Posted on 09 September 2026
Kemuliaan kaum, nasab, serta keluhuran para leluhur Nabi ﷺ laksana pohon kemuliaan yang rindang, akarnya menghunjam kokoh ke bumi dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Beliau adalah pilar kenabian yang cahayanya menyingkap tabir kegelapan. Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." [QS. At-Taubah: 128]
Makna kata مِنْ أَنْفُسِكُمْ (dengan huruf fa didhammahkan: anfusikum) bermakna "dari kalangan kalian sendiri", sedangkan jika dibaca dengan fathah (anfasikum) bermakna "dari kalangan orang-orang terbaik di antara kalian".
Para ulama menuturkan: Tidak ada satu pun kabilah di kalangan bangsa Arab melainkan memiliki pertalian nasab dengan Nabi ﷺ, baik melalui jalur kelahiran maupun hubungan kekerabatan.
Nabi ﷺ bersabda:
بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ، قَرْنًا فَقَرْنًا، حَتَّى كُنْتُ مِنَ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ
"Aku diutus dari generasi terbaik anak keturunan Adam, kurun demi kurun, hingga aku berada pada kurun tempat aku dilahirkan." (HR. Bukhari)
Beliau ﷺ juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
"Sesungguhnya Allah memilih Ismail dari anak keturunan Ibrahim, memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari kalangan Quraisy, dan memilih diriku dari kalangan Bani Hasyim." (HR. Tirmidzi, ia berkata hadis ini hasan sahih)
Silsilah Nasab Agung Nabi ﷺ (An-Nasab Al-Akbar)
Imam Al-Bukhari menyebutkan: Beliau adalah Abul Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'add bin Adnan.
Urutan nasab hingga Adnan ini telah disepakati (ijmak) oleh para ulama. Adapun silsilah setelah Adnan, yakni dari Adnan menuju Ismail bin Ibrahim, kemudian dari Ibrahim menuju Nuh, hingga dari Nuh menuju Nabi Adam 'alaihimussalam, terdapat silang pendapat, penambahan, maupun pengurangan di kalangan ahli nasab.
Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam Ath-Thabaqat: Bahwasanya Nabi ﷺ apabila merunut nasabnya, beliau tidak melebihkannya dari Ma'add bin Adnan bin Udad, lalu beliau menahan diri dan bersabda: "Telah berdusta para ahli nasab." Beliau kemudian membacakan firman Allah ﷻ:
وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا
"Dan (Kami binasakan) banyak lagi angkatan-angkatan di antara kurun-kurun tersebut." [QS. Al-Furqan: 38]
Para ulama menjelaskan bahwa cabang-cabang (buthun) kabilah Quraisy merupakan keturunan An-Nadhr bin Kinanah. Merekalah kaum yang dimuliakan oleh Allah melalui keberadaan beliau, sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ
"Dan sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar suatu kehormatan bagimu dan bagi kaummu." [QS. Az-Zukhruf: 44], yakni pujian dan kemuliaan.
Merekalah pula kerabat terdekat beliau yang dimaksud dalam firman-Nya:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." [QS. Asy-Syu'ara: 214]
Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, tatkala ayat ini turun, Nabi ﷺ menaiki Bukit Shafa lalu berseru memanggil cabang-cabang Quraisy: "Wahai Bani Fihr, wahai Bani 'Adi, wahai Bani Abdu Manaf, tebuslah diri kalian dari Allah! Aku tidak dapat membela kalian sedikit pun di hadapan Allah..."
Masyarakat Jahiliyah maupun kaum muslimin bersepakat bahwa Quraisy adalah kabilah Arab yang paling mulia, Bani Abdu Manaf adalah yang paling mulia di kalangan Quraisy, Bani Hasyim adalah yang paling mulia di kalangan Bani Abdu Manaf, dan Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling mulia di kalangan Bani Hasyim. Mengenai hal tersebut, paman beliau, Abu Thalib, melantunkan bait syair (bahar Ath-Thawil):
إِذَا اجْتَمَعَتْ يَوْمًا قُرَيْشٌ لِمَفْخَرٍ … فَعَبْدُ مَنَافٍ سِرُّهَا وَصَمِيمُهَا
Jika pada suatu hari kaum Quraisy berhimpun untuk membanggakan kemuliaan, maka keturunan Abdu Manaf adalah inti dan kemurniannya.
وَإِنْ حُصِّلَتْ أَشْرَافُ عَبْدِ مَنَافِهَا … فَفِي هَاشِمٍ أَشْرَافُهَا وَقَدِيمُهَا
Jika dihimpun para pemuka dari keturunan Abdu Manaf, maka pada sosok Hasyim-lah letak kemuliaan dan kepemimpinan tertuanya.
وَإِنْ فَخَرَتْ يَوْمًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا … هُوَ الْمُصْطَفَى مِنْ سِرِّهَا وَكَرِيمُهَا
Dan jika mereka berbangga pada suatu hari, maka sesungguhnya Muhammad adalah insan pilihan dari keturunan terbaik dan termulia di antara mereka.
Sosok Abdullah bin Abdul Muthallib (Ayahanda Rasulullah ﷺ)
Para ulama tarikh mencatat: Abdullah bin Abdul Muthallib adalah pemuda yang paling rupawan, berwajah paling berseri, serta paling luhur akhlak dan perangainya di kalangan Bani Hasyim. Cahaya kenabian Nabi ﷺ memancar dari wajahnya. Dialah orang pertama yang ditebus dengan seratus ekor unta.
Sosok Abdul Muthallib (Kakek Rasulullah ﷺ)
Nama asli Abdul Muthallib adalah Syaibatul Hamd. Ia dinamakan "Abdul Muthallib" bermula ketika pamannya, Al-Muthallib bin Abdu Manaf, membawanya dari ibunya (Salma binti 'Amr dari Bani Najjar di Madinah). Al-Muthallib tiba di Makkah sambil menempatkan Abdul Muthalib di belakang tunggangannya. Karena kulitnya yang kecoklatan, orang-orang mengira anak tersebut adalah budak ('abd) yang baru dibeli oleh Al-Muthallib, sehingga mereka berkata: "Al-Muthallib datang membawa budaknya." Sejak saat itu, panggilan tersebut melekat padanya.
Abdul Muthallib merupakan tokoh yang sangat disegani, dimuliakan, dan dihormati oleh kaumnya. Sebuah permadani khusus biasa dibentangkan untuknya di bawah naungan Ka'bah, dan tidak ada seorang pun yang berani mendudukinya selain dirinya. Kaumnya menjulukinya Al-Fayyadh (yang melimpahkan hartanya) karena kedermawanan dan kelapangan tangannya. Ia memiliki dua keutamaan besar: penggalian sumur Zamzam dan peristiwa kehancuran Pasukan Bergajah.
Penggalian Sumur Zamzam dan Nazar Penyembelihan Abdullah
Dahulu sumur Zamzam tertimbun oleh banjir besar hingga lenyap jejaknya. Abdul Muthallib kemudian diperlihatkan petunjuk lokasinya melalui mimpi. Tatkala ia hendak menggalinya, kabilah-kabilah Quraisy merasa dengki dan hendak menghalanginya, namun Allah melindunginya dari niat buruk mereka.
Saat itu, Abdul Muthallib bernazar: jika Allah mengaruniainya sepuluh orang anak laki-laki yang kelak dapat membelanya, ia akan mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih salah seorang dari mereka. Ketika jumlah anak lelakinya genap sepuluh orang, ia mengabarkan nazarnya kepada mereka. Anak-anaknya tunduk dan berkata: "Laksanakanlah perintahmu dan penuhilah nazarmu."
Abdul Muthallib lantas mengundi di antara mereka, dan keluarlah anak panah atas nama Abdullah (putra yang paling dicintainya). Ketika ia hendak menyembelihnya, para pemuka Quraisy mencegahnya agar hal itu tidak menjadi tradisi yang diikuti masyarakat.
Seorang dukun menyarankan agar ia mengundi antara nama Abdullah dan sepuluh ekor unta (pada saat itu, denda tebusan jiwa adalah sepuluh unta). Undian dilakukan, namun panah tetap keluar atas nama Abdullah. Dukun itu berkata: "Tambahkan sepuluh ekor lagi, sesungguhnya Tuhanmu belum ridha." Begitu seterusnya setiap kali ditambah sepuluh ekor, undian tetap jatuh pada nama Abdullah hingga jumlah unta mencapai seratus ekor. Barulah pada saat itu undian jatuh pada seratus ekor unta.
Untuk memastikannya, undian diulang hingga tiga kali dan seluruhnya tetap jatuh pada unta. Dukun itu berkata: "Tuhanmu telah ridha, sembelihlah seratus unta itu sebagai tebusan bagi anakmu." Abdul Muthallib pun melaksanakannya. Sejak saat itu, tebusan jiwa (diyat) di kalangan Quraisy ditetapkan sebesar seratus ekor unta, yang kemudian dikukuhkan oleh syariat Islam sebagai denda tebusan jiwa bagi setiap muslim.
Peristiwa Pasukan Bergajah (Ash-habul Fil)
Tatkala bangsa Habasyah (Abisinia) menguasai Yaman di bawah pimpinan Abrahah Al-Asyram, mereka mendirikan sebuah gereja megah di Shan'a menyerupai Ka'bah dengan maksud memalingkan jemaah haji ke sana. Mengetahui hal itu, beberapa lelaki Quraisy menyelinap masuk pada malam hari dan mengotorinya dengan kotoran manusia lalu melarikan diri.
Abrahah murka dan bertekad meruntuhkan Ka'bah. Ia memimpin bala tentara berkekuatan besar. Setibanya di pinggiran Makkah, pasukannya merampas hewan-hewan ternak penduduk, termasuk dua ratus ekor unta milik Abdul Muthallib, lalu berkemah di Arafah.
Abdul Muthallib keluar menemuinya. Melihat kewibawaan Abdul Muthallib, Abrahah turun dari singgasananya sebagai penghormatan dan menanyakan keperluannya. Abdul Muthallib meminta agar unta-untanya yang dirampas dikembalikan.
Orang-orang terheran seraya berkata: "Mengapa engkau tidak memohon kepadanya agar membatalkan niatnya menghancurkan Ka'bah?" Abdul Muthallib menjawab dengan kalimat masyhur:
"Aku adalah pemilik unta-unta ini, sedangkan Ka'bah memiliki Pemilik-nya sendiri yang akan melindunginya."
Abdul Muthallib kemudian mengajak kaum Quraisy mengungsi ke puncak-puncak bukit. Ia berdiri memegang pintu Ka'bah seraya berdoa (bahar Majzu' Al-Kamil):
لَا هُمَّ إِنَّ المَرْءَ يَمْـ … ـنَعُ رَحْلَهُ فَامْنَعْ حِلَالَكْ
Ya Allah, sesungguhnya setiap orang membela tempat tinggalnya, maka lindungilah hamba-hamba-Mu.
لَا يَغْلِبَنَّ صَلِيبُهُمْ … وَمِحَالُهُمْ غَدْوًا مِحَالَكْ
Jangan sampai salib dan tipu daya mereka esok hari mengalahkan kekuasaan dan ketetapan-Mu.
Abrahah lalu menggerakkan pasukannya menuju Makkah. Setibanya di lembah Muhassir (lembah di antara Arafah dan Muzdalifah), gajah utamanya mendadak bersimpuh dan enggan melangkah. Setiap kali diarahkan ke arah lain gajah itu bangkit, namun ketika diarahkan ke Makkah ia kembali mogok meski hidungnya disodok dengan besi.
Saat itulah Allah mengirimkan kepada mereka kawanan burung (Thairan Ababil). Setiap burung membawa tiga kerikil kecil: dua di cakarnya dan satu di paruhnya. Jika batu tersebut mengenai kepala salah seorang dari mereka, seketika batu itu tembus menembus tubuhnya hingga membinasakan mereka semua.
Peristiwa ini diabadikan dalam firman Allah Ta'ala kepada Nabi-Nya ﷺ sebagai pengingat akan nikmat-Nya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ . أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ . وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ . تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ . فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
"Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." [QS. Al-Fil: 1-5]
Peristiwa ini terjadi tatkala Nabi ﷺ masih berada dalam kandungan ibundanya, dan beliau dilahirkan sekitar lima puluh hari setelah peristiwa penyerangan gajah tersebut. Sejak saat itu, bangsa Arab semakin menaruh hormat kepada kaum Quraisy dan menjuluki mereka sebagai "Tetangga Allah yang senantiasa dilindungi-Nya".
Riwayat Hasyim (Kakek Buyut Nabi ﷺ)
Nama asli Hasyim adalah 'Amr. Ia dipanggil Hasyim karena kedermawanannya meremukkan dan menyajikan roti (Hasyama ats-Tsarid) bagi kaumnya saat dilanda paceklik. Penyair melantunkan bait syair (bahar Al-Kamil):
عَمْرٌو الَّذِي هَشَمَ الثَّرِيدَ لِقَوْمِهِ … وَرِجَالُ مَكَّةَ مُسْنِتُونَ عِجَافُ
'Amr-lah sosok yang meremukkan roti berkuah bagi kaumnya tatkala para lelaki Makkah dilanda paceklik kelaparan dan kurus kering.
Kedermawanannya melampaui batas kewajaran hingga ia turut memberi makan binatang buas dan burung-burung liar dengan menyembelih hewan di puncak-puncak bukit. Jika musim kemarau tiba, ia mengumpulkan penduduk Makkah dan memerintahkan orang-orang berkecukupan untuk menanggung kebutuhan fakir miskin hingga Allah menurunkan hujan.
Hasyim juga melakukan perjalanan diplomasi ke Syam menemui Kaisar Romawi dan memperoleh surat jaminan keamanan berniaga bagi kaum Quraisy. Ia mengutus saudaranya, Al-Muthallib, ke Yaman untuk memperoleh perjanjian serupa.
Ia memprakarsai rute kafilah dagang musim dingin dan musim panas (Rihlatasy-Syita'i wash-Shaif): berniaga ke Syam pada musim panas karena sejuk udaranya, dan menuju Yaman pada musim dingin. Sejak masa itu taraf hidup masyarakat Makkah berkembang pesat melalui perniagaan, dan Allah menyelamatkan mereka dari ketakutan serta kelaparan berkat jasa Hasyim. Hal ini termaktub dalam firman-Nya:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ . إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ . فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ . الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." [QS. Quraisy: 1-4]
Riwayat Abdu Manaf
Nama asli Abdu Manaf dipanggil Qamarul Bathha' (Bulan Purnama Lembah Makkah) karena ketampanan dan kecemerlangan wajahnya. Dialah yang meneruskan kepemimpinan ayahnya, Qushay, dalam memegang kekuasaan politik dan hak memberi minum jemaah haji (Siqayah).
Adapun saudaranya, Abdu Dar, memegang urusan pemeliharaan kunci Ka'bah (Sidanah) dan jamuan makan jemaah haji (Rifadah) di Darun Nadwah yang didirikan oleh Qushay. Saudaranya yang lain, Abdul 'Uzza, memegang perlengkapan perang berupa senjata dan pasukan berkuda (Kura'), sesuai wasiat pembagian tugas dari ayah mereka, Qushay.
Riwayat Qushay
Qushay dijuluki Mujammi' (Sang Pemersatu) karena dialah orang pertama yang menyatukan kabilah-kabilah Quraisy dari padang pasir pedalaman untuk menetap di wilayah Kota Makkah, serta berhasil mengeluarkan suku Khuza'ah dari kota tersebut. Mengenai hal ini penyair berkata (bahar Ath-Thawil):
أَبُوكُمْ قُصَيٌّ كَانَ يُدْعَى مُجَمِّعًا … بِهِ جَمَعَ اللَّهُ القَبَائِلَ مِنْ فِهْرِ
Ayah kalian, Qushay, dahulu digelari 'Sang Pemersatu' dengannya Allah menghimpun kabilah-kabilah keturunan Fihr.
Kisah pengambilalihan kunci Ka'bah terjadi ketika pemimpin suku Khuza'ah pada suatu malam minum khamar bersama sekelompok orang hingga persediaannya habis. Ia berkata: "Siapa yang mau membeli hak juru kunci Baitullah dariku dengan sekantong kulit minuman anggur?" Qushay segera membelinya dan menghadirkan para saksi. Mengenai hal ini penyair melantunkan bait (bahar Al-Basith):
بَاعَتْ خُزَاعَةُ بَيْتَ اللَّهِ إِذْ سَكِرَتْ … بِزِقِّ خَمْرٍ فَبِئْسَتْ صَفْقَةُ البَادِي
Suku Khuza'ah menjual Baitullah saat mereka mabuk dengan sekantong khamar; alangkah buruknya transaksi pedagang itu!
بَاعَتْ سِدَانَتَهَا لِلبَيْتِ وَانْتَقَلَتْ … عَنِ المَقَامِ وَظَلَّ البَيْتُ وَالنَّادِي
Mereka menjual hak pemeliharaan Ka'bah lalu terusir meninggalkan tempat itu sementara Baitullah dan tempat perhimpunan (Darun Nadwah) tetap kokoh berdiri.
Keluhuran Para Leluhur Nabi ﷺ
Semua leluhur Nabi ﷺ adalah para pemimpin terpandang. Tidak ada seorang pun dari mereka melainkan menjadi pemuka kaum pada zamannya, mulai dari ayahanda beliau, Abdullah, hingga Nabi Adam 'alaihissalam, sebagaimana digambarkan dalam untaian syair (bahar Al-Kamil):
فَأُولَئِكَ السَّادَاتُ لَمْ تَرَ مِثْلَهُمْ … عَيْنٌ عَلَى مُتَتَابِعِ الأَحْقَابِ
Merekalah para pemimpin yang matanya tak pernah melihat tandingan semisal mereka sepanjang pergantian masa dan zaman.
زُهْرُ الوُجُوهِ كَرِيمَةٌ أَحْسَابُهُمْ … يُعْطُونَ سَائِلَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابِ
Wajah-wajah mereka bercahaya, garis kehormatan mereka mulia, mereka memberi kepada peminta bantuan tanpa berhitung-hitung.
لَمْ يَعْرِفُوا رَدَّ العُفَاةِ وَطَالَمَا … رَدُّوا أَعَادِيَهُمْ عَلَى الأَعْقَابِ
Mereka tak pernah menolak orang yang membutuhkan, dan betapa seringnya mereka memukul mundur musuh-musuh hingga berbalik ke belakang.
حَلُمُوا إِلَى أَنْ لَا تَكَادَ تَرَاهُمْ … يَوْمًا عَلَى ذِي هَفْوَةٍ بِغِضَابِ
Begitu santun budi pekertinya hingga engkau hampir tidak pernah melihat mereka marah kepada orang yang berbuat salah/khilaf.
وَتَكَرَّمُوا حَتَّى أَبَوْا أَنْ يَجْعَلُوا … بَيْنَ العُفَاةِ وَبَيْنَهُمْ مِنْ بَابِ
Saking mulianya, mereka enggan membuat pintu pembatas antara diri mereka dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan.
كَانَتْ تَعِيشُ الطَّيْرُ فِي أَكْنَافِهِمْ … وَالوُحْشُ حِينَ يَشُحُّ كُلُّ سَحَابِ
Burung-burung dan binatang liar turut hidup aman dalam perlindungan mereka tatkala awan langit enggan mencurahkan hujan.
وَكَفَاهُمُ أَنَّ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا … مِنْهُمْ فَمَدْحُهُمُ بِكُلِّ كِتَابِ
Cukuplah kebanggaan bagi mereka bahwasanya Nabi Muhammad terlahir dari garis keturunan mereka, sehingga pujian atas mereka abadi di setiap kitab.RA(*)
*Sumber: Hadaiqul Anwar Wa Mathaliul Asrar fi Siratin Nabiyyil Mukhtar, karya Syekh Muhammad bin Umar Bahraq