Rabithah Alawiyah

RIBA : KEHARAMAN DAN MACAM-MACAMNYA

Riba adalah dosa besar yang sudah disepakati keharamannya. Sebagian ulama mengatakan bahwa riba tidak pernah di halalkan dalam syariat umat manapun. Dalam Al-Quran Allah ﷻ berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS al-Baqarah: 275)

Sahabat Jabir radhiyallahu anhu berkata:

«لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ»، وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ»

Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan riba, penulisnya serta dua saksinya dan bersabda: “Mereka semua sama.” (HR Muslim)

Nabi ﷺ bersabda:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ ابْنُ آدَمَ أَشَدُّ عِنْدَ اللَّهِ إثْمًا مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً

Satu dirham dari riba yang dimakan oleh manusia lebih berat di sisi Allah dosanya daripada 36 perzinahan. (HR Ahmad, Baihaqi dan Daruquthni)

Dalam Hadits lain, Nabi ﷺ bersabda:

لِلرِّبَا سَبْعُونَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ

Riba memiliki tujuh puluh pintu, yang paling ringan dosanya sama dengan seorang yang menikahi ibunya.  (HR al Hakim)

Begitu besar dosa riba sehingga Allah ﷻ mengumumkan perang terhadap para pelaku riba, dan mengancam mereka dengan kemurkaan-Nya. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ  فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS al Baqarah: 278-279)

Para ulama menyebutkan bahwa di dalam ayat tersebut terdapat isyarat bahwa pelaku riba yang tidak bertaubat akan mati di luar agama Islam. Naudzu billahi min dzalik.

Melihat besarnya dosa riba, maka tidak boleh seorang bermuamalah di pasar kecuali yang sudah memahami ilmu tentang Riba. Sayidina Umar radhiyallahu anhu berkata:

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا

Tidak boleh ada yang berdagang di pasar kita kecuali orang yang sudah memahami masalah memakan riba.

Sayidina Ali radhiyallahu anhu juga berkata:

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

Siapa yang berdagang sebelum memahami fiqih maka ia akan terjerumus ke dalam riba kemudian terjerumus, kemudian terjerumus.

Pengertian Riba

Secara bahasa, riba berarti tumbuh dan bertambah. Allah ﷻ berfirman:

اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

Hiduplah bumi itu dan tumbuh. (QS al Haj: 5)

Dalam syariat, riba masuk dalam dua akad muamalah, yaitu: akad perdagangan dan utang.

Riba Dalam Perdagangan

Keharaman jual-beli riba dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلًا بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَجْنَاسُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

Pertukaran emas dengan emas; perak dengan perak; gandum bur dengan gandum bur; gandum syair dengan gandum syair; kurma dengan kurma; garam dengan garam; haruslah dilakukan dengan yang semisalnya dalam ukuran yang sama, dan saling serah terima. Jika jenis-jenis ini berbeda, maka bolehlah kalian menjualnya bagaimana saja (tidak dengan ukuran yang sama) asalkan saling serah terima.” (HR Muslim)

Dari hadits ini dan hadits-hadits lainnya, para ulama menjelaskan bahwa riba hanya terjadi pada jual beli barang-barang ribawi yang sama illat (unsur) ribanya. Barang ribawi dibagi menjadi dua:

  1. Barang ribawi yang illat ribanya adalah karena konsumsi.

Ini meliputi semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia dalam keadaan normal.

  1. Barang ribawi yang illat ribanya adalah sebagai alat tukar asli.

Ini meliputi emas, perak dan semua alat tukar yang menggantikan keduanya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa riba dalam perdagangan hanya terjadi dalam dua kasus saja, yaitu:

  1. Barter antara makanan dengan makanan.
  2. Jual beli mata uang (emas, perak atau mata uang yang menggantikan)

Jadi tidak ada riba dalam :

  1. Jual beli barang ribawi dengan barang ribawi lain yang berbeda illat ribanya, seperti menjual beras dengan emas/uang.
  2. Jual beli antara barang ribawi dengan bukan barang ribawi, seperti menukar beras dengan pakaian, atau menukar emas/uang dengan pakaian.
  3. Jual beli antara dua hal yang bukan barang ribawi seperti menukar pakaian dengan kendaraan.

Para ahli fiqih mendefinisikan riba dalam perdagangan dengan:

“Akad jual-beli atau barter antara barang ribawi yang tidak diketahui kesamaan ukuran berat syar’inya saat terjadinya akad (Riba Fahdl), atau tanpa melakukan serah terima barang di tempat (Riba Yad), atau dengan adanya tempo dalam akad (Riba Nasa).”

Dari pengertian ini kita dapat disimpulkan ada tiga macam jenis riba:

  1. Riba Fadhl

Barang ribawi yang sejenis boleh saling ditukar asalkan saat akad diketahui ukuran keduanya sama, tanpa memandang perbedaan bentuk dan kualitas. Jadi, 5 gram emas boleh ditukar dengan 5 gram emas, walau yang satu belum diolah sedangkan yang lain sudah dalam bentuk perhiasan. Beras kualitas A boleh ditukar dengan Beras kualitas B, asalkan keduanya berukuran sama.

Apabila tidak memenuhi syarat ini, maka tukar-menukar ini dinamakan Riba Fadhl. Riba Fadhl mencakup dua gambaran:

Pertama: Tukar-menukar barang ribawi dengan jenis yang sama, tapi dengan ukuran yang berbeda. Seperti 5 gram emas dengan 7 gram emas, atau 5 kg beras dengan 6 kg beras.

Kedua: Tukar-menukar barang ribawi dengan jenis yang sama, tanpa mengetahui ukuran keduanya saat akad. Seperti seorang menyerahkan beras dengan beras tanpa mengetahui ukuran keduanya. Ini termasuk Riba Fadhl walaupun setelah itu ditimbang dan ternyata keduanya memiliki ukuran yang sama.

Perhatian: Jual beli barang ribawi dengan jenis yang berbeda boleh dilakukan dengan berat yang berbeda. Jadi boleh menukar 5 kg beras dengan 6 kg gandum, atau 5 gram emas dengan 6 gram perak, dsb.

  1. Riba Yad

Riba yad adalah akad jual-beli barang ribawi tanpa adanya serah terima di tempat dari dua belah pihak atau salah satunya. Seperti misalnya menukar 5 gram emas dengan 5 gram emas, akan tetapi tidak ada serah terima sampai kedua belah pihak berpisah. Lantas diserahkan di tempat lain beberapa waktu kemudian.

Perhatian: Riba Yad tidak terbatas pada jual-beli barang ribawi yang sejenis, tapi juga terjadi pada yang tidak sejenis. Jadi tidak boleh menukar emas dengan perak, atau beras dengan gula misalnya kecuali dengan adanya serah terima di tempat.

  1. Riba Nasa

Riba Nasa adalah akad jual-beli barang ribawi dengan penyebutan tempo di dalam akad. Akad ini haram walaupun terjadi serah terima di tempat. Misalnya Zaid berkata: “Saya jual kepadamu emas 5 gram ini dengan emas 5 gram milikmu, dengan tempo sehari.” Dengan adanya perkataan “dengan tempo sehari” akad ini sudah termasuk Riba Nasa, walaupun ternyata keduanya langsung melakukan serah terima barang saat itu juga.

Perhatian: Riba Nasa tidak terbatas pada jual-beli barang ribawi yang sejenis, tapi juga terjadi pada yang tidak sejenis. Jadi tidak boleh menukar emas dengan perak, atau beras dengan gula misalnya kecuali harus dengan kontan.

Dari pemaparan di atas di ambil kesimpulan sebagai berikut:

Pertama: boleh menukar barang ribawi dengan yang sejenisnya seperti beras dengan beras, emas dengan emas, dsb dengan tiga syarat: Sama ukurannya, serah terima di tempat, dan kontan.

Kedua: boleh menukar barang ribawi dengan yang berbeda jenisnya seperti beras dengan gandum, emas dengan perak, dsb dengan dua syarat: serah terima di tempat, dan kontan. Boleh untuk berlainan ukuran.

Riba Dalam Utang

Riba dalam utang/ Riba Qordh dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ :

كُلُّ قَرْضٍ يَجُرُّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Setiap jenis utang yang mendatangkan manfaat (bagi si pemberi utang) maka itu adalah riba. (HR Baihaqi)

Yakni utang yang disyaratkan di dalamnya hal yang memberi keuntungan kepada si pemberi utang. Seperti dengan kewajiban membayar bunga sekian persen per bulan, keharusan menyewakan rumah kepadanya, keharusan membeli barang darinya, atau lainnya. Semua ini termasuk ke dalam riba Qordh. Sebagian ulama memasukan riba qordh ke dalam golongan riba fadhl.

Perhatian: Riba Qordh terjadi jika dalam akad ada syarat yang menguntungkan si pemberi utang. Apabila si pemberi utang tidak menyaratkan apa-apa, akan tetapi si pengutang membayar lebih sebagai bentuk terima kasih maka tidak dinamakan riba. Bahkan ini dinilai sebagai bentuk kebaikan. Dalam hadits dikatakan

إنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

Sesungguhnya orang-orang terbaik kalian adalah yang paling baik dalam menunaikan utang. (HR Bukhari-Muslim)

Masalah masalah

  1. Makanan yang masuk dalam ribawi adalah semua makanan umum manusia yang dimakan sebagai makanan pokok, makanan tambahan, atau pengobatan. Masuk di dalamnya buah-buahan, dan garam. Tidak masuk di dalamnya makanan jin seperti tulang, atau makanan khusus hewan seperti jerami, rumput dan biji kurma.
  2. Hewan utuh tidak masuk dalam ribawi. Sahabat Ibnu Umar ra pernah membeli satu unta dengan dua unta atas perintah Nabi ﷺ.
  3. Termasuk dalam barang ribawi air putih.
  4. Tepung, minyak, cuka, daging dan susu dianggap sama dengan asalnya. Jadi tepung beras boleh ditukar tepung gandum yang berbeda ukurannya sebab asalnya lain jenis. Begitu pula cuka apel dengan cuka anggur; susu sapi dengan susu kambing; minyak zaitun dengan minyak kelapa, semua itu dianggap sebagai jenis yang berbeda.
  5. Telur, hati, limpa, jantung, paru, otak, semua ini dianggap berlainan jenis walau dari satu hewan.
  6. Ukuran dalam fiqih terbagi dua: Wazn (timbangan/dengan satuan gram di masa kini) dan Kail (takaran/dengan satuan liter di masa kini). Kesamaan ukuran yang disyaratkan dalam tukar-menukar barang ribawi yang sejenis harus berpatokan dengan ukuran yang dipakai di Hijaz di zaman Nabi ﷺ untuk barang tersebut. Di zaman Nabi ﷺ gandum memakai kail, maka kesamaan ukuran gandum harus dalam ukuran kail bukan wazn, demikian pula barang lain. Benda yang tidak diketahui ukurannya di zaman Nabi SAW karena tidak ada di Hijaz atau lainnya, maka ukuranya bepatokan pada adat setempat ketika terjadi jual-beli apakah memakai wazn atau kail.
  7. Tukar-menukar buah yang sejenis harusnya dalam buah yang bisa dikeringkan seperti kurma dan anggur. Yang ditakar harus dalam bentuk keringnya. Adapun buah yang tidak dapat dikeringkan maka tidak dapat ditukar dengan yang sejenisnya.
  8. Tidak boleh tukar-menukar barang ribawi yang sejenis jika sudah diolah dengan menggunakan api seperti dimasak, dibakar, dipanggang, digoreng dll. Pengaruh api tidak sama sehingga menyebabkan tidak diketahui kesamaan ukurannya. Dikecualikan pengaruh api yang berfungsi untuk memisahkan, seperti untuk memisahkan madu dengan lilin, emas dan campurannya, dan lainnya.
  9. Dilarang menjual daging dengan hewan, baik sejenis maupun lain jenis, baik bisa dimakan atau tidak.
  10. Tukar menukar uang dengan nilai sama seperti Rp 100.000,- dengan Rp 100.000,- jika dilakukan serah terima di tempat maka sah. Jika salah satu pihak menambahkan jumlah maka ini termasuk riba.

Di antara cara agar menjadi halal adalah dengan mengubah akad menjadi saling memberi hadiah, atau saling mengutangi kemudian saling membebaskan utang (asalkan tidak menyatakan dalam akad).

  1. Dalam menghutang tidak boleh mensyaratkan mengembalikan lebih, atau yang lebih baik mutunya.
  2. Jika pemberi utang memberikan syarat yang merugikannya, seperti mengembalikan yang lebih buruk mutunya, maka syaratnya tidak dianggap tapi akadnya tetap sah.
  3. Syarat tempo dalam mengutangi jika menguntungkan pemberi utang maka termasuk riba, jika tidak mendatangkan keuntungan maka syarat ini tidak dianggap.
  4. Dalam mengutangi boleh mensyaratkan ada jaminan (gadai) atau orang yang menjamin. RA(*)