Kewajiban Menuntut Ilmu dan Pentingnya Dakwah

Posted on 28 April 2026



Dalam Islam, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk meninggalkan kewajiban menuntut ilmu, khususnya ilmu yang telah Allah wajibkan atas dirinya. Nabi menegaskan dalam sebuah hadits:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.(HR Ibnu Majah dan Thabrani)

Karena itu, orang yang tidak berilmu tidak memiliki alasan untuk tidak belajar. Demikian pula seorang alim tidak memiliki alasan untuk tidak mengajarkan ilmu yang telah Allah berikan kepadanya, baik ilmu yang fardhu ain (wajib bagi setiap individu) maupun yang fardhu kifayah (bersifat kolektif).

Hakikat Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang benar-benar bermanfaat bukan sekadar menambah wawasan, tetapi ilmu yang dapat mengarahkan manusia dari kehidupan dunia menuju akhirat, mengajak untuk meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, dan membangunkan dari kelalaian menuju kesadaran.

Ilmu semacam ini harus disampaikan dengan penuh nasihat, mengandung ajakan yang baik, peringatan, kabar gembira, serta ancaman. Inilah metode yang banyak ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi . Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya seluruh kaum mukmin pergi (berjihad). Mengapa tidak pergi dari setiap kelompok di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka kembali, agar mereka dapat menjaga diri. (QS. At-Taubah: 122)

Apa Yang Disampaikan Rasulullah Dalam Majelisnya

Dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh sahabat Handzalah radhiyallahu anhu, terdapat isyarat digambarkan bagaimana isi dakwah yang disampaikan Rasulullah dalam majelisnya. Sahabat Handzalah radhiyallahu anhu  mengatakan:

نَكُون عنْدك يَا رَسُول الله ‌فتذكرنا ‌بِالْجنَّةِ ‌وَالنَّار حَتَّى كأنا رَأْي عين

Kami berada di sisimu, wahai Rasulullah, lalu engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri. (HR Al-Hakim At-Turmudzi)

Ini menunjukkan bahwa nasihat yang benar adalah yang mampu menghidupkan hati dan mendekatkan manusia kepada akhirat. Nasihat seperti ini teramat jarang kita temukan dalam majelis-majelis di masa kini yang lebih banyak berisi tontonan sebagai hiburan daripada tuntunan kebaikan dan peringatan dari keburukan untuk membuat hati lebih mendekat kepada akhirat.

Kita dapat melihat bagaimana Al-Quran dan hadits dipenuhi dengan dorongan berbuat kebaikan dan peringatan dari perbuatan buruk, kabar gembira dan ancaman keras, yang tersebar dalam ayat-ayat dan hadits-haditsnya, sekaligus berisi penjelasan hukum-hukum serta perinciannya. Itulah semestinya isi dari majelis ilmu.

Majelis Para Ulama Terdahulu

Pada masa para ulama terdahulu, majelis ilmu menjadi pusat pembinaan umat. Di antara mereka ada yang majelisnya dihadiri oleh banyak orang,  lalu mereka memberikan nasihat, mengingatkan manusia akan kebesaran Allah, nikmat-nikmat yang dianugerahkan oleh Allah , serta mendorong ketaatan dan menjauhi larangan.

Dari majelis-majelis itu nampak manusia mendapatkan manfaat. Nampak pada diri mereka pengaruh positif berupa rasa takut kepada Allah, tangisan, serta bersegera dalam bertaubat dan kembali kepada-Nya. Hal itu telah dikenal dan masyhur dalam perjalanan hidup mereka, baik generasi terdahulu maupun yang datang setelahnya

 Di antara tokoh-tokoh besar yang dikenal dengan majelis ilmu yang penuh keberkahan adalah:

  • Imam Al-Junaid bin Muhammad (wafat di Baghdad tahun 297 H), yang dikenal sebagai pemimpin kaum sufi pada zamannya

  • Imam Abu Jamrah Al-Baghdadi

  • Imam Yahya bin Mu’adz Ar-Razi (wafat di Naisabur tahun 258 H), termasuk ulama generasi terdahulu yang sangat kuat dalam memberi nasihat

Kemudian dari kalangan ulama setelah mereka:

  • Imam Al-Ghazali (wafat 505 H)

  • Syekh Muhyiddin Abdul Qadir Al-Jailani (wafat di Baghdad tahun 561 H)

  • Syekh As-Suhrawardi, penulis kitab ‘Awarif al-Ma’arif (wafat 632 H)

Mereka adalah para imam agama, para penyeru kepada kebaikan, dan penunjuk jalan menuju kebenaran. Mereka bukan hanya memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga mampu menghidupkan ilmu tersebut di tengah umat melalui dakwah, nasihat, dan keteladanan yang nyata.

Ketika Dakwah Melemah

Ketika semangat dalam urusan agama mulai melemah dan dakwah kepada Allah semakin jarang terdengar, perlahan-lahan masyarakat pun diliputi kelalaian. Perhatian mereka bergeser dari yang seharusnya berorientasi akhirat, menjadi sibuk mengejar dunia dan segala gemerlapnya. Salah satu penyebab utamanya adalah semakin sedikitnya orang yang mau mengingatkan, serta minimnya dai yang berdakwah dengan ilmu yang kuat dan keyakinan yang kokoh.

Dampaknya cukup terasa. Majelis-majelis yang mengatasnamakan ilmu dan agama tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Isinya mulai menyerupai pertemuan biasa: dipenuhi obrolan dunia dan pembahasan kehidupan manusia semata. Dari sinilah masalah mulai meluas, dan ‘penyakit’ dalam masyarakat semakin membesar. Suara-suara yang seharusnya mengajak kepada Allah semakin redup, sementara kebodohan dan kelalaian justru makin mendominasi.

Lebih jauh lagi, sebagian orang yang tidak mengenal sejarah para ulama terdahulu mengira bahwa kondisi seperti ini adalah sesuatu yang wajar sejak dulu. Padahal kenyataannya jauh berbeda. Apa yang telah hilang dari tradisi keilmuan itu tidak mudah kembali. Ilmu perlahan memudar seiring wafatnya para ulama, dan semakin sedikitnya orang yang benar-benar serius mencari dan mencintai ilmu

.Rasulullah telah memperingatkan dalam haditsnya:

إِنَّ ‌اللهَ ‌لَا ‌يَقْبِضُ ‌الْعِلْمَ ‌انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

 

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya langsung dari dada para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa hilangnya ulama adalah salah satu musibah terbesar bagi umat.

Perhatikan bagaimana ucapan orang-orang bodoh yang berpenampilan seperti orang berilmu justru lebih berbahaya daripada diamnya mereka. Dari sini terlihat jelas perbedaan antara ulama sejati, yang merupakan pewaris para nabi dan penunjuk jalan kebenaran, dengan orang-orang jahil yang hanya meniru penampilan dan gaya mereka.

Para ulama yang sebenarnya memberi manfaat besar bagi masyarakat melalui ilmunya. Mereka membimbing manusia dengan petunjuk yang benar, serta menjelaskan jalan menuju Tuhan, jalan yang mengantarkan pada keberuntungan dan keselamatan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Sebaliknya, orang-orang yang tidak berilmu justru menyesatkan melalui fatwa-fatwa mereka. Mereka membingungkan urusan agama, hingga membuat orang lain ikut tersesat tanpa disadari. RA(*)

*Disarikan dari: Dakwatut Tammah karya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad