Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ Dan Peristiwa-Peristiwa Agung Yang Mengiringinya

Posted on 26 August 2026



Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah pada hari Senin, pada bulan Rabiul Awal, di tahun Gajah. Ada yang mengatakan beliau lahir pada tanggal dua, ada yang mengatakan tanggal delapan, tanggal sembilan, dan ada pula yang mengatakan tanggal dua belas. Pendapat terakhir inilah yang masyhur di kalangan mayoritas ulama.

Hari Senin merupakan hari yang penuh keberkahan. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau berkata, Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

وُلِدَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَاسْتُنْبِئَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَخَرَجَ مُهَاجِرًا مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَقَدِمَ الْمَدِينَةَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَتُوُفِّيَ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَرَفَعَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ

Rasulullah dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi Nabi pada hari Senin, keluar berhijrah dari Makkah menuju Madinah pada hari Senin, tiba di Madinah pada hari Senin, beliau wafat pada hari Seninm dan mengangkat Hajar Aswad para Hari Senin. (HR Ahmad)

Nama Muhammad

Dalam sirah Halabiyah disebutkan bahwa ketika saat kelahiran Nabi semakin dekat, datanglah seseorang kepada Ibunda Nabi Sayidah Aminah dalam mimpi dan berkata:

لَهَا: قُولِي إِذَا وَلَدْتِيهِ: أُعِيذُهُ بِالْوَاحِدِ مِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ، ثُمَّ سَمِّيهِ مُحَمَّدًا

“Ucapkanlah ketika engkau melahirkannya: Aku memohonkan perlindungan baginya kepada Yang Maha Esa dari kejahatan setiap orang yang dengki. Kemudian namailah dia Muhammad.

Maka, ketika Rasulullah lahir, ibunya menamainya Muhammad karena hal tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa kakeknya, Abdul Muthalib, menamainya demikian karena ilham dari Allah.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

لَمَّا ولُدَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْهُ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بِكَبْشٍ، وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا، فَقِيلَ لَهُ: يَا أَبَا الْحَارِثِ! مَا حَمَلَكَ عَلَى أَنْ تُسَمِّيهِ مُحَمَّدًا؟ وَلَمْ تُسَمِّهِ بِاسْم آبَائِهِ؟ قَالَ: أَرَدْتُ أَنْ يَحْمَدَهُ الله فِى السَّمَاءِ، وَيَحْمَدَهُ النَّاسُ فِى الأَرْضِ

Saat Nabi dilahirkan, Abdul Muthalib menyembelih seekor domba sebagai akikahnya dan menamainya Muhammad. Maka beliau pun ditanya, “Hai Aba Harits, Apa yang mendorongmu menamainya Muhammad (Yang terpuji), dan bukan dengan nama salah seorang dari leluhurmu?”

Beliau menjawab, “Aku berharap agar Allah memujinya di langit, sebagaimana manusia memujinya di bumi.”

Dan Allah telah mewujudkan harapannya tersebut.

Kesaksian Sayyidatuna Aminah Saat Melahirkan

Dalam Sirah Nabawiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan disebutkan bahwa Sayyidatuna Aminah radhiyallahu anha berkata:

Ketika aku merasakan apa yang biasa dirasakan kaum wanita saat melahirkan, aku melihat beberapa wanita yang tinggi seperti pohon kurma. Seakan-akan mereka adalah keturunan Abdul Manaf. Mereka mengelilingiku. Aku belum pernah melihat wajah yang lebih bercahaya daripada wajah mereka.

Seakan-akan salah seorang dari mereka mendekat kepadaku, lalu aku bersandar kepadanya. Aku mulai merasakan rasa sakit persalinan dan semakin kuatlah rasa mulas yang kurasakan.

Kemudian seakan-akan salah seorang dari mereka mendekat kepadaku dan memberiku seteguk air yang lebih putih daripada susu, lebih dingin daripada salju, dan lebih manis daripada madu murni. Ia berkata, ‘Minumlah.’ Maka aku meminumnya.

Kemudian wanita kedua berkata, ‘Minumlah lagi.’ Maka aku menambah minumanku. Setelah itu, ia mengusap perutku dengan tangannya dan berkata, ‘Dengan nama Allah, keluarlah dengan izin Allah.’

Mereka kemudian berkata kepadaku, ‘Kami adalah Asiyah, istri Fir‘aun, dan Maryam putri Imran. Sedangkan mereka ini adalah para bidadari.’”

Di antara hikmah hadirnya Sayidah Maryam dan Sayidah Asiyah adalah karena keduanya kelak menjadi dua istri beliau di surga, bersama Kultsum, saudari Nabi Musa alaihissalam.

Allah telah menjaga para wanita tersebut sehingga tidak ada seorang pun yang menyentuh mereka. Dalam al-Jami‘ ash-Shaghir disebutkan:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى زَوَّجَنِي فِي الْجَنَّةِ مَرْيَمَ بِنْتَ عِمْرَانَ، وَامْرَأَةَ فِرْعَوْنَ، وَأُخْتَ مُوسَى

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala menikahkan aku di surga dengan Maryam putri Imran, istri Fir‘aun, dan saudari Musa.”

Keadaan Nabi Ketika Dilahirkan

Nabi dilahirkan dalam keadaan menghadap kiblat, mengangkat kepala ke arah langit, meletakkan kedua tangannya di atas tanah, telah dikhitan, dalam keadaan terputus pusarnya, jari-jari tangannya tergenggam, dan menunjuk dengan jari telunjuknya seakan-akan sedang bertasbih dengannya. Beliau terlahir dalam keadaan beresih tidak terkena sedikit pun kotoran yang biasa menyertai proses kelahiran.

Dalam Khasaisul Kubra, Imam Suyuthi menukilkan bahwa ucapan pertama yang keluar dari lisan Nabi saat masih dalam buaian adalah:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya. Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyak pujian. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.

Abdul Muthalib Menyambut Kelahiran Cucunya

Ketika Nabi dilahirkan, Sayidah Aminah mengutus seseorang kepada kakeknya. Saat itu Abdul Muthalib sedang melakukan tawaf di Baitullah pada malam tersebut.

Utusan Sayidah Aminah mengatakan kepada Abdul Muthalib : “Wahai Abu al-Harits, telah lahir seorang bayi untukmu. Ia memiliki keadaan yang menakjubkan.”

Abdul Muthalib terkejut beliau mengkhawatirkan keadaan cucunya, dan berkata, “Apakah ia bukan manusia yang sempurna?”

Aminah menjawab, “Tentu saja. Namun, ia lahir dalam keadaan bersujud, kemudian mengangkat kepala dan jarinya ke arah langit.”

Sayidah Aminah kemudian memperlihatkan bayi tersebut kepadanya. Abdul Muthalib memandang dan menggendongnya, kemudian membawanya masuk ke dalam Ka‘bah. Ia berdoa kepada Allah Ta‘ala dan bersyukur atas karunia yang diberikan kepadanya. Setelah itu, ia keluar dan menyerahkan bayi tersebut kembali kepada Aminah.

Keajaiban pada Malam Kelahiran Nabi

Berbagai keajaiban dan peristiwa luar biasa terjadi pada malam kelahiran beliau . Di antaranya adalah munculnya cahaya yang menyertai kelahiran beliau hingga menerangi istana-istana Syam dan wilayah Romawi.

Cahaya yang Menerangi Syam

Diriwayatkan dari Sayidah asy-Syafffa’, ibu dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhuma, yang membantu proses kelahiran beliau , bahwa beliau  berkata:

لَمَّا وُلِدَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَوَقَعَ عَلَى يَدَيَّ فَاسْتَهَلَّ، سَمِعْتُ قَائِلًا يَقُولُ: رَحِمَكَ اللهُ، وَأَضَاءَ لِي مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ.

“Ketika Rasulullah lahir dan beliau berada di tanganku, lalu menangis untuk pertama kalinya, aku mendengar seseorang berkata, ‘Semoga Allah merahmatimu.’ Dan cahaya menerangi apa yang berada di antara timur dan barat.”

Ibnu as-Sakan juga meriwayatkan dari hadis Utsman bin Abi al-'Ash, dari ibunya, Fatimah binti Abdullah ats-Tsaqafiyyah, bahwa beliau radhiyallahu anha menyaksikan kelahiran Nabi . Ia berkata:

فَمَا شَيْءٌ لَيْلًا إِلَّا وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنَ الْبَيْتِ، وَإِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى النُّجُومِ تَدْنُو حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ: لَتَقَعَنَّ عَلَيَّ

“Tidaklah sesuatu terjadi pada malam itu kecuali aku melihatnya dari rumah. Aku bahkan melihat bintang-bintang mendekat, sampai-sampai aku berkata, ‘Sungguh, bintang-bintang itu seakan-akan akan jatuh menimpaku.’” Riwayat tersebut juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

Ibnu Sa‘d meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

رَأَتْ أُمِّي حِينَ وَضَعَتْنِي أَنَّهُ سَطَعَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَ لَهُ قُصُورَ بُصْرَى.

“Ibuku melihat ketika melahirkanku bahwa keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana Bushra.”

Dalam riwayat lain, Sayidah Aminah berkata:

لَمَّا وَضَعْتُهُ خَرَجَ مَعَهُ نُورٌ أَضَاءَ لَهُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، فَأَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ وَأَسْوَاقُهَا حَتَّى رَأَيْتُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى

“Ketika aku melahirkannya, keluar bersamanya cahaya yang menerangi apa yang berada di antara timur dan barat. Dengan cahaya itu, istana-istana dan pasar-pasar Syam menjadi terang, hingga aku dapat melihat leher-leher unta di Bushra.”

Syair Sayyiduna Abbas radhiyallahu anhu tentang kelahiran Nabi

Sayyiduna Abbas radhiyallahu anhu mengisyaratkan terkait cahaya pada hari kelahiran Nabi dalam syair yang beliau sampaikan untuk memuji Rasulullah ketika beliau kembali dari Perang Tabuk.

Dalam perjalanan pulang dari peperangan tersebut, Sayidina Abbas berkata kepada Rasulullah , “Wahai Rasulullah, aku ingin memujimu dengan syair.”

Rasulullah menjawab, “Katakanlah. Semoga Allah selalu menjaga gigimu.”

Kemudian Abbas mengucapkan sebuah qasidah:

قَبْلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلالِ *** وَفِي مُسْتَوْدَعٍ حَيْثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ

Sebelum turun ke bumi, engkau hidup nyaman di dalam naungan (surga). Dan dalam tempat terlindung (sulbi Adam) ketika daun-daun (surga) dipetik (oleh Nabi Adam dan Sayidatuna Hawa ketika pakaian keduanya terlepas, mereka memetik daun surga untuk menutupi aurat)

ثُمَّ هَبَطْتَ الْبِلادَ لا بَشَرٌ*** أَنْتَ وَلا مُضْغَةٌ وَلا عَلَقُ

Lalu engkau turun ke bumi (dalam sulbi Nabi Adam),  sedang engkau belum berwujud manusia, bukan pula janin mau pun `alak (segumpal darah sebelum menjadi janin)

بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَبُ السَّفِينَ وَقَدْ*** أَلْجَمَ نَسْرًا وَاهَلَهُ الْغَرَقُ

Tetapi adalah nutfah. Engkau berada dalam perahu (Nabi Nuh) ketika Nasr (berhala kaum Nuh) ditundukan dan para penyembahnya tenggelam.

تُنْقَلُ مِنْ صَالِبٍ إِلَى رَحِمٍ*** إِذَا مَضَى عَالِمٌ بَدَا طَبَقُ

Engkau berpindah dari sulbi menuju rahim. Dari suatu generasi berlalu kepada generasi yang lain.

حَتَّى احْتَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِنُ*** مِنْ خَنْدَفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّطْقُ

Sampai dilingkup oleh kemulian keluargamu yang terjaga, berasal dari nasab tertinggi di atas segala orang-orang mulia

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ الأَر***ضُ وَضَاءَتْ بنورِكَ الأُفُقُ

Dan ketika engkau dilahirkan, Bumi bercahaya, Segala penjuru langit terang benderang dengan cahayamu.

فَنَحْنُ فِي الضِّيَاءِ وَفِي النّ***نُورِ وَسُبْلِ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Kami pun kini berada dalam naungan cahaya dan sinar itu dan dalam jalan petunjuk kami berlalu.

Terjungkalnya Berhala

Di antara peristiwa tersebut adalah banyaknya berhala yang terjungkal dengan wajah menghadap ke bawah dan jatuh dari tempatnya.

Dalam as-Sirah al-Halabiyah disebutkan bahwa beberapa orang Quraisy, di antaranya Waraqah bin Naufal, Zaid bin Amr bin Naufal, dan Ubaidullah bin Jahsy, biasa berkumpul di hadapan sebuah berhala.

Pada malam kelahiran Rasulullah , mereka mendatangi berhala tersebut. Mereka melihatnya dalam keadaan terjungkal dengan wajah menghadap ke bawah. Mereka merasa heran. Mereka kemudian mengangkat dan mengembalikannya ke posisi semula. Namun, berhala tersebut kembali terjungkal. Mereka mengembalikannya untuk kedua dan ketiga kalinya, tetapi kembali terjungkal.

Mereka berkata, “Sungguh, telah terjadi suatu hal yang agung.”

Kemudian salah seorang dari mereka bersyair sambil berbicara kepada berhala tersebut dan menanyakan sebab ia terjungkal. Lalu terdengar suara yang berkata:

تَرَدَّى لِمَوْلُودٍ أَنَارَ بِنُورِهِ*** جَمِيعَ فِجَاجِ الْأَرْضِ فِي الشَّرْقِ وَالْغَرْبِ

Ia terjungkal karena kelahiran seorang bayi yang dengan cahayanya menerangi seluruh penjuru bumi di timur dan barat.”

Dalam Sirah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan diriwayatkan dari Abdul Muthalib, ia berkata:

كُنْتُ فِي الْكَعْبَةِ فَرَأَيْتُ الْأَصْنَامَ سَقَطَتْ مِنْ أَمَاكِنِهَا، فَسَمِعْتُ مِنْ جِدَارِ الْكَعْبَةِ قَائِلًا يَقُولُ: وُلِدَ الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ الَّذِي تَهْلِكُ بِيَدِهِ الْكُفَّارُ، وَيُطَهَّرُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَصْنَامِ، وَيَأْمُرُ بِعِبَادَةِ الْمَلِكِ الْعَلَّامِ

“Aku berada di dalam Ka‘bah. Aku melihat berhala-berhala jatuh dari tempatnya. Kemudian aku mendengar suara dari dinding Ka‘bah yang berkata:

‘Telah lahir al-Musthafa yang terpilih, yang melalui tangannya orang-orang kafir akan binasa, tempat itu akan dibersihkan dari penyembahan berhala, dan ia akan memerintahkan untuk menyembah Allah, Sang Raja Yang Maha Mengetahui.’”

Bergoncangnya getarnya Istana Kisra (Raja Persia)

Iwan adalah sebuah bangunan besar berbentuk memanjang yang memiliki syurafat, yaitu bagian bangunan yang berada di bagian atas istana (semacam balkon). Iwan tersebut termasuk salah satu keajaiban dunia, baik dari segi luas, konstruksi, maupun kekokohan bangunannya.

Bangunan itu begitu besar dan kokoh sehingga pada saat itu dianggap tidak akan runtuh kecuali oleh tiupan sangkakala (ash-Shur). Namun, ketika Nabi lahir, bangunan tersebut tiba-tiba bergerak dan berguncang, dan empat belas syurafah dari bangunan itu pun jatuh.

Hal itu bukan disebabkan oleh kerusakan pada bangunannya. Akan tetapi, Allah menghendaki agar peristiwa tersebut menjadi tanda bagi Nabi-Nya yang tetap ada di muka bumi.

Diriwayatkan bahwa ar-Rasyid pernah bermaksud merobohkan Iwan tersebut. Menteri beliau berkata,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، لَا تَهْدِمْ بِنَاءً هُوَ آيَةُ الْإِسْلَامِ

“Wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau merobohkan bangunan yang merupakan salah satu tanda Islam.”

Saat itu empat belas balkon (syurafat) dari istana kisra runtuh, sebagian ulama mengatakan rahasia di balik angka empat belas tersebut adalah sebagai isyarat bahwa setelah itu hanya tersisa empat belas orang raja dari kerajaan mereka, dan semuanya kemudian binasa.

Padamnya Api Persia Sesembahan Majusi

Api Persia tersebut padam, padahal sebelumnya tidak pernah padam selama seribu tahun. Dalam Sirah al-Halabiyah disebutkan:

وَلَيْلَةَ وِلَادَتِهِ ﷺ خَمَدَتْ نَارُ فَارِسَ الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَهَا، وَكَانَ وَقُودُهَا مُسْتَمِرًّا مِنْ عَهْدِ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

Pada malam kelahiran beliau , api Persia yang selama ini mereka sembah padam, padahal bahan bakarnya terus menyala sejak zaman Nabi Musa alaihissalatu wassalam.

Mengeringnya Danau Sawah

Di antara keajaiban pada hari kelahiran Nabi adalah menyusutnya Danau Sawa, yaitu berkurang dan surutnya air danau tersebut. Danau tersebut merupakah danau yang disakralkan dan disembah oleh penduduk di sekelilingnya.

Danau tersebut luasnya lebih dari satu farsakh (sekitar 5 km); bahkan ada yang mengatakan enam farsakh. Kapal-kapal biasa berlayar di atasnya, dan orang-orang melakukan perjalanan menuju desa-desa dan kota-kota di sekitarnya.

Namun, pada malam kelahiran beliau , danau tersebut menjadi kering seakan-akan sebelumnya tidak pernah ada air di sana. Keadaan itu terus berlangsung hingga dibangun sebuah kota di tempat tersebut yang bernama Sawah.

Sawa merupakan kota yang terkenal, terletak di antara Ray dan Hamadan. Pengarang Qashidah Burdah mengisyaratkan peristiwa tersebut dalam baitnya:

وَسَاءَ سَاوَةَ أَنْ غَاضَتْ بُحَيْرَتُهَا*** وَرَدَّ وَارِدَهَا بِالْغَيْظِ حِينَ ظَمِي

 

“Sawa bersedih ketika danaunya mengering, dan orang yang datang mengambil airnya kembali dengan penuh kemarahan ketika kehausan.”

Para Setan Dilempari Bara Api

Di antara keajaiban saat Nabi dilahirkan adalah dilemparinya para setan dengan bara api.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahi anhuma bahwa para setan sebelumnya tidak terhalang dari langit. Mereka dapat memasuki langit dan mendapatkan berita mengenai berbagai hal yang akan terjadi di bumi, kemudian menyampaikannya kepada para peramal.

Ketika Nabi Isa alaihissalam dilahirkan, mereka dihalangi dari tiga lapisan langit. Ketika Rasulullah dilahirkan, mereka dihalangi dari seluruh lapisan langit. Langit dijaga dengan bara api. Setiap kali salah seorang dari mereka berusaha mencuri dengar, ia akan dilempari dengan meteor. Hal tersebut semakin bertambah ketika Rasulullah diutus sebagai Nabi.

Mimpi al-Mubadzan

Al-Mubadzan adalah ahli agama di negeri Persia, ia melihat dalam mimpinya unta-unta liar yang menggiring kuda-kuda, hingga unta-unta tersebut menyeberangi Sungai Tigris dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Persia. Kisra kemudian bertanya kepada al-Mubadzan yang merupakan orang paling berilmu di antara mereka:

“Menurutmu, apa makna dari peristiwa yang engkau lihat itu?”

Ia menjawab:

“Akan terjadi suatu peristiwa yang berasal dari arah bangsa Arab.”

Al-Mubadz dan al-Mubadzan merupakan dua kata dalam bahasa Persia. Dalam agama Majusi, keduanya bermakna orang yang ahli dalam ilmu agama, atau faqih.

Di antaranya adalah seruan seorang Yahudi pada malam tersebut.

Diriwayatkan dari Sahabat Hassan bin Tsabit radhiyallahu anhu, bahwa pada malam itu seorang Yahudi berteriak dari atas sebuah uthum, yaitu tempat yang tinggi dan kokoh milik kaum Yahudi.

Orang-orang kemudian mendatanginya dan bertanya:

“Ada apa denganmu?”

Ia menjawab:

طَلَعَ نَجْمُ أَحْمَدَ الَّذِي وُلِدَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ.

“Telah terbit bintang Ahmad, yang pada malam ini telah dilahirkan.”

Di antaranya adalah jatuhnya singgasana Iblis pada malam kelahiran Nabi .

Peristiwa tersebut disebut sebagai salah satu keajaiban yang terjadi bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad .

Di antaranya adalah berguncangnya Ka‘bah

Dalam kitab as-Sirah al-Halabiyah disebutkan:

وَلَيْلَةَ وِلَادَتِهِ ﷺ: تَزَلْزَلَتِ الْكَعْبَةُ، وَلَمْ تَسْكُنْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ

“Pada malam kelahiran Nabi , Ka‘bah berguncang dan tidak berhenti berguncang selama tiga hari beserta malam-malamnya.”

Dalam kitab ar-Raudhah al-Faiha’ disebutkan:

وَتَزَلْزَلَتِ الْكَعْبَةُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بِلَيَالِيهَا، وَلَمْ تَسْكُنْ حَتَّى وُلِدَ ﷺ

“Ka‘bah berguncang selama tiga hari beserta malam-malamnya dan tidak berhenti hingga Nabi dilahirkan.”

Malaikat Jibril alaihissalam menendang Iblis pada malam kelahiran Nabi .

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya dari Ikrimah radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Ketika Nabi dilahirkan, bumi memancarkan cahaya.”

Iblis berkata ketika Rasulullah dilahirkan:

لَقَدْ وُلِدَ اللَّيْلَةَ وَلَدٌ يُفْسِدُ عَلَيْنَا أَمْرَنَا

“Sungguh, malam ini telah lahir seorang anak yang akan merusak urusan kita.”

Pasukan Iblis kemudian berkata kepadanya:

لَوْ ذَهَبْتَ إِلَيْهِ فَخَبَّلْتَهُ أَفْسَدْتَهُ

Bagaimana jika engkau pergi kepadanya, lalu membuatnya gila atau mengacaukan pikirannya, niscaya engkau akan menghancurkannya.”

Ketika Iblis mendekati Rasulullah , Allah mengutus Jibril alaihissalam. Jibril kemudian menendang Iblis dengan kakinya sekali, sehingga Iblis terlempar dan jatuh di ‘Adan.

Jeritan Iblis.

Dalam sebagian Sirah Halabiyah disebutkan

أَنَّ إِبْلِيسَ رَنَّ أَرْبَعَ رَنَّاتٍ: رَنَّةٌ حِينَ لُعِنَ، وَرَنَّةٌ حِينَ أُهْبِطَ، وَرَنَّةٌ حِينَ وُلِدَ النَّبِيُّ ﷺ، أَيْ وَهُوَ الْمُرَادُ بِقَوْلِ بَعْضِهِمْ: يَوْمَ بُعِثَ، وَرَنَّةٌ حِينَ أُنْزِلَتْ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ

Bahwa Iblis menjerit sebanyak empat kali, yaitu:

  1. Jeritan ketika ia dilaknat.

  2. Jeritan ketika ia diturunkan dari tempatnya.

  3. Jeritan ketika Nabi dilahirkan—dan inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama ketika menyebut hari diutusnya Nabi .

  4. Jeritan ketika Surah al-Fatihah diturunkan.

Yang dimaksud dengan رَنَّة (rannah) adalah suara yang mengandung kesedihan dan kesusahan, atau dapat pula berarti teriakan dengan suara yang keras.

Demikian diringkas dan disesuaikan, dari beberapa kitab: Mulakhasat Fi Sirah Nabawiyah, Sirah Nabawiyah Syekh Zaini Dahlan, Hada’iq al-Anwar, Tarikh al-Hawadits wa al-Ahwal an-Nabawiyyah, as-Sirah al-Halabiyyah, al-Minah al-Makkiyyah fi Syarh al-Hamziyyah, Tarikh al-Khamis, Subul al-Huda, ar-Raudhah al-Faiha’, Syaraf al-Musthafa, dan al-Khasha’ish al-Kubra.RA(*)