Rabithah Alawiyah

HUKUM MELIHAT KEMALUAN ISTRI

Pada dasarnya suami boleh melihat seluruh angggota tubuh istrinya, dan begitu pula sebaliknya. Tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai hukum suami melihat kemaluan istrinya. Pendapat pertama menyatakan haram hukumnya bagi suami melihat kemaluan istrinya berdasarkan hadits:

إذَا جَامَعَ أَحَدُكُمْ زَوْجَتَهُ أَوْ أَمَتَهُ فَلَا يَنْظُرُ إلَى فَرْجِهَا فَإِنْ ذَلِكَ يُورِثُ الْعَمَى. رواه ابن حبان وابن عدي.

Apabila kalian melakukan hubungan badan dengan istri atau hamba sahaya kalian, maka jangan melihat kemaluannya karena dapat mengakibatkan kebutaan.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu ‘Adi).  Para ulama berbeda pendapat tentang  yang dimaksud dengan kebutaan dalam hadits ini. Ada yang mengartikan kebutaan mata bagi yang melihatnya. Ada yang mengartikan kebutaan hati, dan ada yang berpendapat kebutaan pada anak yang dilahirkan.

Pendapat kedua menyatakan hukumnya makruh bagi suami melihat kemaluan istri dan sebaliknya. Juga makruh hukumnya melihat kemaluannya sendiri tanpa ada keperluan. Pendapat ini berdasarkan pada hadis:

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا مَا رَأَيْت مِنْهُ وَلا رَأَى مِنِّي.

 Berkata Aisyah RA, ‘Aku tidak pernah melihat dari Rasulullah ﷺ dan beliau tidak pernah melihat dari aku.’ ”

Pendapat ini lebih kuat dari pendapat yang pertama dan dinyatakan oleh mayoritas ulama madzhab Syafi’i. Pendapat ketiga meyatakan boleh bagi suami melihat kemaluan istri agar lebih merasakan kenikmatan dalam melakukan hubungan suami-istri sehingga diharapkan anak yang dilahirkan menjadi lebih sempurna. Pendapat ini dinukil oleh para ulama madzhab Hanafi dari Ibnu Umar RA. Tetapi pendapat ini lemah karena sumbernya tidak kuat.

(Lihat: Mughnil Muhtaj juz. lV hal. 219, Tuhfatul Muhtaj juz. Vll hal. 206-207, Asnal Matholib juz. Lll hal. 113, Bariqoh Mahmudiyyah juz. lV hal. 62-63, Nashbur Royah juz. Vl hal. 139-140).