Posted on 08 September 2026
Kota Makkah merupakan negeri yang Suci (al-Balad al-Haram), Allah ﷻ berfirman mengenai keutamaannya:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَهُدىً لِلْعالَمِينَ . فِيهِ آياتٌ بَيِّناتٌ مَقامُ إِبْراهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كانَ آمِناً
"Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia..." [QS. Ali 'Imran: 96-97]
Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata (Aayatun Bayyinaat) di dalamnya adalah:
Di antara keutamaannya pula adalah apa yang telah terdaftar dalam hadis sahih: Bahwasanya satu kali shalat di dalamnya dan di seluruh kawasan Tanah Haram sebanding dengan 100.000 (seratus ribu) kali shalat di tempat lainnya, selain Kota Madinah. Nabi ﷺ bersabda:
صلاة في مسجدي أفضل ألف صلاة فيما سواه، إلّا المسجد الحرام. وصلاة في مسجد الحرام أفضل من مئة ألف صلاة فيما سواه
Shalat di masjidu (Madinah) lebih utama dari seribu shalat di masjid lain selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu shalat di masjid lain. (HR Ibnu Majah)
Faidah: Keutamaan Shalat di Makkah Dibanding Tempat Lain
Para ulama telah menghitung perbandingan tersebut:
Oleh karena itu, barang siapa yang menetap di Makkah selama 3 hari (yang merupakan batas minimal waktu bermukim bagi jemaah haji) dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka seolah-olah ia telah beribadah kepada Allah di tempat lain selama seribu tahun, dan seakan-akan ia dikaruniai umur sepanjang umur Nabi Nuh 'alaihissalam dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Ini merupakan salah satu bentuk keberkahan dari firman Allah Ta'ala:
لِيَشْهَدُوا مَنافِعَ لَهُمْ
"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka..." [QS. Al-Hajj: 28]
Manfaat tersebut disebutkan dalam bentuk jamak (manaafi'). Apabila pahala shalat saja sudah sedemikian besar, bagaimana lagi dengan pahala wukuf, tawaf, dan ibadah-ibadah lainnya?
ذلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
"Demikianlah karunia Allah, yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar." [QS. Al-Hadid: 21]
Cinta Rasulullah ﷺ kepada Kota Makkah dan Keamanannya
Di antara keutamaan Kota Makkah adalah bahwa Rasulullah ﷺ sangat mencintainya. Beliau ﷺ bersabda ketika beliau hendak meninggalkan Makkah setelah peristiwa Pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah):
وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
"Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan tanah yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadis ini hasan gharib sahih)
Masyarakat Arab pada zaman Jahiliah pun sangat menghormati Tanah Haram (Al-Haram). Sampai-sampai seorang pembunuh dapat berjalan berdampingan dengan wali/keluarga dari orang yang terbunuh tanpa diganggu. Begitu pula binatang buas menahan diri dari menerkam rusa atau hewan buruan serupa apabila hewan tersebut telah memasuki wilayah Haram.
Hal demikian merupakan berkah dari doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika beliau pernah memohon:
رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya..." [QS. Al-Baqarah: 126]
Tempat Kelahiran Nabi ﷺ dan Kesucian Hukumnya
Di antara keutamaan Kota Makkah adalah bahwa ia merupakan tempat lahir Al-Musthafa ﷺ, tempat beliau pertama kali memijakkan kaki, dan tempat beliau tumbuh besar. Beliau menetap di Makkah selama 53 tahun sebelum akhirnya berhijrah Ke Madinah
Di antara keutamaan Kota Makkah pula adalah bahwa kesucian dan kemuliaannya telah disyariatkan, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah ﷻ:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنا حَرَماً آمِناً وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia di sekitarnya saling merampok..." [QS. Al-'Ankabut: 67]
Dan firman-Nya:
أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَماً آمِناً يُجْبى إِلَيْهِ ثَمَراتُ كُلِّ شَيْءٍ
"Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala sesuatu..." [QS. Al-Qashas: 57]
Serta sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، لَا يُعْضَدُ شَوْكُهُ، وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهُ
"Sesungguhnya negeri ini telah disucikan oleh Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Maka negeri ini haram (suci) dengan kesucian dari Allah hingga hari kiamat; tidak boleh dipotong pepohonannya yang berduri dan tidak boleh dihalau/diganggu hewan buruannya." (Hadis Muttafaq 'Alaih). RA(*)
*Sumber: Hadaiqul Anwar Wa Mathaliul Asrar fi Siratin Nabiyyil Mukhtar, karya Syekh Muhammad bin Umar Bahraq