Biografi Ringkas Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (1331–1431 H / 1913–2010 M)

Posted on 07 October 2026


Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dilahirkan di kota Seiyun, wilayah Wadi Hadhramaut, Yaman, pada bulan Jumadal Akhirah tahun 1331 H (bertepatan dengan tahun 1913 M). Beliau berasal dari keluarga terpandang dalam tradisi keilmuan Islam Hadhramaut. Ayahandanya adalah Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman bin Ali bin Umar bin Saggaf Assegaf, seorang ulama, pendidik, dan tokoh sentral di Seiyun pada zamannya. Ibundanya adalah Syarifah ‘Alawiyah binti Ahmad bin Muhammad Al-Jufri, seorang wanita yang dikenal tekun dalam ibadah dan pendidikan keluarga.

Secara genealogi, nasab beliau tersambung melalui silsilah Sadah Ba 'Alawi yang berakar langsung kepada Al-Imam Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad ﷺ.

Saat kelahirannya, ulama besar Seiyun penyusun kitab Simthud Durar, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (1259–1333 H), menaruh harapan besar terhadap masa depan beliau. Habib Ali Al-Habsyi mengungkapkan hal tersebut melalui kalimat:

سَيَكُونُ لَهُ شَأْنٌ عَظِيمٌ، وَقَدْرٌ فَخِيمٌ، وَنَفْعٌ عَمِيمٌ.

"Kelak ia akan memiliki kedudukan yang agung, derajat yang tinggi, serta kemanfaatan ilmu yang meluas."

Pendidikan, Sanad Keilmuan, dan Pembinaan Intelektual

Pendidikan Habib Abdul Qadir dimulai dari jenjang dasar tradisional (kuttab/ma'lamah). Beliau belajar di Ma’lamah Thaha, Seiyun, di bawah bimbingan Syaikh Thaha bin Abdullah Bahumaid. Di lembaga ini, beliau menghafal Al-Qur'an dan menguasai dasar-dasar baca-tulis serta literasi Arab.

Setelah menyelesaikan tahfidz dan dasar-dasar keislaman, pembinaan intelektual beliau diambil alih secara intensif oleh ayahandanya, Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Sang ayah mendidiknya dalam berbagai cabang ilmu keislaman (funun al-’ilm), meliputi:

  • Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

  • Ilmu Hadis dan Mushthalah

  • Fikih Mazhab Syafii beserta Kaidah Fikih

  • Gramatika Bahasa Arab (Nahwu, Sharaf, dan Balaghah)

Sang ayah mendidiknya dengan kedisiplinan tinggi. Beliau selalu diajak menghadiri majelis-majelis keilmuan dan melakukan perjalanan ilmiah (rihlah 'ilmiyyah) ke berbagai pusat ilmu di Hadhramaut, seperti Tarim, ‘Inat, Qasam, Syi’ib Hud, Al-Ghurfah, Al-Hauthah, dan Shibam. Seusai menghadiri suatu majelis, ayahnya kerap menguji pemahaman dan daya ingat putranya mengenai materi yang dibahas guna melatih konsentrasi dan integritas intelektualnya.

Sang ayah memberikan nasihat mengenai pentingnya menjaga mata rantai transmisi keilmuan:

"Ilmu dan kesalehan telah bersambung secara turun-temurun dalam silsilah leluhurmu semenjak datukmu yang agung ﷺ. Jangan sampai engkau lalai atau menyimpang dari jalur penuntut ilmu, sehingga engkau gagal menjadi penerus tradisi keilmuan ini. Berhati-hatilah terhadap godaan materi dan duniawi yang dapat memalingkanmu dari orientasi ilmu dan akhirat."

Ketika Habib Abdul Qadir muda sempat merasa tertinggal oleh kemajuan sebagian rekan sebayanya dalam belajar, ayahandanya memberikan motivasi untuk menggugah semangatnya:

كُلُّ هٰؤُلَاءِ أَنْتَ شَيْخُهُمْ، وَكُلُّهُمْ سَيَرْجِعُونَ إِلَيْكَ.

"Engkau kelak akan menjadi guru bagi mereka semua, dan mereka semua akan menjadikanmu sebagai rujukan keilmuan."

Selain bimbingan langsung sang ayah, Habib Abdul Qadir memperluas transmisi sanad keilmuannya kepada para ulama otoritatif di Hadhramaut pada masa itu, di antaranya:

  • Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri (Pemimpin Rubath Tarim)

  • Al-Habib Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf (Mufti Hadhramaut)

  • Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Syihabuddin (Tarim)

  • Al-Habib Ja'far bin Ahmad Al-Aydrus

  • Al-Habib Umar bin Hamid Assegaf beserta putranya, Al-Habib Abdullah bin Umar

  • Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf

  • Al-Habib Mustafa bin Ahmad Al-Muhdhar

Pengakuan Para Guru dan Rekannya

Kapasitas intelektual dan integritas pribadi Habib Abdul Qadir mendapat apresiasi tertulis maupun lisan dari para gurunya:

  • Al-Habib Ja'far bin Ahmad Al-Aydrus memberikan sanjungan atas kapabilitas kepemimpinannya:

أَنْتَ خَلِيفَةُ سَيْؤُونَ، وَغَدًا سَتَكُونُ خَلِيفَةَ الْكَوْنِ.

"Engkau adalah penerus keilmuan di Seiyun, dan kelak engkau akan menjadi rujukan panutan di seluruh penjuru ufuk."

  • Al-Habib Alwi bin Abdullah Assegaf mendokumentasikan kedekatan ilmiah mereka dalam karyanya, At-Talkhis Asy-Syafi fi Tarikhi Ali Thaha bin Umar Ash-Shafi:

وَهُوَ مِنْ أَخَصِّ إِخْوَانِنَا، وَمُحِبٍّ صَادِقٍ لَنَا، أَدَامَ اللّٰهُ هٰذِهِ الْمَحَبَّةَ لَنَا وَلَهُ إِلَى أَنْ نَلْقَاهُ.

"Beliau termasuk saudara terdekat kami dan sahabat yang tulus bagi kami. Semoga Allah melanggengkan ikatan cinta karena Allah ini hingga kami berjumpa kembali dengan-Nya."

  • Al-Habib Mustafa bin Ahmad Al-Muhdhar dalam surat menyuratnya kepada Habib Alwi bin Abdullah Assegaf menuliskan:

"Surat yang kutuliskan kepada kalian ini memuat perhatian besar terhadap masa depan ananda Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, baik dalam pembinaan, bimbingan, maupun urusannya. Kita menaruh perhatian penuh kepadanya, dan di pundaknya kelak terdapat tanggung jawab dakwah yang jauh lebih besar."

  • Mufti Hadhramaut, Al-Habib Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf, menggubah bait syair saat ditanya mengenai pribadi Habib Abdul Qadir pasca-wafatnya ayahanda beliau:

أَحْيَا بِحُسْنِ فِعَالِهِ ٭٭٭ أَفْعَالَ وَالِدِهِ الْحُلَاحِلْ

كَالْوَرْدِ زَالَ مَاؤُهُ ٭٭٭ عَبَقُ الرَّوَائِحِ غَيْرُ زَائِلْ

"Melalui keluhuran pekertinya, ia menghidupkan kembali jejak-jejak amal ayahnya yang berwibawa laksana ksatria;

Laksana sari mawar yang kendati air kelopaknya telah mengering, keharumannya tetap semerbak tiada sirna."

Kemuliaan Akhlaknya

Al-Habib Abdul Qadir dikenal menerapkan disiplin akhlak Islam dalam kehidupan sehari-hari: memuliakan tamu tanpa diskriminasi, menopang kaum dhuafa, serta memberikan perhatian finansial dan keilmuan bagi para santri/penuntut ilmu (thullabul 'ilm).

Salah satu dokumentasi perilaku yang terekam adalah empatinya yang tinggi terhadap orang lain. Pada suatu kesempatan, seorang jemaah yang mengantarkan kepulangan beliau menutup pintu mobil secara tergesa-gesa hingga menjepit ujung jari tangan beliau. Habib Abdul Qadir menahan rasa sakit tersebut tanpa bersuara atau menarik tangannya secara tiba-tiba, agar orang yang menutup pintu tidak menyadarinya saat itu. Setelah mobil melaju beberapa saat dan berbelok menjauh, barulah beliau meminta sopir untuk menghentikan kendaraan dan membuka pintu.

Ketika sopir terkejut melihat tangannya telah memar dan bertanya mengapa beliau tidak langsung menegur saat peristiwa terjadi, beliau menjawab:

"Aku khawatir jika langsung menegurnya saat itu, ia akan merasa sangat bersalah dan menanggung malu, sehingga enggan untuk hadir kembali ke majelis-majelis ilmu."

Sikap ini mencerminkan pertimbangan matang seorang pendidik yang mengedepankan keterikatan hati umat terhadap majelis dakwah di atas kenyamanan fisiknya sendiri.

Rihlah Dakwah Transnasional dan Hubungan dengan Kawasan Nusantara

Akibat perubahan dinamika sosial-politik di Yaman Selatan pada dekade 1960-an, Habib Abdul Qadir memutuskan berhijrah ke Hijaz (Arab Saudi) dan menetap di Jeddah. Dari kota ini, kediaman dan majelis taklim beliau bertransformasi menjadi titik temu jaringan diaspora ulama Hadhramaut serta pusat kajian bagi pelajar dari Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara.

Aktivitas dakwah beliau mencakup lawatan berkala ke kawasan Teluk (Oman, UEA), Suriah, Mesir, Irak, Afrika Timur, hingga Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, dan Indonesia).

Di Indonesia, beliau mengunjungi berbagai pusat komunitas Muslim dan pesantren di Palembang, Bali, Jakarta, Surabaya, Malang, Jember, Pekalongan, Tegal, Solo, Gresik (di kediaman Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf), serta Pasuruan.

Hubungan kultural dan akademis beliau dengan kota Pasuruan terjalin secara khusus karena keberadaan sahabat dekatnya semasa menuntut ilmu di Seiyun, yaitu Al-Habib Abdul Qadir bin Husain bin Saggaf Assegaf. Dalam sebuah peringatan haul Al-Habib Alwi bin Segaf Assegaf di Pasuruan, beliau memberikan pidato mengenai kesinambungan sanad dan tradisi keilmuan di kota tersebut:

"Kota apakah ini? Para ulama menyebut kawasan ini menyerupai pusat-pusat keilmuan di Hadhramaut. Ini terjadi karena Habib Alwi bin Segaf telah mencurahkan ilmu, amal, kewaraan, serta pembinaannya di sini, sehingga terbentuk lingkungan masyarakat yang memiliki ketenangan dan integritas iman. Hal ini disaksikan oleh para ulama terdahulu seperti Muhammad Al-Muhdhar, Muhammad Al-Aydrus, Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, Ahmad bin Muhsin Al-Haddar, Abdullah bin Muhsin Al-Attas, dan Ahmad bin Abdullah Al-Attas.

Setelah Alwi bin Segaf wafat, tradisi itu dilanjutkan oleh Ja'far bin Syaikhan. Setelah Ja'far bin Syaikhan wafat, estafet tersebut dilanjutkan oleh saudaraku ini (Habib Abdul Qadir bin Husain Assegaf), seorang hamba saleh yang sejak mudanya istiqamah dalam ketaatan. Wilayah Jawa ini senantiasa makmur secara spiritual dan keilmuan melalui dedikasi beliau."

Petikan Nasihat Keagamaan

Di antara nasihat-nasihat beliau yang berkaitan dengan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan etika penuntut ilmu:

  • Tahapan Kualitas Hati:

كُلَّمَا طَهُرَ الْقَلْبُ رَقَّ، فَإِذَا رَقَّ رَاقَ، فَإِذَا رَاقَ ذَاقَ، فَإِذَا ذَاقَ فَاقَ، فَإِذَا فَاقَ اشْتَاقَ، فَإِذَا اشْتَاقَ اجْتَهَدَ، فَإِذَا اجْتَهَدَ هَبَّتْ عَلَيْهِ نَسَائِمُ الْجَنَّةِ، فَيَفْرَحُ بِالطَّاعَةِ فَصَارَ مِنْ أَسْعَدِ النَّاسِ.

"Setiap kali hati itu bersih dan suci, ia akan menjadi lembut. Apabila ia telah lembut, ia menjadi jernih. Apabila telah jernih, ia akan mampu merasakan (kelezatan iman). Apabila telah merasakan, ia akan unggul melampaui tabiat nafsunya. Apabila telah unggul, ia akan dipenuhi rasa rindu (kepada Allah). Apabila telah rindu, ia akan bersungguh-sungguh dalam beramal. Dan apabila ia telah bersungguh-sungguh, berhembuslah kepadanya semilir ketenteraman surga; ia pun bergembira dalam ketaatan dan menjadi salah satu manusia yang paling berbahagia."

  • Istiqamah Menempuh Jalan Agama:

مَنْ سَلَكَ الطَّرِيقَ، صَحِبَهُ التَّوْفِيقُ، وَأَدْرَكَتْهُ رِعَايَةُ الْفَرِيقِ، وَمَشَى مَعَهُمْ قَدَمًا عَلَى قَدَمٍ حَتَّى يَنَالَ مَقَامَ الصِّدِّيقِ.

"Barang siapa yang menempuh jalan agama dan ketakwaan ini, ia akan senantiasa disertai taufik Ilahi, dinaungi bimbingan kelompok orang-orang saleh, serta melangkah bersama mereka setapak demi setapak hingga meraih derajat shiddiqin."

  • Menanggalkan Ambisi:

إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَرَى عَادَ نَفْسهُ تَتَشَوَّفُ إِلَى مَظْهَرٍ، تَتَشَوَّفُ إِلَى عَطَاءٍ، تَتَشَوَّفُ حَتَّى إِلَى سِرٍّ... مَا يُعْطِيهِ اللّٰهُ إِيَّاهُ، إِلَّا إِذَا انْطَرَحَ بِكُلِّيَّتِهِ وَصَارَ عَبْدًا لِلّٰهِ.

"Manakala seseorang mendapati jiwanya masih berhasrat pada pengakuan lahiriah, mengharapkan pemberian/popularitas, atau bahkan mendambakan karamah/rahasia spiritual, niscaya Allah tidak akan membukakannya—kecuali jika ia telah menundukkan totalitas egonya dan benar-benar menjadi seorang hamba yang murni beribadah kepada Allah."

  • Tentang Zikir:

النَّاسُ الْيَوْمَ قُلُوبُهُمْ مَاتَتْ؛ لِأَنَّ الْقَلْبَ الَّذِي لَا يَذْكُرُ اللّٰهَ... غَابَ عَنْ جَلَالِ اللّٰهِ.

"Banyak manusia di zaman ini mengalami kematian hati; sebab hati yang alpa dari mengingat Allah niscaya akan terhalang dari merasakan keagungan Allah."

Wafat

Setelah menjalani kiprah panjang dalam pengajaran, bimbingan masyarakat, dan rihlah dakwah lintas negara, Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf wafat pada dini hari Ahad, 19 Rabiul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 4 April 2010 M) di Jeddah, Arab Saudi, dalam usia 97 tahun (kalender Hijriah).

Jenazah beliau disalatkan di Masjidil Haram, Makkah, setelah salat Isya dengan dihadiri ribuan jemaah dan ulama dari berbagai negara, lalu dimakamkan di kompleks pemakaman bersejarah Jannatul Ma'la, Makkah Al-Mukarramah. Semoga kita semua mendapatkan keberkahan beliau, dan dapat meneladani teladan yang telah beliau ajarkan, aamiin ya robbal alamiin. RA(*)