Pentingnya Kesabaran Untuk Meraih Keutamaan

Posted on 14 June 2026



Hawa nafsu selalu mengajak kepada hal-hal yang buruk, untuk itu kita harus menyelisihinya agar selamat dari ajakan buruknya. Akan tetapi, menyelisihi hawa nafsu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan kesabaran. Apakah itu sabar dan bagaimana keutamannya? Inilah yang akan kita bahas saat ini.

Definisi Sabar

Secara bahasa, sabar berarti menahan. Setiap orang yang menahan sesuatu berarti ia telah bersabar terhadapnya. Dari makna ini pula muncul istilah al-mashburah yang dilarang dalam syariat, yaitu ayam atau hewan semisalnya yang dijadikan sasaran lemparan atau panah hingga mati. Bulan Ramadan juga disebut sebagai bulan kesabaran, karena pada bulan itu seseorang menahan dirinya dari berbagai hal yang diingini oleh nafsunya, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri.

Orang yang sabar adalah orang yang menahan dirinya dari sesuatu yang diinginkan hawa nafsunya atau menahan diri dari mengeluhkan rasa sakit yang menimpanya. Seseorang yang tertimpa musibah disebut sabar jika  ia menahan dirinya dari sikap gelisah, putus asa, dan keluh kesah yang berlebihan.

Diriwayatkan bahwa sebagian ulama berkata:

Kesabaran dinamakan "sabar" karena rasa berat dan pahit yang dirasakan hati serta gejolak yang ditimbulkannya pada jiwa, menyerupai pahitnya tanaman shabr (sejenis tanaman yang sangat pahit) ketika dirasakan di mulut.

Sabar termasuk hal yang diperintahkan oleh akal yang sehat, sedangkan hawa nafsu justru mengajak untuk meninggalkannya. Apabila seseorang memperhatikan manfaat-manfaat kesabaran dan berbagai kebaikan yang dihasilkannya, baik di dunia maupun di akhirat, maka akan tampak baginya kemuliaan akal dan rendahnya kedudukan hawa nafsu.

Secara garis besar, sabar terbagi menjadi dua macam:

  1. Sabar mengekang diri dari sesuatu keinginan yang buruk akibatnya.

  2. Sabar menghadapi sesuatu yang tidak disukai.

Melaksanakan ketaatan memerlukan kesabaran untuk terus menjalaninya. Demikian pula meninggalkan kemaksiatan memerlukan kesabaran untuk menahan diri darinya.

Karena jiwa manusia memang diciptakan dengan kecenderungan mencintai hawa nafsu, maka secara tabiat ia selalu berusaha mengejar apa yang diinginkannya. Oleh sebab itu, ia membutuhkan pengendalian dan pengekangan agar tidak terjerumus kepada sesuatu yang buruk akibatnya.

Tidak ada yang mampu mempraktikkan kesabaran dengan baik kecuali orang yang mengetahui cacat dan bahaya hawa nafsu serta mampu melihat buah manis dan akibat baik dari kesabaran. Jika seseorang telah memahami hal itu, maka segala sesuatu yang harus ia sabari atau ia tinggalkan demi Allah akan terasa ringan baginya.

Gambaran yang Menjelaskan Hakikat Ini

Penjelasannya dapat diibaratkan sebagai berikut:

Ada seorang wanita yang berparas cantik melewati dua orang laki-laki. Ketika wanita itu tampak di hadapan mereka, keduanya sama-sama ingin memandangnya.

Salah seorang dari keduanya berjuang melawan hawa nafsunya dan segera menundukkan pandangannya. Tidak lama kemudian, hanya dalam sekejap mata, keinginan itu pun hilang dan ia melupakan apa yang telah dilihatnya.

Adapun yang satunya lagi terus menikmati pandangannya. Akibatnya, bayangan wanita tersebut melekat di dalam hatinya. Hal itu menjadi sebab munculnya fitnah dalam dirinya dan bahkan dapat menyeretnya kepada kerusakan agama.

Dari perumpamaan ini tampak jelas bahwa menahan diri dari kemaksiatan hingga keinginan itu berlalu jauh lebih mudah daripada harus menanggung beratnya perjuangan untuk bertaubat sampai taubatnya diterima.

Sebagian ulama salaf berkata:

مَنْ تَخَايَلَ الثَّوَابَ خَفَّ عَلَيْهِ الْعَمَلُ

Barang siapa membayangkan besarnya pahala yang akan diperoleh, maka amal yang berat akan terasa ringan baginya.

Artinya, ketika seseorang selalu mengingat ganjaran yang Allah siapkan bagi orang-orang yang sabar, maka kesulitan dalam menahan hawa nafsu dan menjalankan ketaatan akan menjadi lebih ringan untuk dijalani.

Perintah Allah  Bagi Hamba-Nya Untuk Bersabar

Allah telah banyak menganjurkan kesabaran di dalam Kitab-Nya, memerintahkannya, serta memuji orang-orang yang menghiasi diri dengannya. Bahkan, kata dan makna sabar disebutkan dalam sekitar tujuh puluh tempat di dalam Al-Qur’an. Demikian pula dalam hadis-hadis Nabi , pembahasan tentang sabar sangat banyak ditemukan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (HR Bukhari dan Muslim)

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

اعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ أَلا وَإِنَّهُ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا صَبر لَهُ

Ketahuilah bahwa kedudukan sabar terhadap iman adalah seperti kedudukan kepala terhadap tubuh. Ketahuilah, tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.

Al-Asy‘ats bin Qais berkata:

"Jika engkau bersabar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka itulah keberuntungan. Namun jika tidak, pada akhirnya engkau tetap akan melupakan musibah itu sebagaimana hewan-hewan melupakannya."

Maksudnya, setiap musibah pada akhirnya akan berlalu dan terlupakan. Maka orang yang bersabar memperoleh pahala yang besar, sedangkan orang yang tidak bersabar hanya mendapatkan kelelahan dan penyesalan.

Diriwayatkan dari Sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

الصَّبْرُ ثَلَاثَةٌ: فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ

Sabar itu ada tiga macam: sabar menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan ketaatan, dan sabar menjauhi kemaksiatan. (HR Ad-Dailami)

Kemudian beliau menjelaskan:

"Barang siapa bersabar ketika ditimpa musibah hingga ia menghadapinya dengan keteguhan dan penghiburan yang baik, maka Allah menuliskan baginya tiga ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat berikutnya seperti jarak antara langit dan bumi.

Barang siapa bersabar dalam menjalankan ketaatan, maka Allah menuliskan baginya enam ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat berikutnya seperti jarak dari dasar bumi hingga ke Arasy.

Dan barang siapa bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, maka Allah menuliskan baginya sembilan ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat berikutnya seperti jarak dari dasar bumi hingga ke Arasy sebanyak dua kali lipat."

Hadis ini menunjukkan bahwa meninggalkan maksiat sering kali lebih berat daripada sekadar menanggung musibah atau melakukan ketaatan, karena dorongan hawa nafsu yang terus-menerus mengajak kepada keburukan.

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata:

"Sabar itu ada dua macam. Sabar menghadapi musibah adalah sesuatu yang baik. Akan tetapi yang lebih utama daripada itu adalah sabar dalam menjauhi kemaksiatan."

Beliau juga berkata:

"Tidaklah seorang pun memperoleh kebaikan, baik seorang nabi maupun orang yang berada di bawah derajat para nabi, kecuali dengan kesabaran."

Sulaiman bin Al-Qasim rahimahullah berkata:

"Setiap amal diketahui kadar pahalanya, kecuali sabar."

Kemudian beliau membaca firman Allah :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Beliau menjelaskan:

"Pahala mereka dicurahkan tanpa hitungan, seperti air hujan yang turun dengan sangat deras."

Maksudnya, pahala kesabaran tidak dibatasi dengan jumlah tertentu sebagaimana kebanyakan amal lainnya. Allah memberikannya dengan karunia yang sangat luas.

Beberapa Nasihat Salaf tentang Kesabaran

Diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ قِلَّةُ الصَّبْرِ

"Di antara beratnya suatu musibah adalah sedikitnya kesabaran dalam menghadapinya."

Maksudnya, musibah menjadi semakin berat ketika seseorang tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menanggungnya. Adapun orang yang bersabar, Allah akan meringankan beban yang menimpanya dan memberikan pahala yang besar.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

إِنَّمَا يُدْرِكُ ابْنُ آدَمَ حَاجَتَهُ فِي صَبْرِ سَاعَةٍ

"Sesungguhnya seorang manusia sering kali meraih apa yang diinginkannya hanya dengan kesabaran sesaat."

Betapa banyak keberhasilan, keselamatan, dan kemuliaan yang diraih hanya karena seseorang mampu menahan dirinya beberapa saat dari hawa nafsu, kemarahan, atau keputusasaan.

Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullah berkata:

"Segala sesuatu memiliki inti dan permata. Inti manusia adalah akal, dan inti akal adalah kesabaran."

Perkataan ini menunjukkan bahwa kesempurnaan akal seseorang tampak dari kemampuannya mengendalikan hawa nafsu, menahan diri dari keburukan, dan tetap teguh ketika menghadapi ujian.

Seseorang bertanya kepada ‘Abd Al-Khazzaz rahimahullah:

"Apa tanda kesabaran?"

Beliau menjawab:

"Meninggalkan banyak keluhan serta menyembunyikan kesabaran dan ujian yang sedang dihadapi."

Maksudnya, seorang yang sabar tidak menjadikan musibahnya sebagai bahan keluhan kepada manusia. Ia mengadukan keadaannya kepada Allah dan berusaha menjaga kehormatan dirinya dari sikap mengeluh yang tidak bermanfaat.

Aktsam bin Shaifi berkata:

حِيلَةُ مَنْ لَا حِيلَةَ لَهُ الصَّبْرُ

"Jalan keluar bagi orang yang tidak memiliki jalan keluar adalah kesabaran."

Ketika semua sebab lahiriah tertutup, sering kali yang tersisa hanyalah bersabar sambil menanti pertolongan Allah. Dan tidak jarang pertolongan itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ibnu Masruq membacakan syair:

إِذَا طَالَعَكَ الْكُرْهُ كُنْ بِالصَّبْرِ لَوَّاذًا *** وَإِلَّا ذَهَبَ الْأَجْرُ فَلَا هَذَا وَلَا هَذَا

"Apabila sesuatu yang engkau tidak sukai datang menimpamu, maka berlindunglah kepada kesabaran. Jika tidak, pahala akan hilang, sehingga engkau tidak memperoleh kesabaran dan tidak pula mendapatkan pahala."

Makna syair ini sangat dalam. Musibah pasti terjadi, baik seseorang bersabar maupun tidak. Namun orang yang bersabar akan memperoleh dua keuntungan: ketenangan hati dan pahala dari Allah. Adapun orang yang tidak bersabar tetap merasakan pahitnya musibah, tetapi kehilangan pahala yang seharusnya bisa ia dapatkan. Karena itu, kesabaran adalah keuntungan dalam setiap keadaan.RA(*)

*Disarikan dari kitab Dzammul Hawa, karya Imam Ibnu Jauzi