Posted on 04 October 2026
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ memiliki tanda-tanda yang perlu diketahui agar seseorang dapat berusaha mewujudkannya dalam dirinya.
Salah satunya adalah seseorang membandingkan dalam dirinya: seandainya ia diberi pilihan antara kehilangan salah satu keperluan atau kesenangan yang ia miliki dengan kehilangan kesempatan untuk melihat Nabi ﷺ, seandainya melihat beliau itu masih mungkin, manakah yang lebih berat baginya?
Apabila kehilangan kesempatan untuk melihat Nabi ﷺ terasa lebih berat daripada kehilangan salah satu kesenangan duniawinya, berarti ia telah memiliki kecintaan yang disebutkan tersebut. Jika tidak demikian, maka belum demikian keadaannya.
Mengikuti Nabi ﷺ dan Menghidupkan Sunnahnya
Di antara tanda terbesar kecintaan kepada Rasulullah ﷺ adalah meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, menempuh jalannya, mengikuti petunjuk dan perjalanan hidupnya, serta berpegang teguh kepada syariat yang beliau tetapkan. Hal ini disebutkan dalam riwayat dari Sahabat Anas radhiyallahu anhu:
مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa menghidupkan sunnahku, berarti ia telah mencintaiku. Dan barang siapa mencintaiku, ia akan bersamaku di Surga.”
Ridha terhadap Syariat yang Dibawa Nabi ﷺ
Di antara tanda kecintaan kepada Rasulullah ﷺ adalah seseorang meridhai apa yang beliau syariatkan, sehingga tidak merasa sempit atau keberatan terhadap keputusan yang beliau tetapkan.
Ia juga membela agama beliau dengan perkataan dan perbuatan, mempertahankan syariatnya, serta berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak beliau, seperti: kedermawanan, mengutamakan orang lain, kesabaran, kelembutan dan kemampuan menahan amarah, kerendahan hati, serta berbagai akhlak mulia lainnya.
Banyak Mengingat Nabi ﷺ dan Mencintai Sunnahnya
Di antara tanda kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah banyak mengingat beliau, mencintai sunnahnya, membaca hadis-hadisnya, merasa nikmat ketika mengingat beliau, dan merasa gembira ketika mendengar nama beliau yang mulia.
Termasuk pula mengagungkan beliau ketika nama beliau disebut, serta menampakkan ketundukan, kerendahan hati, dan kekhusyukan ketika mendengar nama beliau. Sebab, orang yang mencintai sesuatu akan tunduk kepadanya.
Demikian keadaan banyak sahabat radhiyallahu anhum. Ketika mereka mengingat Rasulullah ﷺ, mereka merendahkan diri, kulit mereka merinding, dan mereka menangis.
Demikian pula keadaan banyak tabi'in dan generasi setelah mereka.
Ayyub as-Sakhtiyani rahimahullah, apabila Rasulullah ﷺ disebut di hadapannya, menangis hingga orang-orang yang duduk bersamanya merasa iba kepadanya.
Imam Ja‘far bin Muhammad rahimahullah dikenal banyak bercanda dan tersenyum. Namun apabila Rasulullah ﷺ disebut di hadapannya, warna wajahnya berubah menjadi pucat.
‘Abdurrahman bin al-Qasim rahimahullah, ketika Rasulullah ﷺ disebut di hadapannya, warna wajahnya berubah seakan-akan darah telah mengalir meninggalkannya, dan lidahnya menjadi kaku di dalam mulut karena rasa segan dan pengagungan kepada Rasulullah ﷺ.
Adapun Qatadah rahimahullah, ketika mendengar hadis, ia menangis dengan keras karena rasa haru dan pengagungannya.
Mencintai Al-Qur'an yang Dibawa oleh Rasulullah ﷺ
Di antara tanda kecintaan kepada Rasulullah ﷺ adalah mencintai Al-Qur'an yang beliau bawa, yang dengannya beliau memperoleh petunjuk dan memberikan petunjuk kepada manusia, serta yang menjadi pedoman akhlaknya. Jika seseorang ingin mengetahui sejauh mana kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaknya ia melihat kecintaannya kepada Al-Qur'an dan kenikmatannya ketika mendengarkan Al-Qur'an.
Apakah kenikmatan yang ia rasakan ketika mendengarkan Al-Qur'an lebih besar daripada kenikmatan orang-orang yang gemar hiburan dan nyanyian ketika mendengarkan sesuatu yang mereka sukai?
Sebab, sesuatu yang sudah dicintai oleh seseorang, maka perkataan dan pembicaraan tentang sesuatu yang dicintainya itu merupakan hal yang paling ia sukai. Diriwayatkan bahwa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu berkata:
لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُنَا مَا شَبِعْنَا مِنْ كَلَامِ اللَّهِ.
“Seandainya hati kita benar-benar bersih, niscaya kita tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Allah.”
Bagaimana mungkin seseorang yang mencintai sesuatu merasa bosan mendengarkan perkataan dari sesuatu yang dicintainya, sementara itulah tujuan yang paling ia dambakan?
Para sahabat radhiyallahu anhum apabila berkumpul dan Sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu berada di tengah mereka, mereka berkata:
يَا أَبَا مُوسَى، ذَكِّرْنَا رَبَّنَا.
“Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Tuhan kami.”
Lalu Sahabat Abu Musa membaca Al-Qur'an sementara mereka mendengarkannya.
Banyak Merindukan Pertemuan dengan Rasulullah ﷺ
Di antara tanda kecintaan adalah besarnya kerinduan untuk bertemu dengan orang yang dicintai. Setiap orang yang mencintai seseorang pasti merindukan pertemuan dengannya.
Sebagian ulama berkata:
الْمَحَبَّةُ الشَّوْقُ إِلَى الْمَحْبُوبِ.
“Kecintaan adalah kerinduan kepada yang dicintai.”
Karena itulah, ketika kerinduan kepada Rasulullah ﷺ semakin kuat, para sahabat radhiyallahu anhum mendatangi beliau. Mereka memperoleh ketenangan dengan memandang beliau, merasakan kenikmatan ketika duduk bersama beliau, serta mendapatkan keberkahan dengan kehadiran beliau.
‘Abdah binti Khalid bin Ma‘dan berkata tentang ayahnya:
“Setiap kali Khalid hendak berbaring di tempat tidurnya, ia selalu mengingat Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar karena rasa rindunya kepada mereka. Ia menyebut nama-nama mereka dan berkata:
بِهِمْ أُصْلِي وَفَصْلِي، وَإِلَيْهِمْ يَحِنُّ قَلْبِي، طَالَ شَوْقِي إِلَيْهِمْ، فَعَجِّلْ رَبِّ قَبْضِي إِلَيْكَ
‘Kepada merekalah aku menisbatkan asal dan bagian hidupku, dan kepada merekalah hatiku merindukan. Telah begitu panjang kerinduanku kepada mereka. Maka segerakanlah, wahai Tuhanku, pengambilan nyawaku menuju-Mu.’”
Ia terus mengucapkannya hingga akhirnya tertidur.
Kerinduan Sahabat Bilal radhiyallahu anhu
Ketika Sahabat Bilal radhiyallahu anhu menghadapi saat-saat terakhir kehidupannya, istrinya berseru:
وَاحَرْبَاهُ
“Betapa menyedihkannya!”
Namun Sahabat Bilal radhiyallahu anhu justru berkata:
وَاطَرَبَاهُ، غَدًا أَلْقَى الْأَحِبَّةَ، مُحَمَّدًا وَحِزْبَهُ.
“Betapa menggembirakannya! Besok aku akan bertemu orang-orang yang kucintai: Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.”RA(*)
*Sumber: Ma La Ainun Ra’at, karya Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki