Posted on 01 June 2026
Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Ithafus Sa’il menjelaskan tentang keutamaan surat Al-Waqi’ah dan sebagian kandungan dan hikmahnya. Beliau berkata:
Mengenai tata-cara membaca Surat Al-Waqi’ah yang engkau tanyakan, ketahuilah bahwa telah diriwayatkan bahwa membacanya setiap malam menjadi sebab terjaganya seseorang dari kefakiran. Yang dimaksud dengan kefakiran di sini adalah kebutuhan kepada manusia yang dapat merendahkan martabat dan kehormatan seseorang.
Diriwayatkan bahwa ketika Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berada di ambang wafat, ada yang berkata kepadanya, “Engkau meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan miskin.”
Beliau menjawab, “Tidak seorang pun dari mereka melainkan aku telah meninggalkan untuknya sebuah harta simpanan, yaitu Surat Al-Waqi’ah.”
Mengenai khasiat yang terdapat pada surah-surah Al-Qur'an, ayat-ayatnya, zikir-zikir, dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ bukanlah sesuatu tidak dikenal. Kitab-kitab hadis dan sunan dipenuhi dengan penjelasan mengenai hal itu.
Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah menyusun sebuah kitab menegenai hal tersebut yang berjudul : Adz-Dzahab Al-Ibriz Fi Khawashil Kitabil Aziz.
Karena itu, mengamalkan bacaan Surah Al-Waqi'ah atau amalan-amalan serupa dengan harapan memperoleh manfaat dan terhindar dari berbagai mudarat duniawi tidaklah mencederai amal maupun niat seseorang. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai tujuan duniawi menjadi satu-satunya pendorong dalam membacanya, tanpa disertai maksud-maksud keagamaan.
Meniatkan membaca Surah Al-Waqi'ah atau amalan serupa untuk menjaga diri dari ketergantungan kepada manusia merupakan niat yang sangat mulia bagi seorang hamba yang memahami hakikat agama. Sebab seorang mukmin yang cerdas tidak menjadikan kecukupan hidup, keselamatan diri dan keluarganya, serta berbagai nikmat lahiriah lainnya semata-mata sebagai sarana untuk meraih kenyamanan dan kelezatan dunia.
Sebaliknya, ia menginginkan semua itu agar dapat terhindar dari berbagai keadaan yang dapat mengganggu dan merusak agamanya. Sebab, tidak jarang orang yang tertimpa kefakiran dan berbagai cobaan sejenisnya terjerumus ke dalam perkara-perkara yang membahayakan agamanya.
Karena itulah para tokoh besar terdahulu sangat bersungguh-sungguh memohon keselamatan kepada Allah ﷻ, baik lahir maupun batin. Mereka khawatir terhadap kelemahan diri mereka sendiri, karena tabiat manusia memang lemah dan mudah terguncang ketika menghadapi berbagai ujian yang tidak disukainya.
Nabi ﷺ pun berulang kali memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari kemiskinan dan berbagai penyakit. Beliau bersabda:
كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا
Kemiskinan hampir saja menyeret kepada kekufuran.
Sebab, Orang yang tertimpanya bisa saja terjerumus ke tidak terima atas ketentuan Allah, marah atas takdir-Nya, dan berputus asa ketika menghadapi kesempitan hidup.
Oleh karena itu, Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:
"Aku tidak takut terhadap musibah karena rasa sakit yang ditimbulkannya. Akan tetapi, aku takut jika aku diuji lalu aku menjadi kufur."
Kesempurnaan seorang hamba terletak pada keridhaannya terhadap pilihan Allah untuk dirinya. Ia merasa cukup dengan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, serta menyerahkan urusan pilihan dan pengaturan hidupnya kepada-Nya. Ia tidak lagi terlalu bergantung pada pilihan dan perencanaannya sendiri.
Sebagian Kandungan Surat Al-Waqi’ah
Sebagian ahli makrifat mengatakan bahwa dalam amalan membaca Surah Al-Waqi'ah terdapat rahasia yang berkaitan dengan penguatan keyakinan (yaqin). Dari keyakinan itulah lahir ketenangan hati dan ketenteraman jiwa, baik ketika seseorang berada dalam keadaan memiliki maupun tidak memiliki.
Hal itu karena Allah membuka dan menutup surat tersebut dengan pembicaraan tentang hari akhirat serta perbedaan keadaan manusia pada hari itu. Orang yang merenungkan kandungan tersebut dengan sungguh-sungguh akan tersibukkan oleh urusan akhirat sehingga berbagai kegelisahan dunia menjadi kecil dalam pandangannya.
Selain itu, dalam surat tersebut Allah mengingatkan manusia tentang asal mula penciptaannya, yaitu dari setetes mani yang dipancarkan. Allah juga mengingatkan tentang tanaman dan air yang menjadi penopang kehidupan mereka, lalu mengajak mereka untuk merenungkan semua itu.
Melalui ayat-ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa manusia tidak mampu menciptakan makhluk, tidak mampu menumbuhkan dan menjaga tanaman agar tetap hidup, serta tidak mampu menurunkan air dari langit. Semua itu berada adalah pengenalan yang mendalam tentang keagungan kekuasaan Allah, keluasan kehendak-Nya, dan ilmu-Nya yang azali yang meliputi segala sesuatu.
Apabila pemahaman tersebut berpadu dengan keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezeki hamba-Nya dan mencukupi segala kebutuhan yang menjadi penopang kehidupannya, niscaya hati akan menjadi tenang, dan ia akan mengarahkan dirinya untuk beribadah kepada Tuhannnya. Wallahu a'lam. RA(*)