Posted on 24 June 2026
Dalam salah satu ceramahnya di malam Asyura, Al-Habib Umar bin Hafidz menjelaskan keistimewaan Hari Asyura, peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya, serta refleksi seorang Muslim terkait Asyura. Berikut ini adalah terjemah dari ceramah beliau:
Mengambil Pelajaran Dari Perubahan Masa
Segala puji bagi Allah yang terus-menerus mempergantikan hari demi hari dan menghadirkan tahun demi tahun. Dengan silih bergantinya masa itu, Allah memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya yang sejak azali telah ditetapkan memperoleh taufik untuk memanfaatkannya. Mereka adalah para hamba pilihan dan manusia terbaik yang mampu meraih limpahan karunia yang disebarkan oleh Raja Yang Maha Mengetahui di dalam malam-malam dan hari-hari tersebut.
Di sisi lain, pergantian waktu itu juga menjadi hujah dan bukti atas orang-orang yang lalai, yang jauh dari Allah, serta mereka yang menyia-nyiakan jam, hari, bulan, dan tahun-tahun kehidupannya. Mereka adalah orang-orang yang dilewati waktu demi waktu, namun tetap tenggelam dalam kelalaian terhadap Allah Ta‘ala, berpaling dari-Nya, atau melakukan berbagai perkara yang telah diharamkan-Nya, baik dengan hati maupun anggota badan mereka. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan demikian.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. Al-Furqan: 62)
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu mengambil pelajaran dan termasuk orang-orang yang bersyukur. Ya Allah, tolonglah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara seluruh pengasih.
Keutamaan Asyura (10 Muharram)
Malam ini adalah malam Asyura, malam yang memiliki keistimewaan di antara hari-hari bulan Muharram yang mulia dan penuh berkah. Sepuluh hari pertama bulan Muharram dimuliakan karena di dalamnya terdapat hari Asyura. Oleh sebab itu, malam-malamnya pun menjadi malam-malam yang diberkahi. Amal ketaatan yang dilakukan pada hari-hari tersebut memiliki keutamaan yang tidak didapati pada waktu-waktu lainnya.
Secara khusus, Rasulullah ﷺ mensyariatkan kepada umatnya untuk berpuasa pada hari Asyura. Bahkan sebelum puasa Ramadan diwajibkan, beliau sangat memberikan perhatian terhadap puasa Asyura. Sampai-sampai beliau memerintahkan orang yang sejak pagi telah berpuasa agar menyempurnakan puasanya, dan orang yang sejak pagi belum berpuasa agar menahan diri sepanjang sisa hari itu. Diriwayatkan bahwa pada masa awal Islam, para sahabat bahkan menahan anak-anak mereka dari menyusu hingga matahari terbenam demi menjaga kesempurnaan puasa Asyura.
Kemudian Allah mewajibkan puasa Ramadan. Setelah itu, puasa Asyura tetap menjadi salah satu sunnah yang memiliki keutamaan besar. Di antara keutamaannya adalah menjadi sebab penghapusan dosa-dosa selama setahun dan pahalanya sebanding dengan pahala puasa setahun penuh. Maka orang yang berpuasa pada hari Asyura memperoleh pahala yang agung serta penghapusan dosa selama satu tahun.
Hari Asyura juga merupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa alaihissalam dan menenggelamkan Fir‘aun beserta kaumnya.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada orang-orang Yahudi:
أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."
Maka beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.
Keadaan ini terus berlangsung hingga masa Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Beliau sangat memperhatikan pelaksanaan puasa Asyura, memerintahkan masyarakat untuk berpuasa, dan menyerukannya dari atas mimbar. Diriwayatkan bahwa ada yang berkata kepada Sayidah Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha:
"Sesungguhnya Ali memerintahkan manusia untuk berpuasa pada hari ini."
Beliau menjawab:
"Dia adalah orang yang paling mengetahui sunnah di antara orang-orang yang masih hidup."
Yakni, pada masa itu Sayyidina Ali merupakan orang yang paling mengetahui Sunnah Rasulullah ﷺ di muka bumi.
Amalan-Amalan Hari Asyura
Kaum Muslimin senantiasa mengagungkan hari yang mulia ini. Di samping puasa, Rasulullah ﷺ juga menganjurkan agar seseorang memberikan kelapangan dan kebahagiaan kepada keluarganya pada hari Asyura. Disebutkan bahwa siapa yang melapangkan nafkah dan memberikan kegembiraan kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.
Bentuknya adalah dengan memberikan kepada keluarga sesuatu dari harta yang halal sehingga mereka merasa gembira, bahagia, dan memperoleh apa yang mereka perlukan pada hari tersebut. Oleh karena itu, Asyura dikenal pula sebagai hari memperluas kebahagiaan dan rezeki bagi keluarga.
Berbagai hadis dan atsar datang menjelaskan keutamaan puasa Asyura dan memperluas nafkah kepada keluarga.
Diriwayatkan pula dari Sayyidina Ali radhiyallahu anhu bahwa siapa yang membaca Surah Al-Ikhlas seribu kali pada hari Asyura, maka Ar-Rahman akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Dan siapa yang dipandang oleh Ar-Rahman, niscaya tidak akan diazab selamanya.
Berdasarkan atsar tersebut, sebagian ulama menganjurkan shalat empat rakaat, yang pada setiap rakaatnya setelah Al-Fatihah membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak lima puluh kali.
Demikian pula terdapat hadis dalam bab fadhailul a‘mal yang menyebutkan bahwa orang yang istiqamah melaksanakan shalat empat rakaat setiap hari Jumat dengan membaca Surah Al-Ikhlas lima puluh kali pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah, maka ia tidak akan meninggal dunia hingga diperlihatkan tempat duduknya di surga.
Surah Al-Ikhlas termasuk surah yang paling agung dalam Al-Qur'an. Nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an.
Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada seseorang yang selalu membaca Surah Al-Ikhlas dalam setiap shalatnya:
مَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ؟
"Apa yang mendorongmu melakukan hal itu?"
Orang tersebut menjawab:
"Wahai Rasulullah, aku mencintainya karena surah itu menerangkan sifat Ar-Rahman."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ
"Kecintaanmu kepada surah itu akan memasukkanmu ke dalam surga."
Surah tersebut memang menjelaskan tentang keagungan Allah ﷻ. Ketika kaum musyrikin berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ: "Jelaskan kepada kami sifat Tuhanmu," maka Allah menurunkan firman-Nya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Di dalam surah ini terdapat penyucian dan pengagungan Allah Yang Maha Tinggi. Dengan terus mengulanginya, hati seorang mukmin akan semakin bersih, bercahaya, dan tersucikan dari berbagai kekurangan sesuai kadar pengagungannya kepada Allah ﷻ.
Karena itu, pengagungan terhadap seluruh syiar agama menjadi bagian penting dari kehidupan seorang mukmin. Para salaf memperhatikan diri mereka pada hari-hari seperti ini agar tidak meninggalkan satu pun sunnah, seperti mengunjungi ulama, menjenguk orang sakit, menyambung silaturahmi, atau mengusap kepala anak yatim.
Termasuk sunnah yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ adalah mengusap kepala anak yatim. Karena tindakan itu mengandung kasih sayang, kelembutan, dan rahmat, maka seseorang akan memperoleh satu derajat di surga untuk setiap helai rambut yang disentuh oleh tangannya, dan dituliskan baginya pahala sebanyak rambut yang dilalui oleh tangannya.Semua itu termasuk bentuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا
"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan berbagai kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas." (QS. Al-Anbiya': 90)
Hari Istimewa Para Nabi
Rasulullah ﷺ juga menyebutkan bahwa hari Asyura merupakan hari raya bagi sebagian nabi terdahulu. Diriwayatkan bahwa pada hari itulah bahtera Nabi Nuh alaihissalam berlabuh. Pada Hari kedelapan bekal makanan yang tersisa hanyalah kuku-kuku kambing. Nabi Nuh alaihissalam memerintahkan agar semuanya dimasak. Kemudian kapal tersebut berlabuh pada penghujung hari kesembilan, dan mereka turun ke daratan pada hari kesepuluh, yaitu hari Asyura. Maka Nabi Nuh alaihissalam memerintahkan mereka berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur kepada Allah ﷻ. Mereka pun berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur kepada Rabb mereka.
Seluruh manusia yang hidup setelah itu berasal dari keturunan mereka. Tidak ada manusia yang tersisa di muka bumi kecuali dari orang-orang yang berada di atas kapal Nabi Nuh alaihissalam. Seluruh kaum kafir telah binasa, dan hanya mereka yang diselamatkan di dalam bahtera itulah yang menjadi asal keturunan manusia setelahnya.
Terkait ini, Sahabat Abu Dzar radhiyallahu anh pernah berdiri sambil berpegang pada pintu Ka'bah lalu berkata:
"Siapa yang mengenalku maka ia mengenalku, dan siapa yang tidak mengenalku maka aku adalah Abu Dzar, sahabat Rasulullah ﷺ. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:"
أَلَا إِنَّ مَثَلَ أَهْلِ بَيْتِي فِيكُمْ كَسَفِينَةِ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا هَلَكَ
Ketahuilah, perumpamaan Ahlul Baitku di tengah kalian seperti bahtera Nabi Nuh. Siapa yang menaikinya akan selamat, dan siapa yang tertinggal darinya akan binasa.
Tidak seorang pun yang selamat dari banjir besar itu kecuali orang-orang yang menaiki kapal. Bahkan putra Nabi Nuh sendiri tidak selamat karena enggan menaikinya.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَقَالَ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
Nuh berkata: 'Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.' Ia menjawab: 'Aku akan berlindung ke sebuah gunung yang dapat melindungiku dari air.' Nuh berkata: 'Pada hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah selain orang yang dirahmati-Nya.' Lalu gelombang memisahkan keduanya, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.(QS. Hud: 42-43)
Kita berlindung kepada Allah dari segala bentuk kebinasaan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kecintaan kepada-Nya, kecintaan kepada para nabi, rasul, dan malaikat-Nya, kecintaan kepada keluarga para nabi, para sahabat nabi, seluruh kaum mukminin, serta kecintaan kepada segala sesuatu yang apabila dicintai akan mendekatkan kita kepada Allah dan mendatangkan keridaan-Nya.
Seorang mukmin yang berjalan di atas jalan yang lurus tidak mencintai kecuali apa yang dicintai oleh Rabbnya dan apa yang dapat mendekatkannya kepada Rabbnya.
Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta terhadap amal yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu."
Dengan timbangan inilah para wali dan orang-orang saleh menata kehidupan mereka. Mereka tidak dikuasai oleh hawa nafsu, fanatisme golongan, ataupun dorongan kepentingan pribadi. Mereka menimbang segala sesuatu dengan timbangan yang benar:
"Kami mencintai manusia karena cinta kepada-Mu, dan kami memusuhi orang yang memusuhi-Mu karena permusuhannya terhadap-Mu."
Wafatnya Imam Husain
Karena itulah, kaum salihin tidak pernah menjadikan hari-hari wafat para nabi, para sahabat, Ahlul Bait yang suci, ataupun para tokoh besar umat sebagai momentum untuk memperbarui kesedihan dan ratapan. Tidak ada dalam Al-Qur'an maupun Sunnah ajaran untuk memperbarui duka cita atas ketetapan Allah. Sebaliknya, hari perjumpaan para nabi, para wali, dan orang-orang saleh dengan Allah adalah hari yang paling agung dan paling membahagiakan bagi mereka.
Di antara mereka adalah Sayyidina Al-Husain bin Ali radhiyallahu anhuma, yang wafat syahid pada hari Asyura. Pertemuan beliau dengan Allah adalah salah satu kemuliaan terbesar yang dianugerahkan kepadanya. Demikian pula seluruh nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh; perjumpaan mereka dengan Allah merupakan hari raya terbesar dan kemuliaan yang paling agung bagi mereka. Semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka dalam rahmat, keridaan, dan surga-Nya. Aamiin.
فَالْمَوْتُ لِلْمُحْسِنِ الأَوَّابِ تُحْفَتُهُ *** وَفِيهِ كُلُّ الَّذِي يَبْغِي وَيَرْتَادُ
Kematian bagi seorang hamba yang senantiasa berbuat baik dan kembali kepada Allah merupakan hadiah terindah baginya. Di dalamnya terdapat segala yang selama ini ia dambakan dan cita-citakan.
لِقَا الْكَرِيمِ تَعَالَى مَجْدُهُ وَسَمَا***مَعَ النَّعِيمِ الَّذِي مَا فِيهِ أَنْكَادُ
Yaitu perjumpaan dengan Yang Maha Mulia, Maha Tinggi kemuliaan dan keagungan-Nya, disertai kenikmatan abadi yang tidak pernah dicampuri kesusahan, kesedihan, ataupun kekurangan.
Adapun orang yang merasa bahwa nenek moyangnya termasuk pihak yang terlibat dalam pembunuhan Sayyidina Al-Husain radhiyallahu anhu, lalu pada hari ini menampakkan kesedihan karenanya, maka kami katakan kepadanya:
Jika engkau ridha terhadap perbuatan mereka, maka engkau termasuk golongan mereka dan kelak akan dihimpunkan bersama mereka. Sebab siapa saja yang ridha terhadap pembunuhan seseorang, maka ia menjadi sekutu dalam dosanya. Bahkan seandainya ada seseorang dibunuh secara zalim di ujung timur bumi, lalu ada orang lain di ujung barat bumi yang meridhai pembunuhan tersebut, niscaya ia ikut memikul dosa pembunuh itu. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan demikian.
Allah sendiri mencela kaum Yahudi dan Nasrani yang meridhai perbuatan nenek moyang mereka yang membunuh para nabi. Allah berfirman:
فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Maka mengapa kalian membunuh mereka jika kalian benar? (QS Ali ‘Imran Ayat 183)
Namun apabila kalian tidak meridhai perbuatan itu dan justru membencinya, maka tidaklah seseorang memikul dosa orang lain. Demikianlah prinsip agama ini.
Adapun jika setelah itu kalian mengada-adakan berbagai amalan dan perbuatan yang tidak pernah disyariatkan, maka semua itu tidak lebih dari sekadar pidato, permainan, dan senda gurau belaka. Tidak ada satu ayat, hadis, sunnah, ataupun jejak amaliah dari Ahlul Bait, para sahabat, maupun orang-orang saleh umat ini yang mengajarkannya.
Kalau memang kalian meridhai para pembunuh Al-Husain maka sekalipun kalian menyiksa diri sendiri hingga terpotong-potong, semua itu tidak akan memberi manfaat apa pun. Selama kalian ridha kepada para pembunuh Al-Husain, maka pada Hari Kiamat kalian akan bersama mereka. Sedangkan para pembunuhnya tidak lain adalah penghuni neraka Jahannam, semoga Allah melindungi kita.
Sebaliknya, jika kalian tidak meridhai perbuatan tersebut, maka berlaku firman Allah:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ
Mereka adalah umat yang telah berlalu; bagi mereka apa yang telah mereka usahakan, dan bagi kalian apa yang kalian usahakan.(QS. Al-Baqarah: 134)
Apabila kalian benar-benar mencintai Sayyidina Al-Husain radhiyallahu anhu, maka carilah jejak jalannya dalam diri kalian; dalam pemikiran kalian, dalam muamalah kalian terhadap kaum mukminin dan seluruh hamba Allah, dalam kezuhudan kalian terhadap dunia, dalam tangisan kalian di keheningan malam, serta dalam usaha membersihkan hati dari segala kotoran dan penyakitnya.
Karena kecintaan kepada mereka tidak dikenal kecuali melalui tanda-tanda semacam itu, dan tidak terbukti kecuali melalui hakikat-hakikat tersebut. Semoga keridaan Allah senantiasa tercurah kepada mereka.
Padahal sebelum Al-Husain, ayahnya sendiri juga telah dibunuh. Apakah kalian tidak mencintai ayah beliau?
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dibunuh secara zalim pada tanggal tujuh belas Ramadan. Pembunuhnya termasuk manusia paling celaka. Bahkan pembunuh Sayyidina Ali lebih celaka daripada pembunuh Al-Husain. Pembunuh Sayyidina Ali dan pembunuh Sayyidina Al-Husain semuanya adalah orang-orang celaka, tetapi pembunuh Sayyidina Ali lebih celaka.
Lalu mengapa kalian tidak menunjukkan kesedihan yang sama terhadap beliau?
Ataukah kalian hanya bersedih terhadap satu orang dan tidak terhadap yang lain? Ataukah semua ini sekadar mengikuti hawa nafsu, fanatisme golongan, dan ucapan kosong yang tidak memiliki dasar?
Di manakah Al-Qur'an?
Di manakah petunjuk Nabi?
Di manakah Sunnah?
Di manakah timbangan keadilan?
Apa yang dilakukan oleh Ali Zainal Abidin?
Apa yang dilakukan oleh Muhammad Al-Baqir?
Apa yang dilakukan oleh Ja'far Ash-Shadiq?
Apa yang dilakukan oleh Musa Al-Kazhim?
Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ali Al-'Uraidhi?
Apa yang dilakukan oleh Isa bin Muhammad dan ayahnya Muhammad bin Ali Al-'Uraidhi?
Adakah mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang batil seperti itu?
Apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka tinggalkan?
Mereka menempuh jalan istiqamah.
Mereka menempuh jalan kejujuran.
Mereka menempuh jalan kembali kepada Allah.
Mereka mewarisi rahasia-rahasia ruhani, sifat-sifat mulia, dan akhlak yang luhur.
Dengan keadaan seperti itulah mereka hidup, dan di atas jalan itulah mereka berjalan. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.
Mereka tidak pernah menganggap bahwa mencintai seseorang berarti boleh mencela orang lain.
Mereka tidak pernah memahami bahwa kecintaan kepada seseorang membolehkan kezaliman terhadap orang lain.
Mereka tidak pernah merendahkan siapa pun.
Mereka tidak pernah menyalakan api permusuhan dan kebencian di antara kaum Muslimin.
Mereka adalah benteng persaudaraan iman.
Mereka adalah benteng cinta karena Allah.
Mereka berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada mereka.
Mereka berbuat baik kepada orang yang menyakiti mereka.
Bahkan mereka berusaha menyelamatkan orang-orang yang mencelakai mereka.
Semoga keridaan Allah senantiasa tercurah kepada mereka.
Akan tetapi Allah memiliki kecemburuan terhadap para kekasih-Nya dan orang-orang yang dekat dengan-Nya ketika mereka dizalimi. Allah berfirman dalam hadis qudsi:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
Barang siapa memusuhi seorang wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang terhadapnya.
Ikuti Manhaj Ahlu Sunnah
Kalian telah mendengar manhaj para pembimbing umat dari kalangan sahabat, tabi'in, dan Ahlul Bait yang suci, yaitu Ahlus Sunnah yang mulia.
Mereka tidak mengenal fanatisme buta.
Mereka tidak mengenal kebencian dan permusuhan.
Mereka tidak mengenal upaya mengobarkan fitnah dan pertikaian.
Mereka mengenal adab.
Mereka mengenal ketundukan kepada Allah.
Mereka mengenal kekhusyukan.
Mereka menempatkan setiap orang sesuai kedudukan dan martabatnya.
Sebagaimana yang telah kalian dengar dalam qasidah Imam Al-Haddad, ketika beliau bertawassul dengan Ahlul Kisa':
إِلَيْكَ بِأَهْلِ الْكِسَاءِ الْمُخْتَارِ بَدْرِ الْبُدُورِ*** مُحَمَّدٍ الطُّهْرِ ذِي نُورُهُ طَمَسَ كُلَّ نُورِ
Aku bertawassul kepada-Mu dengan kemuliaan Ahlul Kisa', terutama Sang Manusia Pilihan, purnama segala purnama, yaitu Muhammad yang suci; yang cahaya beliau mengalahkan dan menutupi seluruh cahaya lainnya.
وَبِالرِّضِيِّ الَّذِي يَسْقِي الشَّرَابَ الطَّهُورَ***غَدًا مِنَ الْحَوْضِ يَوْمَ الْبَعْثِ يَوْمَ النُّشُورِ
Dan aku bertawassul dengan Ar-Radhi (Sayyidina Ali bin Abi Thalib), yang kelak pada Hari Kebangkitan dan Hari Berhimpunnya manusia akan memberi minum dari Telaga Al-Kautsar minuman yang suci dan menyejukkan.
Diriwayatkan dalam hadis bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه untuk berdiri di telaga Al-Kautsar dan memberi minum manusia dari telaga beliau. Maka Sayyidina Ali akan memberikan minuman kepada manusia di telaga tersebut.
وَبِابْنَةِ الْمُصْطَفَى الزَّهْرَاءِ الْبَتُولِ الصَّبُورِ***وَبِالْحَسَنِ الَّذِي زَهِدَ فِي مُلْكِ دَارِ الْغُرُورِ
Dan aku bertawassul dengan putri Al-Musthafa, Az-Zahra yang suci lagi penuh kesabaran (Sayyidah Fathimah Az-Zahra), serta dengan Al-Hasan yang rela meninggalkan kekuasaan dunia yang penuh tipu daya.
وَبِالْحُسَيْنِ الَّذِي غَدَرُوا بِهِ أَهْلُ الْفُجُورِ*** شَهِيدٍ بِالطَّفِّ فَائِزٍ بِالرِّضَا وَالْحُبُورِ
Dan dengan Al-Husain yang dikhianati oleh orang-orang durhakaو syahid di Karbala, namun meraih keridaan Allah dan kebahagiaan yang abadi.
وَرَاحَ قَاتِلُهُ يَدْعُو فِي لَظَى بِالثُّبُورِ***نَسْأَلُكَ بِأَهْلِ الْكِسَاءِ يَا رَبِّ تَكْفِي الشُّرُورَ
Sedangkan pembunuhnya pergi menuju kobaran neraka sambil menyeru kebinasaan bagi dirinya. Kami memohon kepada-Mu dengan kemuliaan Ahlul Kisa', wahai Tuhan kami, lindungilah kami dari segala keburukan.
وَأَنْزِلْ لَنَا الْغَيْثَ يَسْقِي النَّخْلَ يَسْقِي الْبُذُورَ
Dan turunkanlah kepada kami hujan rahmat yang menyirami pohon-pohon kurma dan menyuburkan benih-benih tanaman."
Semoga Allah memandang kita dengan pandangan rahmat melalui keberkahan mereka yang dimuliakan oleh-Nya; melalui Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, dan para tabi'in. Semoga Allah menyelamatkan kita dan seluruh kaum Muslimin, menolong kita dan mereka, serta melindungi kita dari berbagai musibah, penyakit, dan bencana.
Ketegaran Sayidina Husain
Sayyidina Al-Husain radhiyallahu anhu telah menawarkan beberapa jalan damai kepada mereka ketika mereka mengkhianati janji yang dahulu mereka tulis kepadanya dan justru bersiap memeranginya.
Beliau berkata:
"Aku menawarkan kepada kalian salah satu dari tiga pilihan."
Mereka bertanya:
"Apa pilihan itu?"
Beliau menjawab:
"Biarkan aku kembali ke tempat asal kedatanganku. Kita tidak menginginkan fitnah dan pertumpahan darah. Aku akan kembali ke Madinah."
Mereka menjawab:
"Tidak ada jalan untuk itu."
Beliau berkata:
"Kalau begitu, biarkan aku pergi ke salah satu perbatasan negeri Islam untuk berjihad melawan orang-orang kafir di jalan Allah."
Mereka menjawab:
"Kami tidak akan membiarkanmu pergi."
Beliau berkata:
"Kalau begitu, pertemukan aku dengan Yazid bin Muawiyah agar aku berbicara langsung dengannya."
Mereka menjawab:
"Itu juga tidak mungkin."
Beliau bertanya:
"Kalau begitu apa yang kalian inginkan?"
Mereka menjawab:
"Kami ingin membunuhmu."
Maka Sayyidina Al-Husain radhiyallahu anhu kembali kepada keluarga dan para sahabatnya lalu berkata:
"Kaum itu hanya menginginkanku. Sekarang malam telah tiba. Kembalilah kalian ke tempat asal kalian dan biarkan aku menghadapi mereka sendiri."
Mereka menjawab:
"Demi Allah, kami tidak akan meninggalkanmu, sedangkan engkau adalah cucu Rasulullah ﷺ. Kami datang bersamamu dan kami tidak akan berpisah darimu hingga Allah memutuskan perkara antara kami dan mereka."
Beliau menawarkan kepada kerabat dan orang-orang yang menyertainya untuk kembali ke Madinah, namun mereka menolak dan memilih tetap bersama beliau.
Kemudian tibalah hari terjadinya peristiwa yang telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Bahkan kejadian itu telah diperlihatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, termasuk tempat gugurnya Sayyidina Al-Husain radhiyalahu anhu.
Diriwayatkan bahwa di rumah Ummul Mukminin Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu anha terdapat segenggam tanah yang dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah ﷺ dari Karbala, yaitu tempat kelak Al-Husain akan dibunuh. Ketika itu Al-Husain masih kecil dan berada di pangkuan Rasulullah ﷺ.
Beliau ﷺ bersabda:
إِنَّ أُمَّتِي تَقْتُلُ ابْنِي هَذَا
Sesungguhnya umatku akan membunuh anakku ini.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
وَهَذِهِ التُّرْبَةُ جَاءَنِي بِهَا جِبْرِيلُ مِنَ الْأَرْضِ الَّتِي يُقْتَلُ فِيهَا
"Dan tanah ini dibawa Jibril kepadaku dari tempat ia akan dibunuh."
Ummu Salamah menyimpan tanah tersebut dalam sebuah wadah. Pada tahun keberangkatan Al-Husain menuju Irak, beliau memperhatikan wadah itu setiap hari. Ketika tiba hari Asyura, tanah itu berubah menjadi darah. Maka Ummu Salamah berkata:
"Hari ini Al-Husain telah terbunuh."
Orang-orang bertanya:
"Bagaimana engkau mengetahuinya?"
Beliau menjawab:
"Ini adalah kabar yang pernah disampaikan Muhammad ﷺ."
Rasulullah ﷺ telah memberitahukan hal tersebut sebelumnya. Dan semua itu telah ditetapkan oleh Allah sebelum penciptaan langit dan bumi.
Meskipun Rasulullah ﷺ telah diberi tahu tentang musibah tersebut, beliau tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mencaci siapa pun, tidak pula menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk menebarkan kebencian kepada siapa pun.
Beliau meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang; malamnya seperti siangnya, jelas dan tidak samar.
أُولَئِكَ قَوْمٌ قَدْ هَدَى اللهُ *** فَاقْتَدِهِ بِهِمْ وَاسْتَقِمْ وَالْزَمْ وَلَا تَلْتَفِتِ
Mereka adalah kaum yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka ikutilah jejak mereka, istiqamahlah di atas jalan mereka, berpegang teguhlah dengannya, dan jangan menoleh kepada selainnya.
وَلَا تَعْدُ عَنْهُمْ إِنَّهُمْ مَطْلَعُ الْهُدَى *** وَهُمْ بَلَغُوا عِلْمَ الْكِتَابِ وَسُنَّةِ
Janganlah engkau berpaling dari mereka, karena merekalah sumber terbitnya petunjuk. Mereka telah mencapai pemahaman yang mendalam terhadap Al-Kitab dan Sunnah Nabi ﷺ.
Semoga Allah memenuhi hati kita dengan iman dan keyakinan. Semoga Dia menjadikan bagi kita keberkahan hari Asyura; hari yang disebutkan dalam sebagian riwayat sebagai hari diterimanya tobat Nabi Adam alaihissalam, hari ketika Allah ﷻ menyelamatkan Nabi Yunus alaihissalam dari perut ikan, dan hari yang berkaitan dengan permohonan ampun Nabi Ya‘qub alaihissalam untuk anak-anaknya.
Diceritakan bahwa ketika anak-anak Nabi Ya‘qub memohon:
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
Mereka berkata: 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.' (QS. Yusuf: 97)
Beliau menjawab:
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي
Dia (Ya‘qub) berkata: 'Kelak aku akan memohonkan ampunan bagi kalian kepada Tuhanku.'" (QS. Yusuf: 98)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi Ya‘qub menunda permohonan ampunan tersebut hingga malam Jumat, karena beliau mencari waktu yang paling dekat dengan terkabulnya doa dan turunnya rahmat Allah. Disebutkan pula bahwa malam itu bertepatan dengan malam Asyura, sebagaimana malam ini merupakan malam Jumat sekaligus malam Asyura.
Beliau memilih waktu yang penuh keberkahan itu agar Allah mengampuni mereka. Beliau mencari saat yang paling tepat untuk berdoa, yaitu waktu yang diharapkan menjadi saat dikabulkannya permohonan dan dicurahkannya rahmat Ilahi.
Demikian pula berbagai keutamaan lain yang disebutkan berkaitan dengan hari Asyura. Terlebih lagi ketika hari tersebut bertepatan dengan hari Jumat, sebagaimana hari ini. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dan seluruh kaum Muslimin dengan keberkahan hari tersebut.
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, membuka pintu-pintu jalan keluar bagi kaum Muslimin, membuka pintu pertolongan dan bantuan-Nya bagi kaum Muslimin, menyatukan kembali barisan umat Islam, serta mengangkat berbagai bala dan musibah dari seluruh orang yang mengucapkan "La ilaha illallah."
Wahai Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan keadaan, ubahlah keadaan kami dan seluruh kaum Muslimin menuju keadaan yang terbaik.
Lindungilah kami dari keadaan orang-orang yang sesat dan dari perbuatan orang-orang yang bodoh.
Teguhkanlah kami di atas jalan yang Engkau cintai.
Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang Engkau cintai.
Jadikanlah tahun ini sebagai tahun penuh kelapangan bagi kaum Muslimin, tahun yang dipenuhi rahmat bagi kaum Muslimin, tahun yang dipenuhi keberkahan bagi kaum Muslimin, serta tahun diangkatnya berbagai musibah dari orang-orang beriman.
Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih di antara seluruh yang mengasihi.
والحمد لله رب العالمين
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.RA(*)