Kalam Al-Habib Ali Al-Habsyi : Melepas Kebiasaan Bermaksiat

Posted on 25 February 2026


Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata pada malam Jumat, 6 Ramadhan 1326 H, di mushalla beliau, kepada dua orang yang bernama Umar:

“Saat nafsu terbiasa dengan sesuatu, maka melepaskannya dan berhenti darinya itu terasa berat. Maksiat ghibah (menggunjing) sudah terbiasa di lisan, sampai-sampai menjadi maksiat yang akrab dan dianggap biasa. Maka sangat sulit menjaga lisan agar tidak berbuat ghibah.

Jika seseorang melakukan maksiat, sering kali ia tidak sedih atas perbuatannya. Tetapi kalau kehilangan satu qirsy (uang receh), ia justru sedih, menyesal, dan terus mengingat-ingatnya. Ini termasuk kerusakan akhlak dan tanda bahwa urusan dunia lebih diutamakan daripada akhirat.”

Beliau melanjutkan:

“Semua manusia sedang menghadap perhatiannya kepada dunia, baik yang alim, yang saleh, yang baik, maupun yang jahil. Pikiran mereka tercurah untuk dunia: bagaimana memperbanyaknya, menambahnya, dan mendapatkannya. Adapun urusan akhirat, dikesampingkan.

Tempat mengadu hanyalah kepada Allah. Tidak ada tempat kembali bagi kita selain kepada Tuhan kita. Semoga Allah memandang kita dengan pandangan rahmat-Nya dan mengembalikan kita kepada-Nya dengan cara yang indah.”

Tentang Kemuliaan Hadrah Muhammadiyah

Dalam majelis muzakarah di Masjid Ar-Riyadh saat pembacaan maulid, beliau juga berkata:

“Hadrah Muhammadiyah (kedudukan Nabi Muhammad ) itu tinggi derajatnya di sisi Hadrah Ahadiyah (keagungan Allah Yang Maha Esa). Kedudukannya agung dan keadaannya mulia.
Allah tidak menciptakan makhluk kecuali karena kemuliaan kekasih ini .

Ketahuilah hak Hadrah Ahadiyah dan hak Hadrah Muhammadiyah. Cintailah kekasih ini dan ikutilah beliau. Di situlah kecintaan kepada Allah, yaitu dengan mengikuti kekasih yang paling agung .” Kemudian beliau membaca firman Allah:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Semoga Allah menganugerahkan kepadaku, kepada kalian, dan kepada orang-orang yang kita cintai, kesempurnaan dalam mengikuti kekasih ini dalam ucapan beliau, perbuatan beliau, niat beliau, kebiasaan beliau, dan ibadah beliau.

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang paling berbahagia dengan beliau dan paling dekat kedudukannya di sisi beliau.”

Nasihat Tentang Nikmat dan Kelalaian

Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi juba berkata berkata:

“Nikmat yang Allah khususkan kepada kita itu sangat besar. Dia memberikannya murni karena karunia dan kemurahan-Nya, bukan karena amal kita sebelumnya. Kita ini tidak akan mampu menunaikan syukur atas nikmat-nikmat itu.

Demi Allah, seandainya kita sujud kepada Allah di atas bara api untuk mensyukuri nikmat tersebut, kita tetap belum mampu menunaikan sepersepuluh dari rasa syukurnya.

Apa sebenarnya yang membuat hati ini keras? Bukankah Tuhan ini tidak pantas untuk kita berpaling dari-Nya, menjauh dari-Nya, bermaksiat kepada-Nya, atau lalai terhadap-Nya?

Namun walaupun begitu, Dia tetap memperlakukan kita dengan perlakuan yang baik. Dalam keadaan kita penuh sikap menjauh (jafa’), tidak Dia bongkar aib kita.

Engkau bermaksiat, wahai orang yang lalai, tetapi Dia menutup aibmu. Engkau berdosa, tetapi Dia mengampunimu. Dia tetap memberimu nikmat, padahal dengan nikmat itu engkau justru menguatkan diri untuk bermaksiat dan menentang-Nya.”

Banyaknya Kelalaian di Akhir Zaman

Beliau melanjutkan:

“Kelalaian di zaman ini sudah sangat banyak. Berpaling dari Allah juga semakin banyak. Sejak seseorang bangun pagi, matahari terbit sampai terbenam, ia sibuk bermaksiat kepada Tuhannya.

Malaikat pencatat amal buruk (di sebelah kiri) letih menulis. Sedangkan malaikat pencatat amal baik (di sebelah kanan) berdiri menunggu, hampir tidak menulis satu kebaikan pun.

Kalau seseorang membuka catatan keburukannya, ia akan melihatnya penuh. Kalau ia membuka catatan kebaikannya, ia akan melihatnya kosong.

Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun berlalu, sementara ia tetap dalam keadaan buruk seperti itu.

Sampai kapan engkau akan memikul dosa-dosa dan maksiat di atas punggungmu? Di balik dunia ini ada akhirat. Di balik kehidupan ini ada kematian. Setelah itu ada hisab, bahkan atas perkara sekecil naqir dan qitmir.”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Beliau menegaskan:

“Jika amalan seberat zarrah saja dihitung dan dicatat atasmu, bagaimana mungkin engkau tidak takut, wahai manusia? Bagaimana mungkin engkau tidak kembali kepada Allah? Bagaimana mungkin engkau tidak bertaubat?

Maksiat di zaman ini semakin banyak: Mata bermaksiat, Telinga bermaksiat, Lisan bermaksiat, Anggota badan bebas melakukan dosa. Maka ikatlah anggota badan kalian dari maksiat dan pelanggaran!”

Seruan Untuk Kembali Kepada Allah

“Kembalilah kalian kepada Allah dan bertaubatlah kepada-Nya. Cukuplah bagi orang yang bermaksiat itu berhenti dari maksiatnya. Cukuplah bagi orang yang berdosa itu berhenti dari dosanya. Cukuplah bagi orang yang berpaling itu berhenti dari sikap berpalingnya.

Semoga Allah mengembalikan kita kepada-Nya dengan cara yang indah. Semoga Dia menerima taubat orang-orang yang bermaksiat di antara kita. Mengampuni yang berdosa di antara kita.
Mendekatkan yang jauh di antara kita. Mengajari yang jahil di antara kita. Menyambungkan kembali yang terputus di antara kita.”

Beliau memperingatkan:

“Jangan kalian terbuai oleh kelembutan dan kesabaran Allah. Ingatlah Tuhan kalian Maha Mengetahui rahasia-rahasia kalian, niat-niat kalian, dan seluruh amal kalian. Semua itu tercatat dalam sebuah kitab (dan akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Dan firman-Nya:

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُم ۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80)

Beliau melanjutkan:

“Di belakang kalian ada pencatat yang menulis, dan ada Yang Menghitung yang menghitung. Tetapi kita tidak punya sandaran apa pun kecuali husnuzan (prasangka baik) kepada Tuhan kita. Semoga Allah memindahkan kita dari keadaan yang buruk ini kepada keadaan yang diridhai-Nya.

Semoga Allah menerima taubatku, taubat kalian, dan taubat siapa saja yang hadir di majelis mulia ini, taubat yang sungguh-sungguh, yang dengannya Allah membersihkan jasad, hati, dan ruh kita.”

Kemudian beliau berkata kepada hadirin:

“Mari kita bertaubat di tempat yang mulia ini. Ucapkanlah:

Kami bertaubat kepada Allah dari seluruh maksiat dan dosa, yang besar maupun yang kecil.

Semoga Allah menerima taubat ini dariku dan dari kalian, menjadikannya ikhlas karena wajah-Nya, dan tidak diikuti lagi dengan pembatalan atau pengingkaran.”

Beliau menutup dengan doa:

“Aku memohon kepada Allah, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di majelis agung ini untuk mendengar sifat-sifat Nabi yang mulia, semoga Dia mengumpulkan kita bersama beliau di tempat duduk yang benar (maq‘ad ṣidq) dalam keadaan Allah ridha kepada kita.

Semoga Allah menyambungkan hubungan kita dengan kekasih kita, Muhammad , dengan hubungan yang tidak terputus.

Semoga Allah memasukkan kita dalam lingkaran beliau, menempatkan kita bersama beliau pada derajatnya, menjadikan kita termasuk orang yang memperbanyak barisannya, mengikuti petunjuknya, dan berjalan di atas jalannya.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku, kepada kalian, kepada anak-anak kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita, dan seluruh yang hadir di majelis mulia ini.

Semoga Allah memulangkan kita dari majelis ini dalam keadaan dosa-dosa kita telah diampuni dan kekurangan-kekurangan kita telah diperbaiki.”RA(*)

*Sumber: Majmu’ah Al-Mawaid Ar-Ramdhaniyah, kumpulan kalam pilihan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi