Kalam Salaf: Yang Awam Harus Belajar Dan Yang Berilmu Harus Menyampaikan

Posted on 31 March 2026


Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitab Dakwatut Tammah mengatakan:

Kemudian tidak ada alasan bagi orang yang jahil untuk meninggalkan kewajiban menuntut ilmu yang telah Allah wajibkan atasnya,  sebagaimana sabda Nabi :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Dan tidak ada alasan pula bagi seorang ulama untuk meninggalkan mengajarkan ilmu yang telah Allah ajarkan kepadanya, yaitu ilmu yang wajib dipelajari, baik yang wajib secara Ain (wajib bagi setiap orang)maupun secara kifayah (kewajiban bersama.).

Dan ilmu yang dalam penyebutan dan penyebarannya dapat memberikan manfaat bagi kalangan khusus maupun umum adalah ilmu yang mengajak untuk menjauhi dunia menuju akhirat, dari menjauhi maksiat menuju ketaatan, dan menjauhi kelalaian menuju kesadaran.

Penyebutan dan penyampaiannya disertai dengan nasihat dan peringatan, menanamkan rasa takut dan kewaspadaan, serta menjelaskan janji dan ancaman, dan apa yang Allah siapkan berupa berbagai macam pahala bagi orang-orang yang taat dan berbuat baik, serta berbagai macam siksa bagi orang-orang yang berbuat buruk dan durhaka, sesuai dengan apa yang telah Allah jelaskan dan terangkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dan melalui lisan Rasul-Nya yang diutus dengan petunjuk dan penjelasan.

Dengan cara seperti itu, hati menjadi lembut dan khusyuk, jiwa menjadi tunduk dan patuh. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Disebutkan dalam hadits Hanzhalah radhiyallahu anhu, ia berkata kepada Rasulullah :

نَكُونُ عِنْدَكَ فَتُذَكِّرَنَا بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى كَأَنَّا نَرَاهَا رَأْيَ عَيْنٍ

Kami berada di sisimu, lalu engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka, hingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala kami.

Maka engkau dapati Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya penuh dengan penyebutan dorongan dan ancaman, kabar gembira dan peringatan, di sela-sela ayat dan hadits yang ada di dalamnya, serta penjelasan hukum-hukum dan rincian-rinciannya.

Dan majelis para ulama yang mengamalkan ilmunya serta para imam yang mendapat petunjuk dahulu dipenuhi dengan hal tersebut. Di antara mereka ada sekelompok yang duduk di tempat-tempat tinggi, lalu berkumpul di sekitar mereka banyak sekali kaum muslimin, kemudian mereka menasihati dan mengingatkan tentang hari-hari Allah dan nikmat-nikmat-Nya, serta mendorong mereka untuk menegakkan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dan manusia pun mengambil manfaat darinya, tampak pada diri mereka pengaruh-pengaruh yang terpuji berupa rasa takut, tangisan, serta bersegera dalam bertaubat dan kembali kepada Allah. Hal itu dikenal dan masyhur dalam perjalanan hidup mereka, baik dari kalangan terdahulu maupun yang datang setelahnya, seperti Al-Junaid bin Muhammad, pemimpin kaum sufi pada zamannya, Abu Jamrah Al-Baghdadi, dan Yahya bin Mu’adz Ar-Razi dari kalangan terdahulu.

Dan seperti: Imam Al-Ghazali, Syaikh Muhyiddin Abdul Qadir Al-Jilani, dan Syaikh As-Suhrawardi penulis Al-Awarif (dari kalangan belakangan), serta yang semisal mereka dari para pemimpin agama, para penyeru kepada kebaikan, dan para penunjuk jalan.

Saat pelaksanaan hal ini melemah dan dakwah kepada Allah menjadi sedikit, maka kelalaian pun menguasai kebanyakan manusia, dan berpaling dari akhirat serta condong kepada dunia dan perhiasannya menjadi umum di kalangan mereka. Hal itu disebabkan sedikitnya orang-orang yang mengingatkan dan para pendakwah kepada Allah yang memiliki mata hati dan keyakinan yang teguh.

Hingga majelis orang-orang yang dinisbatkan kepada ilmu dan agama menjadi seperti majelis orang-orang yang lalai, yang berpaling, dan sibuk dengan pembicaraan dunia serta keadaan para penghuninya. Maka karena itu, bencana pun merata, penyakit menjadi panjang, dan lisan-lisan yang mengingatkan kepada Allah menjadi bisu, serta kebodohan dan kelalaian menguasai kebanyakan manusia.

Sampai-sampai orang yang tidak mengetahui keadaan para pendahulu dari kalangan penebar kebenaran dan petunjuk mengira bahwa keadaan seperti itu memang sejak dahulu demikian adanya. Sungguh jauh sekali anggapan itu! Segala sesuatu milik Allah, dan tidak ada yang dapat mengembalikan apa yang telah pergi dan berlalu. Ilmu telah hilang dengan wafatnya para ahlinya, serta hilangnya para penuntut ilmu dan mereka yang mencintainya.

Dan dalam hadits yang shahih disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ أَهْلِهِ؛ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، إِذَا سُئِلُوا أَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ahlinya, hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.

Maka perhatikanlah, bagaimana ucapan orang-orang bodoh yang meniru-niru ini menjadi lebih berbahaya bagi manusia daripada diamnya mereka!

Dengan hal itu engkau mengetahui perbedaan antara ulama agama yang merupakan pewaris para nabi dan para imam petunjuk, dengan orang-orang bodoh yang menyerupai mereka dan menampakkan diri seperti mereka dalam pandangan mata dan keadaan lahiriah. Yang pertama memberi manfaat kepada manusia dengan ilmu mereka, membimbing manusia dengan petunjuk mereka, dan menjelaskan kepada manusia jalan Rabb mereka serta apa yang di dalamnya terdapat kemenangan dan keselamatan mereka di akhirat dan kehidupan mereka.nAdapun yang lain, mereka menyesatkan manusia dengan fatwa-fatwa mereka, dan mencampuradukkan urusan agama atas manusia.

Orang-orang bodoh yang meniru-niru para ulama dalam penampilan lahir mereka, namun mereka bangkrut dari hakikat ilmu dan ketakwaan, serta kosong dari bekal agama dan petunjuk, mereka termasuk golongan orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia, dan dikuasai oleh mengikuti hawa nafsu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Allah :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا • الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi: 103–104)

Dan sungguh telah tampak berbagai bid’ah dan perkara-perkara yang diada-adakan, serta telah tersebar kemungkaran, dan kelalaian serta berpaling dari Allah dan dari negeri akhirat telah menguasai kalangan khusus maupun umum,  maka tidak tersisa lagi alasan bagi para pecinta kebenaran dan ajaran agama dari kalangan orang-orang berilmu dan berkeyakinan untuk diam dari menjelaskan kebenaran dan petunjuk, serta mengajak kepada Allah dan kepada jalan-Nya dengan ucapan dan perbuatan, dan berusaha dengan segala kemampuan dan upaya untuk mematikan bid’ah dan perkara-perkara yang diada-adakan serta menghilangkan kemungkaran. Dan sungguh Nabi telah bersabda:

إِذَا ظَهَرَتِ الْفِتَنُ (أَوْ قَالَ الْبِدَعُ) وَسُبَّ أَصْحَابِي فَلْيُظْهِرِ الْعَالِمُ عِلْمَهُ؛ فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا

Apabila telah tampak fitnah (atau beliau bersabda: bid’ah) dan para sahabatku dicela, maka hendaklah seorang alim menampakkan ilmunya. Barang siapa tidak melakukannya, maka عليه laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia; Allah tidak menerima darinya amalan wajib maupun sunnah.

Demikian penjelasan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad tentang kewajiban menuntut ilmu dan menyebarkannya. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin ya robbal alamiin.RA(*)