Habib Salim As-Syathiri: Ringkasan Kisah Isra Mikraj

Posted on 18 January 2026


Berikut ini adalah salah satu kajian yang disampaikan oleh Al-Habib Salim bin Abdullah As-Syathiri rahimahullah terkait dengan hikmah Isra dan Mikraj. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah darinya:

سَرَيْتَ مِنْ حَرَمٍ لَيْلاً إِلَى حَرَمٍ ***كَمَا سَرَى البَدْرُ فِي دَاجٍ مِنَ الظُّلَمِ

Engkau (Nabi ) diperjalankan pada suatu malam dari satu tanah haram ke tanah haram yang lain, sebagaimana bulan purnama melintas di tengah pekatnya kegelapan.

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada semulia-mulia para nabi dan rasul, junjungan dan nabi kita, kekasih dan penyejuk mata kita, Muhammad ; pemimpin umat terdahulu dan umat yang datang kemudian, pemimpin orang-orang yang bercahaya wajahnya, beserta keluarga, para sahabat, para tabi‘in, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Pembalasan.

Pada kesempatan Jumat ini, atau malam Jumat ini, kita berada di penghujung Jumat terakhir bulan Rajab yang mulia. Jumat berikutnya insya Allah telah memasuki bulan Sya‘ban. Maka sebaik-baik pembahasan pada Jumat terakhir Rajab adalah mukjizat agung, mukjizat terbesar yang terjadi di akhir bulan Rajab, yaitu mukjizat Isra dan Mi‘raj.

Isra dan Mi‘raj menurut mayoritas ulama terjadi pada malam dua puluh tujuh Rajab, dan karenanya kaum Muslimin di banyak negeri memperingatinya. Kisah Isra dan Mi‘raj sangat panjang; tidak cukup diceritakan dalam hitungan jam, apalagi menit. Namun pada kesempatan singkat ini, kami sampaikan ringkasannya, memetik bunga dari setiap taman dan seteguk dari setiap sungai, agar pendengar memperoleh bagian yang bermanfaat dari kisah agung ini.

Isra

Allah telah mengkhususkan Nabi Muhammad dengan banyak keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi lain. Salah satunya adalah Isra dan Mi‘raj. Isra berarti perjalanan Nabi pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina, dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari kedipan mata, di atas tunggangan bernama Buraq, makhluk dari makhluk-makhluk surga yang memiliki sayap, dan setiap langkahnya sejauh pandangan mata.

Perjalanan yang biasa ditempuh orang Arab selama puluhan hari, ditempuh Rasulullah hanya dalam sekejap. Saat itu Allah memperlihatkan kepada beliau berbagai keajaiban dari alam perumpamaan, alam antara materi dan ruh, yang di dalamnya Allah menampakkan balasan atas amal-amal buruk dan kebaikan.

Di antara yang beliau saksikan adalah orang-orang yang meninggalkan shalat, kepala mereka dihancurkan dengan batu lalu kembali seperti semula, sebagai peringatan keras bagi yang meremehkan shalat, khususnya shalat Subuh.

Beliau juga melihat para pemakan riba dengan perut membesar seperti rumah, orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan zalim, para pezina yang meninggalkan yang halal dan memilih yang kotor, para penghasut dan penyebar fitnah yang lidah mereka menjulur dan mengalir darinya nanah dan darah, serta para penggunjing yang memakan bangkai saudaranya sendiri.

Beliau juga berjumpa dengan makhluk dari golongan jin yang hendak mencelakainya, namun Allah mengajarkan doa perlindungan yang dengannya bahaya itu sirna. Ini menjadi dalil bahwa dzikir dan wirid menjaga manusia dari gangguan jin dan manusia.

Kemudian Rasulullah tiba di Baitul Maqdis, salah satu dari tiga masjid yang dianjurkan untuk diziarahi. Beliau shalat dua rakaat, lalu masjid itu dipenuhi para nabi dan rasul sejak Adam hingga Isa. Jibril mengumandangkan adzan dan iqamah, dan Rasulullah menjadi imam mereka, sebagai penegasan kemuliaan dan kepemimpinannya atas seluruh nabi.

Mikraj

Setelah itu dimulailah Mi‘raj, yakni naiknya Rasulullah melalui tangga cahaya dari batu Baitul Maqdis, menembus lapisan demi lapisan langit. Di setiap langit beliau bertemu para nabi: Adam, Yahya, Zakariya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Hingga beliau mencapai Sidratul Muntaha, pohon agung di surga, tempat berakhirnya pengetahuan makhluk.

Di sana Jibril menampakkan wujud aslinya dengan enam ratus sayap. Rasulullah melanjutkan hingga ke tempat yang tidak dapat dicapai siapa pun selain beliau, mendengar suara pena-pena takdir, dan menerima anugerah terbesar bagi umatnya: shalat.

Awalnya shalat diwajibkan lima puluh kali sehari semalam, namun atas nasihat Nabi Musa dan kasih sayang Allah, kewajiban itu diringankan menjadi lima waktu, namun dengan pahala lima puluh. Ini menunjukkan besarnya manfaat para nabi dan orang-orang saleh, bahkan setelah wafat, bagi umat yang masih hidup.

Rasulullah kemudian kembali ke bumi, bermalam di Makkah, dan seluruh perjalanan Isra dan Mi‘raj itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS Al-Isra: 1)

Isra dan Mi‘raj adalah peristiwa nyata, bukan mimpi. Ia menjadi ujian keimanan dan bukti kemuliaan Rasulullah .

Semoga Allah menghidupkan kembali peringatan ini dalam hati kita, menumbuhkan cinta kepada Rasul-Nya, dan menghimpun kita bersamanya dalam kebaikan, kesehatan, dan keselamatan, selama bertahun-tahun yang akan datang.

إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.RA(*)