Kenikmatan Para Penghuni Surga

Posted on 04 October 2026


 


Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

“Dan apabila engkau melihat keadaan di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)

Gambaran tentang kerajaan dan kenikmatan tersebut sangat beragam. Di antaranya, Allah ﷻ menyediakan bagi para penghuni surga kuda-kuda khusus yang mereka tunggangi dalam rombongan-rombongan besar dan megah.

Kuda-Kuda Penghuni Surga

Dari Al-Hasan al-Bashri, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً الَّذِي يَرْكَبُ فِي أَلْفِ أَلْفٍ مِنْ خَدَمِهِ مِنَ الْوِلْدَانِ الْمُخَلَّدِينَ عَلَى خَيْلٍ مِنْ يَاقُوتٍ أَحْمَرَ، لَهَا أَجْنِحَةٌ مِنْ ذَهَبٍ

“Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang berkendara bersama satu juta pelayan dari kalangan anak-anak muda yang kekal, di atas kuda-kuda yang terbuat dari yaqut merah dan memiliki sayap dari emas.”

Kemudian beliau membaca:

وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

“Dan apabila engkau melihat keadaan di sana, niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)

Abdurrahman bin Sa‘idah berkata:

كُنْتُ أُحِبُّ الْخَيْلَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ فِي الْجَنَّةِ خَيْلٌ؟ فَقَالَ: إِنْ أَدْخَلَكَ اللهُ الْجَنَّةَ كَانَ لَكَ فِيهَا فَرَسٌ مِنْ يَاقُوتٍ لَهُ جَنَاحَانِ، يَطِيرُ بِكَ حَيْثُ شِئْتَ.

“Aku menyukai kuda. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah di surga terdapat kuda?’ Beliau menjawab, ‘Jika Allah memasukkanmu ke dalam surga, engkau akan memiliki seekor kuda yang terbuat dari yaqut, memiliki dua sayap, dan akan membawamu terbang ke mana pun engkau kehendaki.’”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مِنْ نَعِيمِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنَّهُمْ يَتَزَاوَرُونَ عَلَى الْمَطَايَا وَالنُّجُبِ، وَأَنَّهُمْ يُؤْتَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِخَيْلٍ مُسَرَّجَةٍ مُلَجَّمَةٍ، لَا تَرُوثُ وَلَا تَبُولُ، فَيَرْكَبُونَهَا حَتَّى يَنْتَهُوا حَيْثُ شَاءَ اللهُ ﷻ.

“Di antara kenikmatan penghuni surga adalah mereka saling berkunjung dengan mengendarai tunggangan dan unta-unta pilihan. Pada hari kiamat mereka juga didatangkan kuda-kuda yang telah dipasangi pelana dan tali kekang. Kuda-kuda itu tidak buang kotoran dan tidak buang air kecil. Mereka menungganginya hingga sampai ke tempat yang Allah kehendaki.”

Pohon yang Mengeluarkan Pakaian dan Kuda

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَخْرُجُ مِنْ أَعْلَاهَا حُلَلٌ، وَمِنْ أَسْفَلِهَا خَيْلٌ مِنْ ذَهَبٍ، مُسَرَّجَةٌ مُلَجَّمَةٌ مِنْ دُرٍّ وَيَاقُوتٍ، لَا تَرُوثُ وَلَا تَبُولُ، لَهَا أَجْنِحَةٌ، خَطْوُهَا مَدُّ الْبَصَرِ، فَيَرْكَبُهَا أَهْلُ الْجَنَّةِ فَتَطِيرُ بِهِمْ حَيْثُ شَاؤُوا.

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon. Dari bagian atasnya keluar pakaian-pakaian, sedangkan dari bagian bawahnya keluar kuda-kuda yang terbuat dari emas, lengkap dengan pelana dan tali kekang yang terbuat dari mutiara dan yaqut. Kuda-kuda itu tidak buang kotoran dan tidak buang air kecil. Ia memiliki sayap, dan sekali langkahnya sejauh mata memandang.

Para penghuni surga menungganginya, lalu kuda-kuda itu menerbangkan mereka ke mana pun mereka kehendaki.”

Kemudian orang-orang yang kedudukannya lebih rendah bertanya:

يَا رَبِّ، بِمَ بَلَغَ عِبَادُكَ هَذِهِ الْكَرَامَةَ كُلَّهَا؟

“Wahai Tuhan kami, dengan apakah hamba-hamba-Mu itu memperoleh seluruh kemuliaan ini?”

Dijawab kepada mereka:

كَانُوا يُصَلُّونَ بِاللَّيْلِ، وَكُنْتُمْ تَنَامُونَ، وَكَانُوا يَصُومُونَ وَكُنْتُمْ تَأْكُلُونَ، وَكَانُوا يُنْفِقُونَ وَكُنْتُمْ تَبْخَلُونَ، وَكَانُوا يُقَاتِلُونَ وَكُنْتُمْ تَجْبُنُونَ.

“Mereka dahulu melaksanakan salat pada malam hari, sedangkan kalian tidur. Mereka dahulu berpuasa, sedangkan kalian makan. Mereka dahulu berinfak, sedangkan kalian kikir. Mereka dahulu berjuang, sedangkan kalian takut.”

Keridaan Allah: Kenikmatan yang Paling Agung

Di antara kenikmatan penghuni surga adalah seruan dari Allah ﷻ:

يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ!

“Wahai penghuni surga!”

Mereka menjawab:

لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ.

“Kami memenuhi panggilan-Mu, wahai Tuhan kami, dengan penuh kebahagiaan.”

Allah ﷻ bertanya:

هَلْ رَضِيتُمْ؟

“Apakah kalian telah ridha?”

Mereka menjawab:

وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ؟

“Bagaimana kami tidak ridha, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?”

Allah ﷻ berfirman:

أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ.

“Aku akan memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih utama daripada itu.”

Mereka bertanya:

وَمَا أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟

“Apa yang lebih utama daripada itu?”

Allah ﷻ berfirman:

أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي، فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا.

“Aku limpahkan kepada kalian keridaan-Ku. Setelah itu, Aku tidak akan pernah murka kepada kalian selamanya.”

Tidak Ada Sakit, Kematian, Masa Tua, dan Kesengsaraan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ:

يُنَادِي مُنَادٍ: إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا.

“Seorang penyeru menyerukan: ‘Sesungguhnya kalian akan selalu sehat dan tidak akan pernah sakit. Kalian akan hidup dan tidak akan pernah mati. Kalian akan selalu muda dan tidak akan pernah tua. Kalian akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan pernah mengalami kesengsaraan.’”

Itulah makna firman Allah ﷻ:

وَنُودُوا أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan mereka diseru, ‘Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Al-A‘raf: 43)

Ketika Orang-Orang Bertakwa Memasuki Surga

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata bahwa orang-orang yang bertakwa digiring menuju surga secara berkelompok. Ketika mereka sampai di salah satu pintunya, mereka mendapati sebuah pohon. Dari bawah batang pohon tersebut terdapat dua mata air yang mengalir.

Mereka mendatangi salah satunya lalu meminumnya. Dengan air tersebut, segala kotoran, gangguan, dan sesuatu yang mengganggu tubuh mereka hilang.

Kemudian mereka mendatangi mata air yang lain dan bersuci dengannya. Setelah itu, terpancarlah pada diri mereka cahaya kenikmatan. Kulit mereka tidak akan pernah berubah dan rambut mereka tidak akan pernah kusut. Mereka tampak seakan-akan baru saja mengoleskan minyak pada tubuhnya.

Setelah itu mereka sampai kepada para penjaga surga. Para penjaga berkata:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Keselamatan atas kalian. Kalian telah baik dan suci. Maka masuklah ke dalamnya untuk kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar: 73)

Kemudian mereka disambut oleh para pelayan muda yang berkeliling melayani mereka. Mereka menyambut kedatangan penghuni surga sebagaimana penduduk dunia menyambut orang yang baru kembali dari perjalanan.

Mereka berkata:

“Bergembiralah dengan kemuliaan yang telah Allah persiapkan untukmu.”

Salah seorang pelayan muda kemudian pergi kepada salah seorang pasangan dari kalangan bidadari dan berkata:

“Fulan telah datang” dengan nama yang dahulu ia dikenal di dunia.

Bidadari itu bertanya:

أَنْتَ رَأَيْتَهُ؟

“Apakah engkau telah melihatnya?”

Pelayan itu menjawab:

أَنَا رَأَيْتُهُ.

“Aku telah melihatnya.”

Karena begitu gembiranya, bidadari tersebut segera berdiri di ambang pintunya untuk menyambutnya.

Rumah dan Kenikmatan Penghuni Surga

Ketika penghuni surga sampai di rumahnya, ia melihat fondasi bangunannya berupa batu-batu mutiara. Di atasnya terdapat bangunan berwarna hijau, kuning, merah, dan berbagai warna lainnya.

Ketika ia mengangkat kepalanya dan melihat atapnya, ia melihat sesuatu yang berkilauan seperti kilatan cahaya. Seandainya Allah tidak menetapkannya demikian, cahaya tersebut dapat menyilaukan pandangan.

Kemudian ia menundukkan kepalanya dan melihat pasangan-pasangannya. Ia juga melihat berbagai perlengkapan kenikmatan yang telah disediakan bagi mereka:

وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ ۝ وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ ۝ وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ

“Dan gelas-gelas yang tersedia, bantal-bantal yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (QS. Al-Ghasyiyah: 14–16)

Melihat seluruh kenikmatan tersebut, mereka mengucapkan:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

“Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami menuju (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi kami petunjuk.’”(QS. Al-A‘raf: 43)

Kemudian seorang penyeru menyerukan:

تَحْيَوْنَ فَلَا تَمُوتُونَ أَبَدًا، وَتُقِيمُونَ فَلَا تَظْعَنُونَ أَبَدًا، وَتَصِحُّونَ فَلَا تَمْرَضُونَ أَبَدًا.

“Kalian akan hidup dan tidak akan pernah mati. Kalian akan menetap dan tidak akan pernah pergi. Kalian akan selalu sehat dan tidak akan pernah sakit.”

*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki