Posted on 29 August 2025
Ketika kita berbicara tentang sosok Nabi terakhir, penutup para rasul, maka nama pertama yang terlintas adalah Muhammad ﷺ. Nama mulia ini bukan sekadar identitas, melainkan tanda kebesaran dan kemuliaan. Allah ﷻ sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Muhammad adalah utusan Allah.” (QS. Al-Fath: 29)
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul.” (QS. Ali ‘Imran: 144)
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Mengapa Diberi Nama Muhammad ?
Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti’ab dan Ibnu Asakir dalam Tarikhnya meriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa ketika Rasulullah ﷺ lahir, kakeknya Abdul Muthalib menyembelih seekor kambing sebagai aqiqah lalu menamainya Muhammad (yang selalu dipuji). Orang-orang pun bertanya, “Mengapa engkau tidak menamainya dengan nama leluhurmu?”
Abdul Muthalib menjawab penuh keyakinan:
“Aku ingin dia dipuji oleh Allah di langit, dan dipuji oleh manusia di bumi.”
Sebuah harapan yang kelak benar-benar menjadi kenyataan.
Muhammad (Yang selalu dipuji) , Bukan “Mudzammam” (yang selalu dicela)
Orang Quraisy yang membenci Nabi ﷺ dahulu sering mencela beliau dengan panggilan Mudzammam (yang tercela). Namun Rasulullah ﷺ menanggapinya dengan ketenangan yang luar biasa.
Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda:
أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ؟ يَشْتُمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وَأَنَا مُحَمَّدٌ
“Tidakkah kalian heran bagaimana Allah melindungiku dari celaan
Quraisy dan kutukan mereka? Mereka mencaci ‘Mudzammam’, melaknat ‘Mudzammam’,
padahal aku adalah Muhammad.”
(HR. al-Bukhari)
Nama yang Tidak Pernah Dipakai Sebelumnya
Qadi ‘Iyaḍ menjelaskan dalam asy-Syifa’: “Pada dua nama beliau ﷺ, yakni Muhammad dan Ahmad, terdapat keajaiban dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan keistimewaan yang tiada tanding. Allah ﷻ dengan kebijaksanaan-Nya menjaga agar tidak seorang pun dinamai dengan kedua nama itu sebelum masa beliau.
Adapun Ahmad, yang disebut dalam kitab-kitab samawi dan yang telah disampaikan kabar gembiranya oleh para nabi terdahulu, Allah menghalangi siapa pun dari menamakannya kepada selain beliau, sehingga tidak ada seorang pun yang dipanggil dengan nama itu sebelumnya. Hal ini agar tidak timbul kerancuan bagi orang yang lemah hatinya, atau muncul keraguan dan kebimbangan.
Begitu pula dengan nama Muhammad. Tidak pernah seorang pun dari bangsa Arab, maupun selain mereka, memakai nama itu, hingga mendekati masa kelahiran beliau ﷺ. Saat itu mulai tersiar kabar bahwa akan lahir seorang nabi bernama Muhammad. Maka sebagian kecil dari orang Arab menamai anak-anak mereka dengan nama itu, berharap salah satunya adalah sang nabi yang dijanjikan. Namun Allah lebih mengetahui di mana Ia meletakkan risalah-Nya.”
Nama Nabi Tertulis di Arasy dan Surga
Banyak riwayat menyebutkan bahwa nama Muhammad ﷺ telah tertulis di alam malakut sejak awal penciptaan.
Diriwayatkan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam ketika melakukan kesalahan, ia memohon ampun dengan menyebut nama Muhammad ﷺ:
اللَّهُمَّ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ إلأا غفرت لي
“Ya Allah, dengan hak Muhammad , ampunilah aku.”
Allah ﷻ lalu berfirman kepadanya: “Wahai Adam, dari mana engkau mengenal Muhammad ?”
Nabi Adam menjawab: “Ketika Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepalaku ke ‘Arsy, dan kulihat tertulis di atasnya: ‘La ilaha illa Allah Muhammad rasulullah’. Maka aku tahu bahwa tiada seorang pun yang Engkau sandingkan namanya dengan nama-Mu kecuali ia adalah makhluk-Mu yang paling mulia.”
Allah ﷻ pun menegaskan: “Engkau benar, wahai Adam. Dia adalah nabi terakhir dari keturunanmu. Seandainya bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu.”(HR. al-Ḥakim, al-Bayhaqi, dan lainnya)
Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan, ketika Rasulullah ﷺ dimi‘rajkan ke langit, beliau bersabda:
مَا مَرَرْتُ بِسَمَاءٍ إِلَّا وَجَدْتُ اسْمِي فِيهَا مَكْتُوبًا: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
“Tidaklah aku melewati satu langit pun, melainkan aku mendapati namaku tertulis di sana: Muhammad Rasulullah.” (HR. Abu Ya‘la, al-Ṭabarani, Ibnu ‘Asakir)
Dalam Riwayat Abu Nuaim disebutkan bahwa di dalam surga, setiap pohon, setiap dedaunan, bahkan pintu-pintu istana, terukir kalimat agung:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah
Rasulullah ﷺ sendiri memiliki cincin dari perak dengan ukiran kalimat:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
Ini menegaskan betapa nama Muhammad ﷺ bukan sekadar nama, tetapi simbol penghubung antara langit dan bumi, antara Allah dan hamba-Nya.
Nama yang Menentukan Keabsahan Syahadat
Para ulama menjelaskan, seseorang tidak dianggap sah Islamnya hingga ia mengucapkan syahadat dengan menyebut:
أشهد أن محمداً رسول الله
“Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Menyebut nama “Ahmad” saja, atau gelar lain beliau, tidak mencukupi. Imam al-Halimi memang membolehkan dengan syarat ditambahkan “Abu al-Qasim” (kunyah beliau), dan pandangan ini diikuti oleh al-Isnawi. Namun, pendapat yang lebih kuat — sebagaimana ditegaskan dalam Syarḥ al-Muhadzdzab — adalah bahwa dalam syahadat dan tasyahhud harus disebut “Muhammad ”, bukan nama yang lain.
Ini menunjukkan betapa nama Muhammad ﷺ adalah pintu gerbang keislaman.
Memberi Nama Muhammad , Janji Surga
Sebuah hadis penuh harapan diriwayatkan oleh Ibnu Bukair dalam Juz’-nya, dari Abu Umamah al-Bahili:
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا حُبًّا لِي وَتَبَرُّكًا بِاسْمِي، كَانَ مَوْلُودُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa dikaruniai anak, lalu ia menamainya Muhammad karena cinta kepadaku dan mencari berkah dari namaku, maka anak itu kelak akan berada di surga.” (HR. Ibn Bukair; dinilai sebagai hadis terbaik dalam bab ini).
Betapa mulianya, bahkan pemberian nama Muhammad adalah doa dan jalan menuju surga.
Makna Nama Muhammad
Sebagian ulama seperti Ibn Mu‘ṭi berpendapat bahwa Muhammad adalah “ʿalam murtajal” (nama yang dibuat begitu saja, tanpa asal kata). Namun para ulama bahasa mengoreksinya.
Yang benar, Muhammad berasal dari ism maf‘ul (isim yang bermakna objek) dari kata kerja ḥammada (حمّد) yang bermakna “memuji berulang-ulang”.
Dalam Ṣiḥaḥ al-Lughah disebutkan:
الحَمْدُ الذي كثرت خِصاله المحمودة
“Pujian bagi seseorang yang memiliki banyak sekali sifat terpuji.”
Dengan demikian, Muhammad berarti: “Seseorang yang sangat banyak dipuji karena sifat-sifatnya yang luhur.”
Nama Muhammad dalam Syair Arab
Bangsa Arab sangat menghargai bahasa dan puisi. Maka tidak heran jika para penyair pun mengagungkan nama Muhammad ﷺ.
Dalam riwayat al-Bayhaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah, disebutkan bahwa suatu ketika para sastrawan Arab berdebat: “Syair manakah yang paling indah di antara karya orang Arab?”
Mereka sepakat pada bait yang diucapkan oleh penyair kenamaan, Sahabat Ḥassan bin Thabit, penyair Rasulullah ﷺ:
وَشَقَّ لَهُ مِنِ اسْمِهِ لِيُجِلَّهُ … فَذُو الْعَرْشِ مَحْمُودٌ وَهٰذَا مُحَمَّدُ
“Allah mengambil dari nama-Nya sebuah nama untuk memuliakan beliau.
Maka, Pemilik ‘Arsy Maḥmud (Terpuji), dan inilah Muhammad .”
Syair ini mengandung makna mendalam: Allah ﷻ dinamai Maḥmud (Yang Maha Terpuji), dan Rasul-Nya dinamai Muhammad (yang banyak dipuji). Keduanya bertemu dalam satu akar kata “ḥamd” (pujian), seakan nama beliau menjadi cermin kemuliaan Ilahi di muka bumi.
Telah nyata harapan Abdul Muthalib saat menamai cucunya dengan Muhammad ﷺ: “Aku ingin dia dipuji oleh Allah di langit, dan dipuji oleh manusia di bumi.” Hari ini, jutaan manusia menyebut namanya dengan penuh cinta setiap saat dalam azan, iqamah, shalawat, khutbah, bahkan dalam hati yang rindu. RA(*)
*Sumber: Nahjatus Sawiyah fil Asma Nabawiyah karya Imam Suyuthi