Rabithah Alawiyah

Hadits-Hadits Tentang Keutamaan Puasa Rajab

 

Hadits-hadits yang membahas mengenai keutamaan puasa Rajab memang adalah hadits Dhaif. Akan tetapi karena banyak jalur periwayatannya, maka hadits-hadits itu menjadi kuat sebagaimana dikatakan oleh Syekh Mula Ali Qari dalam kitab Adab Fi Rajab. Selain itu, hadits-hadits dhaif bisa dijadikan rujukan terkait keutamaan-keutamaan amal sebagaimana telah masyhur di kalangan Ahlu Hadits.

Di antara hadits-hadits yang menerangkan keutamaan Puasa Rajab adalah:

  • Nabi berpuasa Rajab

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu pernah ditanya:

هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ فِي رَجَب؟

Apakah Rasulullah berpuasa di bulan Rajab?

Beliau menjawab:

 ‌نَعَمْ، ‌وَيُشَرِّفُهُ (قَالَهَا ثَلَاثًا)

“Benar, dan beliau memuliakannya. (Beliau mengatakan tiga kali) (HR Abu Dawud)

  • Satu Hari Puasa seperti Satu Tahun

إن ‌رجب ‌شهرٌ ‌عظيمٌ، تُضَاعَفُ فِيهِ الْحَسَنَاتُ، فَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ ‌رَجَبٍ كَانَ ‌كَصِيَامِ ‌سَنَةٍ

Sesungguhnya Rajab merupakan bulan yang agung. Amal-amal kebaikan dilipatgandakan di dalamnya. Siapa yang berpuasa sehari di dalamnya maka ia seolah berpuasa selama setahun. (HR Rafi’i, Ibnu Asakir, Thabrani,  Al-Asfihani, dan Al-Baihaqi)

  • Menghapus Dosa

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

صَوْمُ ‌أَوَّلِ ‌يَوْمٍ في رجب كفارة ثلاث سِنِينَ وَالثَّانِي كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ وَالثَّالِثُ كَفَّارَةُ سنةٍ ثُمَّ كُلُّ يومٍ شَهْرٍ

Puasa hari pertama bulan Rajab penghapus dosa tiga tahun, puasa hari kedua penghapus dosa dua tahun, kemudian setiap harinya penghapus dosa sebulan. (HR Al-Khallal)

  • Sungai Di Surga Bagi Yang Berpuasa Rajab

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ ‌نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ ‌رَجَبٌ، أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْمًا وَاحِدًا سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ

Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamai dengan ‘Rajab’  lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu.  Siapa yang berpuasa dari bulan Rajab sehari saja, maka Allah akan memberinya minum dari sungai itu. (HR Baihaqi dan AS-Sairaji dalam Alqab)

  • Ditutup Pintu Neraka Bagi Yang Berpuasa Rajab

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من صام أول يوم من رجب عدل ذلك بصيام سنة ومن صام سبعة أيام أغلق عنه سبعة أبواب النيران ومن صام ‌من ‌رجب ‌عشرة أيام نادى مناد من السماء أن سل تعطه

Siapa yang berpuasa di hari pertama bulan Rajab, maka itu setara dengan puasa selama satu tahun. Siapa yang berpuasa tujuh hari, maka ditutup baginya tujuh pintu neraka. Siapa yang berpuasa di bulan Rajab selama sepuluh hari, maka akan ada seruan dari langit: “Mintalah apa saja, Engkau akan diberi.” (HR Abu Nuaim dan Ibnu Asakir)

  • Istana Di Surga

Diriwayatkan bahwa Abu Qilabah mengatakan:

في الجنة قصر لصوام رجب

 “Di surga terdapat istana bagi mereka yang berpuasa di di Bulan Rajab” (HR Baihaqi)

Menanggapi hadits ini Imam Ahmad berkata :

وإن كان موقوفا على أبي قلابة وهو من التابعين ، فمثله لا يقول ذلك إلا عن بلاغ عمن فوقه ممن يأتيه الوحي ، وبالله التوفيق

(Hadits ini) meskipun dimauqufkan kepada Abi Qilabah salah seorang tabi`in, tetapi seorang sepertinya tidak (mungkin) mengatakan hal ini kecuali berdasarkan penyampaian dari orang diatasnya (sahabat) dari Ia  yang didatangi wahyu (Rasulullah).(Syu’abul Iman)

  • Mulailah Lembaran Baru

Dari Sahabat Abu Dzar radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من صام يوما من رجب، عدل صيامه شهرا. ومن صام منه سبعة أيام، غلقت عنه أبواب الجحيم، ومن صام منه ثمانية أيام، فتحت له أبواب الجنة الثمانية، ومن صام منه عشرة أيام، بدلت سيئاته حسنات، ومن صام منه ثمانية عشر يوما، نادى مناد : أن الله قد غفر لك ما مضى، فاستأنف العمل

Siapa yang berpuasa sehari dari Rajab, maka itu setara dengan puasa sebulan. Siapa yang berpuasa tujuh hari darinya maka akan ditutup baginya pintu-pintu neraka yang tujuh. Siapa yang berpuasa delapan hari darinya maka akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan. Siapa yang berpuasa sepuluh hari darinya maka keburukannya akan diganti menjadi kebaikan. Siapa yang berpuasa delapan belas hari darinya, maka akan ada seruan padanya: “Sungguh Allah telah mengampunimu atas apa yang telah lalu, maka mulailah lembaran amal baru!” (HR Al-Khatib(

Dalam riwayat lain, Sahabat Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ كَانَ كَصِيَامِ سَنَةٍ، وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ غُلِّقَتْ عَنْهُ سَبْعَةُ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ عَشَرَةَ أَيَّامٍ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ، وَمَنْ صَامَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا نَادَى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ قَدْ غُفِرَ لَكَ مَا سَلَفَ فَاسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكَ حَسَنَاتٍ، وَمَنْ زَادَ زَادَهُ اللَّهُ

وَفِي رَجَبٍ حُمِلَ نُوحٌ فِي السَّفِينَةِ، فَصَامَ نُوحٌ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَمَرَ مَنْ مَعَهُ أَنْ يَصُومُوا وَجَرَتْ بِهِمُ السَّفِينَةُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ إِلَى آخِرِ ذَلِكَ لِعَشْرٍ خَلَوْنَ مِنَ الْمُحَرَّمِ

“Siapa yang berpuasa sehari di Bulan Rajab seakan ia berpuasa selama setahun. Siapa yang berpuasa tujuh hari, maka akan ditutup baginya tujuh pintu neraka. Siapa yang berpuasa delapan hari, maka akan dibuka baginya delapan pintu surga. Siapa yang berpuasa sepuluh haru, maka ia tidak memohon kepada Allah sesuatupun kecuali Allah akan memberikannya. Siapa yang berpuasa selama lima belas hari, akan ada seruan yang menyeru dari langit : “Telah aku ampuni apa yang lalu, mulailah lembaran amal bari. Sungguh keburukan-keburukanmu telah digantikan dengan kebaikan.”

Dalam bulan Rajab, Nabi Nuh alaihissalam menaiki perahu. Beliau pun berpuasa dan memerintahkan  semua yang ada bersamanya untuk berpuasa. Perahu itu membawa mereka selama enam bulan. Sampai akhirnya yaitu tanggal 10 Muharam.” (HR Thabrani)

  • Fadhilah Puasa Kamis, Jumat, dan Sabtu

Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: ‌الْخَمِيسَ ‌وَالْجُمُعَةَ ‌وَالسَّبْتَ، كُتِبَ لَهُ عِبَادَةُ سَنَتَيْنِ

Siapa yang berpuasa tiga hari di bulah haram, yaitu Hari Kamis, Jumat dan Sabtu, maka dicatat baginya ibadah selama dua tahun. (HR Thabrani)

Dalam redaksi lain:

مَنْ صَامَ فِي كُلِّ شَهْرٍ حَرَامٍ ‌الْخَمِيسَ ‌وَالْجُمُعَةَ ‌وَالسَّبْتَ كُتِبَتْ لَهُ عِبَادَةُ سبعِمِائَةِ سَنَةٍ

Siapa yang berpuasa setiap bulan Haram pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu, maka dicatat baginya ibadah selama tujuh ratus tahun. (HR Ibnu Syahin dan Ibnu Asakir)

Keterangan: Bulan Haram yaitu bukan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.

 

Penutup: Tentang Hadits Dhaif Puasa Rajab

Para ulama hadits mengatakan bahwa semua hadits terkait keutamaan Rajab dan puasanya adalah hadits dhaif. Hadits dhaif memang tidak bisa menjadi rujukan dalam hukum dan akidah, akan tetapi para ulama sepakat bahwa hadits dhaif bisa menjadi rujukan dalam keutamaan suatu amal. Imam Ibnu Hajar al Haitami berkata  dalam ‘Fathul Mubin’ hal 32:

قَدِ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Ulama telah menyepakati bolehnya mengamalkan Hadits Dhaif dalam masalah fadhoilul `Amal (Pembahasan keutamaan suatu amal).

Pemimpin para salaf, Imam Ahmad radhiyallahu anhu mengatakan:

“إذَا رَوَيْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَلالِ وَالْحَرَامِ شَدَّدْنَا فِي الأَسَانِيدِ. وَإِذَا رَوَيْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضَائِلِ الأَعْمَالِ، وَمَا لا يَضَعُ حُكْمًا وَلا يَرْفَعُهُ تَسَاهَلْنَا فِي الأَسَانِيدِ

Jika kami meriwayatkan dari Nabi mengenai halal dan haram (hukum syariat) maka kami perketat sanad periwayatannya. Namun jika kami meriwayatkan dari Nabi mengenai keutamaan-keutamaan amalan selama tidak untuk menetapkan atau menghapus hukum, kami melonggarkan dalam masalah sanadnya. (Al Kifayah hal 134)

Termasuk dalam hal itu adalah hadits-hadits khusus tentang Puasa Rajab. Al Imam Nawawi dan Ibnu Sholah berkata :

وَلَمْ يَثْبُت فِي صَوْم رَجَب نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ لِعَيْنِهِ ، وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ ، وَفِي سُنَن أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْم مِنْ الْأَشْهُر الْحُرُم ، وَرَجَب أَحَدهَا . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Tidak ada yang tetap (shohih) mengenai puasa Rajab baik larangan ataupun anjuran khusus, tetapi hukum asal puasa adalah sunnah, dan di dalam Sunan Abi Dawud bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan berpuasa di asyhuril hurum dan Rajab adalah salah satunya (Syarah Muslim juz 4 hal 167 dan Faidhul Qodir juz 4 hal 277)

Lebih tegas lagi, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan:

وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضِلَ ، وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بِهَا فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبٍ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَيُكْتَفَى فِيهِ بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ ذَلِكَ إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ

Telah menjadi ketetapan bahwa hadits dhaif, mursal, munqothi, mu`dhol dan mauquf dapat diamalkan untuk fadhail amal sesuai dengan ijma, dan tidak diragukan bahwa puasa Rajab termasuk dari fadhailul a`mal sehingga cukup di dalamnya hadits-hadits yang dhaif dan semisalnya. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali orang bodoh yang tertipu” (Fatawa Fiqhiyah Kubra juz 3 hal 293)

Imam Izuddin bin Abdussalam juga mengatakan:

وَاَلَّذِي نَهَى عَنْ صَوْمِهِ جَاهِلٌ بِمَأْخَذِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ وَكَيْف يَكُونُ مُنْهَيَا عَنْهُ مَعَ أَنَّ الْعُلَمَاءَ الَّذِينَ دَوَّنُوا الشَّرِيعَةَ لَمْ يَذْكُر أَحَدٌ مِنْهُمْ انْدِرَاجَهُ فِيمَا يُكْرَه صَوْمُهُ بَلْ يَكُونُ صَوْمُهُ قُرْبَةً إلَى اللَّهِ تَعَالَى لِمَا جَاءَ فِي الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ مِنْ التَّرْغِيبِ فِي الصَّوْمِ

Mereka yang melarang puasa Rajab sesungguhnya adalah seorang yang bodoh tentang cara pengambilan hukum-hukum syara’. Bagaimana mungkin puasa Rajab dilarang, padahal para ulama yang membukukan syariat, tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan bulan Rajab dalam bulan yang makruh dipuasai. Bahkan berpuasa Rajab termasuk qurbah (ibadah sunnah yang dapat mendekatkan) kepada Allah, sebab telah datang hadits-hadits shahih yang menganjurkan berpuasa …..” (Fatawa Fiqhiyah Kubra juz 3 hal 292)

Demikian pembahasan mengenai puasa Rajab, semoga kita bisa mengamalkannya. Aamiin ya robbal alamiin. RA(*)