Anggapan-Anggapan Keliru Yang Menghambat Dakwah

Posted on 28 April 2026


Sebagian orang yang memiliki ilmu terkadang terjebak dalam pemikiran-pemikiran keliru yang justru menghalangi mereka dari berdakwah dan menyebarkan kebenaran.

Di antaranya, ada yang berkata dalam dirinya: ‘Saya belum mengamalkan ilmu saya, lalu bagaimana mungkin saya mengajarkannya atau mengajak orang lain kepada Allah? Bukankah ada ancaman keras bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya?

Pemahaman seperti ini perlu diluruskan. Mengajarkan ilmu sebenarnya termasuk bagian dari mengamalkannya. Orang yang mengajar meskipun belum sempurna dalam amalnya, masih jauh lebih baik dibandingkan orang yang tidak mengajar dan tidak pula beramal. Jika belum mampu melakukan seluruh kebaikan, setidaknya jangan meninggalkan sebagian yang mampu dilakukan. Tetaplah mengajarkan ilmu, dan teruslah berusaha dan bertekad untuk mengamalkan ilmu tersebut.

Perlu dipahami juga, ancaman bagi orang yang mengajarkan ilmu namun tidak mengamalkannya memang berat. Namun, orang yang tidak mengajarkan ilmu sekaligus tidak mengamalkanmya berada pada posisi yang lebih buruk. Yang pertama masih menjalankan satu kewajiban meski lalai pada yang lain, sementara yang kedua meninggalkan keduanya sekaligus, maka Ia lebih pantas mendapatkan ancaman dan lebih layak menerima hukuman.

Rendah Diri

Di antara anggapan yang keliru adalah ketika seseorang berkata dalam dirinya: ‘Mengajak kepada Allah dan membimbing manusia itu adalah kedudukan yang tinggi dan mulia, hanya pantas bagi para ulama besar dan pemimpin agama. Saya bukan termasuk di dalamnya.’

Perasaan merendahkan diri seperti ini, yang tampak seolah-olah tawadhu’, justru membuatnya bersikap diam dan enggan berdakwah atau memberi bimbingan. Ia mengira sikap tersebut adalah bentuk kerendahan hati yang terpuji dan tanda mengetahui batas diri. Padahal, ini adalah pemahaman yang keliru.

Sebab, kebenaran tidak akan menghalangi seseorang dari menyampaikan kebenaran, dan kebaikan tidak seharusnya menghalangi dari melakukan kebaikan lainnya. Yang benar adalah tetap berusaha dan bersungguh-sungguh dalam mengajak kepada petunjuk serta menunjukkan jalan kebaikan.

Namun semua itu harus disertai dengan sikap rendah hati, tunduk kepada Allah, menghadirkan rasa takut dan khusyuk, serta mengakui kekurangan diri. Inilah bentuk sikap yang sempurna, dengan menggabungkan usaha dalam berdakwah dengan kesadaran diri. Orang-orang seperti ini tidak mudah terpengaruh oleh bisikan setan, tidak tertipu oleh angan-angan kosong, dan tidak terjebak oleh tipu daya yang membungkus keburukan seolah-olah itu adalah kebaikan.

Antara Ibadah dan Dakwah

Di antara anggapan keliru lainnya, ada seorang yang berilmu justru menyibukkan diri sepenuhnya dengan ibadah-ibadah yang bersifat individu seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan amalan rutin lainnya, lalu menganggap bahwa itu lebih utama daripada berdakwah dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Padahal, yang tepat adalah bahwa berdakwah di jalan Allah dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, jika dilakukan dengan ikhlas, memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ibadah-ibadah sunnah yang bersifat individu. Sebab, manfaat ilmu tidak hanya kembali kepada diri sendiri, tetapi meluas kepada banyak orang, baik orang khusus maupun umum, tua maupun muda.

Rasulullah bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِي

Keutamaan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara sahabatku. (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits lain disebutkan:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Keutamaan seorang alim dibandingkan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. (HR. Abu Nu’aim)

Meski demikian, bukan berarti seorang alim yang berdakwah boleh meninggalkan ibadah individunya. Ia tetap perlu menjaga amalan-amalan tersebut dengan baik, dengan cara mengatur waktu secara seimbang. Hendaknya ada waktu khusus untuk ibadah, terutama di malam hari atau pada saat-saat di mana tidak ada aktivitas mengajar atau tidak ada orang yang datang untuk belajar.

Para ulama terdahulu telah memberi contoh yang sangat indah dalam hal ini. Imam Malik pernah berpesan agar menuntut ilmu tidak sampai merusak ibadah, dan beribadah pun tidak sampai mengganggu proses menuntut ilmu. Imam Syafi’i bahkan membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk shalat, sepertiga untuk belajar, dan sepertiga untuk istirahat.

Dengan manajemen waktu seperti ini, seorang alim dapat menunaikan dua kewajiban sekaligus: beribadah kepada Allah dan memberikan manfaat bagi umat. Inilah keseimbangan yang ideal.

Perlu dicatat, anggapan-anggapan keliru semacam ini tidak hanya menimpa orang awam. Bahkan, sebagian ulama yang dikenal bertakwa pun terkadang bisa terpengaruh olehnya. Karena itu, kewaspadaan dan keikhlasan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga langkah di jalan ilmu dan dakwah.RA(*)

*Disarikan dari: Dakwatut Tammah karya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad