Kriteria Ahli Zikir Menurut Pandangan Ulama

Posted on 29 April 2026



Dzikir kepada Allah bukan sekadar amalan lisan, tetapi merupakan ruh kehidupan seorang mukmin. Namun muncul pertanyaan penting: kapan seseorang layak disebut sebagai “orang yang banyak berdzikir”?

Pertanyaan ini telah lama dibahas oleh para ulama, saat membahas firman Allah yang memberikan pujian khusus kepada hamba-hamba-Nya yang banyak berdzikir:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

...laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab: 35)

Ayat ini menunjukkan kedudukan tinggi bagi mereka yang banyak berdzikir. Namun, siapakah yang termasuk dalam golongan ini?

Penafsiran Para Ulama

Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan batasan “banyak berdzikir” tersebut:

1. Dzikir di Setiap Waktu

Al-Wahidi meriwayatkan bahwa Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berpendapat bahwa mereka adalah yang selalu berdzikir setelah shalat, berdzikir di pagi dan petang, berdzikir ketika di tempat tidur, berdzikir setiap bangun tidur, dan berdzikir saat pergi dan pulang. Ini menunjukkan bahwa dzikir mencakup seluruh aktivitas harian seorang muslim.

2. Dzikir dalam Semua Keadaan

Imam Mujahid rahumahullah memberikan standar yang lebih luas:

“Seseorang tidak termasuk golongan mereka hingga ia berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.”

Pendapat ini menegaskan bahwa dzikir bukan hanya rutinitas, tetapi keadaan hati yang terus hidup bersama Allah.

3. Menjaga Shalat dengan Sempurna

Imam Atha rahimahullah berpendapat:

“Barangsiapa menunaikan shalat lima waktu dengan hak-haknya, maka ia termasuk dalam golongan tersebut.”

Artinya, menjaga kualitas shalat adalah bagian inti dari dzikir yang agung.

Beribadah Bersama Keluarga

Rasulullah memberikan gambaran tentang amalan yang mengantarkan seseorang menjadi ahli dzikir:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا

Apabila seorang laki-laki membangunkan istrinya lalu mereka berdua shalat, atau mereka shalat dua rakaat bersama, maka keduanya dicatat sebagai orang yang banyak berdzikir kepada Allah.

Hadits ini menunjukkan bahwa amalan sederhana, seperti shalat malam bersama keluarga, dapat mengangkat derajat seseorang menjadi ahli dzikir.

Imam besar, Ibnu Shalah rahimahullah, memberikan kesimpulan tentang kriteria orang yang banyak berdzikir:

“Jika seseorang senantiasa menjaga dzikir-dzikir yang diajarkan (ma’tsurat), baik pagi, petang, dan dalam berbagai situasi khusus yang tertuang dalam kitab-kitab Amalul Yaum wal Lailah, maka ia termasuk orang yang banyak berdzikir.”

Beliau menambahkan:

“Yang tampak dari perkataan para imam adalah: apabila dzikir telah memenuhi sebagian besar waktunya, maka ia termasuk orang yang banyak berdzikir, dan ini disepakati.”

Dari berbagai penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa “banyak berdzikir” bukan diukur dari jumlah tertentu, tetapi dari dominasi dzikir dalam kehidupan seseorang.  Maka siapa saja yang menjadikan dzikir sebagai nafas kehidupan, dialah yang pantas menyandang gelar sebagai  orang-orang yang banyak mengingat Allah. RA(*)

*Sumber: Kitab Al-Qirthas