Posted on 02 April 2026
Sayid Ahmad bin Alwi Jamalullail Bahasan dalam kitab Dzakhiratul Khair menyebutkan 83 faedah Shalawat Kepada Nabi ﷺ. Berikut uraiannya:
Keutamaan shalawat kepada beliau ﷺ sungguhlah agung, dan kedudukannya begitu mulia. Para ulama yang menyebarkan keutamaan-keutamaannya sejatinya hanyalah membawa setetes air dari samudera yang luas, atau setangkai bunga dari taman yang harum semerbak.
Para ulama telah memaparkan serangkaian panjang keutamaan shalawat secara terperinci. Di antara mereka yang memaparkannya adalah : Al-Allamah Ibnu al-Qayyim dalam Jala al-Afham, Al-Hafiz Ibnu al-Jazari dalam Miftah al-Hishn al-Hashin, Al-Hafiz as-Sakhawi dalam al-Qaul al-Badi, Syaikh Ibnu Hajar dalam ad-Durr al-Mandhud, serta ulama lainnya. Sebagian dari mereka yang disebutkan tadi juga menyertakan setiap keutamaan tersebut dengan dalilnya, baik dari Sunnah (hadis) maupun atsar (perkataan sahabat/tabiin).
Maka kami katakan: Kami akan mengisyaratkan kepada seluruh yang mereka sampaikan secara ringkas, dengan menghapus hal-hal yang berulang, untuk memotivasi mereka yang mendapat taufik agar memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ.
Keutamaan-Keutamaan Shalawat kepada Nabi ﷺ
Yang Pertama dari manfaat shalawat kepada beliau ﷺ adalah: Wujud kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala yang memerintahkan kita bershalawat kepada Nabi ﷺ di dalam Al-Quran.
Kedua: selaras dengan Allah Taala dalam bershalawat kepada beliau ﷺ, meskipun shalawat kita dan shalawat Allah berbeda hakikatnya. Shalawat dari Allah Taala adalah bentuk pengagungan (tazim) dan pemuliaan (tasyrif), sedangkan shalawat dari kita adalah doa dan permohonan (sual).
Ketiga: selaras dengan para malaikat Allah Taala alaihimussalam dalam bershalawat kepada Beliau ﷺ.
Keempat, Kelima, dan Keenam: medapatkan shalawat dari Allah, para malaikat-Nya, dan para rasul-Nya bagi orang yang bershalawat kepada beliau ﷺ sebagaimana yang termaktub dalam hadis-hadis yang sebagiannya berstatus sahih dan sebagian lainnya hasan.
Ketujuh: Allah akan bershalawat sepuluh kali bagi siapa yang bershalawat satu kali. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban, At-Thabrani, dan selainnya, dari sekumpulan sahabat di antaranya: Abu Hurairah, Abdullah bin Amru bin al-Aash, Umar bin al-Khattab, Ammar bin Yasir, Anas bin Malik, dan lainnya.
Ibnu Syafi berkata:
"Keagungan kedudukan Nabi ﷺ tercurah kepadamu. Seandainya engkau melakukan seluruh ketaatan sepanjang umurmu, kemudian Allah bershalawat kepadamu satu kali saja, niscaya satu shalawat tersebut akan mengungguli seluruh ketaatan yang engkau kerjakan seumur hidupmu. Hal itu karena engkau bershalawat sesuai dengan batas kemampuanmu, sementara Dia bershalawat sesuai dengan sifat Ketuhanan-Nya (Rububiyah). Ini baru satu shalawat, maka bagaimana jika Allah bershalawat sepuluh kali untukmu pada setiap satu shalawat yang kau ucapkan? Sungguh, di antara dua kemuliaan tersebut terdapat kedudukan yang sangat luas."
Ibnu Atha radhiyallahu anhu berkata:
"Barangsiapa yang Allah beri satu shalawat saja, maka itu sudah mencukupinya dari segala kegelisahan dunia dan akhirat. Maka bayangkan bagaimana bagi mereka yang mendapatkan sepuluh shalawat?!"
Abu Abdullah as-Sakkaki berkata:
"Shalawat dari Allah adalah rahmat. Barangsiapa yang dirahmati Allah dengan satu rahmat saja, maka itu lebih baik baginya daripada dunia beserta isinya. Lantas bagaimana dugaanmu dengan sepuluh rahmat?! Berapa banyak bala dan ujian yang akan tertolak dengannya, dan berapa banyak karunia yang lembut akan teraih berkat keberkahannya?"
Asy-Syarani berkata dalam al-Uhuud al-Muhammadiyyah: "Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang hasan secara marfu:
مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَمَلَائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً
"Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi ﷺ satu kali, maka Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat kepadanya sebanyak tujuh puluh kali."
Kedelapan: Dicatat bagi orang yang bershalawat satu kali sebanyak sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh keburukan, dan diangkat sepuluh derajat baginya sebagaimana yang termaktub dalam hadis-hadis yang berstatus hasan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
وَكُنَّ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ
"Dan shalawat-shalawat itu baginya setara dengan (pahala memerdekakan) sepuluh orang budak."
Kesembilan: Barangsiapa yang bershalawat kepada beliau ﷺ sebanyak seratus kali, maka Allah mencatat di antara kedua matanya kebebasan dari kemunafikan, kebebasan dari api neraka, dan Allah akan menempatkannya bersama para syuhada sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.
Kesepuluh: Barangsiapa yang bershalawat kepada beliau seratus kali, maka Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat kepadanya sebanyak seribu kali shalawat, dan tubuhnya tidak akan disentuh oleh api neraka sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.
Kesebelas: Bahwasanya shalawat merupakan sebab datangnya kecintaan para malaikat, pertolongan, serta sambutan baik dari mereka. Sesungguhnya mereka mencatat shalawat tersebut dengan pena emas di atas lembaran-lembaran perak, seraya berkata kepada orang yang bershalawat: "Tambahlah (shalawatmu), niscaya Allah akan menambah (karunia) bagimu", sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang berstatus dhaif.
Kedua Belas: Memperoleh syafaat beliau ﷺ dan kesaksian beliau bagi orang yang bershalawat sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat yang kedudukannya dipandang la basa bihi.
Ketiga Belas: Pembebasan dari kemunafikan dan api neraka, pengangkatan derajat menuju kedudukan para syuhada, serta menjadi penghapus dosa (kafarat) bagi orang yang bershalawat dan menjadi pembersih (zakat) bagi amal-amalnya sebagaimana termaktub dalam hadis yang dinilai sahih oleh sebagian ulama.
Keempat Belas: Bahwa pundak orang yang bershalawat akan bersisian dengan pundak beliau ﷺ di pintu surga sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.
Kelima Belas: Shalawat itu akan memohonkan ampun bagi pengucapannya di sisi kuburnya setelah ia wafat, serta menjadi penyejuk mata baginya pada saat itu sebagaimana disebutkan dalam hadis yang berstatus dhaif.
Keenam Belas: Satu kali shalawat bernilai satu qirath yang besarnya semisal gunung Uhud, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang berstatus dhaif.
Ketujuh Belas: Berdirinya seorang malaikat di makam beliau ﷺ yang telah dikaruniai Allah pendengaran seluruh makhluk untuk menyampaikan shalawat kita kepada Beliau ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadis yang perawi-perawinya dinilai tepercaya oleh Ibnu Hibban, dan terdapat pula hadis-hadis lain dengan makna serupa yang berstatus tetap (tsabit).
Kedelapan Belas: Memperoleh takaran pahala dengan timbangan yang paling sempurna (al-mikyal al-awfa) sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya.
Kesembilan Belas: Tercukupinya segala urusan yang penting, baik di dunia maupun di akhirat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan selainnya.
Kedua Puluh: Pengampunan dosa-dosa, sesungguhnya shalawat itu lebih cepat menghapuskan kesalahan-kesalahan daripada air memadamkan api, serta lebih utama daripada memerdekakan budak. Hal ini dinyatakan oleh Sayyidina Ali radhiyallahu anhu, dan perkataan ini memiliki hukum marfu (bersumber dari Nabi ﷺ).
Kedua Puluh Satu: Satu kali shalawat dapat menghapuskan dosa selama delapan puluh tahun, menahan dua malaikat pencatat amal untuk tidak menuliskan satu dosa pun baginya selama tiga hari, serta menjaganya dari masuk neraka sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.
Kedua Puluh Dua: Keselamatan dari kedahsyatan hari kiamat. Sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok ulama dengan sanad yang dhaif.
Kedua Puluh Tiga: Meraih keridaan Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana diriwayatkan dengan sanad berstatus dhaif.
Kedua Puluh Empat: Diliputi oleh rahmat. Sebagaimana diriwayatkan dengan sanad berstatus hasan.
Kedua Puluh Lima: Aman dari kemurkaan Allah Azza wa Jalla sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidina Ali radhiyallahu anhu dengan sanad yang di dalamnya terdapat perawi yang tertuduh .
Kedua Puluh Enam: Masuk ke bawah naungan Arasy sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.
Kedua Puluh Tujuh dan Dua Puluh Delapan: Beratnya timbangan amal (mizan) dan keselamatan dari api neraka berdasarkan hadis panjang tentang Nabi Adam alaihis salam, yang di dalam hadits tersebut terdapat pembicaraan (mengenai keshahihannya).
Kedua Puluh Sembilan: Aman dari rasa haus di hari kiamat sebagaimana termaktub dalam kitab al-Hilyah dari sebagian ulama ahli kitab (al-Ahbar).
Ketiga Puluh: Keteguhan kaki saat menyeberangi shirath, di mana shalawat tersebut akan memegang tangan orang yang tergelincir di atasnya, menegakkannya kembali di atas kedua kakinya, dan menyelamatkannya hingga ia berhasil melintas sebagaimana disebutkan dalam hadis yang berstatus hasan.
Ketiga Puluh Satu: Barangsiapa yang bershalawat dalam sehari sebanyak seribu kali, ia tidak akan wafat hingga ia melihat tempat duduknya di surga. Namun, hadis mengenai hal ini berstatus munkar.
Ketiga Puluh Dua: Banyaknya pasangan di surga sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.
Ketiga Puluh Tiga: (Pahalanya) setara dengan dua puluh kali peperangan di jalan Allah. Dan sanadnya berstatus dhaif.
Ketiga Puluh Empat: Bahwasanya shalawat itu setara dengan sedekah. Dan sanadnya berstatus hasan.
Ketiga Puluh Lima: Bershalawat seratus kali dalam sehari bernilai seribu kebaikan, setara dengan seratus sedekah yang diterima, dan menghapuskan seribu keburukan sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Saad dalam Syaraf al-Musthafa.
Ketiga Puluh Enam: Bershalawat seratus kali setiap hari dapat menjadi sebab terpenuhinya seratus hajat, tujuh puluh untuk urusan akhirat dan tiga puluh untuk urusan dunia. Hadis mengenai hal ini berstatus hasan, dan disebutkan demikian secara mutlak dalam riwayat dari Jabir ini.
Dalam riwayat lain juga dari Jabir radhiyallahu anhu: "Barangsiapa bershalawat kepadaku seratus kali saat salat Subuh sebelum ia berbicara, maka Allah penuhi baginya seratus hajat, Allah segerakan baginya tiga puluh hajat darinya dan Allah tunda tujuh puluh lainnya. Dan pada saat Magrib pun demikian pula." Mereka bertanya: "Bagaimana cara bershalawat kepadamu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).
Lalu ucapkanlah: "Allahumma shalli alaihi" (Ya Allah, berilah shalawat kepadanya) hingga engkau menghitungnya seratus kali. Kedua riwayat ini disebutkan dalam Jala al-Afham. Sedangkan dalam Miftah al-Hishn al-Hashin hanya mencukupkan pada riwayat yang lain, namun dengan menggugurkan bagian: "Mereka bertanya: Bagaimana cara bershalawat kepadamu... hingga akhir." Dan riwayat ini juga disebutkan bersama riwayat pertama dalam ad-Durr al-Mandhud.
Ketiga Puluh Tujuh: Satu kali shalawat dapat menjadi sebab terpenuhinya seratus hajat. Dan sanadnya berstatus terputus (munqathi).
Ketiga Puluh Delapan: Barangsiapa bershalawat seratus kali dalam sehari, maka ia seperti orang yang senantiasa melakukan ibadah sepanjang malam dan siang hal ini dinyatakan oleh Abu Ghassan al-Madini.
Ketiga Puluh Sembilan: Termasuk amalan yang paling dicintai Allah. Dan sanadnya berstatus dhaif.
Keempat Puluh, Empat Puluh Satu, dan Empat Puluh Dua: Menjadi penghias majelis-majelis, cahaya pada hari kiamat, dan cahaya di atas shirath (titian). Hadis mengenai hal ini berstatus dhaif.
Keempat Puluh Tiga: Menghilangkan kemiskinan (kefakiran). Dan sanadnya berstatus dhaif.
Keempat Puluh Empat: Orang yang memperbanyak shalawat akan menjadi manusia yang paling utama (paling dekat) dengan beliau ﷺ pada hari kiamat. Hadis mengenai hal ini berstatus hasan.
Keempat Puluh Lima: Keberkahan dan manfaat shalawat tersebut akan didapatkan oleh seseorang, anaknya, hingga cucunya (anak dari anaknya). Dan sanadnya berstatus dhaif.
Keempat Puluh Enam: Saat yang paling dicintai Allah dari seorang hamba dan saat hamba tersebut paling dekat dengan-Nya adalah ketika ia memperbanyak shalawat. Dan sanadnya berstatus dhaif.
Keempat Puluh Tujuh: Orang yang mengamalkannya (shalawat) terkadang tidak akan ditanya oleh Allah mengenai hal-hal yang difardukan kepadanya sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.
Keempat Puluh Delapan: Barangsiapa yang bershalawat dalam sehari sebanyak lima puluh kali, maka beliau ﷺ akan menjabat tangannya pada hari kiamat sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.
Keempat Puluh Sembilan: Menjadi pembersih hati dari karat (kotoran batin). Dan sanadnya berstatus mudhal (terputus dua perawi atau lebih secara berurutan).
Kelima Puluh: Terkabulnya doa jika di dalamnya disertai shalawat kepada beliau karena sesungguhnya shalawat itu membakar tirai penghalang sebagaimana telah diriwayatkan, dan ia membawa doa naik menuju langit. Sedangkan sebelum adanya shalawat, doa tersebut tertahan di antara langit dan bumi sebagaimana juga telah diriwayatkan.
Kelima Puluh Satu: Bahwasanya barangsiapa yang bershalawat kepada beliau sepuluh kali di waktu pagi dan sepuluh kali di waktu sore, maka ia akan mendapatkan syafaat sebagaimana diriwayatkan oleh At-Thabrani dengan sanad yang jayyid (baik).
Kelima Puluh Dua: Barangsiapa yang bershalawat setiap siang tiga kali dan setiap malam tiga kali, karena didasari rasa cinta dan rindu kepada beliau ﷺ, maka menjadi hak bagi Allah untuk mengampuni dosa-dosanya pada malam dan siang tersebut, sebagaimana riwayat ini dicantumkan secara marfu dalam kitab Jala al-Afham.
Kelima Puluh Tiga: Bahwasanya mengucapkan salam saat memasuki rumah, baik di dalamnya ada penghuninya maupun tidak, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, lalu membaca al-Ikhlas, maka hal tersebut merupakan sebab mengalirnya rezeki, serta hilangnya kemiskinan dan kesempitan hidup sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi ﷺ kepada seseorang yang mengadukan hal itu kepada beliau. Orang tersebut mengamalkannya, maka terjadilah apa yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ hingga hartanya melimpah ruah, bahkan meluap keberkahannya kepada para tetangga dan kerabatnya. Hadis ini berstatus tsabit (tetap).
Kelima Puluh Empat: Bahwasanya shalawat dapat menjadi wasilah bagi seseorang untuk mengingat kembali apa yang telah dilupakannya berdasarkan riwayat: "Jika kalian melupakan sesuatu, maka bershalawatlah kepadaku, niscaya kalian akan mengingatnya kembali dengan izin Allah Taala." Dan sanadnya berstatus dhaif.
Kelima Puluh Lima: shalawat berfaidah bagi yang khawatir akan lupa berdasarkan riwayat yang di dalamnya terdapat keterputusan sanad (inqitha): "Barangsiapa yang khawatir dirinya tertimpa penyakit lupa, maka hendaklah ia memperbanyak shalawat kepadaku."
Kelima Puluh Enam: Shalawat kedudukannya dapat menggantikan sedekah bagi orang yang dalam kesulitan dan tidak memiliki harta berdasarkan riwayat: "Siapa pun laki-laki yang tidak memiliki sedekah, maka hendaklah ia mengucapkan dalam doanya: Allahumma shalli ala Muhammadin abdika wa rasulika, wa shalli alal muminina wal muminati wal muslimina wal muslimat (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan utusan-Mu, dan limpahkanlah shalawat kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta orang-orang muslim laki-laki dan perempuan), karena sesungguhnya hal itu baginya adalah pembersih (zakat)." Diriwayatkan oleh sekelompok ulama dengan sanad yang hasan.
Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa shalawat lebih utama daripada sedekah, bahkan sedekah yang wajib sekalipun karena sesuatu yang diwajibkan Allah kepada hamba-Nya namun Dia dan para malaikat-Nya pun melakukannya (yaitu shalawat), tidaklah sama dengan sesuatu yang hanya diwajibkan kepada hamba-Nya saja (yaitu sedekah). Hal ini diceritakan dalam kitab Ad-Durr.
Kelima Puluh Tujuh: Bahwasanya shalawat menjadi sebab Nabi ﷺ menjawab kembali salam kepada orang yang bershalawat dan mengucapkan salam kepadanya. Hal ini disebutkan dengan sanad yang hasan, bahkan dishahihkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar dan kitab lainnya.
Kelima Puluh Delapan: Menjadikan majelis yang di dalamnya dibacakan shalawat kepada Nabi ﷺ tidak akan menjadi penyesalan bagi penghuninya di hari kiamat kelak, meskipun mereka masuk ke dalam surga, karena mereka melihat besarnya pahala yang diraih (dari shalawat). Sanadnya berstatus shahih. Dalam sebuah riwayat disebutkan: "...dan mereka bangkit (dari majelis tanpa shalawat itu) bagaikan bangkit dari bangkai yang paling busuk."
Kelima Puluh Sembilan: Menjadi penyempurna bagi perkataan yang dimulai dengannya (shalawat) dan dengan hamdalah sebagaimana riwayat marfu yang dicantumkan dalam Jala al-Afham.
Keenam Puluh: Disampaikannya nama orang yang bershalawat kepada beliau ﷺ, dan disebutnya nama tersebut di hadapan beliau yang mulia sebagaimana disebutkan dalam sanad yang jayyid (baik). Cukuplah bagi seorang hamba sebagai sebuah kebaikan ketika namanya disebut di hadapan Rasulullah ﷺ.
Keenam Puluh Satu: Selamat dari doa kecelakaan kecelakaan yang dipanjatkan oleh Sayyidina Jibril dan diamini oleh Nabi ﷺ, yaitu doa agar dijauhkan dari Allah, Rasul-Nya, dan segala kebaikan, bagi siapa saja yang disebutkan nama Nabi ﷺ di dekatnya namun ia tidak bershalawat. Hal ini diriwayatkan oleh banyak ulama dengan sanad yang para perawinya berstatus tsiqat (tepercaya).
Keenam Puluh Dua: Selamat dari doa kecelakaan bagi yang tidak bershalawat saat Nama Beliau ﷺ disebut yang juga disebutkan dengan redaksi "kehinaan bagi seseorang" (raghma al-anf), sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi, serta dishahihkan oleh Al-Hakim.
Keenam Puluh Tiga: Selamat dari doa kecelakaan yang juga menyebutkan tentang "kesengsaraan" (asy-syaqa), kita berlindung kepada Allah Taala dari hal tersebut. Sanad riwayat ini berstatus hasan.
Keenam Puluh Empat: Selamat dari doa kecelakaan bagi yang tidak bershalawat saat Nama Beliau ﷺ disebut yang juga menyebutkan tentang "masuk neraka dan terjauhkan dari rahmat" (as-suhuq), sebagaimana dalam sebuah riwayat yang para perawinya berstatus tsiqat.
Keenam Puluh Lima: Terjaminnya keselamatan dari "salah jalan" menuju surga bagi orang yang ketika nama beliau disebut di dekatnya, ia segera bershalawat. Dikeluarkan oleh At-Thabrani dan selainnya dengan sanad yang hasan.
Keenam Puluh Enam: Selamat dari sikap "jafa" (sikap dingin/menjauh) dari beliau ﷺ pada saat itu, sebagaimana telah sahih dari Qatadah secara mursal.
Keenam Puluh Tujuh: Kemenangan dengan dapat memandang wajah beliau yang mulia pada hari kiamat bagi orang yang bershalawat kepada beliau ketika nama beliau disebutkan, sebagaimana diriwayatkan oleh banyak ulama.
Keenam Puluh Delapan: Keselamatan dari doa kecelakaan (al-wayl) yang ditimpakan bagi orang yang tidak bershalawat kepada beliau saat mendengar nama beliau disebutkan, sebagaimana termaktub dalam kitab Syaraf al-Musthafa karya Abu Saad.
Keenam Puluh Sembilan: Keselamatan dari laknat yang ditimpakan bagi orang yang disebut nama beliau di dekatnya lalu ia tidak bershalawat, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hilyah dalam kisah tentang kijang.
Ketujuh Puluh hingga Ketujuh Puluh Tiga: Terbebas dari sifat sebagai "manusia yang paling hina", "orang yang tidak beragama", "orang yang paling kikir", dan "orang yang paling lemah", jika ia bershalawat kepada beliau saat nama beliau disebutkan, sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Saad untuk poin pertama, Al-Marwazi untuk poin kedua, serta dalam kitab Ad-Durr dan lainnya untuk poin ketiga dan keempat.
Ketujuh Puluh Empat: Meraih kecintaan beliau ﷺ. Penulis Jala al-Afham berkata: "Jika shalawat menjadi sebab bertambahnya cinta orang yang bershalawat kepada Nabi, maka shalawat itu pun menjadi sebab kecintaan Nabi kepada orang yang bershalawat tersebut."
Ketujuh Puluh Lima: Hidayah bagi hamba dan kehidupan bagi hatinya. Ibnu al-Qayyim dalam Jala al-Afham dan Al-Hafiz Ibnu al-Jazari dalam al-Miftah menyatakan:
"Sesungguhnya setiap kali seseorang memperbanyak shalawat dan zikir kepada beliau, maka kecintaan kepada beliau akan menguasai hatinya, hingga tidak tersisa lagi dalam hatinya penentangan terhadap satu pun perintah beliau, dan tidak ada keraguan terhadap apa pun yang beliau bawa. Bahkan, apa yang beliau bawa akan menjadi sesuatu yang tertulis dan terukir indah di dalam hatinya, yang senantiasa ia baca seiring pergantian keadaan, serta darinya ia memetik petunjuk, keberuntungan, dan berbagai jenis ilmu.
Semakin tajam mata batinnya dan semakin kuat makrifatnya (pengetahuannya) dalam hal tersebut, maka akan semakin bertambah pula shalawatnya kepada beliau ﷺ. Oleh karena itu, shalawatnya para ahli ilmu yang mengenal sunnah dan petunjuk beliau serta mengikutinya, berbeda dengan shalawat orang awam yang bagiannya hanyalah sekadar gerakan anggota badan dan pengerasan suara.
Adapun para pengikut beliau yang mengenal sunnahnya dan mengamalkan ajarannya, shalawat mereka memiliki cita rasa yang lain. Setiap kali bertambah makrifat mereka terhadap ajaran beliau, bertambah pula kecintaan dan pengenalan mereka terhadap hakikat shalawat yang diminta untuk beliau kepada Allah Taala. Demikian pula dalam berzikir kepada Allah Taala, setiap kali seorang hamba lebih mengenal-Nya, lebih taat kepada-Nya, dan lebih mencintai-Nya, maka zikirnya tidak akan sama dengan zikir orang-orang yang lalai dan bermain-main. Dan perkara ini adalah sesuatu yang hanya dapat diketahui melalui pengalaman ruhani (al-khibrah)."
Ketujuh Puluh Enam: Allah akan melimpahkan pujian yang baik bagi orang yang bershalawat di hadapan penduduk langit dan bumi. Hal ini dikarenakan orang yang bershalawat sejatinya sedang memohon kepada Allah agar memuji Rasul-Nya, memuliakan, serta mengagungkannya, sedangkan balasan itu sepadan dengan jenis amalan (al-jaza min jinsil amal). Maka, niscaya orang yang bershalawat pun akan mendapatkan bagian dari pujian tersebut, hal ini dinyatakan oleh Ibnu al-Qayyim.
Ketujuh Puluh Tujuh: Adanya keberkahan pada diri orang yang bershalawat, pada amalnya, usianya, serta sebab-sebab kemaslahatannya. Sebab, orang yang bershalawat sedang memohon kepada Tuhannya agar melimpahkan keberkahan kepada Nabi dan keluarganya, dan doa ini adalah doa yang mustajab, sedangkan balasan bagi pendoa adalah serupa dengan isi doanya, hal ini juga dinyatakan oleh Ibnu al-Qayyim.
Aku (penulis) berkata: Telah berlalu pada poin ke-45 penjelasan yang menguatkan hal ini.
Ketujuh Puluh Delapan: Kekalnya kecintaan kepada Nabi ﷺ, serta bertambah dan berlipat gandanya cinta tersebut. Hal itu merupakan salah satu ikatan keimanan yang tidak akan sempurna kecuali dengannya. Sebab, setiap kali seorang hamba memperbanyak penyebutan sosok yang dicintai serta menghadirkan keindahan-keindahan dan makna-makna yang menarik rasa cinta kepadanya, maka cintanya akan berlipat ganda, kerinduannya semakin bertambah, dan sosok tersebut akan menguasai seluruh relung hatinya.
Sebaliknya, jika ia berpaling dari menyebutnya dan tidak menghadirkan keindahan sosok tersebut dalam hatinya, maka berkuranglah rasa cinta di hatinya. Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang pencinta selain memandang sosok yang dicintai, dan tidak ada yang lebih menenteramkan hatinya selain menyebut namanya serta menghadirkan kebaikan-kebaikannya. Jika hal ini telah menguat di dalam hati, niscaya lisannya akan mengalir dengan pujian dan sanjungan kepadanya. Bertambah atau berkurangnya hal tersebut dalam hati sangat bergantung pada bertambah atau berkurangnya rasa cinta, dan kenyataan (al-hiss) menjadi saksi akan hal itu, hal ini dinyatakan oleh dua Imam yang telah disebutkan sebelumnya (Ibnu al-Qayyim dan Ibnu al-Jazari).
Ketujuh Puluh Sembilan: Bahwasanya shalawat merupakan bentuk penunaian hak beliau ﷺ yang paling minimal, padahal hak yang semestinya beliau terima dari kita tidaklah terhitung secara ilmu, dan tak seorang pun memiliki kemampuan untuk membalas walau seperseratus dari seperseratus hak beliau. Namun, Allah Subhaanahu wa Taala, sebagai rahmat bagi makhluk-Nya, telah rida dengan sedikit kesyukuran dan penunaian hak beliau alaihish shalatu was salam.
Kedelapan Puluh: Bahwasanya shalawat mengandung zikir kepada Allah dan syukur kepada-Nya, serta pengakuan atas nikmat-Nya kepada para hamba dengan mengutus beliau (sebagai Rasul) dan memperkenalkan nama-nama Allah serta sifat-sifat-Nya yang kudus, juga apa yang wajib bagi-Nya berupa kesempurnaan dan apa yang mustahil bagi zat-Nya Azza wa Jalla. Dengan demikian, shalawat telah mencakup segala himpunan keimanan.
Kedelapan Puluh Satu: Bahwasanya orang yang bershalawat telah menempuh jalan yang paling dicintai Allah Taala, dengan lebih mengutamakan pemberian pujian, pengagungan, dan pemuliaan kepada Kekasih-Nya di atas pencarian kemaslahatan dan keinginan dirinya sendiri. Hal itu merupakan sesuatu yang paling dicintai di sisi Allah dan Rasul-Nya. Tidak diragukan lagi, barangsiapa yang lebih mengutamakan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya di atas apa yang dicintai dan diinginkan hawa nafsunya, niscaya Allah Taala akan lebih mengutamakannya di atas yang lain. Dan ini merupakan salah satu manfaat yang paling agung.
Kedelapan Puluh Dua: Sebagian ulama berkata—sebagaimana dinukil pada awal Fasal Ketiga dalam kitab Ad-Durr: "Sesungguhnya orang yang berzikir (mengingat/menyebut) Nabi ﷺ terhitung sebagai golongan orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah (adz-dzakirina Allah katsira)." Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka dengan wasilah kedudukan Kekasih-Nya ﷺ.
Kedelapan Puluh Tiga: Bahwasanya shalawat menjadi sebab terjalinnya kebersamaan barzakhiah, yakni perjumpaan dengan beliau ﷺ dalam keadaan terjaga (yaqazah), sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang dianugerahi kebahagiaan. Sebab utamanya adalah dengan memperbanyak shalawat kepada beliau ﷺ, sebagaimana dipaparkan secara luas oleh Al-Arif Asy-Syarani dalam kitab Al-Uhuud Al-Muhammadiyyah. Di antara yang beliau sampaikan dalam kitab tersebut adalah: "Sesungguhnya siapa yang belum mendapatkan kesempatan berjumpa dengan beliau alaihish shalatu was salam dalam keadaan terjaga, maka hingga saat ini ia sejatinya belum (terhitung) memperbanyak shalawat kepada beliau ﷺ."
Syaikh Ahmad Az-Zawawi mengabarkan kepadaku: "Bahwa beliau tidak mendapatkan perjumpaan dengan Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga hingga beliau merutinkan shalawat kepada beliau ﷺ selama satu tahun penuh, di mana beliau bershalawat setiap siang dan malam sebanyak lima puluh ribu kali." Imam Asy-Syarani memanjangkan pembahasan mengenai hal ini, dan beliau juga menyebutkan hal serupa dalam kitab Al-Minan dan kitab Al-Akhlaq, maka rujuklah ke sana.
Inilah akhir dari apa yang Allah Taala mudahkan untuk dihimpun mengenai manfaat-manfaat shalawat kepada Sang Kekasih Tercinta ﷺ.RA(*)