Tahun Berganti, Sudahkah Kita Berhijrah?

Posted on 15 June 2026



Dalam salah satu khutbah Jumatnya Al-Habib Umar bin Hafidz menjelaskan tentang makna hijrah dan perubahan yang hakiki, serta cara untuk menjalaninya. Berikut ini intisari dari khutbah Beliau:

Setiap kali umat Islam menyambut datangnya tahun baru Hijriah, hendaknya mereka mengingat hijrah Nabi mereka, junjungan kita Nabi Muhammad . Dalam peristiwa hijrah itu terdapat pelajaran, nasihat, peringatan, dan hikmah yang sangat agung, yang jelas dan nyata bagi siapa saja yang mau mengambil ibrah.

Setiap tahun umat ini menghadapi berbagai keadaan dan perubahan; ada pergantian kondisi, perkembangan zaman, kesulitan, musibah, serta beragam bencana dan ujian. Maka ketika mereka mengingat hijrah, hendaknya mereka juga mengingat bahwa perubahan keadaan manusia, baik menuju kebaikan maupun keburukan, pada hakikatnya kembali kepada perubahan yang ada dalam diri mereka sendiri. Dan inti perubahan diri menuju keadaan yang lebih baik adalah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Apabila mereka mengingat hijrah yang penuh dengan pengorbanan, kesabaran, perjuangan, dan berbagai kesulitan yang dipikul oleh Rasulullah dan para sahabat beliau yang mulia, maka hendaknya mereka juga mengingat firman Allah tentang mereka:

فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

"Orang-orang yang berhijrah, diusir dari kampung halamannya, disakiti di jalan-Ku, berperang dan terbunuh, sungguh Aku akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya sebagai pahala dari sisi Allah. Dan di sisi Allah terdapat pahala yang terbaik."(QS. Ali 'Imran: 195)

Ada banyak kondisi yang perlu ‘dihijrahi’, namun justru kondisi-kondisi itulah yang dialami oleh mayoritas umat Nabi Muhammad . Yaitu kondisi-kondisi yang di dalamnya manusia bergelimang dengan berbagai perbuatan yang dilarang Allah, berinteraksi dengannya, dan menjadikannya sebagai kebiasaan hidup.

Karena itu mereka harus mengubah diri mereka sendiri agar Allah mengubah keadaan mereka: dari kesempitan menjadi kelapangan, dari musibah menjadi nikmat, dari cobaan menjadi karunia, dan dari kesulitan menjadi kemudahan. Itulah sunnatullah yang berlaku di muka bumi. Semua itu dimulai dari perubahan diri, dan puncak perubahan diri adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah.

Tentang hijrah ini, pemimpin seluruh orang yang berhijrah kepada Allah, Nabi Muhammad , bersabda:

المُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.(HR Bukhari dan Muslim)

Perbaiki Diri Sebelum Memperbaiki Orang Lain

Setiap tahun banyak orang berbicara, berdiskusi, dan merancang berbagai program serta strategi yang mereka yakini akan memperbaiki keadaan umat. Namun setelah semua pembicaraan dan klaim itu, sering kali yang terjadi hanyalah kemunduran yang terus berlanjut. Sebab mereka mencari perbaikan bukan melalui pintunya yang benar, mencari perubahan menuju yang lebih baik bukan melalui jalannya yang benar, dan menginginkan terangkatnya kesulitan bukan melalui sebab yang telah Allah tetapkan.

Mereka mengikuti dorongan hawa nafsu, bahkan lebih dari itu, ada setan-setan dari golongan manusia dan jin yang menghiasi ucapan-ucapan mereka dengan kata-kata indah sehingga mereka mengira bahwa semua itu akan mendatangkan kestabilan, keamanan, kemajuan, dan kesejahteraan. Mereka pun terus mengulang-ulang slogan tersebut.

Padahal, seandainya kaum muslimin kembali meninjau keadaan diri mereka dan meninggalkan apa yang Allah larang, niscaya keadaan mereka akan berubah dan karunia Allah akan turun kepada mereka. Allah Yang Mahakuasa telah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka karena apa yang telah mereka kerjakan."(QS Al-A’raf: 96)

Penderitaan akan terus berlangsung selama pendustaan terhadap perintah Allah masih ada. Selama umat ini terus-menerus melakukan apa yang Allah haramkan, maka berbagai bentuk kesulitan dan musibah akan tetap menimpa mereka. Allah berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Dan sungguh Kami akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), agar mereka kembali."(QS As-Sajdah: 21)

Langkah Pertama : Memperbaiki Shalat

Salah satunya adalah meremehkan shalat lima waktu dan kewajiban-kewajiban suci yang Allah tetapkan. Shalat merupakan kewajiban yang Allah fardukan kepada Nabi-Nya pada malam Isra dan Mi'raj di atas langit yang tinggi.

Lihatlah betapa luasnya sikap meremehkan shalat di kalangan kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, di timur maupun di barat. Cukup dengan melihat sekilas di terminal, stasiun, bandara, tempat-tempat keramaian, atau berbagai sarana transportasi. Waktu shalat masuk lalu berlalu, bahkan terkadang tidak mungkin lagi dijamak, namun hanya sedikit sekali orang yang bangkit untuk menunaikan kewajiban tersebut.

Di banyak tempat, keadaan mereka seakan-akan menunjukkan bahwa mereka bukan muslim, seolah-olah Allah tidak pernah mewajibkan shalat atas mereka.

Betapa buruknya keadaan seperti ini!

Lalu mereka bertanya, "Mengapa musibah dan kesulitan menimpa kami?" Apakah kalian mengharapkan turunnya rahmat dan kestabilan hidup sementara kalian meninggalkan kewajiban-kewajiban Allah?

Bahkan di dalam keluarga-keluarga kecil pun sering ditemukan sikap meremehkan agama. Anak-anak, laki-laki maupun perempuan, serta orang tua, lalai terhadap kewajiban mereka. Tidak ada sosok yang sungguh-sungguh memerintah, melarang, menasihati, dan menegakkan agama sebagaimana mestinya.

Jika keadaannya demikian, lalu apa yang mereka harapkan dari ketetapan Allah Yang Mahaperkasa? Allah berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

"Kemudian datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka kelak mereka akan menemui kesesatan dan kebinasaan. (QS Maryam: 59)

Menunaikan Zakat

Kelalaian berikutnya adalah dalam menunaikan zakat sebagaimana mestinya, menyalurkannya kepada yang berhak tanpa pilih kasih, serta melalaikan sedekah dan silaturahmi. Banyak penyimpangan terjadi dalam masalah ini sehingga umat terjatuh ke dalam pelanggaran syariat.

Durhaka Kepada Orang Tua Dan Memutus Silaturahmi

Termasuk penyakit besar yang menjangkiti umat adalah durhaka kepada ayah dan ibu, memutus hubungan kekeluargaan, saling membelakangi sesama mukmin, terutama dengan tetangga. Ini adalah keadaan yang busuk dan harus ditinggalkan. Rasulullah bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.(HR Bukhari dan Muslim)

Dan Allah berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ۝ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Dia menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatan mereka."(QS Muhammad: 22-23)

Tidaklah rahmat Allah turun kepada suatu kaum yang di tengah mereka terdapat orang-orang yang memutus silaturahmi.

Penyalahgunaan Media Dan Pandangan Yang Haram

Di antara keadaan buruk lainnya yang banyak menjerumuskan umat adalah memandang dan mendengarkan hal-hal yang haram melalui berbagai perangkat dan media. Keadaan ini telah dianggap biasa, bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sebagian orang. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan semacam ini. Allah berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban."(QS Al-Isra: 36)

Dan Allah berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ۝ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka serta tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak darinya.(QS An-Nur: 30-31)

Penggunaan media yang salah telah menyebabkan banyak kerusakan, fitnah, kehinaan, dan musibah di tengah umat. Banyak pemuda terjerumus ke dalam keadaan yang wajib mereka tinggalkan. Bahkan meninggalkannya menjadi kewajiban pribadi atas mereka demi menaati perintah Allah.

Dampak kerusakan moral

Akibat dari semua itu adalah kemerosotan akhlak yang melanda umat. Cara berpakaian, pergaulan, pandangan terhadap kehidupan, bahkan cara memandang akhirat, Rasulullah , para sahabat, keluarga beliau, dan orang-orang saleh pun ikut terpengaruh oleh rusaknya cara berpikir.

Mereka meneguk racun syahwat dan hawa nafsu hingga menganggap kehormatan sebagai sesuatu yang aneh, sementara membuka aurat dan mempertontonkan tubuh dianggap hal yang biasa dan terpuji. Allah telah memperingatkan:

أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Mereka menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka kelak mereka akan menemui kebinasaan. (QS Maryam: 59)

Kebenaran Akan Mengalahkan Segala Musuh

Wahai orang-orang yang beriman, kapan pun umat ini memperbaiki cara berpikirnya, meninggalkan tempat-tempat dan keadaan yang dimurkai Allah, serta berhijrah dari segala yang dilarang-Nya, maka bergembiralah. Sekalipun seluruh musuh dari timur dan barat berkumpul menghadapi mereka, Allah mampu menghancurkan mereka dan menolak kejahatan mereka. Allah berfirman:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.(QS At-Thalaq: 2-3)

Maka hendaknya hijrah Rasulullah mengingatkan kita kepada hijrah yang sesungguhnya: hijrah seorang yang sabar, bersyukur, suci, bercahaya, dan mulia. Hijrah yang mengajak kita meninggalkan segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

Maka bertakwalah kepada Allah dalam menyambut hari-hari yang berjalan begitu cepat, hari-hari yang segera berlalu, cepat berakhir, cepat melintas, dan cepat meninggalkan kita. Hari-hari itu terus bergulir menuju akhir yang pasti, mengantarkan setiap insan kepada saat ajalnya masing-masing.

Bertakwalah kepada Allah ketika kalian memasuki tahun demi tahun dan mengenang hijrah Nabi kalian, manusia terbaik sepanjang zaman. Lihatlah keadaan hati kalian, keluarga kalian, lingkungan pekerjaan kalian, dan segala aktivitas yang kalian jalani dalam kehidupan ini. Setiap keadaan yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dilarang Allah, maka tinggalkanlah! Berhijrahlah darinya... berhijrahlah... berhijrahlah...

Jika kalian menginginkan kebaikan dan keberuntungan bagi diri sendiri serta orang-orang di sekitar kalian, dan jika kalian menginginkan keuntungan serta kebahagiaan di dunia, di alam barzakh, dan pada hari berkumpulnya seluruh manusia, yang terdahulu maupun yang kemudian, di hadapan Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pembuka segala kebaikan.

Hijrah Dari Dusta

Berhijrahlah dari penyakit dusta yang telah menjangkiti anak-anak maupun orang dewasa. Dusta telah menjadi kebiasaan yang diwariskan dan dipelajari dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka tidak lagi merasa berat untuk berbohong. Allah  berfirman:

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pendusta. (QS An-Nahl: 105)

Kita berlindung kepada Allah dari keadaan tersebut.

Maka dalam mengenang hijrah Sang Nabi yang sangat jujur dan benar (ash-Shadiq), hendaknya kita menjauhkan diri dan berhijrah dari lingkungan serta kebiasaan dusta.

Dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah, berbagai keburukan akan terangkat, berbagai kejahatan akan tercegah, keamanan akan tersebar, dan berbagai kebaikan akan datang. Dengan itu pula makar para pelaku tipu daya akan dipatahkan, bahaya para perusak akan ditolak, dan gangguan para pengganggu akan disingkirkan.

Allah mengatur dan mengarahkan para hamba-Nya melalui berbagai jalan kehidupan. Beruntunglah orang yang diarahkan untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebaliknya, celakalah orang yang dijadikan sarana untuk menyakiti dan merugikan sesama manusia. Celakalah orang yang tidak merasa diawasi oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia dan bisikan, baik dalam ucapan, perbuatan, urusan rumah tangga, lingkungan keluarga, maupun pekerjaannya.

Tahun Hijriah yang terus berganti mengingatkan kita akan bahaya perjalanan hidup yang salah arah, bahaya kemerosotan moral, dan kerusakan akhlak yang telah menjangkiti banyak laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak dari umat ini.

Karena itu, jadilah kalian pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. Ikutilah teladan pemilik hijrah, pemilik Isra dan Mi'raj, pemimpin berbagai peperangan, pembawa nasihat, penyampai kebenaran, dan penunaian amanah, yaitu Nabi Muhammad bin Abdullah .

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ

Katakanlah: Beramallah kalian, maka Allah akan melihat amal kalian, begitu pula Rasul-Nya.(QS At-Taubah: 105)

Dikisahkan bahwa pada abad ke-12 Hijriah, seorang penguasa zalim pernah menangkap seorang ulama besar dan memenjarakannya. Di atas tubuh sang ulama itu diletakkan sebuah bejana besar hingga ia hampir kehabisan udara dan meninggal dunia. Setelah dilepaskan dan kembali ke rumahnya, datanglah beberapa orang yang sangat marah terhadap kezaliman tersebut. Mereka mulai mencela dan mengutuk penguasa yang menzhaliminya.

Namun sang ulama menghentikan mereka seraya berkata:

"Sesungguhnya sebab musibah ini ada pada diriku sendiri."

Mereka bertanya, "Apa yang telah engkau lakukan, wahai ulama yang alim dan lurus?"

Beliau menjawab:

"Kemarin salah seorang pembantu kami datang membawa sekantong air. Aku tidak memperhatikannya dan tidak bertanya kepadanya apakah ia sudah menunaikan shalat Zuhur atau belum. Padahal Rasulullah bersabda:"

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُسَلِّطَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ شِرَارَكُمْ

Kalian benar-benar harus memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar, atau Allah akan menguasakan atas kalian orang-orang jahat di antara kalian.” (HR Al-Bazzar)

Beliau melanjutkan:

"Karena aku tidak menanyakan kepada wanita yang berada dalam tanggung jawabku itu apakah ia telah menunaikan shalat atau belum, maka aku merasa pantas mendapatkan musibah ini. Janganlah kalian mencela orang yang memenjarakanku, tetapi nasihatilah aku."

Inilah cara pandang para pembesar umat. Inilah cara pandang orang-orang yang jernih hati mereka dalam menyikapi berbagai peristiwa dan dalam beradab kepada Allah Yang Maha Pengampun.

Maka renungkanlah, bagaimana engkau menghisab dirimu sendiri? Dan bagaimana engkau memandang berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarmu?

Betapa banyak kelompok, organisasi, aliran, dan manusia di muka bumi yang saling melempar tuduhan dan menyalahkan pihak lain, sementara mereka lupa untuk mengoreksi diri mereka sendiri. Allah berfirman:

نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

"Mereka melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.(QS Al-Hasyr: 19)

Mereka lupa mengawasi diri, lupa menegur diri, dan lupa mengoreksi kesalahan diri sendiri.

Sebagaimana dikatakan dalam syair:

وَمَا عَاتَبَ الْحُرَّ الْكَرِيمَ كَنَفْسِهِ*** وَالْمَرْءُ يُصْلِحُهُ الْقَرِينُ الصَّالِحُ

Tidak ada yang lebih baik dalam menegur seorang yang mulia selain dirinya sendiri. Dan seseorang akan menjadi baik karena teman yang saleh.

Doa penutup

Ya Allah, perbaikilah negeri-negeri kami. Ya Allah, perbaikilah kota-kota kami. Ya Allah, perbaikilah hati-hati kami. Ya Allah, perbaikilah dan sucikan akal-akal kami.

Ya Allah, sucikan hati dan jiwa kami, serta anugerahkan kepadanya ketakwaan. Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan penguasanya.

Ya Allah, selamatkanlah jiwa-jiwa kami dari tawanan orang-orang kafir dan para pengkhianat, serta dari berbagai pengaruh buruk yang menyusup melalui media sosial dan sarana komunikasi yang telah mempermainkan pikiran, akal, dan hati manusia. Ajarkanlah kepada mereka cara memanfaatkan seluruh sarana tersebut dalam perkara-perkara yang mulia dan sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh penutup para rasul, Nabi Muhammad .

Ya Allah, ubahlah keadaan kami menjadi keadaan yang terbaik. Jadikan tahun ini sebagai salah satu tahun yang paling penuh keberkahan bagi umat Nabi-Mu Muhammad . Berikanlah jalan keluar bagi umat ini, bukakanlah pintu-pintu kebaikan bagi mereka, hilangkan kesedihan, angkat berbagai bencana, jauhkan musibah, dan perbaikilah keadaan lahir maupun batin mereka. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.RA(*)