Fiqih Shalat Tarawih dalam Mazhab Syafi‘i

Posted on 22 February 2026


Definisi dan Penamaan

Shalat Tarawih adalah shalat sunnah khusus bulan Ramadhan yang dikerjakan pada malam hari. Ia juga disebut Qiyam Ramadhan. Disebut tarawih karena para salaf dahulu beristirahat (istirahah) setiap selesai empat rakaat.

Dalam kitab al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi‘i disebutkan:

وصلاة التراويح إنما تشرع في رمضان خاصة، وتسن فيها الجماعة وتصح فرادى. وسميت بهذا الاسم لأنهم كانوا يتروحون عقب كل أربع ركعات، أي يستريحون. وتسمى قيام رمضان.

Shalat tarawih hanya disyariatkan pada bulan Ramadhan. Disunnahkan berjamaah dan sah bila dilakukan sendiri. Dinamakan tarawih karena dahulu mereka beristirahat setiap selesai empat rakaat. Ia juga disebut qiyam Ramadhan.

Dalil Pensyariatan

1. Hadits Keutamaan Qiyam Ramadhan

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa menegakkan (shalat malam di bulan) Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala/ikhlash, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

2. Hadits Praktik Nabi

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة فكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أو الرابعة فلم يخرج إليهم، فلما أصبح قال: قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم> وذلك في رمضان.

Nabi pernah shalat di masjid pada suatu malam, lalu orang-orang ikut shalat bersama beliau. Malam berikutnya beliau shalat lagi dan jumlah jamaah semakin banyak. Pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Nabi tidak keluar. Ketika pagi hari beliau bersabda: ‘Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku keluar kepada kalian kecuali aku khawatir shalat itu diwajibkan atas kalian.’ Dan itu terjadi pada bulan Ramadhan.

Hadits ini menjadi dasar disyariatkannya shalat tarawih secara berjamaah.

3. Praktik Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu

Diriwayatkan al-Bukhari:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: ‌خَرَجْتُ ‌مَعَ ‌عُمَرَ ‌بْنِ ‌الْخَطَّابِ رضي الله عنه لَيْلَةً فِي ‌رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ، ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ، يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari Abdurrahman bin ‘Abdil Qari, ia berkata:

Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pada suatu malam di bulan Ramadan menuju masjid. Ternyata orang-orang berada dalam kelompok-kelompok yang terpencar, ada seorang laki-laki yang shalat sendirian, dan ada pula seorang laki-laki yang shalat lalu diikuti oleh beberapa orang (kurang dari sepuluh orang) yang shalat bersamanya.

Maka Umar berkata: ‘Menurutku, seandainya aku mengumpulkan mereka di belakang satu orang qari (imam) tentu itu lebih baik.’

Kemudian beliau bertekad lalu mengumpulkan mereka di belakang Ubay bin Ka‘ab.

Kemudian pada malam yang lain aku keluar lagi bersamanya, sementara orang-orang telah shalat mengikuti satu imam mereka.

Umar berkata: ‘Sebaik-baik bid‘ah adalah ini. Dan shalat yang mereka tidur darinya itu lebih utama daripada yang mereka kerjakan sekarang.’

Yang beliau maksud adalah shalat pada akhir malam, sedangkan saat itu orang-orang melaksanakannya pada awal malam.”

Para sahabat pada masa Sahabat Umar melakukan tarawih 20 rakaat, sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi.

Jumlah Rakaat Tarawih

Dalam mazhab Syafi‘i, jumlah rakaat tarawih adalah 20 rakaat, tidak termasuk witir. Disebutkan dalam al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah:

التراويح وهي لغير أهل المدينة عشرون ركعة يسلم من كل ركعتين بين العشاء والفجر

Tarawih bagi selain penduduk Madinah adalah 20 rakaat, salam setiap dua rakaat, dikerjakan antara Isya dan Fajar.

Dalam Fathul Qarib:

وهي عشرون ركعة بعشر تسليمات في كل ليلة من رمضان

Tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam setiap malam Ramadhan.

Bagi penduduk Madinah, bahkan meskipun hanya singgah, diperbolehkan melaksanakan tarawih 36 rakaat.

Hal ini karena penduduk Makkah dahulu melakukan thawaf di antara setiap dua tawrihah, maka penduduk Madinah menggantinya dengan tambahan rakaat.

Namun menurut sebagian ulama (seperti asy-Syarqawi), pahala tambahan 16 rakaat itu adalah pahala sunnah mutlak, bukan pahala tarawih secara khusus.

Tata Cara Pelaksanaan

·       Niatnya harus jelas, misalnya:  dua rakaat dari sunnah tarawih, atau Qiyam Ramadhan. Tidak sah jika hanya berniat shalat sunnah mutlak.

·       Shalat tarawih wajib salam setiap dua rakaat. Dikerjakan dua rakaat dua rakaat (10 kali salam).
Karena ia menyerupai shalat fardhu dalam hal disyariatkannya berjamaah, maka tidak boleh diubah dari tata cara yang datang dari para sahabat.

·       Jika seseorang sengaja dan sadar melakukan lebih dari dua rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah.

Dalam al-Manhaji disebutkan:

ولو صلى أربعاً بتسليمة واحدة لم تصح، لأنه خلاف المشروع

“Jika seseorang shalat empat rakaat dengan satu salam, maka tidak sah karena menyelisihi tata cara yang disyariatkan

Jika tidak sengaja atau tidak tahu, maka terhitung sebagai shalat sunnah mutlak.

Waktu Pelaksanaan

Waktu tarawih adalah:

بين صلاة العشاء وطلوع الفجر

“Antara shalat Isya dan terbit fajar.”

Termasuk jika Isya dijamak dengan Maghrib (taqdim), maka tarawih boleh dilakukan setelahnya Shalat Isya yang ditaqdim, walaupun masih waktu Maghrib.

Sebagian ulama menyatakan:

  • Mengakhirkan tarawih hingga seperempat malam termasuk waktu yang lebih utama.

  • Bahkan ada yang mengatakan waktu yang dipilih (ikhtiyar) dimulai setelah seperempat malam.

Namun jika terjadi pertentangan antara:

  • Melaksanakan tarawih di awal waktu

  • Atau menundanya tetapi menyebabkan shalat Isya tertunda

Maka mendahulukan Isya lebih utama, karena kehilangan keutamaan waktu Isya lebih berat dibanding kehilangan keutamaan waktu tarawih.

Apabila ternyata shalat Isya yang dikerjakan sebelumnya batal atau tidak sah (karena mungkin ia lupa wudhu atau terdapat najis di pakaian, atau lainnya), maka tarawih yang telah dilakukan berubah status menjadi shalat sunnah mutlak, bukan tarawih.

Hukum Berjamaah

  • Disunnahkan berjamaah.

  • Sah jika dilakukan sendirian.

  • Lebih utama berjamaah karena mengikuti praktik sahabat.

Dalam Fiqih Al-Manhaji disebutkan:

وتسن فيها الجماعة وتصح فرادى

Disunahkan berjamaah di dalamnya, dan sah jika dilakukan sendiri-sendiri.

Jumlah Maksimal dan Minimal

  • Jumlah sempurna: 20 rakaat.

  • Jika hanya mengerjakan sebagian dari 20 rakaat, tetap sah dan mendapat pahala tarawih menurut sebagian ulama, menurut sebagian lagi tidak . Dalam Busyral Karim disebutkan:

فلو اقتصر على بعض العشرين . . صح ، وأثيب عليه ثواب التراويح ، وقيل : لا

Maka apabila ia mencukupkan diri pada sebagian dari dua puluh rakaat, maka shalatnya sah, dan ia diberi pahala sebagai pahala tarawih. Namun ada pendapat lain yang mengatakan: tidak.

Keutamaan dan Kedudukannya di Antara Shalat Sunnah

Dalam Fathul Wahhab dijelaskan urutan keutamaan shalat sunnah. Tarawih berada setelah rawatib dan sebelum dhuha. Shalat rawatib lebih utama daripada tarawih karena Nabi terus-menerus menjaganya.

Dalam Fathul Wahhab disebutkan:

وَأَفْضَلُ النَّفْلِ صَلَاةُ عيد ثم الكسوف ثُمَّ خُسُوفٌ ثُمَّ اسْتِسْقَاءٌ ثُمَّ وِتْرٌ ثُمَّ رَكْعَتَا فَجْرٍ ثُمَّ بَاقِي الرَّوَاتِبِ ثُمَّ ‌التَّرَاوِيحُ ثم الضحى ثم ما يتعلق كركعتي الطواف والإحرام والتحية ثُمَّ سُنَّةُ الْوُضُوءِ عَلَى مَا يَأْتِي ثُمَّ النَّفَلُ الْمُطْلَقُ

“Dan shalat sunnah yang paling utama adalah shalat ‘Id, kemudian shalat gerhana matahari (kusuf), kemudian gerhana bulan (khusuf), kemudian shalat istisqa (meminta hujan), kemudian shalat witir, kemudian dua rakaat fajar (qabliyah Subuh), kemudian sisa shalat-shalat rawatib, kemudian tarawih, kemudian dhuha, kemudian shalat-shalat yang memiliki sebab tertentu seperti dua rakaat thawaf, dua rakaat ihram, dan shalat tahiyyatul masjid, kemudian sunnah wudhu sebagaimana akan dijelaskan, lalu setelah itu shalat sunnah mutlak

Hikmah 20 Rakaat

Sebagian ulama seperti al-Halimi menjelaskan bahwa:

  • Rawatib muakkadah di luar Ramadhan berjumlah 10 rakaat.

  • Di bulan Ramadhan dilipatgandakan menjadi 20 rakaat karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan dan peningkatan ibadah.

Anjuran Agar Tidak Terburu-Buru Dalam Shalat Tarawih

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab An-Nashaih Ad-Diniyah mengatakan:

فليحذر من التخفيف المفرط الذي يعتاده كثير من الجهلة في صلاتهم للتراويح، حتى ربما يقعون بسببه في الإخلال بشيء من الواجبات، مثل : ترك الطمأنينة في الركوع والسجود، وترك قراءة الفاتحة على الوجه الذي لابد منه بسبب العجلة، فيصير أحدهم عند الله تعالى لا هو صلى ففاز بالثواب، ولا هو ترك فاعترف بالتقصير وسلم من الإعجاب، الذي يبطل على العامل منهم عمله مع فعله للعمل. فاحذروا من ذلك، وتنبهوا له معاشر الإخوان.

وإذا صليتم التراويح أو غيرها من الصلوات فأتموا القيام والقراءة، والركوع والسجود، والخشوع والحضور، وسائر الأركان والآداب. ولا تجعلوا للشيطان عليكم سلطاناً، فإنه (لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ)؛ فكونوا منهم. (إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ)؛ فلا تكونوا منهم.

Hendaklah seseorang berhati-hati dari sikap terlalu meringankan (shalat) secara berlebihan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh banyak orang yang jahil dalam shalat tarawih mereka. Sampai-sampai, karena itu, mereka terjatuh pada kelalaian terhadap sebagian kewajiban, seperti meninggalkan thuma’ninah dalam rukuk dan sujud, atau tidak membaca Al-Fatihah sebagaimana mestinya karena tergesa-gesa. Akibatnya, di sisi Allah ia tidak dianggap melakukan shalat sehingga meraih pahala, tapi ia juga tidak merasa meninggalkan shalat tarawih sehingga ia tidak menyadari kelalaiannya dan tidak dapat menghindari rasa ujub yang dapat membatalkan amal orang yang beramal meskipun ia telah melakukannya. Maka berhati-hatilah dari hal tersebut dan waspadalah, wahai saudara-saudara sekalian.

Apabila kalian menunaikan shalat tarawih atau shalat lainnya, maka sempurnakanlah berdiri, bacaan, rukuk, sujud, kekhusyukan, kehadiran hati, serta seluruh rukun dan adabnya. Janganlah kalian memberi jalan bagi setan untuk menguasai diri kalian, karena:

“Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka.”

Maka jadilah kalian termasuk golongan itu.

“Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya (dengan Allah).”

Maka janganlah kalian termasuk golongan tersebut. RA(*)