Posted on 24 May 2026
Di antara karunia besar Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya ialah Dia menganugerahkan waktu-waktu mulia yang di dalamnya pahala dilipatgandakan, derajat-derajat ditinggikan, serta dosa dan kesalahan banyak diampuni. Maka sungguh beruntung orang yang mampu memanfaatkan kesempatan-kesempatan itu dan menyambut hembusan rahmat Allah dengan amal saleh dan ketaatan. Nabi ﷺ bersabda:
اطْلُبُوا الْخَيْرَ دَهْرَكُمْ، وَتَعَرَّضُوا لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ رَبِّكُمْ، فَإِنَّ لِلَّهِ نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ يُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ وَيُؤَمِّنَ رَوْعَاتِكُمْ
Carilah kebaikan sepanjang masa kalian, dan sambutlah hembusan rahmat Tuhan kalian. Sesungguhnya Allah memiliki hembusan-hembusan rahmat yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Maka mohonlah kepada Allah agar Dia menutupi aib-aib kalian dan memberi rasa aman dari ketakutan-ketakutan kalian. (HR Thabrarani dan Ibu Abid Dunya)
Di antara waktu-waktu yang penuh keberkahan juga adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang banyak disebutkan keutamaannya dalam Al-Qur’an dan hadis. Di antaranya firman Allah ﷻ:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al-Fajr: 1–2)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama Bulan Dzul Hijjah. Di antara sepuluh hari pertama Bulan Dzul Hijjah terdapat hari yang sangat istimewa yaitu Hari Arafah, Hari kesembilan Bulan Dzul Hijjah.
Mengapa Disebut Hari Arafah
Dalam Tafsir Ats-Tsa’abi disebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai sebab dinamakan tempat wuquf itu “Arafat” (عرفات) dan hari wuquf dengan hari “Arafah” (عرفة). Imam Ad-Dhahhak menuturkan: “Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, beliau berada di India, sedangkan Hawa berada di Jeddah. Lalu Adam mencari Hawa dan Hawa pun mencari Adam, hingga keduanya bertemu di Arafat pada hari Arafah. Keduanya saling mengenali (ta’arafaa). Karena itulah hari itu dinamakan Arafah dan tempat itu dinamakan Arafat.”
Di sisi lain, Imam As-Suddi mengatakan:
“Arafat dinamakan demikian karena Hajar membawa Nabi Ismail alaihissalam keluar dari rumah Sarah ketika Nabi Ibrahim sedang tidak berada di rumah. Ketika Ibrahim pulang, beliau tidak menemukan Ismail. Maka Sarah menceritakan apa yang dilakukan Hajar. Ibrahim pun pergi mencari Ismail hingga menemukannya bersama Hajar di Arafat, lalu beliau mengenali putranya (‘arofahu). Karena itulah tempat itu dinamakan Arafat.”
Sedangkan Imam Atha’ mengatakan:
“Arafat dinamakan demikian karena saat Malaikat Jibril alaihissalam memperlihatkan manasik haji kepada Nabi Ibrahim alaihissalam, ia berkara : ‘Arafta?’ (Apakah engkau sudah mengetahui?). Maka Ibrahim menjawab: ‘Araftu’ (Aku telah mengetahui). maka tempat itu dinamakan Arafat.”
Sebagian ulama juga mengatakan:
“Dinamakan Arafat karena manusia pada hari itu mengakui dosa-dosa mereka (ya’tarif) di tempat tersebut.”
Asal muasalnya adalah kisah Nabi Adam alaihissalam ketika beliau lupa terhadap perintah haji, lalu beliau berdiri di Arafat pada hari Arafah seraya berdoa:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A‘raf: 23)
Ada pula yang mengatakan bahwa kata “Arafah” diambil dari kata al-‘arf (wangi) yang bermakna kebaikan dan keharuman. Sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ
Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya (dalam sebagian tafsir diwangikan) kepada mereka.”(QS. Muhammad: 6)
Sebagian ulama juga mengatakan bahwa Arafah dinamakan demikian karena pada hari itu manusia saling mengenal satu sama lain (yata’araf) dari berbagai bangsa dan negeri.
Keutamaan Hari Arafah Dan Tanah Arafat
1. Hari Perjanjian Agung Seluruh Keturunan Nabi Adam alaihissalam
Di antara keutamaan hari Arafah dan tanah Arafat adalah bahwa di sanalah Allah mengambil perjanjian agung dari seluruh keturunan Nabi Adam alaihissalam. Allah ﷻ berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, lalu Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri: ‘Bukankah Aku ini Tuhan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Benar, kami bersaksi.’ Agar pada hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,’ atau agar kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya nenek moyang kami telah berbuat syirik sejak dahulu, sedangkan kami hanyalah keturunan setelah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat itu?’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat agar mereka kembali. (QS. Al-A‘raf: 172–174)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:
أَخَذَ اللَّهُ الْمِيثَاقَ مِنْ ظَهْرِ آدَمَ بِنَعْمَانَ ـ يَعْنِي عَرَفَةَ ـ وَفِي رِوَايَةٍ: يَوْمَ عَرَفَةَ، فَأَخْرَجَ مِنْ صُلْبِهِ كُلَّ ذُرِّيَّةٍ ذَرَأَهَا فَنَثَرَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ كَالذَّرِّ، ثُمَّ كَلَّمَهُمْ قِبَلًا، قَالَ: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ؟ قَالُوا: بَلَىٰ شَهِدْنَا
Allah mengambil perjanjian dari punggung Adam di Na‘man — yaitu Arafah — dan dalam riwayat lain disebutkan: pada hari Arafah. Lalu Allah mengeluarkan seluruh keturunannya dan menyebarkan mereka di hadapan-Nya seperti butiran debu. Kemudian Allah berbicara kepada mereka secara langsung dan berfirman: ‘Bukankah Aku Tuhan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Benar, kami bersaksi.’ (HR. Ahmad)
2. Salah Satu Hari Dalam Bulan Dzulhijjah Yang Merupakan Asyhuril Hurum
Di antara keutamaan hari Arafah adalah bahwa ia termasuk salah satu hari dalam bulan-bulan haram yang dimuliakan Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, sebagaimana telah ditetapkan dalam Kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. (QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut adalah: Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sedangkan hari Arafah termasuk bagian dari bulan Dzulhijjah.
3. Arafah Termasuk Hari-Hari Dalam Bulan Haji
Di antara keutamaan hari Arafah juga, ia termasuk hari-hari dalam bulan-bulan haji, dan ibadah haji tidak sah tanpa wuquf di Arafah. Allah ﷻ berfirman:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ
Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah diketahui. (QS. Al-Baqarah: 197)
Bulan-bulan haji ialah: Syawwal, Dzulqa‘dah, dan Dzulhijjah.
Telah diriwayatkan bahwa beberapa orang dari Najd datang menemui Rasulullah ﷺ ketika beliau berada di Arafah, lalu mereka bertanya tentang haji. Maka Nabi ﷺ memerintahkan seorang penyeru untuk mengumumkan:
الْحَجُّ عَرَفَةُ، مَنْ جَاءَ لَيْلَةَ جَمْعٍ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَدْ أَدْرَكَ الْحَجَّ
Haji itu adalah Arafah. Barang siapa datang pada malam Muzdalifah sebelum terbit fajar, maka ia telah mendapatkan haji. (HR Turmudzi, Nasa’I, Ibnu Majah, dan lainnya)
Karena itu, wuquf di Arafah merupakan rukun haji yang paling agung dan paling menentukan. Siapa melewatkan waktu wuquf tanpa sempat hadir di Arafah, maka hajinya pada tahun itu tidak sah. Berbeda dengan rukun-rukun haji lainnya yang masih mungkin untuk disempurnakan atau diganti pelaksanaannya.
Al-Hafidz Suyuthi dalam Syarah Sunan Turmudzi menukilkan:
الحج عرفة قال الخطابي: " أي معظم الحج هو الوقوف بعرفة كقوله: " الندم توبة "أي: هو مقصودها الأعظم. وقال المحب الطبري: "معناه أنَّ ثواب الحج متعلق بفوات وقته، وغيره من الأركان وقته ممتد"
Mengenai sabda Nabi ﷺ: الحَجُّ عَرَفَةُ (Haji itu adalah Arafah), Al-Khaththabi rahimahullah berkata: “Maksudnya, bagian terbesar dan terpenting dari ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: النَّدَمُ تَوْبَةٌ (Penyesalan itu adalah tobat) Artinya, penyesalan merupakan inti dan tujuan terbesar dari tobat.”
Sedangkan Al-Muhibb Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Maknanya ialah bahwa sah dan tidaknya pahala haji sangat bergantung pada didapat atau tidaknya waktu wuquf di Arafah. Adapun rukun-rukun lainnya, waktunya masih lebih panjang dan dapat disusul.”
4. Termasuk Al-Ayyam Al-Ma’lumat (Hari-hari yang ditentukan)
Di antara keutamaan hari Arafah pula, ia termasuk bagian dari “hari-hari yang ditentukan” yang dipuji Allah dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Yang dimaksud ‘hari-hari yang ditentukan’ adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”
5. Termasuk 10 Hari Terbaik Untuk Beramal Shaleh
Di antara keutamaannya juga, hari Arafah termasuk dalam sepuluh hari yang Allah bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an sebagai tanda besarnya kemuliaan dan keutamaannya. Allah ﷻ berfirman:
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al-Fajr: 2)
Para ahli tafsir mengatakan yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini adalah hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih utama dan lebih besar pahalanya dibanding hari-hari lainnya sepanjang tahun. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ ﷻوَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى
“Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada amal kebaikan yang dilakukan pada sepuluh hari Dzulhijjah.”
Para sahabat bertanya:
“Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab:
وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.(HR. Ad-Darimi)
6. Arafah Adalah Hari Ganjil Yang Disebutkan Dalam Al-Quran
Di antara keutamaan hari Arafah adalah bahwa ia merupakan “al-Watr” (hari ganjil) yang Allah jadikan sumpah dalam firman-Nya:
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
Dan demi yang genap dan yang ganjil. (QS. Al-Fajr: 3)
At-Thabari menukilkan riwayat yang mengatakan :
قال ابن عباس: الشفع: يوم النحر، والوَتر: يوم عرفة
Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Yang genap (asy-syaf‘) adalah hari Idul Adha, sedangkan yang ganjil (al-watr) adalah hari Arafah.
Ini juga merupakan pendapat ‘Ikrimah dan Adh-Dhahhak.
7. Termasuk Hari Yang Disaksikan
Di antara keutamaan hari Arafah pula, ia adalah “hari yang disaksikan” (al-yaumul masyhud) yang Allah jadikan sumpah dalam Surah Al-Buruj. Allah ﷻ berfirman:
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan demi hari yang dijanjikan, dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS. Al-Buruj: 1–3)
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْيَوْمُ الْمَوْعُودُ: يَوْمُ الْقِيَامَةِ، وَالْيَوْمُ الْمَشْهُودُ: يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّاهِدُ: يَوْمُ الْجُمُعَةِ
Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat. Hari yang disaksikan adalah hari Arafah. Dan yang menyaksikan adalah hari Jumat.(HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi dan lainnya)
8. Hari Turun Ayat Kesempurnaan Islam Dan Hari Raya Umat Islam
Di antara keutamaan hari Arafah adalah bahwa pada hari itulah Allah menyempurnakan agama Islam bagi kaum muslimin dan mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka. Karena itu, hari Arafah merupakan hari raya bagi umat Islam. Diriwayatkan terkait Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu:
أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْيَهُودِ قَالَ لَهُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا
Seorang Yahudi berkata kepada beliau (Sahabat Umar): ‘Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca. Seandainya ayat itu turun kepada kami kaum Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya sebagai hari raya.’”
Maka Sahabat Umar berkata:
“Ayat yang mana?”
Orang Yahudi itu menjawab:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridai Islam sebagai agama kalian. (QS. Al-Ma’idah: 3)
Maka Sahabat Umar radhiyallahu anhu berkata:
قَدْ عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ
Kami mengetahui hari dan tempat turunnya ayat itu. Ayat tersebut turun kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ahmad)
Disebutkan bahwa orang Yahudi tersebut adalah Ka‘ab Al-Ahbar. Dalam sebagian riwayat disebutkan dengan lafaz: “Kaum Yahudi berkata…” Artinya, mereka berbicara melalui Ka‘ab sebagai wakil mereka.
Ucapan mereka: “Niscaya kami akan menjadikan hari itu sebagai hari
raya,” maksudnya:
mereka akan mengagungkan hari tersebut setiap tahun karena besarnya nikmat yang
terjadi padanya, yaitu sempurnanya agama.
Dalam riwayat lain disebutkan:
نَزَلَتْ يَوْمَ جُمُعَةٍ يَوْمَ عَرَفَةَ، وَكِلَاهُمَا بِحَمْدِ اللَّهِ لَنَا عِيدٌ
Ayat itu turun pada hari Jumat, bertepatan dengan hari Arafah, dan keduanya —segala puji bagi Allah— adalah hari raya bagi kami. (Ath-Thabari)
Demikian pula dalam riwayat Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:
نَزَلَتْ فِي يَوْمِ عِيدَيْنِ: يَوْمِ جُمُعَةٍ وَيَوْمِ عَرَفَةَ
Ayat itu turun pada dua hari raya: hari Jumat dan hari Arafah.
Dari sini tampak bahwa kaum muslimin memang telah menjadikan hari tersebut sebagai hari yang agung dan mulia: hari Jumat sebagai hari raya mingguan, dan hari Arafah sebagai hari raya bagi jamaah haji serta malam menjelang Idul Adha. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari Arafah, hari Nahr (Idul Adha), dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita kaum muslimin. Hari-hari itu adalah hari makan dan minum. (HR. Ashabus Sunan)
9. Hari Arafah Adalah Hari Terbaik untuk Berdoa
Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: La ilaha illallahu waḥdahu la syaraka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). (HR. Tirmidzi)
Makna sabda beliau:“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah,” yakni karena doa pada hari itu lebih besar pahalanya dan lebih dekat untuk dikabulkan oleh Allah ﷻ.
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma juga disebutkan:
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ عَرَفَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Doa yang paling banyak dibaca Rasulullah ﷺ pada hari Arafah adalah:
La ilaha illallahu waḥdahu la syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu, biyadihil khair, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.)(HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa dzikir dan doa tersebut merupakan doa terbaik yang dapat dibaca seorang hamba pada hari Arafah, karena di dalamnya terdapat pujian kepada Allah dan pengagungan tauhid-Nya.
Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh berdoa di Hari Arafah seraya mengangkat kedua tangannya. Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu anhuma menceritakan:
كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو، فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ فَسَقَطَ خِطَامُهَا، فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ، وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ الْأُخْرَى
Aku pernah diikutkan di belakang kendaraan Nabi ﷺ di Arafah. Beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Tiba-tiba untanya bergerak miring hingga tali kekangnya terjatuh. Maka beliau mengambil tali kekang itu dengan salah satu tangannya, sementara tangan yang lain tetap beliau angkat untuk berdoa. (HR. Nasa’i)
Betapa besar perhatian Rasulullah ﷺ terhadap doa pada hari Arafah, sampai-sampai beliau tetap mengangkat satu tangan untuk berdoa meskipun sedang membetulkan tali untanya.
10. Hari Arafah: Hari Turunnya Rahmat dan Kehinaan bagi Setan
Di antara keutamaan besar hari Arafah adalah bahwa pada hari itu rahmat Allah turun dengan sangat luas, dosa-dosa diampuni, dan setan berada dalam keadaan paling hina dan paling marah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا رُئِيَ الشَّيْطَانُ يَوْمًا هُوَ فِيهِ أَصْغَرُ، وَلَا أَدْحَرُ، وَلَا أَحْقَرُ، وَلَا أَغْيَظُ مِنْهُ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ، وَمَا ذَاكَ إِلَّا لِمَا رَأَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ، وَتَجَاوُزِ اللَّهِ عَنِ الذُّنُوبِ الْعِظَامِ، إِلَّا مَا أُرِيَ يَوْمَ بَدْرٍ
Tidak pernah terlihat setan pada suatu hari dalam keadaan lebih kecil, lebih hina, lebih terusir, dan lebih marah daripada pada hari Arafah. Itu semua karena ia melihat turunnya rahmat Allah dan pengampunan-Nya terhadap dosa-dosa besar.
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apa yang dilihat setan pada hari Badar?”
Beliau menjawab:
أَمَا إِنَّهُ قَدْ رَأَى جِبْرِيلَ يَزَعُ الْمَلَائِكَةَ
Sesungguhnya ia melihat Jibril sedang mengatur barisan para malaikat. (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’)
Hadis ini menggambarkan betapa agungnya hari Arafah: rahmat Allah turun dengan deras, dosa-dosa besar diampuni, doa-doa dikabulkan, dan banyak hamba dibebaskan dari api neraka. Karena itu setan sangat marah dan hina pada hari tersebut, sebab ia melihat manusia kembali kepada Allah dengan taubat, dzikir, tangisan, dan doa-doa yang tulus.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad bahwa Abbas bin Mirdas radhiyallahu anhu berkata:
Rasulullah ﷺ berdoa pada sore hari Arafah untuk umatnya agar diberi ampunan dan rahmat. Beliau memperbanyak doa. Ketika pagi di Muzdalifah, beliau kembali berdoa untuk umatnya. Tidak lama kemudian Nabi ﷺ tersenyum.
Sebagian sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, engkau tertawa pada waktu yang biasanya engkau tidak tertawa. Apa yang membuatmu tersenyum? Semoga Allah membahagiakanmu.”
Beliau ﷺ bersabda:
تَبَسَّمْتُ مِنْ عَدُوِّ اللَّهِ إِبْلِيسَ، حِينَ عَلِمَ أَنَّ اللَّهَ ﷻقَدِ اسْتَجَابَ لِي فِي أُمَّتِي، أَهْوَى يَدْعُو بِالثُّبُورِ وَالْوَيْلِ، وَيَحْثُو التُّرَابَ عَلَى رَأْسِهِ، فَتَبَسَّمْتُ مِمَّا يَصْنَعُ مِنْ جَزَعِهِ
Aku tersenyum melihat musuh Allah, yaitu Iblis. Ketika ia mengetahui bahwa Allah ﷻ telah mengabulkan doaku untuk umatku, ia menjatuhkan dirinya sambil meratap celaka dan kebinasaan, serta menaburkan tanah di atas kepalanya. Maka aku tersenyum melihat kepanikan dan keputusasaannya.
11. Hari Pembebasan Dosa Dan Pembebasan Dari Api Neraka
Di antara keutamaan terbesar hari Arafah adalah turunnya rahmat Allah ke langit dunia pada sore hari Arafah. Pada saat itu Allah membanggakan para jamaah Arafah di hadapan para malaikat-Nya dan mengampuni dosa-dosa mereka. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، يَنْزِلُ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الْأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ، فَيَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عِبَادِي، جَاؤُونِي شُعْثًا غُبْرًا ضَاجِّينَ، جَاؤُوا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ، يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَلَمْ يَرَوْا عَذَابِي، فَلَمْ يُرَ يَوْمٌ أَكْثَرَ عِتْقًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada hari yang lebih utama di sisi Allah daripada hari Arafah. Rahmat Allah ﷻ turun ke langit dunia lalu Dia membanggakan penduduk bumi di hadapan penduduk langit. Allah berfirman:
‘Lihatlah hamba-hamba-Ku! Mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut, berdebu, dan bersuara lantang dalam talbiyah. Mereka datang dari berbagai penjuru yang jauh dengan mengharap rahmat-Ku, padahal mereka belum melihat azab-Ku.’
Maka tidak pernah terlihat suatu hari yang lebih banyak pembebasan dari api neraka daripada hari Arafah. (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Bazzar, Abu Ya‘la, dan Al-Baihaqi)
Sayidah Aisyah radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ ﷻفِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟
Tidak ada hari yang pada hari itu Allah lebih banyak membebaskan seorang hamba dari neraka daripada hari Arafah. Dan sungguh rahmat Allah mendekat, lalu Dia membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang diinginkan oleh mereka ini?’(HR. Muslim)
Dalam redaksi riwayat An-Nasa’i disebutkan:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ ﷻفِيهِ عَبْدًا أَوْ أَمَةً مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada hari yang pada hari itu Allah lebih banyak membebaskan hamba laki-laki maupun perempuan dari neraka daripada hari Arafah.
Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ membanggakan orang-orang yang wuquf di Arafah di hadapan para malaikat, serta memperbanyak pembebasan dari api neraka pada hari itu.
Pada Hari Arafah Allah mengampuni mereka walaupun dosa-dosanya sangat banyak, maka terdapat dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tentang dua orang yang datang bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai agama mereka. Di antara jawaban beliau ﷺ adalah:
وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: هَؤُلَاءِ عِبَادِي جَاؤُوا شُعْثًا غُبْرًا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ، يَرْجُونَ رَحْمَتِي، وَيَخَافُونَ عَذَابِي، وَلَمْ يَرَوْنِي، فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ فَلَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ رَمْلِ عَالِجٍ، أَوْ مِثْلُ أَيَّامِ الدُّنْيَا، أَوْ مِثْلُ قَطْرِ السَّمَاءِ ذُنُوبًا، غَسَلَهَا اللَّهُ عَنْكَ
Adapun wuqufmu di Arafah, maka sesungguhnya rahmat Allah ﷻ turun ke langit dunia lalu Dia membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya. Allah berfirman:
‘Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu dari berbagai penjuru yang jauh. Mereka mengharap rahmat-Ku dan takut kepada azab-Ku, padahal mereka belum melihat-Ku. Maka bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’
Seandainya engkau memiliki dosa sebanyak pasir ‘Alij, sebanyak hari-hari dunia, atau sebanyak tetesan hujan dari langit, niscaya Allah akan menghapus semuanya darimu.” (HR. Abdur Razzaq dan Ibnu Hibban)
Dalam redaksi lain:
وَأَمَّا وُقُوفُكَ بِعَرَفَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ ﷻيَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ: يَا مَلَائِكَتِي، مَا جَاءَ بِعِبَادِي؟ قَالُوا: جَاؤُوا يَلْتَمِسُونَ رِضْوَانَكَ وَالْجَنَّةَ. فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِنِّي أُشْهِدُ نَفْسِي وَخَلْقِي أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ، وَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُهُمْ عَدَدَ أَيَّامِ الدَّهْرِ وَعَدَدَ رَمْلِ عَالِجٍ
“Adapun wuqufmu di Arafah, maka Allah ﷻ berfirman kepada para malaikat:
‘Wahai malaikat-Ku, apa yang membuat hamba-hamba-Ku datang?’
Para malaikat menjawab:
‘Mereka datang mengharap keridhaan-Mu dan surga.’
Maka Allah ﷻberfirman:
‘Aku persaksikan kepada diri-Ku sendiri dan kepada seluruh makhluk-Ku bahwa Aku telah mengampuni mereka, walaupun dosa-dosa mereka sebanyak hari-hari sepanjang masa dan sebanyak pasir ‘Alij.’” (HR. Ath-Thabarani)
Ampunan besar pada hari Arafah itu berlaku umum bagi kaum muslimin hingga Hari Kiamat. Diriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata:
وَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ، وَكَادَتِ الشَّمْسُ أَنْ تَؤُوبَ، فَقَالَ: يَا بِلَالُ، أَنْصِتْ لِي النَّاسَ
Nabi ﷺ sedang wuquf di Arafah ketika matahari hampir terbenam. Beliau bersabda:
‘Wahai Bilal, mintalah orang-orang diam untuk mendengarkanku.’”
Bilal pun berkata:
“Diamlah untuk mendengarkan Rasulullah ﷺ.”
Maka orang-orang pun terdiam.
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
مَعَاشِرَ النَّاسِ، أَتَانِي جِبْرِيلُ آنِفًا، فَأَقْرَأَنِي مِنْ رَبِّي السَّلَامَ، وَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ غَفَرَ لِأَهْلِ عَرَفَاتٍ وَأَهْلِ الْمَشْعَرِ، وَضَمِنَ عَنْهُمُ التَّبِعَاتِ
“Wahai sekalian manusia, baru saja Jibril datang kepadaku menyampaikan salam dari Rabbku dan berkata:
‘Sesungguhnya Allah telah mengampuni orang-orang yang wuquf di Arafah dan orang-orang di Masy’ar, serta menanggung hak-hak yang menjadi tanggungan mereka.’
Maka Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berdiri dan bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah ini khusus untuk kita saja?”
Beliau ﷺ menjawab:
هَذَا لَكُمْ وَلِمَنْ أَتَى بَعْدَكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Ini untuk kalian dan juga untuk orang-orang yang datang setelah kalian hingga Hari Kiamat.
Maka Sahabat Umar radhiyallahu anhu berkata:
“Sungguh banyak dan baik karunia Allah.” (HR. Ibnu Abdil Barr dan Ibnul Mubarak)
Ampunan itu juga menyebar kepada siapa saja yang didoakan dan disyafaati oleh mereka yang hadir dalam wuquf di Arafah. Nabi ﷺ bersabda:
وَأَمَّا وُقُوفُكَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ يَهْبِطُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: هَؤُلَاءِ عِبَادِي جَاءُونِي شُعْثًا سُفْعًا، يَرْجُونَ رَحْمَتِي وَمَغْفِرَتِي، فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوبُكُمْ كَعَدَدِ الرَّمْلِ، وَكَعَدَدِ الْقَطْرِ، وَكَزَبَدِ الْبَحْرِ، لَغَفَرْتُهَا، أَفِيضُوا عِبَادِي مَغْفُورًا لَكُمْ، وَلِمَنْ شَفَعْتُمْ لَهُ
Adapun wuquf kalian pada sore hari Arafah, maka sesungguhnya rahmat Allah turun ke langit dunia lalu Dia membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Allah berfirman:
‘Mereka adalah hamba-hamba-Ku yang datang kepada-Ku dalam keadaan kusut dan berdebu, mengharap rahmat dan ampunan-Ku. Seandainya dosa-dosa kalian sebanyak butiran pasir, sebanyak tetesan hujan, atau sebanyak buih di lautan, niscaya Aku akan mengampuninya.
Pulanglah wahai hamba-hamba-Ku dalam keadaan telah diampuni, begitu pula orang-orang yang kalian beri syafaat untuknya.’ (HR. Ibnu Abdil Barr)
12. Puasa Hari Arafah Bagi Yang Tidak Berwuquf Menebus Dosa Dua Tahun
Berpuasa pada Hari Arafah bagi mereka yang tidak sedang berhajji memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan puasa hari Arafah dan bersabda:
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ ذُنُوبَ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةٍ وَمُسْتَقْبَلَةٍ
‘Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun: yang telah lalu dan yang akan datang. (HR Ahmad)
Demikian pula diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menjadi sebab penghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. (HR Muslim)
Adapun para jamaah haji, maka tidak dianjurkan bagi mereka untuk berpuasa pada Hari Arafah, Telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah bahwa Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ
Rasulullah ﷺ melarang puasa Hari Arafah bagi orang yang sedang berada di Arafah.
Dan telah sahih dalam riwayat Imam Al-Bukhari bahwa Nabi ﷺ berbuka ketika berada di Arafah. Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha mengirimkan kepada beliau susu, lalu beliau meminumnya.
Dari sini mayoritas ulama berpendapat tidak dianjurkan untuk berpuasa pada hari itu bagi yang berhaji. Bahkan sebagian ulama memakruhkannya. Para ulama menjelaskan bahwa sebab tidak dianjurkannya puasa bagi jamaah haji di Arafah adalah karena puasa dapat melemahkan mereka dari memperbanyak doa, dzikir, dan kesungguhan dalam wuquf. Padahal inti wuquf adalah memperbanyak doa dan merendahkan diri kepada Allah. Karena itu, meninggalkan puasa lebih utama bagi mereka. Selain itu, para jamaah haji adalah tamu Allah ﷻ dan Allah ﷻ tentu tidak akan membiarkan tamu-Nya kelaparan.
Disunnahkan pula pada Hari Arafah untuk menjaga anggota badan dari berbagai perbuatan haram. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, mengisahkan:
«كَانَ فُلَانٌ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ، فَجَعَلَ الْفَتَى يُلَاحِظُ النِّسَاءَ وَيَنْظُرُ إِلَيْهِنَّ، وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَهُ بِيَدِهِ مِنْ خَلْفِهِ مِرَارًا، وَجَعَلَ الْفَتَى يُلَاحِظُ إِلَيْهِنَّ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ابْنَ أَخِي، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ مَنْ مَلَكَ فِيهِ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَلِسَانَهُ غُفِرَ لَهُ»
Ada seorang pemuda yang bersama Rasulullah ﷺ pada Hari Arafah dalam tunggangan. Pemuda itu mulai melihat-lihat para wanita dan memandangi mereka. Rasulullah ﷺ berkali-kali memalingkan wajah pemuda itu dengan tangan beliau dari belakang, namun pemuda itu kembali melihat kepada mereka. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: ‘Wahai anak saudaraku, sesungguhnya ini adalah hari yang barang siapa menjaga pendengaran, penglihatan, dan lisannya pada hari ini, maka ia akan diampuni.’(HR. Ahmad)
13. Keutamaan Bagi Yang Wafat Di Arafah Saat Ihram
Di antara keutamaan Hari Arafah juga adalah bahwa orang yang meninggal Di Arafah dalam keadaan ihram akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah, seakan-akan ia masih melaksanakan manasik haji. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:
بَيْنَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ، وَلَا تُحَنِّطُوهُ، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
Ketika ada seorang laki-laki sedang wukuf bersama Nabi ﷺ di Arafah, tiba-tiba ia terjatuh dari tunggangannya lalu lehernya patah hingga meninggal. Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, kafanilah ia dengan dua kainnya, jangan kalian beri wewangian, dan jangan kalian tutupi kepalanya. Karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian sebagian dari keutamaan Hari Arafah, semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu mengagungkan hari yang mulia ini, memanfaatkannya dengan amal saleh, dzikir, doa, dan taubat yang tulus, serta memperoleh limpahan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka pada hari tersebut. Aamiin Ya robbal alamiin. RA(*)