Posted on 18 January 2026
Berikut ini adalah terjemah ringkas dari kajian yang disampaikan oleh Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur terkait peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Bulan Syakban, dan bagaimana kita memetih hikmah dari peristiwa tersebut.
Pentingnya Mengenang Momen Islami
Sebagaimana sering kita dengar, agama ini adalah agama yang memperhatikan momen dan waktu. Barang siapa tidak mengenal momennya, ia akan kehilangan makna zamannya, dan siapa yang kehilangan masa kini, ia akan kehilangan masa depannya.
Kaum perempuan adalah pihak yang paling membutuhkan pemahaman terhadap momen-momen ini, karena peran mereka di dalam rumah sangat besar dalam mendidik generasi sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya. Ketika seorang perempuan memahami momen-momen dalam kalender hijriah dari awal hingga akhir, ia dapat mengajarkannya kepada anak-anak di rumah: apa makna bulan ini, apa arti peristiwa ini, dan apa bentuk pengagungan yang semestinya dilakukan.
Bulan Sya‘ban adalah salah satu bulan yang sarat dengan momen keislaman, baik bagi laki-laki maupun perempuan, bahkan dengan kekhususan yang lebih mendalam. Ia datang setelah bulan Rajab, bulan istighfar, bulan Allah, dan termasuk bulan-bulan haram. Banyak kaum Muslimin—baik laki-laki maupun perempuan—memberi perhatian besar pada bulan Rajab.
Adapun bulan Sya‘ban, Nabi ﷺ menyebutnya sebagai “bulanku”. Dalam riwayat disebutkan:
رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ عز وجل، وَشَعْبَانُ شَهْرِي، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِي
Rajab adalah bulan Allah, Sya‘ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.
Pembagian ini bukan tanpa makna. Ia mengisyaratkan adanya tugas-tugas spiritual yang perlu dipahami oleh setiap Muslim dan Muslimah. Ketika Nabi ﷺ menyebut Rajab sebagai bulan Allah, itu menuntut kesiapan hati dalam berhubungan dengan Allah. Ketika beliau menyebut Sya‘ban sebagai bulannya, itu isyarat adanya kekhususan yang berkaitan langsung dengan Rasulullah ﷺ. Dan Ramadhan adalah bulan umat, bulan penerapan dan pengamalan.
Makna momen di sini adalah peristiwa yang bertepatan dengan hari, malam, atau kejadian tertentu yang layak mendapat perhatian. Perhatian itu tidak lahir dari pemikiran semata, tetapi dari nash syar‘i: Al-Qur’an dan Sunnah. Kita mengenal Sya‘ban karena wahyu, bukan karena dugaan.
Islam memandang perempuan sebagai pendidik, ibu adalah sekolah pertama. Maka tidak mungkin peran pendidikan itu sempurna tanpa pemahaman agama dan momen-momennya.
Bulan Shalawat
Salah satu keistimewaan bulan Sya‘ban adalah bahwa di dalamnya diturunkan ayat tentang shalawat kepada Nabi ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab : 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalawat bukan perkara ringan. Allah dan para malaikat bershalawat kepada Rasulullah ﷺ, lalu Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan hal yang sama. Maka memperbanyak shalawat di bulan Sya‘ban adalah bagian dari fikih momen, yang perlu diajarkan kepada anak-anak agar mereka memahami kemuliaan Rasulullah ﷺ dan balasan besar dari shalawat.
Peralihan Kiblat
Di bulan Sya‘ban pula terjadi peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah. Nabi ﷺ selama waktu tertentu shalat menghadap Baitul Maqdis, sebagaimana kiblat para nabi terdahulu. Namun karena kerinduan beliau agar kiblat umat ini mengarah ke Ka‘bah, Allah menurunkan firman-Nya:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Sungguh, Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami
akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu
ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke
arahnya. (QS Al-Baqarah: 144)
Ini menunjukkan betapa Allah memuliakan Rasul-Nya dan menyenangkan hati beliau. Peristiwa ini juga bagian dari momen besar bulan Sya‘ban yang patut diajarkan dalam keluarga.
Terbelahnya Bulan
Di bulan Sya‘ban pula terjadi peristiwa terbelahnya bulan. Ketika kaum Quraisy menantang Nabi ﷺ agar membelah bulan, tantangan yang mereka anggap mustahil, Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Nabi ﷺ menunjuk bulan, lalu bulan terbelah menjadi dua, terlihat jelas oleh mereka.
Allah mengabadikan peristiwa ini dalam firman-Nya:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ
Telah dekat hari Kiamat dan bulan pun telah terbelah. Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’(QS Al-Qamar: 1-2)
Peristiwa ini menjadi tanda dekatnya kiamat dan bukti kenabian Rasulullah ﷺ. Namun sebagian manusia tetap berpaling, bahkan menuduh beliau sebagai penyihir. Allah menegaskan bahwa masalahnya bukan pada bukti, tetapi pada kesombongan hati.
Bulan Sya‘ban mengajarkan kepada kita iman kepada perkara gaib. Banyak hal dalam agama yang tidak dapat dijangkau akal semata: kelahiran Isa tanpa ayah, penciptaan Adam tanpa ayah dan ibu, kisah Ashabul Kahfi, dan peristiwa terbelahnya bulan. Semua ini adalah bagian dari keyakinan besar yang menjadi inti iman seorang Muslim.
Karena itu, salah satu tugas kita di bulan Sya‘ban adalah menanamkan kepada anak-anak dan keluarga sikap taslim, berserah diri kepada wahyu, dan meyakini bahwa kekuasaan Allah melampaui batas akal manusia.
Perkara gaib dalam Islam disebut oleh para ulama sebagai al-yaqiniyyat al-kubra (keyakinan-keyakinan besar). Ia merupakan bagian pokok dari agama dan iman kita. Karena itu, Allah Ta’ala berfirman, kepada Nabi Muhammad ﷺ:
إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ
Sesungguhnya engkau hanya dapat memberi peringatan kepada orang yang mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun dia tidak melihat-Nya. (QS Yasin: 11)
Yang dimaksud mengikuti peringatan adalah mengikuti Al-Qur’an, Sunnah, dan ilmu syar‘i. Orang yang seperti inilah yang mampu memahami peringatan. Adapun model manusia yang kufur, munafik, atau ateis—mereka sering kali tidak mampu memahami, karena akal mereka telah dikuasai oleh bisikan setan.
Allah menyebutkan dua ciri utama: mengikuti peringatan dan takut kepada Allah dalam perkara gaib. Inilah hakikat ilmu dan hakikat peringatan. Dan inilah pula makna tazkirah di bulan Sya‘ban, bulan yang Allah kehendaki untuk menundukkan kesombongan akal dan menampakkan kemuliaan iman kepada perkara gaib. Allah ta’ala berfirman:
الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib. (Al-Baqarah: 1-3)
Selama Allah telah berfirman:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Telah dekat hari Kiamat dan bulan pun telah terbelah
Dan selama hadis-hadis sahih menjelaskan peristiwa itu, maka akal yang menolak harus ditinggalkan. Dalam masalah tafsir dan akidah, yang menjadi pegangan adalah nash, bukan spekulasi akal.
Orang beriman harus memiliki kesiapan untuk membenarkan sesuatu yang tidak dapat dijangkau akalnya, selama ia datang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Allah melanjutkan:
وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
Dan mereka melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang telah diturunkan sebelum engkau, serta mereka yakin akan adanya akhirat. (QS Al-Baqarah: 3-4)
Kemudian Allah menutupnya dengan firman-Nya:
أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-Baqarah: 5)
Mengapa Allah mengatakan “petunjuk dari Tuhan mereka”? Karena mereka mengikat akal dan hati kepada Allah, bukan kepada apa yang sekadar dapat dipahami oleh logika. Akal manusia tidak mampu mencerna peristiwa seperti terbelahnya bulan atau hakikat perkara gaib. Namun agama mengajarkan bahwa orang yang beriman kepada gaib akan membenarkan apa yang datang melalui wahyu.
Inilah yang harus diajarkan, diperingatkan, dan ditanamkan kepada keluarga dan anak-anak. Inilah tugas dakwah di rumah-rumah kita, di tengah masyarakat, dan dalam setiap momen keislaman, agar generasi memahami hakikat agama ini.
Malam Nishfu Syakban
Di antara momen besar bulan Sya‘ban adalah malam nisfu Sya‘ban. Banyak riwayat menyebutkan keutamaannya dan keterkaitannya dengan kehidupan manusia: umur, ajal, dan rezeki. Disebutkan bahwa pada malam ini Allah menetapkan perintah-perintah-Nya, termasuk pembagian ajal dan rezeki selama satu tahun.
Maknanya, Allah Ta‘ala menuliskan ketetapan tahunan: siapa yang wafat, siapa yang diberi rezeki, siapa yang diberi kesempatan hidup hingga tahun berikutnya. Oleh karena itu, para salaf membiasakan diri untuk berdoa dan bermunajat, memohon keberkahan umur dan kebaikan amal, meskipun pada hakikatnya ajal tidak berubah kecuali dengan kehendak Allah.
Dalam hadis-hadis disebutkan bahwa amal, silaturahmi, dan ketaatan dapat menjadi sebab keberkahan umur dan rezeki, semuanya dalam lingkup ilmu dan kehendak Allah Ta‘ālā.
Semua ini adalah fikih iman, bukan urusan logika semata. Akal manusia boleh belajar urusan dunia, tetapi dalam perkara gaib, akal harus tunduk dan membenarkan.
Manusia, laki-laki dan Perempuan, adalah hamba Allah, berada di bawah ketentuan qadha dan qadar. Allah berfirman bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Kesombongan, kekerasan, pertumpahan darah, dan kerusakan di muka bumi adalah tanda jauhnya manusia dari hakikat hubungan dengan Allah.
Setan bergembira dengan perpecahan, maksiat, kekacauan moral, dan runtuhnya adab. Maka Allah memerintahkan kita dengan menjaga kehormatan, mempunyai rasa malu, adab, dan pendidikan anak sejak dini. Semua itu ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi membutuhkan ayah dan ibu yang jujur imannya dan siap menghadapi tantangan zaman.
Bulan Sya‘ban adalah bulan nasihat, peringatan, dan kemuliaan. Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa di bulan ini sebagai kekhususan beliau. Umat diperintahkan untuk bersiap menyambut Ramadhan dengan hati yang lapang dan jiwa yang bersih.
Di zaman ini, ketika tantangan iman semakin besar dan fitnah semakin luas, kita dituntut untuk memahami fikih waktu, fikih momen, dan fikih tarbiyah. Setiap bulan dalam Islam memiliki kehormatan dan makna, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ
Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi.. (QS At-Taubah: 36)
Seluruh sistem waktu ini ditetapkan Allah sejak penciptaan langit dan bumi. Karena itu, hidup seorang Muslim seharusnya penuh dengan kesadaran akan makna waktu, bukan sekadar rutinitas kosong.
Kita memohon kepada Allah agar tidak memalingkan kita dari keberkahan bulan Sya‘ban, agar Dia memanjangkan umur kita dalam ketaatan, membersihkan hati kita, dan mempersiapkan kita menyambut Ramadhan dengan jiwa yang jernih dan iman yang kokoh.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mengambil pelajaran, mengingat dan mengamalkan, serta berjalan di atas petunjuk Nabi Muhammad ﷺ dengan istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin ya robbal alamiin.RA(*)