Rabithah Alawiyah

Sifat-sifat Para Salaf Ba’alawi

Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi dalam salah satu tulisannya menggambarkan mengenai bagaimana sifat-sifat para salaf sadah Ba’alawi. Beliau radhiyallahu anhu berkata:

Dahulu para salaf Banu Alawi radhiyallahu anhum :

  1. Mereka mengamalkan ilmunya,
  2. Menjauhi hal-hal yang merintangi dan menyibukkan (dari ilmu dan amal),
  3. Menghabiskan umur mereka yang berharga untuk meneliti sunah-sunah Nabi ﷺ dan mengamalkannya,
  4. Memperbanyak berbagai ibadah,
  5. Meninggalkan kesenangan syahwat,
  6. Jika malam tiba, mereka bangkit untuk beribadah di atas telapak kaki mereka,
  7. Sebagian mereka keluar menuju gunung-gunung dan lembah untuk beribadah di sana siang dan malam, sebagian lagi keluar di waktu malam saja,
  8. Bersamaan dengan itu mereka telaten melaksanakan Shalat Jumat dan Shalat Jamaah di awal waktu kecuali jika ada udzur yang diizinkan oleh syariat,
  9. Sebagian mereka menjalani waktunya untuk mengajar dan berfatwa, menghabiskan waktu-waktunya untuk menebar manfaat kepada manusia.
  10. Mereka memiliki perhatian khusus kepada kitab-kitab Imam Ghazali, terlebih kitab Al-Ihya, Al-Basith, Al-Wasith, Al-Wajiz, Al-Khulashah.
  11. Mereka memiliki perhatian yang sempurna terhadap hadits, banyak dari mereka yang mencapai derajat Al-Hafidz
  12. Mereka menyembunyikan ibadahnya karena khawatir merasa riya.
  13. Mereka zuhud (tidak tertarik) terhadap harta dunia maupun kepemimpinan di dalamnya.
  14. Mereka merasa qanaah (puas) dengan yang secukupnya dari pakaian, makanan, maupun tempat tinggal.
  15. Tidak ada satupun dari mereka yang menerima sedikitpun pemberian sultan atau pegawainya walau mereka membutuhkan. Akan tetapi, mereka merasa cukup dengan sepotong roti yang halal atau sebutir kutma. Dan jika mereka tidak mendapatinya, mereka akan menahan lapar sampai mendapati harta yang benar-benar halal.
  16. Mereka tidak merasa senang dengan apapun dari dunia yang datang pada mereka, tidak pula bersedih atas harta dunia yang pergi dari mereka.
  17. Mereka tidak suka menimbun makanan pokok, karena lebih mengutamakan agar tangan mereka bersih dari dunia. Sebagian mereka menyimpan makanan pokok untuk keluarganya, untuk meneladani perbuatan Nabi ﷺ.
  18. Setiap dari mereka mementingkan pekerjaan halal di atas semua urusannya.
  19. Mereka memberikan hartanya untuk memberi makan orang yang lapar, memakaikan pakaian kepada yang tidak punya, serta melunasi utang.
  20. Mereka semua melayani tamunya sendiri.
  21. Mereka semua makan bersama pelayannya.
  22. Mereka membawa sendiri keperluannya dari pasar.
  23. Yang kaya tidak risih bersalaman dengan yang fakir, dan tokoh terpandang tidak risih bersalaman dengan orang biasa.” (Iqdul Yawaqit hal 210-212)

Demikianlah akhlak para salaf Ba’alawi. Mereka juga mewanti-wanti agar selalu mengikuti akhlak dan jalan para salaf ini tanpa berpaling sedikitpun. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata:

“Keluarga Ba’alawi kegiatan mereka hanyalah tasbih dan wirid (ibadah). Adapun mata pencaharian mereka hanya dilakukan sebatas memenuhi kebutuhan pokok yang harus ada. Siapa yang keluar dari jalan keluarganya, maka ia akan menjadi seperti seekor gagak yang merasa takjub dengan cara berjalan burung Qathah, gagak itu ingin berjalan sepertinya tetapi ia tidak mampu. Kemudian ia mencoba kembali kepada cara jalannya yang semula akan tetapi ia sudah tidak ingat. Maka tidak ada yang baik bagi manusia kecuali menjalani jalan keluarganya.” (Tatsbitul Fuad juz 1 hal 285)

Semoga kita semua dapat meniru sifat-sifat mereka. Aamiin ya robbal alamiin.RA(*)