Posted on 21 February 2026
Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur
dalam salah satu kajiannya menjelaskan tentang persiapan menyambut Ramadan. Beliau menegaskan bahwa Ramadan merupakan sebuah program transformasi jiwa manusia, serta menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan membina keluarga selama bulan yang mulia ini.Berikut adalah terjemahan kajian beliau dengan beberapa penyesuaian :
Ramadan adalah bulan yang diberkahi dan momen agung yang Allah khususkan bagi umat ini agar mereka memperbarui hubungan mereka dengan hal paling mulia dalam agama: membangun jiwa dan memperbaiki diri, serta melakukan muhasabah (introspeksi).
Ramadan adalah bulan persiapan dan kesiapan. Laki-laki maupun perempuan memiliki tanggung jawab sebelum memasuki bulan ini. Di antaranya adalah menyiapkan “wadah” yang akan berpuasa, menyiapkan akal yang akan shalat, menyiapkan lisan yang akan membaca Al-Qur’an, serta menyiapkan diri bagi siapa saja yang ingin memiliki kedudukan di sisi Allah pada bulan Ramadan.
Dimulai Dengan Taubat
Sebagaimana ketika kita hendak shalat, kita bersuci terlebih dahulu, maka ketika hendak berpuasa dan shalat Tarawih, kita pun harus membersihkan diri dari berbagai keburukan dan menghiasinya dengan berbagai keutamaan.
Awal dari segala keburukan adalah maksiat. Awal dari segala keutamaan adalah taubat.
Taubat berarti kembali kepada Allah dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, ruh yang suci, dan anggota badan yang siap beramal saleh. Inilah dasar persiapan sejati.
Para ulama mengatakan: Apabila seorang hamba benar dalam maqam taubatnya sepanjang hidupnya, lalu ia wafat dalam keadaan itu, maka ia telah menjamin keselamatan di dunia dan akhirat.
Apa makna maqam taubat? Ia adalah kembali kepada Allah, tunduk kepada-Nya, memperbanyak istighfar, serta membersihkan diri dari dosa dan kesalahan.
Adakah di antara kita yang bisa berkata: “Aku tidak memiliki dosa”? Tentu tidak.
Setiap manusia memiliki kesalahan. Paling ringan adalah dosa lisan: ghibah, namimah, dusta, menyebarkan berita yang tak layak disebarkan. Ini adalah kelemahan manusia dalam kehidupan.
Karena itu, sebelum Ramadan masuk, hendaklah kita menghapus segala keburukan masa lalu dengan taubat dan istighfar, termasuk lintasan-lintasan buruk dalam hati dan pikiran kita.
Agar kita menyambut Ramadan dalam keadaan suci, bukan hanya suci lahiriah, tetapi suci batiniah.
Adapun kesucian fisik, ia dilakukan ketika waktunya tiba untuk shalat atau puasa. Namun kesucian maknawi, kesucian hati dan jiwa, itulah yang menjadi dasar paling penting.
Mulai saat ini, niatkan:
Inilah taubat yang apabila kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan komitmen, maka Ramadan akan datang kepada kita dalam keadaan kita benar-benar siap, sehingga kita memperoleh bagian dari limpahan pertolongan dan keberkahan yang Allah curahkan pada bulan yang mulia ini.
Ramadan Bukan Rutinitas, Tetapi Program Perubahan
Ramadan bukanlah bulan biasa. Ia memerlukan rencana, program, dan perubahan yang disengaja dalam diri seorang muslim, muslimah, dan dalam rumah tangga muslim. Jangan sampai Ramadan berlalu seperti bulan-bulan sebelumnya, tanpa perubahan berarti.
Jika untuk sebuah perjalanan duniawi saja seseorang rela mengubah jadwal dan kebiasaan hidupnya, maka Ramadan tentu lebih berhak untuk diperlakukan demikian.
Allah ﷺ berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”(QS Al-Hajj: 32)
Syiar berarti segala bentuk manifestasi dan sarana yang Allah kehendaki untuk memperbaiki manusia—memperbaiki anggota tubuhnya, niatnya, dan arah hidupnya menuju Allah.
Fungsi Ramadan adalah islah (perbaikan) manusia. Nabi ﷺ bersabda:
صُومُوا تَصِحُّوا
“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”(HR Abu Nuaim dan Ibnu Sunni)
Sehat di sini mencakup kesehatan jasmani dan kesehatan ruhani.
Namun kesehatan itu tidak akan terwujud tanpa perencanaan. Jika seseorang tidak memiliki program dalam memahami Ramadan, dalam menyiapkan siang dan malamnya, maka Ramadan akan kehilangan daya transformasinya.
Realitas sosial yang kita hadapi menunjukkan bahwa budaya malas, menunda, dan tidak tertib waktu telah menguasai banyak rumah tangga. Pola tidur yang berlebihan, kelalaian dalam mengatur waktu, dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak produktif menjadi penghalang manfaat Ramadan. Padahal Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus.
Berapa banyak wanita dan anak yang berpuasa dari sahur hingga berbuka, tetapi tidak menunaikan kewajiban di antara keduanya? Itulah tanda bahwa tidak ada program.
Ramadan Adalah Program Kehidupan
Ramadan harus dipahami sebagai program terstruktur pembagian waktu dan fungsi.
Siapa yang ingin bahagia di dunia dan akhirat, siapa yang ingin bahagia dalam rumah tangga dan kehidupannya, maka ia harus memprogram hidupnya di bulan Ramadan.
Ramadan adalah:
Ia terbagi menjadi tiga fase:
Keutamaan ini tidak diraih tanpa pengaturan waktu.
Sebagian wanita menghabiskan Ramadan dengan rutinitas keluar-masuk pasar setiap hari. Lalu kapan waktu shalat? Kapan waktu dzikir? Kapan waktu Al-Qur’an?
Di sebagian negeri, orang begadang hingga dini hari, lalu menggantinya dengan tidur panjang di pagi dan siang hari. Sebagian lelaki bahkan menunda shalat hingga mendekati waktu asar atau bahkan maghrib.
Jika fungsi waktu rusak, program pun rusak. Jika program rusak, Ramadan hanya menjadi kebiasaan tahunan.
Orang berkata: “Kita sudah puasa, semoga Allah menerima.” Tetapi di mana efek pendidikan? Di mana dampak spiritual, mental, dan hati?
Menyusun Jadwal Ramadan
Orang yang memahami hakikat keberkahan Ramadan akan menyusun waktunya dengan rapi:
Sebab waktu adalah aset terbesar. Banyak waktu habis di jalanan dan kemacetan. Maka tanpa program, Ramadan akan habis dalam hal-hal yang tidak menghasilkan pahala berarti.
Dengan perencanaan yang baik, Ramadan menghadirkan cahaya, kebaikan, dan keberkahan.
Persiapan Ilmiah: Memahami Fikih Puasa
Di antara persiapan penting sebelum Ramadan adalah memahami hukum-hukum fikih puasa.
Tidak layak seorang muslim atau muslimah memasuki bulan mulia ini tanpa mengetahui hubungan fikihnya dengan Ramadan:
Di zaman ini, sarana belajar sangat banyak, majelis ilmu, kitab-kitab, dan media komunikasi.
Fikih puasa adalah bab yang luas. Para ulama telah menulis banyak karya dalam hal ini. Setiap muslimah sebaiknya memiliki kitab khusus tentang puasa, karena tidak mungkin seluruh rincian dijelaskan dalam satu majelis singkat.
Dua Masalah Fiqih Penting yang Sering Terjadi
Ketelitian dalam Waktu Berbuka
Sebagian keluarga menyalakan televisi untuk mengikuti adzan di Makkah, lalu berbuka ketika adzan Makkah terdengar, padahal mereka berada di kota lain. Ini keliru.
Setiap daerah memiliki waktu sendiri. Tidak boleh berbuka hanya karena melihat orang berbuka di Masjidil Haram melalui siaran langsung. Harus menunggu adzan di tempat tinggalnya sendiri. Tergesa-gesa dalam hal ini bisa menyebabkan batalnya puasa hari itu.
Ketelitian dalam Waktu Imsak
Sebaliknya, sebagian orang meremehkan waktu imsak. Ketika adzan subuh berkumandang, ia masih makan dan minum, bahkan menyelesaikan minumnya hingga adzan selesai. Ini masalah besar.
Adzan adalah tanda terbit fajar. Bahkan jika seseorang melihat fajar sebelum adzan, ia wajib segera berhenti makan dan minum.
Disebutkan bahwa Nabi ﷺ berhenti makan sebelum adzan, dengan jeda waktu sekitar seperempat jam atau lebih. Karena itu, setiap muslimah dan setiap mukminah harus memperhatikan dua hal ini dengan sungguh-sungguh:
Dengan kedisiplinan inilah puasa menjadi sah dan bernilai.
Menuntut Ilmu Fikih Puasa: Prioritas yang Terlupakan
Adapun rincian masalah-masalah lainnya, maka setiap muslimah dapat mengambil bagian dari kitab-kitab atau rekaman kajian yang membahas fikih puasa, tentang sunnah-sunnahnya, kewajiban-kewajibannya, syarat-syaratnya, serta rukun-rukunnya, hingga ia benar-benar memahaminya. Barang siapa mencari ilmu, niscaya ia akan mendapatkannya.
Namun yang menjadi masalah adalah ketika para ibu, para wanita, dan para gadis memasuki Ramadan tanpa membaca satu pun pembahasan fikih puasa, tanpa memikirkan hukum-hukumnya, dan seakan tidak peduli terhadapnya.
Sebaliknya, mereka mungkin justru membaca katalog-katalog resep, mempelajari jenis makanan, minuman, dan aneka hidangan berbuka dengan sangat teliti demi menyajikan sesuatu yang istimewa di rumahnya. Tetapi tidak membaca satu pun masalah fikih tentang puasa. Ini adalah sesuatu yang memalukan bagi kita sebagai umat Muhammad ﷺ.
Fikih kita bukan fikih makanan. Fikih kita adalah fikih puasa. Fikih puasa itulah yang menjaga ibadah seseorang dari kesalahan, kekurangan, kelemahan, atau sebab-sebab yang dapat merusaknya. Dengannya puasa menjadi bernilai di sisi Allah dan layak mendapatkan penerimaan. Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ dalam hadis qudsi:
الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena puasa adalah poros kejujuran seorang hamba dengan Allah, dan keikhlasan dalam berinteraksi dengan Rabb-nya.
Godaan Media di Bulan Ramadan
Benar bahwa setiap orang di bulan Ramadan lebih mudah menerima perubahan. Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.
Namun, sebagian orang justru sibuk mengikuti apa yang ditampilkan media. Mereka terikat dengan serial, program hiburan, dan tayangan-tayangan yang pengaruhnya terkadang lebih kuat daripada pengaruh agama dan syariat.
Bahkan ketika bersilaturahmi ke rumah kerabat, perhatian mereka tetap tersedot pada layar. Akibatnya, Al-Qur’an terabaikan hingga Ramadan berlalu tanpa hasil yang berarti. Padahal umur singkat. Hari-hari cepat berlalu. Ramadan terasa begitu pendek.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Menanamkan Keyakinan
Solusinya adalah menanamkan keyakinan yang kuat dalam keluarga. Apa maksudnya?
Menanamkan tujuan (ghayah) di balik puasa:
Apakah kita memiliki visi jauh ke depan untuk menjelaskan hal ini kepada anak-anak kita?
Jika keyakinan telah tertanam bahwa Ramadan adalah bulan yang istimewa, bulan rahmat, bulan ampunan, dan bulan pembebasan dari neraka maka perkara lain akan menjadi ringan.
Serial televisi, lomba hiburan, dan tayangan musiman Ramadan, semuanya selesai hanya dengan satu tombol “mati”.
Tetapi apakah ada kesadaran dalam diri seorang ibu untuk mengatur penggunaan televisi dan media sosial anak-anaknya?
Kita telah berbicara tentang pengaturan waktu. Sekarang kita berbicara tentang pengaturan media.
Media hari ini, televisi, pasar, media sosial, telah menjadi bagian dari lingkungan hidup. Sulit menghindarinya sepenuhnya. Namun di bulan Ramadan, kita diperintahkan meninggalkan banyak hal, bahkan hal-hal yang halal seperti makan dan minum, demi meraih keberkahan.
Maka bagaimana mungkin kita tidak meninggalkan tayangan yang melalaikan?
Mengatur Rumah di Bulan Ramadan
Peran ayah dan ibu sangat penting. Ramadan adalah bulan pendidikan. Bulan pengisian hati dengan keamanan dan iman.
Beberapa langkah praktis:
Sebab menjelang berbuka, justru banyak tayangan yang membangkitkan syahwat, melalaikan, bahkan merusak suasana ruhani orang yang berpuasa. Kita tidak mengatakan “buang televisi”. Tetapi kendalikanlah ia.
Puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Hewan pun bisa tidak makan dan tidak minum. Puasa memiliki dua dimensi:
Dimensi lahiriah (hissi): Menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri
Dimensi batiniah (maknawi): Menahan diri dari ghibah, namimah, pandangan syahwat, dan perkataan dusta
Semua ini adalah adab yang mengangkat jiwa. Jika tidak ditegakkan, Ramadan akan menjadi sekadar tradisi tahunan.
Disebutkan bahwa Bani Israil dahulu juga berpuasa Ramadan. Namun karena beratnya puasa di musim panas, para pemuka merekadengan tipu daya, memindahkannya ke musim dingin. Ketika musim dingin tiba, mereka pun tetap tidak melaksanakannya. Akhirnya Ramadan hilang dari mereka. Ini pelajaran bahwa mempermainkan syariat berujung pada kehilangan keberkahan.
Media boleh digunakan jika:
Selain itu, sebaiknya dikurangi. Mari kita jaga mata dan hati dari
tayangan yang melalaikan.
Mari kita isi waktu dengan Al-Qur’an, sedekah, dan amal kebaikan. Ramadan
adalah bulan keberkahan dan kebaikan. Ia tidak datang dua kali dalam setahun. Manfaatkanlah
ia semampu kita. Dan Allah-lah yang memberi taufik.
Ramadan: Bulan Kedermawanan dan Penyambung Silaturahmi
Ketika kita menelusuri sabda-sabda Nabi ﷺ tentang bulan Ramadan tentang kabar gembira dan isyarat-isyaratnyam kita dapati bahwa beliau adalah manusia yang paling berbahagia menyambutnya.
Disebutkan bahwa beliau ﷺ adalahOrang yang paling dermawan, dan kedermawanannya di bulan Ramadan lebih deras daripada angin yang berhembus.
Beliau menyambut Ramadan dengan kegembiraan dan optimisme. Ramadan bagi beliau bukan sekadar bulan ibadah personal, tetapi bulan menguatkan hubungan.
Makna “lebih dermawan dari angin yang berhembus” bukan hanya memberi harta, tetapi: Mendekat kepada kerabat, memperhatikan sahabat, mengunjungi tetangga, dan menunaikan kebutuhan orang lain. Maka Ramadan menjadi bulan hubungan spiritual dan syar‘i antara seorang muslim dengan keluarganya dan masyarakatnya.
Penyakit Sosial di Bulan Ramadan
Namun realitas hari ini menyedihkan. Ramadan datang, sementara ada keluarga yang saling memutus silaturahmi. Ramadan datang, sementara di antara kaum muslimin masih ada kebencian, iri hati, dan permusuhan. Ramadan datang, tetapi hati tetap penuh ganjalan.
Keadaan ini tidak dikenal di masa Nabi ﷺ, tidak pula di masa para sahabat dan generasi salaf. Mereka tidak membiarkan penyakit seperti ini hidup di tengah masyarakat.
Mengapa ini terjadi?
Karena banyak orang tidak lagi menjadikan syariat sebagai pengendali, tetapi menjadikan tabiat dan ego sebagai hakim. Mereka memahami agama sesuai selera, bukan sesuai aturan Allah.
Akibatnya: permusuhan berkepanjangan, perselisihan tak selesai, saling menjatuhkan, dan setiap pihak merasa paling benar dalam memutus hubungan
Bahkan penyakit ini menimpa keluarga besar, hingga keluarga sebagian ulama pun tidak luput darinya.
Ketahuilah: Di bulan Ramadan, agama tidak memihak siapa pun. Tidak peduli ia ulama atau orang awam. Orang yang tetap memelihara permusuhan, enggan meminta maaf, tidak mau memperbaiki hubungan dengan orang tua, kerabat, atau pihak yang berselisih dengannya, sementara ia berpuasa dan shalat malam, maka ia tidak akan mendapatkan hakikat pahala Ramadan.
Mengapa?
Karena pahala Ramadan terikat dengan: nilai-nilai akhlak, amal saleh, kelembutan hati,dan kekhusyukan jiwa.ika hati telah tunduk dan jujur kepada Allah, maka masalah-masalah dunia akan terasa ringan. Ramadan adalah bulan menyelesaikan masalah, bukan memperpanjangnya.
Selesaikan Sebelum Ramadan Datang
Maka sebelum Ramadan tiba:
Meminta maaf bukanlah kehinaan. Itu adalah investasi pahala. Sebab rahmat Allah tidak turun pada hati yang penuh dendam. Hujan karunia tidak akan membasahi hati yang menyimpan kebencian.
Kita sering berdoa:
“Ya Allah, ampuni
aku.”
“Ya Allah, rahmati aku.”
“Ya Allah, kabulkan doaku.”
Seakan Allah menjawab:
“Aku akan memberimu, tetapi bertobatlah dari permusuhan. Tinggalkan kedengkian. Sambunglah silaturahmi.”
Hari ini, sebagian wanita dan juga lelaki sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Media sosial menjadi ladang membuka aib, menyebar gosip, bahkan memalsukan cerita dan gambar.
Ini semua adalah sebab hilangnya pahala. Adakah orang bekerja tanpa ingin menerima gaji? Apakah kita berpuasa tanpa menginginkan pahala?
Kita shalat karena pahala. Kita berpuasa karena pahala. Kita duduk di majelis ilmu karena pahala. Lalu mengapa kita merusaknya dengan kebencian dan fitnah?
Ramadan Adalah Lomba Besar
Ramadan ibarat perlombaan besar. Setiap perlombaan memiliki syarat. Di antara syarat kemenangan Ramadan adalah:
Siapa yang memiliki hak orang lain, kembalikanlah. Siapa yang menzalimi orang lain, bertobatlah. Masuklah Ramadan dengan wajah yang bercahaya dengan cahaya iman, cahaya cinta, cahaya rahmat, dan cahaya kebaikan. Karena kita sedang berinteraksi dengan Allah.
Siapa yang enggan bertobat, enggan memaafkan, dan bersikeras mempertahankan ego, maka yang bergembira hanyalah satu: Iblis. Apakah kita ingin membuat Iblis senang, atau membuat Allah ridha?
Siapa yang ingin meraih ridha Allah, hendaklah ia membersihkan hatinya sebelum Ramadan tiba.
Syarat Keberhasilan Ramadan
Nasihat ini jelas: Ramadan harus disambut dengan hati yang bersih dari penyakit. Itulah syarat keberhasilan. Seperti sebuah kompetisi memiliki ketentuan, maka di antara syarat utama kemenangan di bulan Ramadan adalah:
Agar kita meraih hadiah terbesar dari Allah ﷻ.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang masuk Ramadan dengan hati yang bersih dan keluar darinya dengan jiwa yang menang. RA(*)