Posted on 24 February 2026
Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nasha’ihud Diniyyah menjelaskan bahwa orang yang berpuasa memiliki adab-adab yang tidak akan sempurna puasanya kecuali dengan menjaganya. Berikut ini ringkasannya:
Menjaga Pancaindra dari Dosa dan Kelalaian
Di antara adab yang paling utama adalah menjaga anggota tubuh dari maksiat dan perkara sia-sia. Seorang yang berpuasa hendaknya:
Sebagian salaf berkata:
“Jika engkau berpuasa, maka perhatikanlah dengan apa engkau berbuka dan di tempat siapa engkau berbuka.”
Ini adalah isyarat agar seseorang benar-benar selektif dan berhati-hati terhadap makanan yang ia santap ketika berbuka.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ibadah yang menuntut penjagaan seluruh anggota tubuh. Jika anggota tubuh dibiarkan dalam dosa dan kesia-siaan, maka rusaklah nilai puasanya.
Betapa banyak orang yang berpuasa, menahan lapar dan dahaga, tetapi membiarkan lisannya, matanya, dan anggota tubuhnya bermaksiat. Akhirnya ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan haus. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar dan dahaga.”
Meninggalkan maksiat memang wajib setiap saat, baik dalam keadaan berpuasa maupun tidak. Namun bagi orang yang berpuasa, kewajiban itu menjadi lebih kuat dan lebih ditekankan.
Nabi ﷺ bersabda:
الصوم جنة، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يفسق ولا يجهل، فإن امرؤ شاتمه أو قاتله فليقل إني صائم
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, dan jangan bersikap bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
Tidak Berlebihan dalam Tidur dan Makan
Di antara adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari dan tidak berlebihan makan di malam hari.
Saat berbuka, hendaknya makan secukupnya, tidak terlalu kenyang, namun juga tidak berlebihan dalam menahan diri, sehingga ia masih merasakan bekas lapar dan dahaga. Dengan begitu, nafsunya terdidik, syahwatnya melemah, dan hatinya menjadi lebih peka dan bercahaya. Itulah rahasia dan tujuan puasa.
Rasa lapar dan kosongnya perut memiliki pengaruh besar dalam menerangi hati dan membangkitkan semangat ibadah. Sebaliknya, kekenyangan sering menjadi sebab kerasnya hati, kelalaian, dan kemalasan dalam taat.
Nabi ﷺ bersabda:
“Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.”
Sebagian ulama berkata:
“Jika perut kenyang, seluruh anggota tubuh menjadi lapar. Jika perut lapar, seluruh anggota tubuh menjadi kenyang.”
Maksudnya, ketika perut kenyang, anggota tubuh menjadi “lapar” terhadap syahwat: lisan ingin banyak berbicara, mata ingin melihat, telinga ingin mendengar, dan anggota tubuh lain terdorong mencari kesenangan tambahan.
Sebaliknya, ketika perut kosong, anggota tubuh menjadi tenang dan terkendali. Inilah yang dimaksud dengan “kenyangnya anggota tubuh”. Dan hal ini nyata dapat dirasakan. Wallahu a‘lam.
Menjauhi Kemewahan dan Berlebihan dalam Syahwat
Orang yang berpuasa seharusnya menjauhi kemewahan dan tidak menjadikan Ramadhan sebagai ajang memperbanyak kenikmatan. Minimalnya, kebiasaan bersenang-senang di bulan Ramadhan tidak lebih banyak daripada di luar Ramadhan. Itu batas terendah yang patut dijaga. Sebab latihan menahan hawa nafsu dan mengurangi syahwat sangat besar pengaruhnya dalam menerangi hati, dan hal ini justru sangat dituntut di bulan Ramadhan.
Adapun orang yang di bulan Ramadhan justru menambah kebiasaan baru berupa kemewahan dan memperturutkan syahwat yang tidak biasa ia lakukan di luar Ramadhan, maka itu termasuk tipu daya setan. Setan menjerumuskannya agar ia tidak merasakan keberkahan puasa dan tidak mendapatkan dampak ruhani darinya: cahaya hati, kekhusyukan, kerendahan diri di hadapan Allah, kenikmatan bermunajat, serta kelezatan membaca dan berzikir.
Sebaliknya, kebiasaan para salaf adalah mengurangi kesenangan dunia dan memperbanyak amal saleh, khususnya di bulan Ramadhan.
Mengurangi Kesibukan Duniawi
Termasuk adab Ramadhan adalah tidak tenggelam dalam kesibukan dunia. Hendaknya seseorang memfokuskan diri untuk ibadah, zikir, dan mendekatkan diri kepada Allah semampunya.
Urusan dunia tetap dilakukan sebatas kebutuhan: untuk menafkahi diri dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Selebihnya, hendaknya Ramadhan dijadikan waktu khusus untuk akhirat.
Sebagaimana hari Jumat adalah hari istimewa dalam sepekan, maka Ramadhan adalah bulan istimewa di antara bulan-bulan lainnya. Sudah sepantasnya seorang mukmin mengkhususkannya untuk bekal akhiratnya.
Menyegerakan Berbuka dan Mengakhirkan Sahur
Termasuk sunnah adalah menyegerakan berbuka dan berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, maka dengan air.nNabi ﷺ bersabda:
لا تزال أمتي بخير ما عجلوا الفطور وأخروا السحور
“Umatku akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”
Karena itu, mengakhirkan sahur juga termasuk sunnah.
Memberi Makan Orang yang Berpuasa
Di antara amalan yang sangat dianjurkan adalah memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, walaupun hanya dengan beberapa butir kurma atau seteguk air. Nabi ﷺ bersabda:
من فطر صائماً كان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء
“Barang siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang tersebut tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang itu.”
Pahala ini tetap diperoleh meskipun hanya memberi air untuk berbuka. Adapun memberi makan setelah orang itu selesai berbuka, maka ia tetap mendapatkan pahala sedekah dan memberi makan, dan itu pahala yang besar, tetapi tidak termasuk pahala khusus yang disebutkan dalam hadits di atas.
Shalat Tarawih dengan Khusyuk
Shalat Tarawih pada setiap malam Ramadhan adalah sunnah yang diriwayatkan. Para salaf memiliki kebiasaan membagi bacaan Al-Qur’an dari awal hingga akhir dalam shalat Tarawih. Mereka membaca setiap malam sesuai kemampuan, lalu menyempurnakan khatam pada sebagian malam di akhir Ramadhan.
Siapa yang mampu mengikuti jejak mereka, hendaknya ia bersungguh-sungguh dan tidak bermalas-malasan. Kebaikan itu adalah keuntungan yang sangat berharga. Allah ﷻ berfirman:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ
“Dan kebaikan apa pun yang kalian kerjakan untuk diri kalian, niscaya kalian akan mendapatkannya di sisi Allah.” (Al-Muzzammil: 20)
Adapun yang belum mampu meneladani mereka dalam hal itu, hendaknya ia berhati-hati dari sikap meremehkan shalat Tarawih dengan tergesa-gesa, sebagaimana yang sering terjadi. Sampai-sampai ada yang meninggalkan kewajiban, seperti tidak thuma’ninah dalam rukuk dan sujud, atau membaca Al-Fatihah dengan sangat cepat hingga tidak sempurna.
Akibatnya, di sisi Allah ia tidak benar-benar mendapatkan pahala shalat yang sempurna, namun ia pun tidak merasa meninggalkannya. Ia tidak menyadari kekurangannya, bahkan bisa terjatuh dalam ujub, yang dapat merusak amal.
Karena itu, waspadalah. Ketika melaksanakan Tarawih atau shalat lainnya, sempurnakanlah berdiri dan bacaannya, rukuk dan sujudnya, kekhusyukan dan kehadiran hati, serta seluruh rukun dan adabnya.
Jangan beri celah kepada setan untuk menguasai diri kalian. Allah ﷻ berfirman:
لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya ia (setan) tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.”
Maka jadilah termasuk golongan itu. Sebab:
إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukannya.”
Memperbanyak Amal Kebaikan
Perbanyaklah amal kebajikan di bulan Ramadhan semampunya. Kemuliaan waktunya, pelipatgandaan pahala, besarnya ganjaran, dan kemudahan melakukan kebaikan adalah kesempatan yang tidak ternilai.
Disebutkan bahwa:
Siapa yang rela menyia-nyiakan keuntungan sebesar ini?
Di bulan ini, hawa nafsu dilemahkan oleh lapar dan dahaga, dan setan-setan dibelenggu sehingga tidak leluasa menjalankan tipu dayanya. Maka tidak ada lagi penghalang menuju kebaikan kecuali bagi orang yang telah dikuasai kesengsaraan dan kelalaian, wal‘iyadzubillah.
Menjauhi Maksiat
Sebagaimana dianjurkan memperbanyak amal saleh, seorang mukmin juga harus semakin berhati-hati dari maksiat. Dosa pada waktu yang mulia lebih berat bebannya, sebagaimana pahala amal saleh di waktu tersebut lebih besar nilainya.
Disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan lainnya, dan pada sepuluh malam terakhir beliau lebih bersungguh-sungguh lagi.
Mencari Lailatul Qadar
Kesungguhan itu karena keutamaan sepuluh malam terakhir dan anjuran untuk mencari Lailatul Qadar di dalamnya. Banyak ulama berpendapat bahwa malam tersebut lebih mungkin terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir.
Namun, seorang mukmin yang cerdas hendaknya bersiap pada setiap malam Ramadhan. Tujuannya agar ketika Lailatul Qadar datang, ia berada dalam keadaan berzikir, beribadah, dan tidak lalai. Baik ia mengetahui malam itu atau tidak, siapa pun yang beramal saleh di dalamnya akan memperoleh kebaikan yang lebih baik dari seribu bulan.
Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian
Di bulan yang mulia ini, hendaknya memperbanyak sedekah, membantu sesama, serta memperhatikan para janda dan anak-anak yatim. Disebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.
Perbanyak pula membaca Al-Qur’an, mempelajarinya bersama, dan melakukan i‘tikaf di masjid, terutama pada sepuluh malam terakhir. Karena pada malam-malam itulah Nabi ﷺ beri‘tikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.RA(*)