Dalil-Dalil Kewajiban Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

Posted on 07 May 2026


Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitabnya Nashaihud Diniyah berkata tentang amar ma'ruf nahi munkar:

Amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk syiar agama yang paling agung, dan termasuk tugas terpenting bagi seorang mukmin. Allah telah memerintahkannya dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya
, mendorong dan menganjurkannya, serta memberikan ancaman keras bagi yang meninggalkannya.

Dalil-Dalil Al-Quran dan Hadits

Allah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran: 104)

Allah  juga berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian memerintahkan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ( QS Ali Imran: 110)

Dan Allah berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS At- At-Taubah: 71)

Dan Allah berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ * كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang mereka perbuat. (Al-Ma’idah: 78–79)

Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.(HR Muslim)

Beliau juga bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مُرُوا بِالْمَعْرُوفِ، وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ قَبْلَ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ فَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ، وَقَبْلَ أَنْ تَسْتَغْفِرُوهُ فَلَا يَغْفِرُ لَكُمْ. إِنَّ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ لَا يُقَرِّبُ أَجَلًا، وَإِنَّ الْأَحْبَارَ مِنَ الْيَهُودِ، وَالرُّهْبَانَ مِنَ النَّصَارَى لَمَّا تَرَكُوا الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ لَعَنَهُمُ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ أَنْبِيَائِهِمْ، ثُمَّ عَمَّهُمْ الْبَلَاءُ

Wahai manusia, perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang munkar sebelum kalian berdoa lalu tidak dikabulkan, dan sebelum kalian memohon ampun lalu tidak diampuni. Sesungguhnya amar ma’ruf dan nahi munkar tidak akan menghalangi rezeki dan tidak pula mempercepat datangnya ajal. Dahulu para pendeta Yahudi dan rahib Nasrani ketika meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar, Allah melaknat mereka melalui lisan para nabi mereka, lalu mereka pun ditimpa bencana secara menyeluruh. (HR Thabrani)

Beliau juga bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim. (HR Ahmad)

Ketika Nabi ditanya tentang manusia terbaik, beliau menjawab:

أَتْقَاهُمْ لِلرَّبِّ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ، وَآمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ

Orang yang paling bertakwa kepada Rabb-nya, paling menyambung silaturahmi, paling banyak memerintahkan kepada yang ma’ruf, dan paling banyak mencegah dari yang munkar. (HR Baihaqi)

Telah diriwayatkan bahwa Allah pernah mengazab sebuah negeri yang di dalamnya terdapat delapan belas ribu orang yang amal mereka seperti amal para nabi, namun mereka tidak marah karena Allah .

Keberanian Untuk Beramar Makruf Nahi Munkar

Dengan demikian telah jelas dan nyata bahwa tidak ada keringanan bagi siapapun untuk meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar ketika mampu dan memungkinkan. Siapa yang menyiakan dan merembehkannya, maka ia telah merendahkan hak Allah dan tidak mengagungkan hal-hal yang Allah  muliakan sebagaimana mestinya. Imannya telah melemah, dan rasa takut serta malunya kepada Allah pun berkurang.

Jika sikap diam dari melakukan amar ma’ruf nahi munkarnya disebabkan karena mengharap untuk memperoleh dunia, tamak terhadap kedudukan dan harta, serta takut bila ia memerintah atau melarang maka kedudukannya akan jatuh dan kewibawaannya berkurang di hadapan para pelaku maksiat dan orang-orang zalim yang ia nasihati, maka sungguh besar dosanya, dan dengan sikap diamnya itu ia telah menjerumuskan dirinya kepada kemurkaan dan kebencian Rabb-nya.

Adapun jika sikap diamnya  dari amar ma’ruf dan nahi munkar karena mengetahui bahwa bila ia melakukannya, maka akan ada bahaya yang menimpa diri atau hartanya, maka dalam keadaan demikian ia diperbolehkan untuk diam asalkan bahaya itu memang pasti terjadi, dan tidak ringan serta nyata pengaruhnya.

Namun, jika dalam keadaan demikian ia tetap beramar ma’ruf dan nahi munkar, maka ia akan meraih pahala yang besar dan ganjaran yang agung. Keteguhannya itu menjadi bukti kecintaannya kepada Allah, lebih mendahulukan-Nya daripada dirinya sendiri, serta besarnya semangat untuk menolong agama-Nya. Sebagaimana firman Allah :

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Perintahkanlah kepada yang ma’ruf, cegahlah dari yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang membutuhkan keteguhan hati. (QS Luqman: 17)

Betapa terpuji keadaan seorang hamba saat ia mendapatkan pukulan, dipenjara, atau dicaci karena menegakkan hak-hak Tuhan-nya, memerintahkan ketaatan kepada-Nya, dan melarang dari kemaksiatan kepada-Nya. Itulah jalan para nabi dan rasul, para wali yang saleh, dan para ulama yang mengamalkan ilmunya, sebagaimana disebutkan dalam kisah-kisah mereka dan dikenal dalam perjalanan hidup serta jejak mereka.

Tidak ada kebaikan pada sikap pengecut dan lemah yang menghalangi seseorang dari membela agama, serta melawan orang-orang zalim dan fasik agar mereka kembali kepada ketaatan kepada Allah Tuhan semesta alam. RA(*)