Posted on 25 May 2026
Hari Raya Idul Adha merupakan hari yang sangat agung dan mulia di sisi Allah ﷻ. Bahkan Nabi ﷺ bersabda:
أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
Hari yang paling agung di sisi Allah adalah Hari Nahr (Idul Adha), kemudian Hari Qarr (11 Dzulhijjah). (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)
Hari Idul Adha juga termasuk hari yang diagungkan oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya:
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
Dan demi yang genap dan yang ganjil.(QS. Al-Fajr: 3)
Imam Ath-Thabari menukil sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata:
الشَّفْعُ: يَوْمُ النَّحْرِ، وَالْوَتْرُ: يَوْمُ عَرَفَةَ
Yang genap (asy-syaf‘) adalah Hari Nahr (Idul Adha), sedangkan yang ganjil (al-watr) adalah Hari Arafah.
Karena itu, pada hari yang penuh kemuliaan ini, sepantasnya seorang muslim memanfaatkannya untuk memperbanyak taubat, dzikir, ibadah, sedekah, silaturahmi, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Jangan sampai hari yang agung ini berlalu hanya dengan kelalaian dan kesibukan dunia semata.
Di antara amalan-amalan yang dianjurkan pada Hari Raya Idul Adha adalah:
1. Menghidupkan Malam Hari Raya Dengan Ibadah
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب
Siapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adha, maka hatinya tidak akan mati, ketika hati orang lain mati. (HR Thabrani)
Keterangan: Menghidupkan malam hari raya memiliki beberapa derajat. Paling sedikit adalah dengan melakukan Shalat Isya dan Shalat Shubuh berjamaah. Derajat pertengahan adalah dengan mengisi sebagian besar malam dengan ibadah. Derajat tertinggi adalah dengan mengisi seluruh malam dengan ibadah.
2. Takbir Idul Adha
Rasulullah ﷺ bersabda:
زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ
Hiasilah hari raya kalian dengan Takbir. (HR Thabrani)
Takbir dibaca dengan suara yang jahr (lantang) bagi laki-laki. Lafadz takbir yang sempurna:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحمْدُ.
Takbir Hari Raya Idul Adha ada 2 macam:
· Takbir mursal: yaitu takbir yang tidak dibatasi dengan waktu dan tempat, artinya disunahkan pada setiap keadaan, baik di masjid, rumah, maupun di pasar; ketika berdiri, duduk, berjalan maupun naik kendaraan. Takbir mursal disunahkan mulai tenggelamnya matahari malam Hari Raya Idul Adha sampai takbiratul Ihram Shalat Id.
· Takbir Muqoyyad : takbir yang pelaksanaannya terbatas setelah waktu shalat, baik shalat fardhu maupun sunah, baik shalat ada’ maupun qadha.’ Bagi yang tidak haji dimulai Dimulai dari setelah melakukan shalat Subuh Hari Arafah (9 Dzulhijjah) sampai setelah Shalat Asar akhir Hari Tasyriq.
Bagi yang Haji dimulai dari Dzuhur Hari kurban (tanggal 10 Dzulhijjah) sampai Subuh akhir Hari Tasyriq.
3. Mengucapkan Tahniah (selamat hari Raya)
Sahabat Watsilah ra berkata:
لَقِيتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ: " نَعَمْ، تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Aku berjumpa dengan Rasulullah ﷺ pada Hari Raya maka aku berkata: “Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu.” Maka Nabi ﷺ menjawab. “Ya, semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu.” (HR Baihaqi)
4. Istigfar di Pagi Hari Raya
Memperbanyak membaca istigfar sebelum Shalat Id:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Catatan: dalam Kanzun Najah disebutkan Syaikh Al-Wanai mengatakan bahwa siapa yang membaca istigfar sebanyak seratus kali setelah Shalat Shubuh pagi hari raya maka akan dihapus dosa-dosanya dari dalam buku catatan amalnya, dan pada hari kiamat akan aman dari siksa.
5. Membaca Tasbih dan Tahmid
Pada pagi hari raya hendaknya ia banyak membaca:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Catatan: Disebutkan dalam Kanzun Najah siapa yang membaca dzikir tersebut sebanyak tiga ratus kali (antara selesai Shalat Shubuh sampai Shalat Id) kemudian menghadiahkan pahalanya untuk kaum muslim yang sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Allah akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya setelah ia telah wafat.
6. Shalat Idul Adha
Dianjurkan bagi yang ingin melakukan Shalat Idul Adha agar tidak makan sampai selesai melakukan Shalat Id. Sahabat Buraidah ra menuturkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ
Nabi ﷺ tidak keluar pada Hari Idul Fitri kecuali sampai menyantap makanan terlebih dahulu. Dan tidak menyantap makanan di Hari Idul Adha sampai setelah selesai melakukan Shalat. (HR Turmudzi)
7. Berudhiyah
Berkurban hukumnya Sunah Muakkad. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ
Tidak ada amalan manusia yang di Hari Nahr (Idul Adha) yang lebih disukai oleh Allah azza wa jalla selain menumpahkan darah (hewan qurban) (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)
Catatan : Bagi yang berniat untuk melakukan udhiyah (berkurban) disunahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut semenjak hari pertama Bulan Dzulhijjah sampai hewan kurbannya disembelih.
8. Bersedekah
Dianjurkan untuk memperbanyak sedekah di Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, sebab Nabi ﷺ menganjurkan para sahabat untuk bersedekah di dua hari raya ini. Sahabat Abu Said Al-Khudri meriwayatkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ. فَيَبْدَأُ بِالصَّلَاةِ. فَإِذَا صَلَّى صَلَاتَهُ وَسَلَّمَ، قَامَ فَأَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، وَهُمْ جُلُوسٌ فِي مُصَلَّاهُمْ. فَإِنْ كَانَ لَهُ حَاجَةٌ بِبَعْثٍ ذَكَرَهُ لِلنَّاسِ. أَوْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ بِغَيْرِ ذَلِكَ أَمَرَهُمْ بِهَا. وَكَانَ يَقُولُ: تَصَدَّقُوا، تَصَدَّقُوا، تَصَدَّقُوا، وَكَانَ أَكْثَرَ مَنْ يَتَصَدَّقُ النِّسَاءُ. ثُمَّ يَنْصَرِفُ
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ biasa keluar pada Hari Idul Adha dan Hari Idul Fitri, lalu beliau memulai dengan melaksanakan shalat terlebih dahulu. Setelah selesai menunaikan shalat dan mengucapkan salam, beliau berdiri menghadap manusia, sementara mereka tetap duduk di tempat shalat mereka.
Jika beliau memiliki keperluan untuk mengutus suatu pasukan, beliau menyampaikannya kepada manusia. Atau apabila ada keperluan lain, beliau memerintahkan mereka berkaitan dengannya.
Dan beliau biasa bersabda: ‘Bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian.’ Orang yang paling banyak bersedekah ketika itu adalah para wanita. (HR Muslim)
Demikian sebagian amalan-amalan yang semestinya kita perhatikan di Hari Idul Adha yang mulia ini, semoga kita bisa mengamalkannya dengan ikhlas. Aamiin ya Rabbal alamiin. RA(*)