusaha memahami masalah.
  14. Mau menerima argumen orang lain.
  15. Tunduk kepada kebenaran, dan kembali kepada kebenaran ketika ia keliru.
  16. Mencegah murid untuk mempelajari ilmu yang membahayakannya.
  17. Memperingatkan murid agar tidak mengharapkan selain keridhoan Allah dalam mencari ilmu.
  18. Mencegah murid untuk menyibukan diri dengan fardhu kifayah sebelum selesai dari fardhu ainnya. Fardhu ain murid adalah memperbaiki zahir dan batinnya dengan takwa
  19. Menghiasi diri terlebih dahulu dengan takwa agar murid dapat meniru perbuatannya terlebih dahulu sebelum akhirnya murid dapat mengambil faidah dari ucapan-ucapannya

Adab Seorang Murid

Jika kamu adalah seorang murid maka adab seorang murid bersama orang alim adalah :

  1. Lebih dahulu menyambut dan mengucapkan salam kepadanya.
  2. Sedikit bicara di hadapannya.
  3. Tidak berbicara sebelum ditanya oleh gurunya..
  4. Tidak bertanya sebelum meminta izin terlebih dahulu
  5. Tidak memperdebatkan ucapan gurunya dengan berkata, “Pendapat Fulan berbeda dengan apa yang anda ucapkan.”
  6. Tidak menampakkan pendapat yang berbeda dengan pendapat gurunya, sehingga ia merasa lebih mengerti dari gurunya.
  7. Tidak berbisik-bisik dengan temannya ketika berada di majlisnya.
  8. Tidak menoleh ke kanan dan kiri, tapi duduk dengan penuh adab sabil menundukkan kepala seperti ketika ia sedang shalat.
  9. Tidak banyak bertanya kepada ketika gurunya sedang bosan.
  10. Jika gurunya berdiri ia ikut berdiri untuknya.
  11. Tidak mengikutinya sambil berbicara dan bertanya kepadanya.
  12. Tidak bertanya kepadanya saat di jalan, tapi tunggu sampai gurunya tiba di kediamannya.
  13. Tidak berburuk sangka kepada guru ketika melihat gurunya melakukan hal yang zahirnya adalah salah menurutnya. Sebab Gurunya lebih tahu mengenai isi hatinya. Ingatlah ketika Nabi Musa berkata kepada Khidir:

أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. (QS al Kahfi: 71)

Teryata pengingkaran Nabi Musa yang berdasarkan perbuatan zahir dari Nabi Khidir itu adalah keliru.  Dikutip dari Kitab Bidayatul Hidayah. RA(*)