Posted on 16 May 2026
Allah ﷻ mengistimewakan beberapa hari pilihan sebagai ladang pahala, musim ampunan, dan kesempatan besar untuk mendekat kepada-Nya. Di antara musim kebaikan yang paling agung dalam Islam adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari-hari ini adalah waktu yang diagungkan oleh Allah ﷻ, dipuji oleh Rasulullah ﷺ, dan dimuliakan oleh para ulama salaf.
Pada hari-hari itu, pahala amal saleh dilipatgandakan, dzikir dianjurkan untuk diperbanyak, puasa sangat dianjurkan, dan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul menunaikan ibadah haji di tanah suci. Di dalamnya terdapat Hari Arafah, hari pengampunan dosa, dan Hari Nahr (Idul Adha), hari yang termasuk paling agung di sisi Allah ﷻ.
Karena itu, para ulama menyebut sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagai musim perlombaan menuju ridha Allah. Orang-orang saleh mempersiapkan diri menyambutnya sebagaimana mereka mempersiapkan diri menyambut Ramadan. Mereka tidak ingin satu pun dari hari-hari mulia itu berlalu tanpa ibadah, dzikir, dan amal saleh.
Keagungan 10 Hari Pertama Dalam Al-Quran
Keagungan sepuluh hari pertama Dzulhijjah tampak jelas ketika Allah ﷻ bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al-Fajr: 1–2)
Mayoritas ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari berkata:
والصواب من القول في ذلك عندنا: أنها عشر الأضحى لإجماع الحجة من أهل التأويل عليه
Pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa itu adalah sepuluh hari Idul Adha, Karena para ulama ahli tafsir yang menjadi hujjah telah bersepakat tentang hal itu. (Tafsir Thabari juz 23 hal 398)
Demikian pula Ibnu Katsir menjelaskan:
والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف
“Yang dimaksud dengan malam-malam sepuluh adalah sepuluh hari Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan banyak ulama salaf maupun khalaf.” (Tafsir Ibnu Katsir juz 9 hal 390)
Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali juga menegaskan:
وَأَمَّا "اللَّيَالِي الْعَشْرُ" فَهِيَ عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ؛ هَذَا الصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ جُمْهُورُ الْمُفَسِّرِينَ مِنَ السَّلَفِ وَغَيْرِهِمْ، وَهُوَ الصَّحِيحُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ؛ رُوِيَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ
Adapun yang dimaksud dengan ‘malam-malam yang sepuluh’, maka itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah. Inilah pendapat yang sahih, yang dipegang oleh mayoritas ahli tafsir dari kalangan salaf dan selain mereka. Dan inilah pula riwayat yang sahih dari Ibnu Abbas; diriwayatkan darinya melalui lebih dari satu jalur. (Lathaiful Maarif hal 470)
Maka, cukup menjadi kemuliaan bagi hari-hari ini bahwa Allah ﷻ bersumpah dengannya. Dan Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.
Amal Saleh pada Hari-Hari Ini Lebih Dicintai Allah
Di antara dalil paling agung tentang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah adalah hadis sahih dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang sepuluh hari Dzulhijjah:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ الْعَشْرِ أَفْضَلَ من العمل فِي هَذِهِ
Tidak ada amal pada sepuluh hari mana pun yang lebih utama daripada amal pada hari-hari ini.
Para sahabat bertanya:
“Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau ﷺ menjawab:
وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ
“Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan mempertaruhkan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan apa pun.” (HR al-Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini. (HR Turmudzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa seluruh bentuk amal saleh pada hari-hari tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar: shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, berbakti kepada orang tua, dzikir, puasa, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya.
Keutamaan Puasa pada Hari-Hari Dzulhijjah
Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada hari-hari tersebut adalah berpuasa, khususnya sembilan hari pertama Dzulhijjah. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Hafshah binti Umar radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا: صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ.
“Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan empat perkara: puasa Asyura, puasa pada sepuluh hari (pertama Dzulhijjah), puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan lainnya)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sembilan hari pertama, karena tanggal kesepuluh adalah hari Idul Adha dan diharamkan berpuasa padanya. Ini diperkuat dengan riwayat lain dari sebagian istri Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Sunan Abi Dawud disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ
Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah dan pada hari Asyura.
Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dan disahihkan oleh sejumlah ulama lainnya.
Adapun riwayat dari Sayidah Aisyah radhiyallahu anha dalam Shahih Muslim:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ.
Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa pada sepuluh hari Dzulhijjah.(HR Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa hadits Sayidah Aisyah radhiyallahu anha merupakan bentuk penafian berdasarkan apa yang beliau lihat, sedangkan hadits Sayidah Hafshah radhiyallahu anha adalah penetapan. Dalam kaidah ilmu hadis, riwayat yang menetapkan didahulukan daripada riwayat yang sekadar menafikan.
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa puasa sembilan hari pertama Dzulhijjah tetap dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.
Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi ﷺ:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini. (HR Turmudzi)
Dalam riwayat lain disebutkan:
مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى.
“Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dilakukan pada sepuluh hari Idul Adha. (HR Baihaqi)
Memperbanyak Dzikir, Takbir, dan Tahmid
Hari-hari Dzulhijjah juga merupakan waktu terbaik untuk menghidupkan dzikir kepada Allah ﷻ. Dalam Al-Quran, Allah ﷻ berfirman:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. (QS. Al-Hajj: 28)
Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma mengatakan tentang ayat ini:
“Yang dimaksud hari-hari yang telah ditentukan (Ayyam Ma’lumat) adalah sepuluh hari (pertama Dzulhijjah).”
Anjuran untuk memperbanyak dzikir di hari-hari tersebut juga dikuatkan dengan sabda Nabi ﷺ:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal pada hari-hari itu lebih dicintai-Nya daripada sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut tahlil, takbir, dan tahmid. (HR Ahmad)
Semangat Salaf dalam Menghidupkan Hari-Hari Ini
Generasi salaf sangat memahami keagungan musim ibadah ini. Mereka tidak menyia-nyiakan satu detik pun dari hari-harinya. Imam Said bin Jubair radhiyallahu anhu yang merupakan salah satu periwayat hadits tentang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah, apabila beliau telah masuk hari-hari tersebut, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan mengerahkan semua kemampuan yang ada pada dirinya. Bahkan diriwayatkan bahwa beliau berkata:
“Jangan kalian padamkan lampu-lampu kalian pada malam-malam sepuluh hari itu.”
Disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa Dahulu Sahabat Abdullah bin Umar serta Sahabat Abu Hurairah keluar menuju pasar pada hari-hari sepuluh Dzulhijjah sambil bertakbir, lalu orang-orang ikut bertakbir karena takbir keduanya. Imam Muhammad bin Ali juga bertakbir setelah shalat-shalat sunnah.
Riwayat ini menunjukkan bagaimana para salaf menghidupkan sepuluh hari Dzulhijjah dengan memperbanyak takbir dan dzikir secara terang-terangan, bahkan di pasar-pasar dan tempat umum, agar syiar Allah tampak hidup di tengah kaum muslimin.
Mana yang Lebih Utama: Sepuluh Hari Dzulhijjah atau Sepuluh Malam Terakhir Ramadan?
Para ulama menjelaskan secara rinci dalam masalah ini.
Sebagian ulama menyatakan: Siang hari sepuluh pertama Dzulhijjah lebih utama, karena di dalamnya terdapat Hari Arafah dan Hari Nahr (Idul Adha). Sedangkan malam sepuluh terakhir Ramadan lebih utama, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Dengan demikian, masing-masing memiliki keutamaan tersendiri sesuai sisi kemuliaannya.
Hari Arafah sendiri memiliki keutamaan luar biasa. Pada hari itu dosa dua tahun diampuni bagi orang yang berpuasa. Nabi ﷺ pernah ditanya mengenai puasa Arafah maka beliau menjawab:
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Dapat menghapus dosa tahun yang lewat dan yang akan datang. (HR Muslim)
Adapun Hari Nahr disebut oleh Nabi ﷺ sebagai hari paling agung di sisi Allah ﷻ dalam sabdanya:
أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ
Hari teragung di sisi Allah adalah Hari Nahr (10 Dzulhijjah) kemudian Hari Qarr (11 Dzulhijjah). (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim)
Menjadi jelas bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah kesempatan besar yang tidak pantas disia-siakan oleh seorang mukmin. Betapa banyak manusia yang dahulu bersama kita, namun kini telah berada di alam kubur dan tidak lagi mampu menambah amal saleh. Sedangkan kita masih diberi umur, kesehatan, dan kesempatan.
Maka hendaknya seorang muslim menyambut hari-hari mulia ini dengan: bertaubat nasuha, memperbanyak shalat dan tilawah, memperbanyak puasa, memperbanyak dzikir dan takbir, bersedekah, berbakti kepada orang tua, menjaga lisan dan hati dari dosa, serta memperbanyak doa dan istighfar.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan musim-musim kebaikan dan meraih ampunan serta ridha-Nya. Aamiin Ya Robbal Alamiin.RA(*)