Rabithah Alawiyah

Hukum Arisan

 

Pada dasarnya akad yang berlaku dalam arisan yang kita kenal adalah akad Qordl atau hutang. Yakni masing-masing anggota memberi hutang kepada anggota yang mendapat arisan. Kemudin anggota yang mendapat arisan akan mengembalikan secara periodik kepada anggota lain yang mendapat giliran berikutnya. Misal: Anggota arisan terdiri dari A B C D E F. Uang arisan masing-masing anggota 10.000 setiap minggu. Pada saat giliran A mendapat arisan, berarti uang yang diterima A adalah Rp. 60.000,- . Dari jumlah ini yang Rp.10.000 pada hakikatnya adalah uangnya sendiri, sedangkan yang Rp. 50.000,- adalah hasil dari hutang yang diterima dari lima anggota lainnya. Kemudian A akan mengembalikan kepada lima anggota lainnya secara periodik. Begitu seterusnya.
Jika demikian arisan yang berlaku maka hukumnya sama seperti utang yaitu boleh.

Referensi:
Hasyiyah al-Qulyubi, juz 2, hlm.258.

الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأخذ امرَأةٌ من كل وَاحدَة مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِى كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ شَهْرٍ فَتَدْفَعَهُ لِوَاحِدَةٍ إلَى آخِرِهِنَّ جَائِرَةٌ كَمَا قَالَهُ الوَلِيُّ العَرَاقِيُّ

Terjemah: ‘Perkumpulan Jum’at’ yang sudah masyhur di antara wanita yaitu salah seorang dari mereka menarik sejumlah tertentu dari semua anggotanya setiap Jum’at atau setiap bulan, lalu menyerahkan kepada salah satu dari mereka secara bergilir sampai terakhir, hukumnya adalah boleh sebagaimana dikatakan oleh Al-Wali Al-Iraqi