Posted on 09 May 2026
Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitabnya Nashaihud Diniyah berkata tentang amar ma'ruf nahi munkar:
Sesungguhnya marah karena Allah dan rasa cemburu ketika perintah-perintah-Nya ditinggalkan serta larangan-larangan-Nya dilakukan adalah sifat para nabi dan orang-orang yang murni keimanannya. Dengan sifat itulah mereka dikenal dan masyhur. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi ﷺ tidak marah untuk dirinya sendiri. Namun apabila ada sesuatu dari hal-hal yang dimuliakan oleh Allah yang dilanggar, maka tidak ada seorang pun yang dapat meredakan kemarahannya.
Nabi ﷺ bersabda mengenai Sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu:
قَوْلُهُ الْحَقُّ، وَمَا لَهُ فِي النَّاسِ مِنْ صَدِيقٍ
Ia mengatakan kebenaran dan tidak peduli walaupun tidak ada manusia yang menjadi sahabatnya.
Allah ﷻ juga berfirman untuk mensifati hamba-hamba-Nya yang dicintai:
أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ
Bersikap lemah lembut kepada orang-orang mukmin, tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela. (Al-Ma’idah: 54)
Maka menjadi jelas bahwa seorang mukmin yang sempurna imannya tidak akan mampu menahan diri ketika melihat kemungkaran. Ia akan berusaha mengubahnya, selama ia tidak terhalang oleh sesuatu yang memang tidak sanggup ia hadapi.
Adapun orang munafik dan orang yang sangat lemah imannya, saat mereka melihat kemungkaran mereka mencari-cari alasan dan membela diri dengan alasan-alasan lemah yang tidak dapat dijadikan hujah di hadapan Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
Engkau akan melihat mereka, apabila ia dicela atau dizalimi dalam urusan harta, maka mereka segera bangkit dengan penuh semangat dan amarah untuk membela diri dengan kemurkaan yang sangat besar. Mereka akan memusuhi orang itu bahkan memutus hubungannya dalam tempo yang sangat lama. Tetapi saat hak-hak Allah dilanggar, mereka bersikap tidak peduli.
Sedangkan orang-orang mukmin yang murni imannya, sikap mereka adalah kebalikan dari itu. Mereka marah karena Allah dan bukan karena kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menjauhi orang yang bermaksiat kepada Allah dan orang-orang yang meninggalkan perintah-Nya, serta memutus hubungan dengannya apabila mereka tidak mau menerima kebenaran. Namun mereka memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang menzalimi atau mencaci mereka secara pribadi.
Itulah perbedaan antara kedua golongan tersebut. Maka jadilah kalian bersama golongan yang memiliki keadaan terbaik dan jalan yang paling lurus. Allah ﷻ berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ إِنَّ الأَرْضَ لِلّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah, diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Al-A‘raf: 128). RA(*)