Kalam Salaf: Cahaya Ilmu, Akal, Iman, dan Hati

Posted on 02 June 2026



Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf Gresik rahimahullah dalam Majmu Kalam yang disusun oleh Al-Habib Muhammad bin Hud Assegaf menerangkan tentang ilmu, akal, iman, dan hati. Beliau berkata:

Ilmu adalah cahaya, akal adalah cahaya, iman juga cahaya, dan hati pun demikian, merupakan cahaya. Keempat hal ini tidak dapat ditangkap oleh penglihatan mata dan tidak dapat dilihat secara langsung. Tidak mungkin seseorang menggambarkan hakikat ilmu, akal, iman, maupun hati di dalam benaknya.

Namun setiap sesuatu memiliki tanda yang menunjukkan keberadaannya.

Apabila engkau ingin mengetahui bahwa ilmu itu benar-benar cahaya, bukan sekadar kata-kata kosong, maka lihatlah pengaruhnya pada hati dan perilaku seseorang.

Beliau kemudian mengutip perkataan Muhammad bin Idris asy-Syafi'i:

العِلْمَ نُورٌ ***وَنُورُ اللَّهِ لَا يُؤْتَاهُ عَاصِي

Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Beliau melanjutkan:

Demikian pula akal yang bercahaya. Ia akan membimbing pemiliknya, menunjukkan kepadanya segala kebaikan, serta menghalanginya dan mencegahnya dari segala penyimpangan.

Adapun tanda iman adalah rasa malu. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ

Rasa malu adalah bagian dari iman.

Dan orang yang tidak memiliki rasa malu, maka tidak sempurna imannya.

Yang dimaksud di sini adalah rasa malu yang mencegah seseorang dari melakukan apa yang dilarang Allah dan dari menyelisihi perintah-Nya.

Demikian pula hati adalah cahaya. Yang dimaksud dengan hati di sini bukanlah segumpal daging yang berada di dalam tubuh manusia. Dalilnya adalah firman Allah :

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai hati.(QS Qaf: 37) Yang dimaksud dengan hati di sini adalah hati yang bercahaya. RA(*)