Mengubah Kedengkian Menjadi Semangat Berlomba dalam Kebaikan

Posted on 08 July 2026


Seorang muslim belum mencapai kesempurnaan iman hingga hatinya bersih dari penyakit hasad (kedengkian). Ia akan merasa bahagia ketika melihat saudaranya memperoleh nikmat, sebagaimana ia turut bergembira apabila nikmat itu diberikan kepadanya sendiri. Hati seperti inilah yang menjadi ciri orang-orang beriman; hati yang dipenuhi rasa cinta, kasih sayang, dan keinginan agar kebaikan juga dirasakan oleh orang lain.

Ketika melihat seseorang memiliki keutamaan, baik dalam ilmu, ibadah, akhlak, maupun amal saleh, seorang muslim tidak sepatutnya merasa iri dengan mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya. Sikap yang benar adalah menjadikan keutamaan itu sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, meneladani, dan berusaha meraihnya melalui jalan yang diridhai Allah. Bukan dengan memendam kebencian, apalagi berusaha menjatuhkan orang yang telah Allah muliakan.

Karena itulah Rasulullah bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

"Tidak diperkenankan iri kecuali kepada dua orang: seseorang yang Allah karuniakan harta, lalu ia menginfakkannya di jalan yang benar; dan seseorang yang Allah karuniakan hikmah (ilmu), kemudian ia mengamalkannya serta mengajarkannya kepada orang lain." (HR. Ahmad)

Yang dimaksud dengan "iri" dalam hadis ini bukanlah hasad yang tercela, melainkan ghibthah, yaitu keinginan untuk memperoleh nikmat yang sama tanpa mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari orang lain. Seorang muslim boleh berharap agar Allah menganugerahinya ilmu seperti ulama, kedermawanan seperti para dermawan, kesabaran seperti orang-orang saleh, atau keikhlasan seperti para hamba yang bertakwa. Keinginan semacam ini justru merupakan dorongan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan meningkatkan kualitas diri.

Sebaliknya, apabila yang diinginkan hanyalah kelebihan-kelebihan dunia seperti harta, jabatan, popularitas, atau kemewahan, maka keinginan itu tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan akhirat, bahkan sering kali menjadi pintu lahirnya hasad dan ketidakpuasan.

Allah mengabadikan kisah Qarun sebagai pelajaran bagi orang-orang yang terpukau oleh gemerlap dunia:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ ۝ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahan yang dimilikinya. Orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia berkata, 'Wahai, sekiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh, ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.' Tetapi orang-orang yang diberi ilmu berkata, 'Celakalah kalian! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.'" (QS. Al-Qashash: 79–80)

Ayat ini menunjukkan adanya dua cara pandang yang sangat berbeda. Orang yang hanya memandang dunia akan mengukur keberhasilan dengan kekayaan dan kemewahan. Sebaliknya, orang yang diberi ilmu menyadari bahwa seluruh kenikmatan dunia hanyalah sementara, sedangkan pahala di sisi Allah jauh lebih mulia dan kekal.

Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya mengarahkan keinginannya kepada perkara-perkara yang mendekatkannya kepada Allah, bukan sekadar mengejar kenikmatan dunia yang fana. Jika melihat orang lain lebih kaya, lebih terkenal, atau lebih tinggi kedudukannya, janganlah sibuk memikirkan apa yang ada di tangan mereka. Namun, apabila melihat seseorang lebih berilmu, lebih dermawan, lebih tekun beribadah, atau lebih mulia akhlaknya, jadikanlah hal itu sebagai penyemangat untuk memperbaiki diri. Dalam sebuat atsar disebutkan:

الْمُؤْمِنُ يَغْبِطُ وَالْمُنَافِقُ يَحْسُدُ

"Seorang mukmin memiliki ghibthah (keinginan untuk meneladani kebaikan orang lain), sedangkan orang munafik memiliki hasad (kedengkian)."

Perbedaan keduanya sangat jelas. Ghibthah mendorong seseorang untuk memperbanyak amal saleh, sedangkan hasad mendorongnya untuk membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Ghibthah melahirkan semangat memperbaiki diri, sedangkan hasad hanya melahirkan kebencian, kegelisahan, dan permusuhan.

Maka bersihkanlah hati dari penyakit hasad. Bergembiralah ketika melihat saudara kita mendapatkan karunia Allah. Jadikan setiap keutamaan yang tampak pada diri orang lain sebagai motivasi untuk semakin mendekat kepada Allah. Sebab hati yang bersih akan selalu dipenuhi doa dan harapan agar kebaikan terus bertambah, baik pada diri sendiri maupun pada kaum muslimin seluruhnya.RA(*)