Rabithah Alawiyah

Pernak-Pernik Hukum Wadah

Dalam fiqih segala hal yang dapat menjadi tempat sesuatu yang lain dapat dikatakan wadah baik bentuknya sangat kecil atau pun besar. Jadi sendok dapat dikatakan wadah sebab ia dapat menampung makanan walau pun sedikit. Demikian pula cangkir, gelas, baki, gayung, piring, nampan, tempat minyak wangi dan semua hal yang dapat menampung sesuatu dapat dinamakan wadah.

Tidak semua wadah boleh digunakan. Ada wadah yang makruh untuk digunakan, bahkan ada pula wadah yang haram untuk digunakan. Oleh sebab itu pengetahuan mengenai wadah ini sangat penting terutama untuk wanita yang sering berjibaku dengan urusan wadah.  Demikian ini adalah penjelasan ringkas mengenai hukum wadah.

Wadah emas dan perak

Wadah yang terbuat dari emas atau perak haram digunakan untuk segala jenis penggunaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الْآخِرَةِ

Jangan kalian minum dari wadah emas dan perak dan jangan pula makan di atas nampannya. Sebab semua itu bagi mereka (kaum kafir) di dunia dan bagi kita di akhirat. (HR Bukhari)

Larangan dalam hadits ini menunjukkan keharaman penggunaan. Alasan pengharaman ini adalah karena menggunakan wadah emas atau perak adalah bentuk menyombongkan diri dan melampaui batas, itu juga dapat menyakiti hati orang-orang miskin yang melihatnya.

Dalam hadits Nabi ﷺ hanya melarang untuk menggunakan wadah tersebut untuk makan dan minum saja, namun ulama mengkiaskan pengharaman itu untuk penggunaan lain. Jadi tidak boleh menggunakan wadah emas atau perak untuk bersuci, tempat dupa, tempat celak, tempat pakaian, tempat peralatan dan lainnya. Ini karena alasan pengharaman penggunaan wadah emas dan perak yaitu kesombongan dan dapat menyakiti hati orang miskin didapati juga dalam penggunaan wadah untuk selain makan dan minum.

Dalam masalah ini sama saja hukumnya antara lelaki, wanita mau pun khuntsa. Semuanya haram untuk memakai wadah emas atau perak. Ini berbeda dengan hukum menggunakan perhiasan emas. Wanita boleh menggunakan perhiasan emas untuk tujuan yang diperbolehkan syariat seperti berhias untuk suami dan lainnya sedangkan lelaki diharamkan menggunakan perhiasan emas.

Anak kecil dan orang gila tidak berdosa jika menggunakan wadah emas dan perak, tetapi oranng tua dan walinya wajib melarang mereka untuk menggunakannya. Jika orang tua membiarkan anaknya menggunakan wadah emas atau perak, maka mereka berdosa.

Wadah emas dan perak juga tidak boleh disimpan, walau pun dengan tujuan untuk diperjual-belikan. Segala sesuatu yang haram dipakai maka haram pula untuk disimpan. Menyimpan dapat mendorong seseorang untuk memakai.

Telah disebutkan bahwa haram menggunakan wadah emas dan perak. Jika seseorang menggunakan wadah tersebut untuk berwudhu atau mandi, maka ia berdosa, namun wudhu dan mandinya tetap dihukumi sah. Begitupula jika seseorang makan atau minum sesuatu yang halal dengan menggunakan wadah dari emas atau perak maka ia berdosa, tapi status makanannya tetaplah halal.

Termasuk bentuk penggunaan yang haram adalah menggunakan tusuk gigi, pengorek kuping, sisir, sendok, garpu dari emas dan perak. Begitupula haram memakai pispot yang terbuat dari emas dan pirak.

Menggunakan alat celak yang terbuat dari emas atau perak pun haram. Perkecualiannya jika dokter yang adil dan terpercaya mengatakan bahwa matanya dapat sembuh jika menggunakan alat celak dari emas. Dalam keadaan ini, ia boleh menggunakannya sampai sembuh. Apabila sudah sembuh, ia wajib menghancurkan alat celak itu atau menjualnya.

Diharamkan pula bagi pengrajin untuk membuat wadah dari emas dan perak. Jika ia melakukannya untuk orang lain, maka ia tidak berhak mendapatkan bayaran karena perbuatannya adalah maksiat. Perbuatan maksiat tidak berhak dibayar.

Apabila ada seseorang merusak wadah-wadah yang terbuat dari emas dan perak maka ia tidak wajib membayar ganti-rugi. Tidak boleh pula bagi seorang pun untuk menuntutnya membayar ganti-rugi atau mengadukannya kepada hakim yang zalim dan tidak mengerti ilmu agama.

Wadah yang disepuh emas

Apabila ada wadah terbuat dari tembaga atau bahan lainnya kemudian disepuh dengan emas atau perak maka hukum penggunannya diperinci sebagai berikut:

  1. Jika terhasilkan sesuatu ketika disodorkan ke api itu menandakan kadar sepuhannya adalah tinggi sehingga hukum menggunakannya adalah haram.
  2. Jika tidak terhasilkan sesuatu ketika disodorkan ke api itu menandakan kadar sepuhannya adalah sedikit oleh sebab itu boleh menggunakan wadah itu.

Ini adalah hukum menggunakan wadah yang telah disepuh. Adapun hukum menyepuh dengan emas dan perak itu sendiri adalah haram secara mutlak. Baik kadar sepuhannya sedikit atau banyak. Oleh sebab itu orang yang menyepuh tidak berhak mendapatkan upah karena pekerjaannya dinilai sebagai suatu kemaksiatan.

Apabila ada wadah terbuat dari emas atau perak, kemudian disepuh dengan tembaga atau lainnya secara menyeluruh sehingga tidak lagi terlihat emas dan peraknya, maka hukum menggunakan wadah itu adalah boleh. Sebab alasan pengharaman penggunaan wadah emas dan perak yaitu menyombongkan diri dan takut menyakiti hati orang miskin hilang dengan disepuhnya wadah tersebut memakai bahan lain.

 

Tambalan emas dan perak

Jika wadah yang terbuat dari bahan biasa pecah atau retak, kemudian ditambal dengan menggunakan emas dan perak, apakah wadah itu boleh dipakai? Mengenai masalah ini terdapat beberapa perincian.

Jika wadah tersebut ditambal dengan perak, maka hukumnya adalah sebagai berikut:

  1. Apabila tambalannya kecil dan sesuai kebutuhan maka wadah itu boleh digunakan dan tidak makruh.
  2. Apabila tambalannya besar dan lebih dari kebutuhan maka wadah itu haram untuk digunakan.
  3. Apabila tambalan itu kecil tapi melebihi kebutuhan, atau besar tapi sesuai dengan kebutuhan maka wadah itu boleh digunakan, tapi hukumnya makruh. Dalam masalah ini sama saja hukumnya baik ia bisa menambal dengan selain perak atau tidak.

Maksud dari sesuai kebutuhan adalah hanya untuk menambal tempat yang pecah atau retak. Sedangkan yang jadi patokan mengenai besar atau kecil adalah pandangan umum.

Jika wadah tersebut ditambal dengan emas maka hukumnya adalah haram secara mutlak. Baik tambalannya kecil ataupun besar, sesuai kebutuhan ataupun melebihi kebutuhannya.

Wadah Permata

Boleh menggunakan wadah-wadah yang terbuat dari permata dan batu-batu mulia yang bernilai mahal seperti Yakut, Yakut, Zamrud, Mutiara, Marjan, Akik, Permata, Fairuz, dan lainnya. Semua itu boleh digunakan walaupun harganya jauh melebihi wadah emas dan perak. Tetapi hukum menggunakannya adalah makruh. Ini dikarenakan tidak ada yang mengetahui nilai batu-batu mulia ini kecuali orang tertentu saja, sehingga orang-orang yang miskin tidak akan tersakiti hatinya ketika melihatnya. Berbeda dengan emas dan perak yang nilainya diketahui oleh semua kalangan.

Adapun wadah yang terbuat dari bahan bisa seperti kaca atau tembikar, namun menjadi sangat mahal harganya karena keterampilan pembuatnya, maka hukum menggunakannya adalah boleh sesuai dengan kesepakatan ulama.

Wadah kulit

Hukum menggunakan wadah kulit tergantung kepada kulit yang dipakai untuk membuat wadah tersebut. Apabila kulit yang digunakan adalah kulit hewan yang suci maka boleh untuk menggunakannya. Sedangkan apabila kulit yang digunakan adalah kulit yang najis maka tidak boleh digunakan untuk wadah cairan.

Ada dua jenis kulit suci, yaitu kulit hasil dari sembelihan hewan yang halal dagingnya seperti kambing, sapi, unta, kuda, dan hewan halal lainnya. Yang kedua, kulit dari bangkai hewan yang telah disamak. Dalam hal ini sama saja hukumnya baik hewan yang halal dimakan atau tidak asalkan bukan bangkai anjing dan babi atau hasil silang antara keduanya atau salah satu dari keduanya. Kulit dari anjing dan babi adalah najis yang tidak dapat menjadi suci dengan disamak.

Menyamak adalah menghilangkan hal-hal yang bukan kulit seperti lemak, rambut, darah dan lainnya, dan menjadikanya tidak berbau amis. Samak dikatakan berhasil jika kulit tidak lagi berbau busuk walaupun direndam lama dalam air. Proses menyamak harus dengan menggunakan bahan yang menyengat lidah yang biasa digunakan untuk menyamak seperti kulit delima, tawas, daun Qordz atau lainnya. Boleh juga dengan menggunakan bahan yang najis seperti kotoran burung dara. Tidak sah menyamak hanya dengan dikeringkan di bawah matahari atau dengan tanah.

Setelah proses samak selesai, kulit hukumya sama dengan pakaian yang terkena najis. Jadi wajib untuk membasuhnya dengan air agar menjadi suci dan dapat dipakai. Jika sudah demikian, maka kulit menjadi suci bagian zahir dan batinnya sehingga dapat dipakai shalat, dan dijadikan wadah untuk air atau lainnya.

Wadah dari tulang

Tulang semua hewan adalah najis kecuali tulang dari sembelihan hewan yang halal di makan. Jadi boleh menjadikan tulang sembelihan kambing, sapi, unta atau lainnya daripada hewan yang halal untuk dijadikan wadah air atau lainnya. Sedangkan tulang dari hewan selain itu hukumnya adalah najis, tidak boleh dijadikan wadah untuk air yang sedikit atau benda cair lainnya.

Wadah lainya

Wadah yang terbuat dari bahan-bahan lain seperti tembikar, kaca, kayu, batok kelapa, atau lainnya adalah halal untuk digunakan asalkan suci.

Adapun wadah najis, seperti wadah dari kulit dan tulang yang najis, atau dari bahan-bahan lain yang najis maka hukumnya diperinci:

  1. Jika digunakan sebagai wadah air yang banyak (216 liter atau lebih) dan tidak dapat merubah warna, rasa dan bau dari air tersebut maka hukum menggunakannya adalah boleh namun makruh.
  2. Jika digunakan sebagai wadah zat yang tidak basah seperti wadah peralatan, pakaian atau selainnya maka boleh namun makruh.
  3. Jika digunakan sebagai wadah cairan selain air, atau air yang sedikit (kurang dari 216 liter) maka menggunakannya adalah haram karena dapat membuat isinya menjadi najis.

Diperbolehkan menggunakan wadah najis untuk air yang sedikit, jika air itu digunakan bukan untuk penggunaan manusia, seperti air untuk mematikan api, air untuk membuat bangunan, menyiram tanaman, memberi minum hewan dan lainnya.

Wadah orang kafir

Hukum menggunakan wadah orang kafir adalah makruh, begitupula menggunakan pakaian mereka. Menggunakan pakaian yang langsung melekat ke kulit mereka lebih keras kemakruhannya. Sedangkan menggunakan wadah air mereka lebih ringan kemakruhannya. Ini karena kaum kafir tidak terlalu memperhatikan masalah najis. Dihukumi makruh jika kita tidak tahu bahwa wadah itu najis, jika kita tahu bahwa wadah itu najis maka haram untuk menggunakannya. Demikian juga makruh menggunakan wadah seorang muslim yang nampak tidak memperhatikan masalah najis seperti pecandu minuman keras dan tukang jagal yang tidak menjaga diri dari najis.

Disunahkan apabila malam telah tiba untuk menutup wadah air dan makanan walaupun dengan membentangkan tongkat di atasnya. Imam Ibnu Imad mengatakan begitupula disunahkan untuk menutup sumur. Selain itu disunahkan pula mengunci pintu, mematikann api dan membaca basmalah ketika melakukan itu semua.

Demikian penjelasan ringkas mengenai hukum wadah. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.RA(*)