Rabithah Alawiyah

Hukum Kotoran Ikan Di Bak Mandi

Pertanyaan:

Ikan yang ada di dalam bak kamar mandi apa juga mengeluarkan kotoran? Kalau memang ikan mengeluarkan kotoran, sucikah air yang ada di bak kamar mandi, dan apakah boleh kita makan ikan yang kotorannya belum dibuang, misalnya pindang?

Jawaban:

Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i, hukum kotoran ikan najis. Tetapi terkadang hukumnya dimaafkan (ma’fu), yaitu jika terdapat dalam penampungan air sedikit yang kurang dua qullah (dua qullah = 216 Lt), dan tidak sampai merubah sifat-sifat air. Jika air dalam bak mandi mencapai dua qullah (216 liter) dan airnya tidak berubah, maka hukumnya suci serta dapat mensucikan. Tetapi jika airnya berubah karena kotoran ikan, maka hukumnya najis dan tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Menurut pendapat sebagian ulama, memakan ikan yang kotorannya belum dibersihkan dari dalam perutnya hukumnya dimaafkan jika ikannya kecil. Yang dimaksud dengan kecil adalah ikan yang dapat dimakan bersama dengan tulang-tulangnya. Dihukumkan begitu karena sulitnya membersihkan kotorannya.

Menurut pendapat Syekh Ibu Hajar, Syekh Ibnu Ziyad dan Syekh Al-Romli, kotoran dan darah ikan kecil hukumnya suci dan boleh dimakan meski pun tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Jika digoreng tidak menajiskan minyak gorengnya. Pendapat lainnya menyatakan bahwa hukum kotoran dan darah ikan suci secara mutlak, baik ikan yang kecil mau pun besar.

Lihat Nihayatuz Zayn hlm. 39, Bughyatul Mustarsyidin hlm. 15, 254, Asnal Matholib juz 1, hlm. 13, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab juz 2, hlm.504, Al-Asybah wa al-nadhoir hlm. 433.