Kewajiban Ahlul Bait dalam Menjaga Ilmu, Akhlak, dan Ketakwaan (2)

Posted on 25 April 2026


Berikut ini adalah lanjutan dari perkataan Sayid Ahmad bin Alwi Jamalullail Bahasan dalam kitab Dzakhiratul Khair menyebutkan tentang kewajiban mereka yang memiliki nasab mulia yang bersambung kepada Nabi ﷺ:

Kelima: Tidak Terlibat Dalam Kekuasaan Duniawi

Menjauhi keterlibatan dalam urusan kekuasaan duniawi dan tidak menempatkan diri di dalamnya, apalagi sampai mencarinya. Sebab Allah Ta‘ala telah menjauhkan dunia dari ahlul bait, khususnya keturunan Sayidah Fathimah radhiyallahu ‘anha, karena mereka adalah bagian dari diri Rasulullah Dan beliau bersabda:

إِنَّا أَهْلَ بَيْتٍ اخْتَارَ اللَّهُ لَنَا الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا

Sesungguhnya kami, Ahlul Bait, Allah telah memilihkan bagi kami akhirat daripada dunia. (HR Ibnu Majah)

Keenam: Rendah Hati (Tawadhu), Lembut, Dan Sabar Menghadapi Gangguan

Menempuh jalan para pendahulu mereka dalam hal tawadhu‘ (rendah hati), kelembutan, dan kesabaran dalam menghadapi gangguan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. (QS. Luqman: 17)

Demikian pula keadaan junjungan kita Rasulullah dan para nabi lainnya ‘alaihimush-shalatu was-salam, mereka semua bersabar atas gangguan yang mereka alami, dan tabah dalam menanggungnya karena Allah, hingga akhirnya mereka memperoleh akibat yang baik.

Maka sudah seharusnya mereka (keturunan mulia itu) mengikuti jejak para pendahulunya dengan meneladani ucapan dan perbuatan mereka, meniru kezuhudan dan kewara‘an mereka, serta benar-benar mendalam dalam ma‘rifat kepada Rabb mereka.

Karena merekalah yang paling berhak atas semua itu, agar mereka menjadi manusia terbaik dalam hal nasab, akhlak, dan amal. Dengan demikian, mereka pun akan membahagiakan Rasulullah dan para leluhur mereka ketika amal-amal itu diperlihatkan (kepada mereka).

Ketujuh: Mengagungkan Sahabat Nabi

Mengagungkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum; karena merekalah generasi terbaik, sebagaimana disaksikan oleh Nabi . Hal itu disebutkan dalam hadits yang disepakati keshahihannya:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي

Sebaik-baik kalian adalah generasiku.

Dan juga berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Para sahabat adalah pihak pertama yang termasuk dalam ayat ini. Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi daripada kaum yang dipilih oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk mendampingi Nabi-Nya dan menolong agama-Nya.

Maka Ahlul Bait adalah orang yang paling layak untuk memuliakan mereka dan membela mereka dari siapa pun yang merendahkan para sahabat. Hal ini sebagai bentuk menunaikan hak Rasulullah , menghormati jasa para sahabat dalam menolong agama, serta menjalankan perintah Allah kepada umat ini agar selalu menyebut mereka dengan kebaikan, juga sebagai bentuk melaksanakan wasiat Nabi tentang mereka.

Diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berpesan:

اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِ نَبِيِّكُمْ؛ فَإِنَّهُ أَوْصَى بِهِمْ

Jagalah (hak) para sahabat Nabi kalian! Sesungguhnya beliau telah berwasiat tentang mereka.” (HR. ath-Thabarani)

Inilah jalan yang ditempuh oleh para ulama salaf dari kalangan Ahlul Bait.

Adapun riwayat-riwayat yang dinukil oleh kaum Syiah Rafidhah dari ahlul bait yang bertentangan dengan hal ini, maka itu adalah kedustaan yang disandarkan kepada mereka tanpa dasar. Maka berhati-hatilah jangan sampai meyakini kebenarannya.

Kedelapan: Memuliakan Umat Nabi Muhammad

Memperlakukan umat Nabi kita Muhammad dengan akhlak yang mulia, seperti wajah yang ramah, menyebarkan salam, memberikan penghormatan lebih, berbicara dengan lembut, tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun, serta berbaik sangka kepada mereka sebagaimana yang dilakukan oleh para imam dari kalangan pendahulu ahlul bait.

Mereka juga memberikan penghormatan khusus kepada orang-orang saleh dan para ulama di antara umat ini, yaitu mereka yang berpegang teguh pada sunnah kakek mereka, Nabi .

Karena dua sifat ini tidak ada batas kebaikannya, sebagaimana tidak ada batas buruknya jika ditinggalkan. Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَنْ كَانَتْ ذُنُوبُهُ فِي شَهْوَتِهِ فَأَرْجُو لَهُ التَّوْبَةَ، وَمَنْ كَانَتْ ذُنُوبُهُ فِي الْكِبْرِ فَلَا تُرْجَى لَهُ تَوْبَةٌ

Siapa yang dosanya karena syahwat, maka aku masih berharap ia akan bertaubat. Namun siapa yang dosanya karena kesombongan, maka tidak diharapkan taubat baginya.

Dalilnya adalah kisah Nabi Adam ‘alaihis-salam dan Iblis.

Dan Nabi bersabda:

خَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ مِنَ الْخَيْرِ: حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ، وَحُسْنُ الظَّنِّ بِعِبَادِ اللَّهِ. وَخَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ مِنَ الشَّرِّ: سُوءُ الظَّنِّ بِاللَّهِ، وَسُوءُ الظَّنِّ بِعِبَادِ اللَّهِ

Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih baik darinya: berbaik sangka kepada Allah dan berbaik sangka kepada hamba-hamba-Nya. Dan dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih buruk darinya: berburuk sangka kepada Allah dan berburuk sangka kepada hamba-hamba-Nya.

Kesembilan: Zuhud dari Dunia

Mengurangi keterikatan terhadap dunia, menjauhinya, bersikap zuhud darinya, serta mengambil secukupnya sesuai kebutuhan. Hal ini lebih membantu membersihkan hati dari ketergantungan pada kenikmatan dunia yang fana dan berbagai bahayanya, serta lebih memudahkan untuk menempuh jalan lurus para pendahulu mereka, yang mengantarkan kepada kehidupan abadi dan kebahagiaan yang lebih sempurna di akhirat dan juga di dunia.

Diriwayatkan oleh Yahya bin Husain dalam kitab Akhbar al-Madinah, dari Muḥammad bin Qais, ia berkata:

Bahwa Nabi apabila pulang dari safar, beliau mendatangi Fathimah lalu masuk menemuinya, dan biasanya beliau berlama-lama di sisinya.

Suatu ketika beliau pergi safar, lalu Fathimah membuat dua gelang dari perak, sebuah kalung, dan dua anting, serta memasang tirai di pintu rumahnya untuk menyambut kedatangan ayahnya dan suaminya.

Ketika Rasulullah pulang, beliau masuk menemuinya, sementara para sahabat menunggu di depan pintu, tidak tahu apakah harus tetap menunggu atau pergi karena lamanya beliau di dalam.

Lalu Rasulullah keluar, dan tampak tanda-tanda kemarahan di wajah beliau. Hingga beliau duduk di atas mimbar. Fathimah pun memahami bahwa hal itu terjadi karena apa yang beliau lihat berupa gelang, kalung, dan tirai tersebut.

Maka ia segera melepas anting-anting, kalung, gelang, serta tirai itu, lalu mengirimkannya kepada Rasulullah seraya berkata kepada utusan:

“Sampaikan kepadanya: putrinya menyampaikan salam, dan berkata: jadikanlah ini di jalan Allah.”

Ketika itu sampai kepada Nabi , beliau bersabda:

فَعَلَتْ، فِدَاهَا أَبُوهَا

Ia telah melakukannya, semoga ayahnya menjadi tebusannya.

Kemudian Beliau bersabda:

لَيْسَتِ الدُّنْيَا مِنْ مُحَمَّدٍ، وَلَا مِنْ آلِ مُحَمَّدٍ، وَلَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ فِي الْخَيْرِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

Dunia ini bukan untuk Muhammad dan bukan pula untuk keluarga Muhammad. Seandainya dunia ini di sisi Allah sebanding dengan sayap seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi orang kafir seteguk air pun darinya.

Setelah itu beliau berdiri lalu masuk kembali menemui Fathimah.

Imam Aḥmad juga meriwayatkan kisah yang semakna. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Nabi bersabda:

يَا ثَوْبَانُ، اذْهَبْ بِهَا إِلَى بَنِي فُلَانٍ ... وَاشْتَرِ لِفَاطِمَةَ قِلَادَةً مِنْ عَصْبٍ وَسِوَارَيْنِ مِنْ عَاجٍ، فَهَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي، وَلَا أُحِبُّ أَنْ يَأْكُلُوا طَيِّبَاتِهِمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا

Wahai Tsauban, bawalah ini kepada keluarga Fulan … dan belikan untuk Fathimah kalung dari kain ‘ashb dan dua gelang dari gading. Mereka adalah Ahlul Baitku, dan aku tidak suka mereka menghabiskan kenikmatan mereka di kehidupan dunia.

Diriwayatkan pula oleh ad-Daulabi dan Ibnu ‘Abdil Barr, bahwa Mu‘awiyah berkata kepada Dhirar aṣ-Ṣida’i: “Gambarkan kepadaku tentang ‘Ali.”

Ia menjawab: “Maafkan aku, wahai Amirul Mukminin.”

Mu‘awiyah berkata: “Engkau harus menggambarkannya.”

Ia pun berkata:

“Jika memang harus, maka demi Allah, ia adalah orang yang berpandangan jauh, sangat kuat, ucapannya tegas, dan keputusannya adil. Ilmu memancar dari dirinya, dan hikmah keluar dari lisannya. Ia merasa asing terhadap dunia dan perhiasannya, namun merasa tenang dengan kesunyian malam. Ia banyak menangis dan panjang dalam berpikir. Ia menyukai pakaian yang sederhana dan makanan yang kasar.

Di tengah kami, ia seperti salah satu dari kami; menjawab ketika kami bertanya, dan mendekat ketika kami memanggil. Namun, demi Allah, meskipun ia dekat dengan kami, kami hampir tidak berani berbicara kepadanya karena wibawanya. Ia memuliakan ahli agama dan mendekatkan orang-orang miskin. Orang kuat tidak berharap kebatilannya didukung, dan orang lemah tidak putus asa dari keadilannya.

Aku bersaksi, sungguh aku pernah melihatnya pada suatu malam, ketika kegelapan telah menutupi dan bintang-bintang telah tenggelam. Ia memegang janggutnya, gelisah seperti orang yang sakit, dan menangis seperti orang yang bersedih, seraya berkata:

يَا دُنْيَا غُرِّي غَيْرِي، أَلِي تَعَرَّضْتِ؟ أَمْ إِلَيَّ تَشَوَّقْتِ؟ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، قَدْ بَايَنْتُكِ ثَلَاثًا لَا رَجْعَةَ فِيكِ؛ فَعُمْرُكِ قَصِيرٌ، وَخَطَرُكِ قَلِيلٌ، آهٍ آهٍ مِنْ قِلَّةِ الزَّادِ، وَبُعْدِ السَّفَرِ، وَوَحْشَةِ الطَّرِيقِ

“Wahai dunia, perdayalah selain diriku! Apakah engkau hendak menggodaku? Ataukah engkau merindukanku? Jauh, jauh dariku! Aku telah menceraikanmu tiga kali, tanpa rujuk lagi. Umurmu singkat, nilaimu rendah. Ah… betapa sedikit bekal, jauhnya perjalanan, dan sunyinya jalan.”

Maka Mu‘awiyah pun menangis dan berkata: “Semoga Allah merahmati Abul Ḥasan. Demi Allah, memang begitulah dia.”

Kesepuluh: Tidak Tamak

Tidak mengarahkan pandangan kepada apa yang ada di tangan manusia berupa gemerlap kehidupan dunia, serta tidak berhasrat untuk mengambil bagian darinya. Sebab hal itu tidak ada batasnya, dan memiliki banyak bahaya serta dampak buruk yang telah menjerumuskan orang-orang besar yang kokoh sekalipun, apalagi selain mereka.

Bahkan sebab paling ringan dari sikap tamak terhadap dunia dapat menjatuhkan seseorang ke dalam jurang kebinasaan yang paling dalam, serta menyeretnya kepada dosa-dosa besar yang membinasakan. Hal ini karena pada masa-masa seperti ini, hampir tidak mungkin seseorang mendapatkan sesuatu dari dunia milik orang lain kecuali melalui cara yang terlarang dan disepakati keharamannya.

Sebab jiwa manusia pada zaman ini telah dipenuhi dengan sifat kikir yang ditaati, kebakhilan yang mengakar, dan kerakusan dalam menimbun harta.

Sedangkan para pembesar dari Ahlul Bait Nabi , kedudukan mereka terlalu mulia, akhlak Hasyimiyyah mereka terlalu luhur, dan cita-cita mereka terlalu tinggi untuk jatuh kepada kerendahan seperti itu. RA(*)

*Sumber kitab Dzakhairul Khair dengan ringkasan.