Rabithah Alawiyah

Ancaman Untuk Penguasa Lalim

Siapa tidak kenal Sayyidina Umar bin Khathab? Tokoh ketiga dalam Islam setelah Baginda Nabi Muhammad ﷺ dan Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu anhu. Bahkan orang di luar Islam pun mengakuinya sebagai manusia hebat. Michael Hart memasukannya dalam daftar 100 tokoh dunia paling berpengaruh sepanjang zaman.

Beliau terkenal sebagai pemimpin yang sangat adil. Yang beliau pikirkan bukan hanya kesejahteraan manusia, bahkan hewan pun beliau perhatikan. Di masa akhir hidupnya beliau pernah berkata, “Aku khawatir dimintai pertanggung jawaban atas kambing telantar yang ada di Irak.” Padahal jarak antara ibukota Madinah dan Irak adalah sebulan perjalanan lebih.

Perkataan seorang ibu yang memasak batu untuk anaknya saat beliau blusukan mencambuk hatinya. Saat itu, beliau bertanya pada sang ibu:

“Apakah ibu tidak tahu bahwa di Madinah ada Amirul Mukminin? Ibu bisa saja melaporkan kondisi sebenarnya ibu kepadanya.”

Ibu itu menjawab, “Seandainya di kota ini ada Amirul Mukminin, maka sudah semestinya ia datang kepada kami guna melihat nasib rakyatnya yang kelaparan. Saya tidak perlu datang untuk mengiba kepadanya. Sebagai pemimpin ia harus tahu penderitaan dan jeritan hati rakyatnya.”

Demikianlah filosofi kepemimpinan yang dipegang Umar bin Al-Khattab. Baginya, tampuk kekuasaan bukanlah sebuah anugerah yang bisa dinikmati sesuka hati, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang musti diperhitungkan konsekuensinya yang maha berat di hadapan Sang Pencipta. Karena itulah beliau tidak pernah tidur nyenyak semenjak ditahbiskan sebagai Amirul Mukminin. Beliau mencurahkan segenap pikiran dan energi untuk memakmurkan rakyat. “Saya harus menjadi orang yang pertama lapar apabila rakyat kelaparan, dan menjadi orang yang terakhir kenyang apabila rakyat merasa kenyang,” demikian ikrar beliau.

Beliau pantang memakan uang rakyat secara berlebih, apalagi korupsi. Saat menjabat khalifah, pakaian beliau penuh dengan tambalan karena tidak pernah diganti. Bandingkan ini dengan pejabat negri ini yang baru dilantik sudah meminta gajinya dinaikan padahal ia belum melakukan apa-apa untuk rakyat.

Pemimpin sejati memang kudu mengedepankan urusan rakyat daripada urusan pribadi. Salah sikap akan membawa petaka yang tak terperikan di kehidupan akhirat nanti. Oleh sebab itu jangan sekali-sekali berambisi menjadi pemimpin apabila belum memiliki mentalitas seorang pemimpin hakiki.

Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengangkat Malik bin Harits sebagai gubernur Mesir, beliau mewanti-wantinya lewat surat, “Takutlah kepada Allah dalam menangani urusan orang-orang kecil yang mempunyai peluang sedikit, kaum fakir miskin, gelandangan dan orang-orang lemah. Jagalah betul-betul amanat yang diembankan kepadamu dalam mengurusi mereka.”

“Jangan mengacuhkan derita orang-orang kecil dan jangan pernah memalingkan wajahmu dari mereka dengan sikap angkuh. Duduklah bersama mereka dan bersikaplah penuh rendah hati demi mengharap ridha Allah ﷻ. Pada saat itu jauhkanlah pengawalmu yang membuat orang takut untuk berbicara denganmu karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda beberapa kali,

‘Orang-orang yang tidak dapat menjaga kaum lemah dalam menghadapi orang-orang kuat tanpa rasa takut, maka mereka tidak akan pernah mencapai kesucian.’

Begitu berat amanah menjadi seorang pemimpin sehingga tak heran bila kalimat pertama yang diucapkan Umar bin Abdul Aziz manakala diangkat menjadi Khalifah adalah kalimat istirja’, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” Menurut beliau, jabatan merupakan musibah terbesar apabila tidak dijalankan dengan sikap adil kepada rakyat jelata.

Dikisahkan, tatkala baru saja dilantik menjadi khalifah usai wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz menghadapi banyak urusan kenegaraan. Beliau merasa letih dan ingin beristirahat sejenak di rumahnya yang sederhana. Namun belum lagi meletakkan punggungnya di tempat tidur, datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik.

“Apa yang anda lakukan wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdul Malik yang masih berusia 17 tahun saat itu.

“Wahai putraku, aku mau memejamkan mata barang sejenak karena tenagaku sudah habis seusai kesibukan hari ini,” jawab Umar bin Abdul Aziz.

“Apakah ayah hendak tidur padahal ayah belum mengembalikan hak-hak orang yang terdzalimi?” tanya sang anak menyindir.

“Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurusi pemakaman pamanmu, Khalifah Sulaiman. Nanti bila tiba waktu dhuhur aku akan melaksanakan shalat bersama orang-orang dan setelah itu aku akan mengembalikan hak orang-orang yang terdzalimi, insya Allah,” jelas Umar.

“Siapa yang menjamin ayah masih hidup sampai datangnya waktu dhuhur?” kata Abdul Malik.

Kata-kata itu langsung mencambuk sanubari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Rasa kantuknya spontan hilang dan beliau bangkit untuk melanjutkan tugas pertama sebagai khalifah, yakni mengembalikan hak-hak rakyat orang-orang kecil yang terdzalimi. “Barangsiapa merasa terdzalimi, maka hendaknya ia segera melapor kepadaku!” begitu seru Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada rakyatnya.

Begitulah kehati-hatian orang-orang generasi dulu dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin. Mereka bersikap demikian lantaran takut akan balasan pedih akibat menyalah-gunakan jabatan sebagai pemimpin. Dalam sejumlah hadits, Baginda Nabi ﷺ mengancam para pemimpin supaya benar-benar menjalankan tugasnya dengan lurus.

Dalam riwayat Abu Said, Baginda Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah ﷻ pada hari kiamat kelak dan yang paling dekat tempatnya di sisi Allah ﷻ adalah seorang pemimpin adil. Sementara itu, orang paling dibenci Allah ﷻ dan paling jauh tempat dari Allah ﷻ adalah seorang pemimpin dzalim.” (HR Tirmidzi)

Sepenggal hadits yang dirilis Abu Hurairah menyebutkan bahwa Baginda Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Tiga macam orang yang Allah ﷻ enggan mengajak bicara mereka, memandang mereka dan menyucikan mereka dari dosa-dosa, dan bagi mereka telah disediakan siksa yang sangat pedih. Mereka adalah orang tua yang berzina, penguasa yang suka berdusta dan fakir miskin yang menyombongkan diri.” (HR Muslim)

Dalam hadits riwayat Ahmad, Baginda Rasulullah ﷺ bersabda,

أَيُّمَا رَاعٍ غَشَّ رَعِيَّتَهُ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Setiap pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya adalah neraka.” (HR Ahmad)

Di hadits lain, Baginda Rasulullah ﷺ menegaskan,

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa diangkat Allah ﷻ untuk memimpin rakyatnya, lantas ia tidak mencurahkan perhatiannya untuk memperbaiki nasib rakyat, maka surga diharamkan baginya.” Dalam redaksi lain disebutkan, “Lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah ﷻ mengharamkan surga baginya.”

Masih banyak hadits lain yang bernada peringatan kepada para pemimpin yang berkhianat kepada rakyat.

Imam Atha bin Abi Rabah pernah berkata kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik yang berkuasa saat itu, “Saya pernah mendengar bahwa di neraka Jahanam ada satu jurang yang dinamai Haihab. Jurang ini diperuntukkan bagi imam (pemimpin) yang zhalim, tidak adil, dalam kebijaksanaan-kebijaksanaannya.” Mendengar itu, Al-Walid spontan jatuh pingsan.

Monster

Kepemimpinan bukanlah perkara mudah dan remeh temeh. Jangan bermain-main dengan kekuasaan kalau tidak sanggup menyejahterakan rakyat. Balasannya adalah dipanggang di dasar neraka dalam waktu yang teramat panjang.

Anehnya, orang zaman sekarang suka berebut jabatan. Tujuannya bukan untuk memupuk pahala dengan memakmurkan dan membahagiakan rakyat, tapi untuk mengeruk kekayaan pribadi sebanyak mungkin dengan jabatannya. Mereka sudi melakukan segala macam cara untuk mendapatkan jabatan yang diincar.

Di masa kampanye, para pemburu jabatan baik legislatif maupun eksekutif mengobral berjuta janji demi mengambil hati rakyat pemilih. Mereka rela hidup “merakyat” supaya mendapatkan citra sebagai tokoh yang dekat dengan rakyat. Namun ketika sudah duduk di kursi jabatan, mereka mengabaikan janji-janji yang telah mereka ucapkan. Lebih dari itu, mereka kemudian menjadi monster ganas yang setiap saatnya siap memangsa rakyat jelata yang lemah.

Fenomena demikian ini bukanlah hal baru, namun sudah berlangsung sejak berabad-abad silam. Penguasa lalim muncul silih berganti dengan menorehkan sejarah kelam yang takkan terlupakan. Di dalam manaqib Nurul Burhan dikisahkan bahwa suatu ketika penguasa dinasti Abbasiyah Khalifah Abul Mudhaffar berada di dekat Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Khalifah berkata kepada beliau, “Aku menginginkan menyaksikan suatu karomah agar hatiku menjadi tenang.” Beliau bertanya, “Apa yang engkau inginkan?” Khalifah menjawab, “Apel dari alam gaib yang belum datang waktunya di Irak.”

Maka Syekh Abdul Qadir mengangkat kedua tangan beliau ke atas dan terlihatlah dua biji apel. Beliau menyerahkan satu biji apel kepada khalifah, sementara yang satu lagi beliau belah hingga berubah menjadi putih dan tercium aroma kesturi darinya. Khalifah membelah apel yang ia terima dan ternyata terlihat ulat di dalamnya. “Ada apa dengan apel ini dan apel yang ada di tangan anda?” tanya khalifah keheranan.

Syekh Abdul Qadir berkata kepada khalifah, “Wahai Abul Mudhaffar, apel yang itu disentuh oleh tangan orang yang zalim sehingga berulat sebagaimana engkau saksikan, dan apel yang disentuh tangan wali menjadi harum.”

Dikisahkan, bahwa dulu kawasan Yaman pernah dikuasai penguasa yang sangat lalim dan kejam kepada rakyat. Suatu ketika si penguasa melakukan tindakan represif kepada masyarakat Hudaidah Yaman pasca wafatnya Sayid Abubakar bin Ali al-Ahdal. Karena tak tahan dengan kelaliman penguasa, salah seorang putra Sayid Abubakar al-Ahdal berziarah ke makam ayahnya untuk mengadukan kelakuan kejam penguasa.

Dengan izin Allah, tiba-tiba keluarlah sebuah anak panah dari dalam makam Sayid Abubakar al-Ahdal. Anak panah itu melesat ke arah istana penguasa Yaman yang dzalim. Semua penghuni istana mendengar desingan anak panah dan tak lama kemudian tersiar kabar bahwa sultan penguasa Yaman meninggal dunia.

Suatu ketika seorang penguasa Yaman yang menyimpan rasa dengki kepada Habib Abdullah bin Umar bin Yahya hendak berbuat zalim kepada beliau. Penguasa itu memerintahkan sejumlah tentaranya untuk menculik Habib Abdullah dalam keadaan hidup atau mati. Para tentaranya bahkan diancam akan dihabisi bila gagal melaksanakan tugas. Maka berangkatlah mereka menuju rumah Habib Abdullah demi melaksanakan perintah si penguasa. Sesampai di depan pintu rumah Habib Abdullah, salah satu dari mereka berteriak-teriak memanggil namanya serta mengeluarkan kalimat-kalimat ancaman.

Mendengar teriakan mereka, Habib Abdullah menemui ibundanya. Beliau meminta restu kepada ibunda beliau untuk keluar menghadapi mereka. Sang bunda bukannya keberatan melepas anaknya. Malah ia memarahi Habib Abdullah, “Apakah untuk hal seperti ini kamu minta restu terlebih dahulu? Dulu para sahabat Rasul SAW pergi berperang demi mencari syahadah (mati syahid). Sekarang syahadah itu hadir di depan rumahmu. Keluarlah anakku! Bertawakkallah kepada Allah yang akan membela agama-Nya.”

Dengan keyakinan penuh, Habib Abdullah bin Yahya keluar untuk menghadapi musuh. Ketika mereka telah berhadap-hadapan, ternyata para musuh ketakutan bukan kepalang. Persendian mereka bergetar kemudian mereka berlarian tunggang langgang. Kharisma Habib Abdullah bin Umar bin Yahya telah menciutkan nyali mereka semua.

Demikian para pemimpin zalim selalu ada sepanjang zaman. Memang kezaliman selalu manis di awal, akan tetapi pasti diakhiri dengan sangat pahit. Perhatikan bagaimana Firaun bertindak semena-mena dan hidup mewah di antara kaumnya, pada akhirnya ia binasa di sungai Nil. Perhatikan bagaimana Namrudz yang berkuasa itu, Allah siksa hanya dengan seekor serangga yang masuk melalui hidung sehingga membuatnya merasa sangat tersiksa dan membentur bentur kepalanya ke dinding sampai mati.  Bahkan kini, banyak pejabat-pejabat yang dulunya hidup glamour, dan kini mendekam di penjara. Itu baru balasan di dunia, sungguh balasan di akhirat lebih pedih dan dahsyat.

Maka hati-hati bagi siapa saja yang menjadi pejabat. Jangan pernah menzalimi rakyat, atau menggelapkan sedikitpun uang rakyat. Di zaman Nabi ﷺ, ada seorang mujahid hebat yang masuk neraka hanya karena menggelapkan sebuah selimut dalam peperangan. Maka bagaimana jika yang digelapkan adalah uang rakyat yang banyak?. RA(*)