Rabithah Alawiyah

Bagi Hasil Dalam Produk Perbankan

Pertanyaan

Ustadz, apa hukumnya orang yang pinjam uang di bank dan uangnya bagi hasil. Misalnya, pinjam 50 jt untuk modal. Setiap bulan kita ngasih bank 600 rb dan itu berjalan setiap bulan sampai batas waktu kita pinjam, dan nanti kita tetap mengembalikan 50 jt dan akadnya bagi hasil?

Jawaban:

Akad bagi hasil dalam istilah Fiqh disebut akad Qirodh atau akad Mudharabah. Yang dimaksud dengan akad Mudharabah/Qirodh adalah, pemilik modal (shohibul maal) menyerahkan modal  kepada orang lain (mudlorib) untuk diperdagangkan dan laba dari usaha itu dimiliki bersama dengan pembagian (nisbah) sesuai dengan kesepakatan. Apabila usaha itu merugi, maka kerugian akan ditanggung sepenuhnya oleh pemilik modal (shahibul maal) sepanjang hal itu disebabkan oleh risiko bisnis (business risk) dan bukan karena kelalaian mudharib (character risk).

Akad Mudharabah ini berbeda dengan sistem bunga (interest) mengingat sifat pengembalian (return) yang tidak pasti baik dari segi jumlah mau pun segi waktu, sehingga akad ini dikategorikan sebagai Natural Uncertainty Contract (NUC). Dalam istilah lain, produk ini disebut juga dengan Trust Financing atau Trust Investment, karena kontrak ini hanya diberikan kepada pengusaha yang benar-benar credible dan sudah teruji amanahnya.

Dengan demikian, praktek seperti yang anda sebutkan tidak dapat dikatakan sebagai akad Mudlorobah/Qirodl yang sah dan lebih mirip dengan sistem bunga yang diharamkan, karena setiap bulan harus membayar  Rp 600.000,- kepada pemilik modal. Padahal dalam akad Mudharabah/Qirodh, pemilik modal mendapat bagian (nisbah) dari laba sesuai dengan kesepakatan, bukan ditentukan nominalnya. Dengan begitu maka nominalnya tergantung laba yang diperoleh. Jika usaha tidak menghasilkan laba atau rugi, maka pemilik modal juga tidak mendapat bagian apa-apa.