Beratnya Amanah Kepemimpinan Dan Teladan Khulafaur Rasyidin

Posted on 05 August 2026



Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab beliau Ad-Dakwah At-Tammah menjelaskan tentang beratnya beban kepemimpinan dan teladan para khulafaur rasyidin. Beliau berkata:

Beratnya Amanah Kepemimpinan

Ketahuilah bahwa mengangkat para pemimpin merupakan suatu keniscayaan. Manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa adanya mereka. Akan tetapi, kepemimpinan adalah amanah yang sangat berat, dan para pemimpin berada dalam posisi yang sangat beresiko. Jika mereka menunaikan hak-hak hamba Allah yang menjadi kewajiban mereka, mereka harus bersusah payah dan menanggung keletihan. Sebaliknya, apabila mereka menyia-nyiakan kewajiban tersebut, mereka akan binasa dan celaka.

Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang berada dalam tanggungannya.(HR Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda menggambarkan keadaan saat ini:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya kalian akan sangat berambisi terhadap jabatan kepemimpinan, padahal kelak ia akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat.(HR Bukhari)

Beliau juga bersabda:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

"Ya Allah, siapa saja yang diberi amanah mengurus suatu urusan umatku, lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dirinya. Dan siapa saja yang diberi amanah mengurus suatu urusan umatku, lalu ia bersikap lembut kepada mereka, maka berlemah-lembutlah Engkau kepadanya. (HR Muslim)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ وَالٍ عَلَى النَّاسِ إِلَّا جِيءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْلُولَةً يَدَاهُ إِلَى عُنُقِهِ، فَكَّهُ عَدْلُهُ أَوْ أَوْبَقَهُ جَوْرُهُ

"Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin manusia, melainkan pada hari Kiamat ia akan didatangkan dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu ke lehernya. Keadilannya akan melepaskannya, atau kezalimannya akan membinasakannya."

Beliau juga bersabda:

لَيَوَدَّنَّ رِجَالٌ لَوْ أَنَّ ذَوَائِبَهُمْ مُعَلَّقَةٌ بِالثُّرَيَّا وَلَمْ يَلُوا مِنْ أَمْرِ النَّاسِ شَيْئًا

Sungguh akan ada orang-orang yang berharap seandainya ubun-ubun mereka digantungkan pada gugusan bintang Tsurayya, asalkan mereka tidak pernah memegang sedikit pun urusan kepemimpinan atas manusia.

Beliau juga bersabda:

كَمْ مِنْ مُتَخَوِّضٍ فِي مَالِ اللَّهِ تَعَالَى بِغَيْرِ حَقٍّ، لَهُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Betapa banyak orang yang bertindak sewenang-wenang terhadap harta milik Allah tanpa hak; baginya neraka pada hari Kiamat.

Ancaman yang disebutkan terhadap orang yang memegang urusan manusia, tetapi tidak berlaku adil dan tidak bersikap jujur, serta tidak menjauhi kezaliman dan kesewenang-wenangan, adalah ancaman yang sangat keras dan sangat mengerikan.

Teladan Khulafaur Rasyidin

Karena itulah, orang-orang yang bertakwa tidak tertarik kepada jabatan kepemimpinan. Mereka yang bersungguh-sungguh menempuh jalan menuju Allah, yaitu orang-orang yang senantiasa takut kepada Tuhan mereka, justru menjauh dan melarikan diri darinya. Namun, apabila di antara mereka ada yang diuji dengan amanah tersebut dan tidak menemukan jalan untuk menghindarinya, maka ia akan berada dalam keadaan sangat takut, penuh kekhawatiran, sangat berhati-hati, dan selalu menjaga diri.

Sampai-sampai Sahabat Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, meskipun beliau dikenal dengan keadilan yang sempurna dan kehati-hatian yang luar biasa, pernah berkata tentang kepemimpinan:

"Siapakah yang sanggup memikulnya beserta seluruh tanggung jawab yang ada di dalamnya? Aku berharap dapat selamat darinya begitu saja, tidak menjadi beban dosaku dan tidak pula menjadi sebab tambahan pahalaku."

Karena sangat takut jika sampai menyia-nyiakan sedikit saja urusan kaum muslimin, dan karena sangat besar perhatiannya dalam mengurus mereka, beliau hampir tidak pernah tidur kecuali sekadar terkantuk-kantuk sambil duduk. Beliau berkata:

"Apabila aku tidur pada siang hari, aku akan menyia-nyiakan urusan kaum muslimin. Dan apabila aku tidur pada malam hari, aku akan menyia-nyiakan diriku sendiri. Lalu, kapan lagi aku dapat tidur di antara dua keadaan itu?"

Adapun Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, apabila harta kaum muslimin (Baitul Mal) telah terkumpul di dalamnya, beliau segera memanggil orang-orang untuk membagikannya kepada mereka hingga tidak tersisa satu dirham pun. Setelah itu beliau memerintahkan agar tempat tersebut disapu dan diperciki air, kemudian beliau melaksanakan salat di dalamnya seraya berkata:

"Sebagaimana tempat ini akan menjadi saksi bahwa aku pernah mengumpulkan harta di dalamnya, maka hendaklah ia juga menjadi saksi bahwa aku telah mengerjakan salat di dalamnya."

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah diangkat menjadi khalifah, terdengarlah suara tangisan yang ramai dari rumah beliau. Orang-orang bertanya tentang sebabnya, lalu dijawab:

"Beliau telah memberikan pilihan kepada istri-istri dan para budak perempuannya: apakah mereka tetap ingin hidup bersamanya dengan konsekuensi beliau tidak lagi dapat memenuhi hak-hak mereka sebagaimana sebelumnya, atau mereka memilih berpisah. Beliau berkata kepada mereka:

'Sesungguhnya aku telah disibukkan oleh amanah yang dibebankan kepadaku untuk mengurus urusan kaum muslimin. Maka pilihlah apa yang kalian kehendaki.'”

Akhirnya mereka memilih tetap tinggal bersama beliau.

Diriwayatkan bahwa selama masa kekhalifahannya beliau hanya mandi janabah sebanyak dua kali, padahal masa pemerintahannya berlangsung hampir dua tahun enam bulan. Pada suatu ketika beliau hendak mandi. Lalu dibawakan sebuah bejana tembaga berisi air hangat, saat cuaca sedang sangat dingin.

Beliau bertanya:

"Dengan apa air ini dipanaskan?"

Dijawab:

"Dengan api dari dapur umum milik negara."

Mendengar jawaban itu beliau menolak mandi menggunakan air tersebut. Beliau kemudian hendak mandi dengan air dingin. Lalu seorang pelayan berkata kepada beliau:

"Jika Amirul Mukminin mandi dengan air yang sedingin ini, besar kemungkinan besok pagi rakyat tidak lagi memiliki seorang khalifah."

Maksudnya, beliau dikhawatirkan meninggal dunia karena sangat dinginnya cuaca. Maka Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata:

"Bagaimana mungkin aku mandi dengan air itu, sedangkan air tersebut tidak halal bagiku?"

Pelayan itu kemudian berkata:

"Kalau begitu, hitunglah nilai kayu bakar yang digunakan untuk memanaskan air tersebut, lalu gantilah nilainya dan masukkan ke Baitul Mal kaum muslimin."

Maka beliau pun menghitung nilainya dan mengembalikannya ke kas kaum muslimin.

Perjalanan hidup dan teladan para Khulafaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum dalam hal-hal seperti ini sangat banyak, terkenal, dan tersebar luas. Seandainya seluruhnya hendak diceritakan, tentu akan sangat panjang.

Khulafaur Rasyidin

Akan tetapi, perjalanan kepemimpinan yang benar-benar sempurna dan istiqamah sebagaimana seharusnya itu hanya terwujud secara utuh pada empat khalifah, yaitu: Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Umar al-Faruq, Khalifah Utsman asy-Syahid, Khalifah dan Ali al-Murtadha radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Masa kepemimpinan merekalah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah :

إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ بَدَأَ نُبُوَّةً وَرَحْمَةً، ثُمَّ يَكُونُ خِلَافَةً وَرَحْمَةً، ثُمَّ يَكُونُ مُلْكًا عَضُوضًا

Sesungguhnya urusan ini bermula sebagai kenabian yang penuh rahmat, kemudian menjadi kekhalifahan yang penuh rahmat, kemudian berubah menjadi kerajaan yang menggigit (keras).

"Kerajaan yang menggigit" (مُلْكًا عَضُوضًا) maksudnya adalah pemerintahan yang keras, di mana rakyat mengalami penindasan dan kezaliman, seakan-akan mereka terus-menerus "digigit" oleh kekuasaan tersebut. Rasulullah juga bersabda:

الْخِلَافَةُ بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَةً

Kekhalifahan sepeninggalku berlangsung selama tiga puluh tahun.

Masa tiga puluh tahun tersebut adalah masa pemerintahan empat khalifah di atas, ditambah dengan masa kekhalifahan Hasan bin Ali, cucu Rasulullah , yang berlangsung sekitar enam bulan.

Dengan demikian genaplah tiga puluh tahun sejak wafatnya Rasulullah hingga saat Imam Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma berdamai dengan Sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan dan membaiatnya, setelah beliau melihat keadaan yang ada dan mempertimbangkannya dengan baik. Pada diri Imam Hasan bin Ali pun terwujud janji yang pernah disampaikan oleh kakeknya, Rasulullah . Beliau bersabda:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin. Mudah-mudahan Allah akan mendamaikan melalui dirinya dua kelompok besar dari kaum muslimin.

Keutamaan Masa Khulafaur Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz

Maka, sejak wafatnya Rasulullah hingga masa kami sekarang ini, tidak pernah ada suatu masa ataupun suatu zaman yang menyamai, apalagi mendekati, masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, yaitu masa tiga puluh tahun yang telah disebutkan secara tegas dalam hadis Rasulullah . Pada masa itu tegak keadilan dan kebaikan, kezaliman dan permusuhan diberantas, kebenaran dan agama ditegakkan, serta orang-orang kafir dan para pelaku kezaliman diperangi. Tidak ada masa dalam sejarah Islam yang dapat menyamai atau mendekati keadaan tersebut.

Benar, Khalifah Umar bin Abdul Aziz al-Umawi rahimahullah menjalankan pemerintahan yang sangat mirip dengan mereka, bahkan sangat dekat dengan cara mereka memimpin. Akan tetapi, masa kekhalifahannya terlalu singkat. Beliau juga menghadapi kesulitan, keletihan, penderitaan, dan perjuangan yang berat menghadapi masyarakat, terutama dari sebagian anggota keluarganya sendiri. Hal itu disebabkan karena manusia ketika itu telah sangat lama hidup jauh dari masa tegaknya keadilan dan kebenaran.

Keadaan tersebut berlangsung sejak Imam Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma berdamai dan membaiat Sahabat Muawiyah radhiyallahu 'anhu hingga Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, yaitu sekitar enam puluh tahun. Dalam rentang waktu itu, sebagian besar tradisi keadilan dan sikap adil telah hilang, sedangkan berbagai bentuk kezaliman dan kesewenang-wenangan mulai tampak dan menjadi kebiasaan. Manusia pun mulai menyimpang dari jalan yang benar.

Karena itulah, sangat sulit bagi Umar bin Abdul Aziz rahimahullah untuk mengembalikan mereka kepada keadaan yang dahulu, sebagaimana yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Bahkan sampai kepada kami suatu riwayat bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah meminta kepada salah seorang hamba Allah yang saleh agar mendoakan kematian untuk dirinya. Permintaan itu beliau sampaikan karena urusan memimpin rakyat terasa sangat berat baginya, dan karena memikul amanah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sebagaimana mestinya menjadi beban yang amat besar. Maka beliau memilih kematian dan berpindah ke negeri akhirat, yang lebih baik dan lebih kekal. Namun, hal itu bukanlah karena putus asa ataupun merasa jemu. Akan tetapi, karena rasa takut dan kekhawatiran bahwa orang-orang yang membenci perintah Allah, tidak menyukai tegaknya keadilan di tengah hamba-hamba-Nya, mencintai kezaliman, serta gemar memakan harta manusia secara batil, akan menimbulkan masalah yang tidak sanggup dihadapi dan akhirnya menyeret umat kepada fitnah, perselisihan, dan perpecahan. Oleh sebab itu, beliau lebih memilih apa yang ada di sisi Allah daripada menghadapi keadaan tersebut.

Sikap seperti ini telah lebih dahulu dilakukan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Ketika penduduk Irak mulai berselisih dengannya, dan beliau melihat sendiri bagaimana mereka enggan membela kebenaran serta berjihad melawan para pemberontak, diriwayatkan bahwa beliau berdoa:

اللَّهُمَّ أَرِحْنِي مِنْهُمْ وَأَرِحْهُمْ مِنِّي

Ya Allah, istirahatkanlah aku dari mereka, dan istirahatkanlah mereka dariku."

Beliau juga pernah melihat Rasulullah dalam mimpi. Lalu beliau mengadukan kepada beliau apa yang beliau alami dari umat ini berupa perselisihan dan pertengkaran. Maka Rasulullah bersabda:

ادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ

Berdoalah kepada Allah terhadap mereka.

Lalu beliau radhiyallahu 'anhu berdoa:

اللَّهُمَّ أَبْدِلْنِي خَيْرًا مِنْهُمْ، وَأَبْدِلْهُمْ شَرًّا مِنِّي

Ya Allah, gantilah mereka bagiku dengan orang-orang yang lebih baik daripada mereka, dan gantilah aku bagi mereka dengan orang yang lebih buruk dariku."

Ketika berita wafatnya Umar bin Abdul Aziz rahimahullah sampai kepada Raja Romawi, ia sangat bersedih mendengarnya. Ia mengucapkan kata-kata yang indah sebagai pujian kepada beliau. Di akhir ucapannya ia berkata:

"Namun, orang-orang baik tidak akan lama hidup berdampingan dengan orang-orang jahat."

Atau sebagaimana yang ia ucapkan.

Setelah itu, tidak ada lagi di antara para penguasa kaum muslimin sesudah empat Khulafaur Rasyidin dan sesudah Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang benar-benar menempuh jalan kepemimpinan yang diridai, terpuji, dan lurus secara sempurna, baik dari kalangan Bani Umayyah maupun Bani Abbas. Akan tetapi, Bani Umayyah lebih banyak menyia-nyiakan perintah Allah, lebih berani meremehkan larangan-larangan-Nya, dan lebih sedikit mengagungkan syiar-syiar agama dibandingkan Bani Abbas. Di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh dan sangat jelas dalam hal tersebut.

Akan tetapi, kepada Allah Yang Maha Agunglah tempat kembali mereka semuanya. Di hadapan-Nya mereka akan dihisab. Dia Maha Mengetahui segala yang mereka lakukan. Dan Dia akan membalas mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka. Allah berfirman:

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

Dan orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.(QS. Asy-Syu'ara: 227). RA(*)