Kalam Habib Ali Al-Habsyi: Renungan Hari Kesepuluh Ramadhan

Posted on 28 February 2026



Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi radhiyallahu anhu pernah berkata pada malam kesepuluh Ramadan:

“Sepuluh malam Ramadan telah berlalu atas kalian.

Adakah di antara kalian yang benar-benar kembali kepada Allah?

Adakah yang bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh?

Adakah yang mulai memiliki sifat wara’?

Adakah yang mulai bersikap zuhud terhadap dunia?

Adakah yang hatinya menjadi khusyuk?

Adakah yang menyendiri, duduk menangis di hadapan Tuhannya, menyesali umur yang telah dihabiskan dalam maksiat, mengingat besarnya dosa-dosa lalu memohon ampun?

Allah berfirman tentang orang-orang saleh:

وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS. Al-Isrā’: 109)

Sepuluh malam telah berlalu, namun keadaan kita masih sama seperti sebelumnya. Apakah ini karena kerasnya hati yang telah menguasai diri kita?

Semoga Allah menghilangkan kekerasan hati itu dari hati kita. Semoga Allah memandang kita dengan pandangan rahmat-Nya.”

Beliau radhiyallahu anhu juga berkata:

“Kita telah mendengar panggilan, namun telinga ini seakan-akan tuli. Obat yang paling manjur pun tidak akan bermanfaat jika hati tidak memiliki kemauan.

Nasihat dan ceramah telah berulang kali disampaikan, namun hati belum juga memahami, telinga belum benar-benar mendengar. Ayat-ayat Al-Qur’an kita dengar, ancaman dan larangannya kita ketahui, tetapi seolah-olah kita tidak mendengarnya. Perintah tidak kita jalankan, larangan tidak kita tinggalkan. Hati menjadi keras dan tidak tersentuh oleh peringatan.

Kelalaian telah menutupi hati kita. Sejak pagi hari ketika mata terbuka, pikiran dan hati langsung tertuju pada dunia: memikirkan dunia, mengumpulkan dunia, mengejar dunia.

Habibuna Muhammad bersabda:

“Barang siapa yang pada pagi harinya hanya memikirkan dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, memisahkan apa yang ia kumpulkan, dan menjadikan kefakiran di depan matanya. Ia tidak akan mendapatkan dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya. Dan barang siapa yang pada pagi harinya memikirkan akhirat, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kecukupan di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.”

Dunia telah melalaikan kita dan menipu kita, dan kita pun tertipu olehnya. Jarang sekali kita menghitung bekal untuk akhirat.

Manusia saling berebut dunia, menghabiskan masa terbaik mereka untuk mencarinya dan mengumpulkannya. Tanpa mempedulikan halal atau haram. Tanpa memikirkan akibatnya: azab yang pedih di dunia dan akhirat.

Padahal di balik kehidupan ini ada kematian. Di balik kematian ada akhirat, ada hisab, ada balasan.
Ada hari yang panjang ketika kita dihadapkan kepada Allah. Hari ketika Allah menampakkan sifat pembalasan-Nya. Hari ketika orang yang dizalimi akan dibalas dari orang yang menzaliminya.

Jangan sampai ada yang terlena dengan kelembutan Allah. Jangan berkata: “Tuhanku tidak akan mengazabku… Tuhanku tidak akan menghukumku atas dosaku…” Semua itu bisa saja ditangguhkan hingga hari akhirat. Allah berfirman:

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitung (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Mujadilah: 6)

Perhatikan, Sudah berapa kali kebenaran tampak di hadapan kalian? Semua amal kalian tercatat di sisi-Nya. Gerakan tercatat, diam tercatat, lirikan tercatat, ucapan tercatat.

Para malaikat menyalin amal-amal kalian: Malaikat sebelah kanan menulis kebaikan,
dan malaikat sebelah kiri menulis keburukan. Sebagaimana Allah berfirman:

هَذَا كِتَابُنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنسِخُ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Jatsiyah: 29)

Engkau akan datang, wahai manusia, pada hari Kiamat, dan  mendapati buku-buku catatan itu penuh. Allah berfirman:

وَكُلُّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.’” (QS. Al-Isra’: 13–14)

Betapa celaka keadaanmu, wahai pendosa… wahai orang yang lalai dan banyak kekurangan… ketika kitabmu diberikan kepadamu, lalu engkau membukanya dan melihat dosa-dosa serta kesalahan-kesalahanmu.

Engkau berkata: “Ya Rabbku, aku tidak melakukan dosa yang itu!” Apakah engkau hendak mendustakan Tuhanmu?

Anggota tubuh yang engkau gunakan untuk bermaksiat akan menjadi saksi atasmu. Allah  berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin: 65)

Dan Allah  berfirman:

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ (QS. Fushilat: 21)

Anggota tubuh yang engkau pakai untuk bermaksiat itu akan bersaksi atasmu.

Nasihat sudah berulang-ulang terdengar di telinga kita, tetapi kita tidak juga mengambil pelajaran.
Padahal Kitab Allah sudah cukup menjadi pemberi nasihat. Betapa banyak di dalamnya ancaman-ancaman, betapa banyak perintah-perintah, betapa banyak larangan-larangan.

يكفي اللبيب كتاب الله موعظة***كما أتى في حديث السيد الحسن

Cukuplah bagi orang yang cerdas, Kitab Allah sebagai nasihat, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Junjungan kita yang rupawan (Nabi Muhammad )

Akan tetapi, semoga Allah memandang kepada kita dengan padangan rahmat-Nya dan mengembalikan kita kepada-Nya dengan cara yang indah.

Kita tidak ingin meninggalkan kebersamaan yang baik, kebersamaan dengan kekasih kita Nabi Muhammad . Kita tidak ingin tertinggal darinya tidak dalam ucapan,
tidak dalam perbuatan, tidak dalam tindakan, dan tidak pula dalam niat.

Semoga Allah menjaga kita dari keburukan penghalang-penghalang yang telah memutus kita dari mengikuti kekasih ini , dari mengikuti jejaknya, dan dari menempuh jalannya.

Siapa yang masih terus-menerus tenggelam dalam maksiat dan pelanggaran, maka ia akan meninggalkan pasukan Muhammad . Dan siapa yang meninggalkan pasukan Muhammad , maka ia akan masuk ke dalam pasukan yang buruk — pasukan setan.

Maka bergabunglah dengan pasukan yang baik, pasukan Muhammad . Jangan sampai seorang pun memutus tali hubungannya dengan kekasih ini karena dosa yang ia lakukan, atau karena maksiat yang ia terjang.

Sampai kapan wahai manusia engkau dalam kelalaian? Engkau membebani dirimu dengan sesuatu yang tidak mampu engkau tanggung, demi mengejar kepentingan dunia yang fana dan akan lenyap.

Kembalilah kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Siapkan bekal untuk negeri akhirat.

Semoga Allah memandang kepadaku dan kepada kalian dengan pandangan khusus dari sisi-Nya. Semoga Allah memandang kepada orang yang bermaksiat di antara kita lalu Dia menerima taubatnya. Dia memandang kepada yang berdosa lalu Dia mengampuninya. Dia memandang kepada yang jauh lalu Dia mendekatkannya. Dia memandang kepada yang terputus lalu Dia menyambungkannya. Dia memandang kepada yang bingung lalu Dia memberinya petunjuk. Dia melihat kepada yang jahil lalu Dia mengajarinya.

Semoga Allah menyebarkan cahaya ilmu di negeri kita, di wilayah kita, dan di zaman kita.
Semoga Allah memperlihatkan kepada kita,  di masa kita dan pada penduduk zaman kita,  sesuatu yang membuat mata kekasih kita Nabi Muhammad menjadi sejuk dan ridha. Aamiin ya robbal Alamiin.RA(*)

*Sumber: Al-Mawaid Ar-Ramdhaniyah