Rabithah Alawiyah

MENGAMALKAN AMALAN  SUSUNAN ULAMA

Hidzib, wirid, ratib doa yang disusun oleh para wali dan ulama yang mengamalkan ilmunya merupakan buah dari ilmu dan amal mereka. Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ ‌جَاهَدُوا ‌فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Ankabut : 69)

Dzikir-dzikir itu dibarengi dengan ilham dan karomah, bukan disusun berdasarkan hawa nafsu sehingga susunan mereka dapat diterima.

Terkadang orang yang tidak sampai pada derajat mereka, ingin meniru menyusun dzikir-dzikir sendiri, namun hasilnya tidak sama dengan yang diinginkan. Ini bagaikan sebuah fabel yang dihikayatkan para ulama bahwa seekor lebah mengajarkan kumbang cara membuat sarang. Kumbang itu menirunya sehingga ia dapat membuat sarang yang mirip dengan sarang lebah. Kumbang itu sesumbar bahwa sarang yang ia buat memiliki keistimewaan yang sama dengan sarang lebah. Lebah itu pun berkata padanya:

هذا البيت واين العسل؟ إتما السر في السكان لا في المنزل

Sarang ini memang sama, namun adakah madu di dalamnya? Rahasia keistimewaan terletak pada penghuninya bukan kepada bentuk fisik rumahnya.

Dalil Hadits Nabi

Syekh Zaruq, Imam Nawawi serta para ulama lainnya mengatakan boleh beramal dengan amalan dan doa yang disusun oleh para ulama, walaupun tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ. Ini berdasarkan banyak hadits yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menetapkan dzikir dan doa yang didengar dari banyak sahabatnya dengan lafadz yang berbeda tanpa terlebih dahulu diajarkan oleh Beliau ﷺ. Di antaranya adalah hadits Abdullah bin Buraidah radhiyallahu anhu, bahwa beliau mendengar seorang lelaki berkata:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ ‌بِأَنَّكَ ‌أَنْتَ ‌اللهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ،

Ya Allah, aku memohon pada-Mu, karena Engkau Adalah Allah yang Maha Esa dan tempat bergantung segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada satupun yang setara dengan-Nya

Maka Nabi ﷺ bersabda:

لَقَدْ سَأَلَ اللهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang teragung, yang jika diminta dengan nama itu, maka Allah akan memberi, dan jika berdoa dengannya, Allah akan ijabahi. (HR Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasabi, Ibnu Majah)

Dalam Shahih Bukhari disebutkan seorang sahabat diminta membacakan ruqyah untuk menyembuhkan penyakit, lalu ia membacakan Al-Fatihah padahal Nabi ﷺ tidak pernah mengajarkannya. Ia pun mendapatkan hadiah, ketika melaporkan hal itu , Nabi ﷺ membenarkannya dan meminta bagian dari hadiah itu untuk menunjukkan bahwa hadiah itu benar-benar halal.  Serta masih banyak hadits-hadits lain yang disebutkan dalam Al-Azkar An-Nabawiyah  karya Imam Nawawi.

Membaca wirid yang disusun oleh para ulama juga adalah bentuk kecintaan kepada ulama tersebut, sebab seorang tidak membacanya kecuali karena cinta. Pada hari kiamat, seorang akan dikumpulkan bersama dengan yang ia cintai, Nabi ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ ‌مَعَ ‌مَنْ ‌أَحَبَّ

Manusia akan dikumpukan bersama yang ia cintai. (HR Bukhari musim)

Selain mengamalkan wirid susunan para ulama, hendaknya kita lebih memberi perhatian untuk membaca doa-doa yang datang dari Al-Quran dan Hadits Nabi ﷺ, agar faedah yang didapat menjadi semakin sempurna.

Syarat  Susunan Dzikir

Imam Basaudan menyatakan bahwa untuk membuat hizib, wirid, doa ada beberapa syarat diantaranya:

  1. Disusun berdasarkan keadaan, bukan karena hawa nafsu dan dibuat-buat.
  2. Kata-katanya jelas maknanya, tidak ada yang samar atau mengarah pada hal yang menyimpang, harus sesuai dengan syariat.

Doa dan dzikir yang disusun oleh para ulama, sebenarnya juga bersumber dari lautan ilmu Nabi ﷺ. Sebab mereka menyusunnya setelah memahami makna-makna syariat dan agama yang diajarkan oleh Beliau ﷺ, sehingga wirid dan amalan tersebut tidak keluar dari koridor syariat dan boleh diamalkan. Tetapi kita tidak boleh menisbatkan wirid tersebut kepada Nabi ﷺ sebab itu memang bukan susunan Nabi ﷺ..

Tujuan kita mengamalkan wirid dan doa para ulama bukan karena itu diriwayatkan dari Nabi ﷺ, akan tetapi meneladani para salafus saleh yang mengamalkan dan menganjurkannya, bertabaruk dengan amal mereka, meniru perbuatan mereka, bentuk kepatuhan kepada mereka yang menganjurkannya, serta mengharapkan keberkahan dengan melakukan apa yang mereka lakukan. RA(*)