Kalam Salaf: Bersyukur Setiap Saat

Posted on 31 May 2026



Al-Habib Ahmad bin Umar Bin Sumaith dalam majmu kalamnya mengatakan tentang pentingnya bersyukur setiap saat, dan betapa besarnya nikmat Islam sehingga perlu dijaga sampai akhir hayat. Beliau rahimahullah berkata:

Apabila seseorang ditanya oleh saudaranya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” atau “Bagaimana keadaanmu sore ini?”,  maka sepatutnya ia menjawab sebagaimana yang diucapkan oleh sebagian orang saleh:

“Aku berada dalam limpahan nikmat yang tidak mampu kuhitung, sementara dosa-dosaku begitu banyak.”

Bagaimana mungkin engkau terus bermaksiat kepada Allah, tetapi pada saat yang sama mengaku mencintai-Nya?

Sebagian ulama berkata:

تَعْصِي إِلٰهَكَ ثُمَّ تَزْعُمُ حُبَّهُ***هٰذَا لَعَمْرِي فِي الْقِيَاسِ بَدِيعُ

Engkau durhaka kepada Tuhanmu, namun mengaku mencintai-Nya; Demi umurku, sungguh ini adalah logika yang sangat aneh.

Sayyiduna Abdullah Al-Haddad rahimahullah berkata:

"Seseorang mengira dirinya berada pada maqam harus bersabar. Padahal jika ia mau merenungkan dengan sungguh-sungguh, niscaya ia akan melihat bahwa sebenarnya ia berada pada maqam harus bersyukur."

Karena itu, hendaknya seorang hamba menghabiskan seluruh waktunya untuk bersyukur atas nikmat Islam. Sebab nikmat Islam adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang manusia. Sungguh kebanyakan manusia terjatuh ke dalam berbagai keburukan karena tidak bersyukur.

Jagalah nikmat Islam itu dengan mensyukurinya dan dengan menjaga lisan. Kewajiban seorang hamba adalah berusaha menjaga dirinya, maka Allah yang akan  memberi penjagaan.  Karena itu, hendaklah seorang hamba senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dengan doa-doa seperti:

"Wahai Allah, jagalah kami dan mereka..."

Terutama menjelang kematian, mintalah pemberian yang besar yaitu husnul khatimah.

Oleh karena itu, siapa saja yang benar-benar mengharapkan husnul khatimah, hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, meskipun harus mendatangi sendiri orang-orang yang belum mengetahui agama untuk mengajarinya. Karena pada hakikatnya, ia sedang berusaha membebaskan dirinya dan menyelamatkan lehernya dari api neraka.RA(*)