Posted on 12 March 2026
Di antara tanda kemuliaan Al-Qur’an adalah bahwa syariat Islam tidak hanya mengajarkan cara membacanya, tetapi juga mengajarkan adab ketika seseorang menyelesaikan bacaannya (khatam). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi ibadah yang memiliki keberkahan pada setiap tahapnya, termasuk saat penutupannya.
Imam besar ahli hadis dan fiqih, Imam An-Nawawi, dalam kitabnya Al-Adzkar menjelaskan secara khusus tentang adab-adab khatam Al-Qur’an yang dipraktikkan oleh para ulama dan generasi salaf.
Khatam Al-Qur’an Sebaiknya Dilakukan dalam Shalat
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa bagi seseorang yang membaca Al-Qur’an sendirian, khatam yang paling utama adalah di dalam shalat.
Namun apabila khatam dilakukan di luar shalat, seperti dalam majelis bersama atau halaqah Al-Qur’an, maka dianjurkan agar khatam itu dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan, yaitu: awal malam, atau awal siang hari.
Waktu-waktu ini dipilih karena dianggap sebagai saat yang baik untuk memulai doa dan memohon keberkahan dari Allah.
Dianjurkan Berpuasa pada Hari Khatam Al-Qur’an
Di antara amalan yang dianjurkan ketika seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an adalah berpuasa pada hari tersebut, selama hari itu bukan hari yang dilarang berpuasa. Beberapa ulama tabi‘in yang terkenal melakukannya, di antaranya: Thalhah bin Musharrif, Al-Musayyib bin Rafi‘, Habib bin Abi Tsabit
Mereka adalah ulama tabi‘in dari Kufah yang dikenal dengan kedalaman ilmu dan ibadahnya. Disebutkan bahwa mereka memulai hari khatam Al-Qur’an dalam keadaan berpuasa sebagai bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an.
Dianjurkan Menghadiri Majelis Khatam Al-Qur’an
Imam An-Nawawi juga menegaskan bahwa menghadiri majelis khatam Al-Qur’an adalah amalan yang dianjurkan, baik bagi orang yang bisa membaca Al-Qur’an maupun yang tidak. Hal ini dikiyaskan dengan perintah Nabi ﷺ tentang keutamaan menghadiri majelis kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
أمر رسول الله ﷺ الحيض أن يخرجن يوم العيد ليشهدن الخير ودعوة المسلمين
Rasulullah ﷺ memerintahkan para wanita yang sedang haid untuk keluar pada hari raya agar mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslimin. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana menghadiri majelis doa pada hari raya dianjurkan, demikian pula menghadiri majelis khatam Al-Qur’an yang penuh rahmat dan mustajab.
Para Sahabat dan Ulama Sangat Memperhatikan Momen Khatam
Diriwayatkan bahwa sahabat besar Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma sangat memperhatikan momen khatam Al-Qur’an. Beliau bahkan menugaskan seseorang untuk mengawasi orang yang sedang membaca Al-Qur’an. Ketika orang tersebut hampir selesai membaca, ia diminta memberi tahu agar beliau dapat hadir menyaksikan khatam tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami bahwa khatam Al-Qur’an adalah momen turunnya rahmat dan keberkahan.
Tradisi Sahabat Anas bin Malik Ketika Khatam Al-Qur’an
Diriwayatkan oleh para ulama hadis dengan sanad yang sahih dari Qatadah, bahwa sahabat mulia Anas bin Malik radhiyalahu anhu memiliki kebiasaan istimewa:
كان أنس بن مالك إذا ختم القرآن جمع أهله ودعا
“Apabila Anas bin Malik mengkhatamkan Al-Qur’an, beliau mengumpulkan keluarganya lalu berdoa.”
Ini menunjukkan bahwa khatam Al-Qur’an bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga momen yang dianjurkan untuk dihidupkan bersama keluarga.
Doa Dikabulkan Saat Khatam Al-Qur’an
Tabi‘i besar Mujahid dan Abdah bin Abi Lubabah pernah mengundang seorang sahabat mereka ketika hendak mengkhatamkan Al-Qur’an. Mereka berkata:
إن الدعاء مستجاب عند ختم القرآن
“Sesungguhnya doa dikabulkan ketika khatam Al-Qur’an.”
Dalam riwayat lain Mujahid juga berkata:
كانوا يجتمعون عند ختم القرآن يقولون: إن الرحمة تنزل عند ختم القرآن
“Mereka dahulu berkumpul ketika khatam Al-Qur’an dan mengatakan bahwa rahmat Allah turun pada saat itu.”
Ini menunjukkan bahwa tradisi khatam quran merupakan tradisi yang memiliki akar kuat dan dilakukan oleh para salaf umat Islam.
Ribuan Malaikat Mengaminkan Doa Setelah Khatam
Dalam riwayat yang disebutkan oleh Imam Ad-Darimi dari Humaid Al-A‘raj disebutkan:
من قرأ القرآن ثم دعا أمّن على دعائه أربعة آلاف ملك
“Barang siapa membaca Al-Qur’an kemudian berdoa, maka empat ribu malaikat akan mengaminkan doanya.”
Para ulama menganjurkan agar seseorang bersungguh-sungguh dalam doa setelah khatam Al-Qur’an. Hendaknya ia memohon hal-hal yang besar dan penting.
Doa tersebut sebaiknya mencakup: kebaikan akhirat, kebaikan kaum Muslimin, perbaikan keadaan umat, kebaikan para pemimpin, taufik untuk ketaatan, perlindungan dari maksiat, persatuan kaum Muslimin, kemenangan terhadap musuh agama.
Dengan demikian doa setelah khatam Al-Qur’an tidak hanya menjadi doa pribadi, tetapi juga doa untuk kebaikan seluruh umat Islam.
Setelah Khatam, Mulailah Membaca Lagi
Di antara tradisi para ulama salaf adalah memulai kembali bacaan Al-Qur’an setelah selesai mengkhatamkannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُ الأَعْمَالِ الحَلُّ وَالرِّحْلَةُ
Sebaik-baik amalan adalah al-hall dan ar-rihlah.
Para sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud dengan itu?”
Beliau menjawab:
افتتاح القرآن وختمه
“Memulai membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya.”
Maknanya adalah terus-menerus hidup bersama Al-Qur’an: selesai khatam, kemudian memulai kembali dari awal.
Tradisi para sahabat, tabi‘in, dan ulama besar menunjukkan bahwa khatam Al-Qur’an adalah momen yang penuh rahmat dan keberkahan. Pada saat itu dianjurkan: berkumpul bersama keluarga atau kaum Muslimin, memperbanyak doa, memohon kebaikan dunia dan akhirat, serta memulai kembali bacaan Al-Qur’an.
Semua ini menunjukkan satu hakikat besar: Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca, tetapi sumber keberkahan yang menghidupkan hati, mempersatukan umat, dan membuka pintu-pintu rahmat Allah. Karena Al-Qur’an sendiri telah digambarkan oleh Allah sebagai kitab yang penuh berkah. Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh keberkahan.” (QS. Shad: 29)
Keberkahan Al-Qur’an tampak dalam banyak hal: membacanya membawa pahala, mendengarnya menenangkan hati, memahaminya memberi petunjuk hidup,mengamalkannya membawa keselamatan dunia dan akhirat. Bahkan momen yang berkaitan dengannya, seperti khatam Al-Qur’an, juga menjadi waktu turunnya rahmat dan dikabulkannya doa.
Karena itu, siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidupnya, ia tidak hanya mendapatkan ilmu dan petunjuk, tetapi juga keberkahan yang melimpah dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.RA (*)