Posted on 08 September 2026
Tidak ada perbedaan pendapat (khilaf) di antara para ulama bahwasanya kedua kota ini (Makkah dan Madinah) adalah kota yang paling utama di bumi Allah secara mutlak. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai mana di antara keduanya yang lebih utama.
Pendapat Mayoritas Ulama (Jumhur): Mengutamakan Kota Makkah di atas Kota Madinah. Dikecualikan tempat makam Rasulullah ﷺ yang mulia (Maudhi' Qabrihi asy-Syarif). Para ulama telah sepakat (ijmak) bahwa makam beliau adalah bagian tanah yang paling utama di muka bumi. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa setiap manusia dikuburkan di tanah asal ia diciptakan, serta berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
مَا قُبِضَ نَبِيٌّ إِلَّا دُفِنَ حَيْثُ يُقْبَضُ
"Tidaklah seorang nabi diwafatkan melainkan ia dimakamkan di tempat ia diwafatkan." (HR. Ibnu Majah)
Mengingat Nabi ﷺ adalah sebaik-baik makhluk, maka tanah makam beliau merupakan tanah yang paling utama di muka bumi.
Urutan Tempat Paling Utama di Makkah adalah: Ka'bah, kemudian Masjidil Haram, kemudian Rumah Sayidah Khadijah radhiyallahu 'anha, karena Rasulullah ﷺ tinggal di sana selama kurang lebih 28 tahun.
Pujian Ungkapan Qadhi 'Iyad mengenai Makkah dan Madinah
Alangkah indahnya perkataan Al-Qadhi 'Iyad rahimahullah ketika menggambarkan keindahan kedua tanah suci tersebut:
"Sangatlah layak bagi tempat-tempat yang dimakmurkan oleh wahyu dan Al-Qur'an, tempat Malaikat Jibril silih datang dan pergi melintasi pelatarannya, serta tempat para malaikat dan Malaikat Jibril naik (ke langit) seraya mengumandangkan penyucian dan tasbih; tempat yang darinya tersebar agama Allah dan sunah Rasul-Nya; tempat penuh madrasah, tanda-tanda kekuasaan Allah, saksi-saksi keutamaan dan kebaikan, tempat persinggahan bukti-bukti nyata dan mukjizat, pelaksanaan manasik agama, serta tempat-tempat berdiri Penghulu para Rasul (Nabi Muhammad ﷺ), di mana kenabian dan risalah memancarkan pancarannya dan meluap alirannya, serta bumi pertama yang kulit Al-Musthafa menyentuh tanahnya, layak untuk diagungkan pelatarannya, dihirup keharuman hembusan anginnya, serta dicium wilayah-wilayah dan dinding-dindingnya."
Syair Karya Qadhi 'Iyad
Al-Qadhi 'Iyad rahimahullah juga mengungkapkan kerinduan tersebut dalam bentuk bait-bait syair (dengan bahar Al-Kamil):
يَا دَارَ خَيْرِ المُرْسَلِينَ وَمَنْ بِهِ ... هُدِيَ الأَنَامُ وَخُصَّ بِالآيَاتِ
Wahai kediaman sebaik-baik para rasul dan sosok yang dengannya manusia mendapat petunjuk serta rasul yang diistimewakan dengan tanda-tanda mukjizat.
عِنْدِي لِأَجْلِكِ لَوْعَةٌ وَصَبَابَةٌ ... وَتَشَوُّقٌ مُتَوَقِّدُ الجَمَرَاتِ
Di dalam dadaku demi dirimu terdapat gejolak rindu yang membakar, cinta mendalam, serta kerinduan yang menyala bagai bara api.
وَعَلَيَّ عَهْدٌ إِنْ مَلَأْتُ مَحَاجِرِي ... مِنْ تِلْكُمُ الجُدْرَانِ وَالعَرَصَاتِ
Dan aku berjanji jika kelak mataku dapat menatap penuh dinding-dinding serta pelataran-pelataran itu,
لَأُعَفِّرَنَّ مَصُونَ شَيْبِي بِالثَّرَى ... مِنْ كَثْرَةِ التَّقْبِيلِ وَالرَّشَفَاتِ
Sungguh aku akan lumuri ubunku yang terjaga ini dengan debunya karena banyaknya ciuman dan kecupan.
لَكِنْ سَأَهْدِي مِنْ حَفِيلِ تَحِيَّتِي ... لِقَطِينِ تِلْكَ الدَّارِ وَالحُجُرَاتِ
Namun (saat ini) aku akan persembahkan penghormatan terbaikku untuk Sang Penghuni rumah dan kamar-kamar mulia tersebut,
أَذْكَى مِنَ المِسْكِ المـُعَنْبَرِ نَفْحَةً ... تَغْشَاهُ بِالآصَالِ وَالبُكُرَاتِ
Dengan wewangian yang lebih harum dari kasturi bercampur ambar yang senantiasa menaungi beliau di waktu petang dan pagi hari. RA(*)
*Sumber: Hadaiqul Anwar Wa Mathaliul Asrar fi Siratin Nabiyyil Mukhtar, karya Syekh Muhammad bin Umar Bahraq