Posted on 20 October 2026
Al-Habib Abubakar bin Ali Al-Masyhur dalam kitab As-Shiddiq Al-Akbar wal Imam Al-Abar, mengumpulkan beberapa kalam hikmah dari Sayidina Ali karramallahu wajhah mengenai berbagai topik, berikut ini sebagian daripadanya:
Imam Ali karramallahu wajhah berkata:
لَا يَصْدُرُ عَنِ القَلْبِ السَّلِيمِ إِلَّا المَعْنَى المُسْتَقِيمَ ، وَإِذَا أَحَبَّ اللهُ سُبْحَانَهُ عَبْداً رَزَقَهُ قَلْباً سَلِيماً وَخُلُقاً قَوِيماً
Tidak akan lahir dari hati yang selamat (bersih) melainkan niat dan tindakan yang lurus. Dan jika Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai seorang hamba, Dia akan mengaruniakannya hati yang bersih dan akhlak yang lurus.
Telah terkumpul sangat banyak perkataan dan hikmah dari Imam Ali radhiyallahu 'anhu, seolah-olah kumpulan hikmah tersebut adalah madrasah As-Siddiqiyyah Al-Kubra itu sendiri. Cukuplah bagi pembaca dan orang yang merenunginya untuk menjadikan hal ini sebagai pedoman hidup bagi dirinya, anak-anaknya, keluarganya, kerabatnya, dan siapa saja yang ia pedulikan di zamannya, dari kalangan orang-orang yang mencintai dan dicintainya.
Berikut adalah berbagai contoh dari madrasah pendidikan bapak dan kenabian ini:
Hati yang Bersih, Dampak dan Tanda-tandanya
Beliau berkata:
لَا يَصْدُرُ عَنِ القَلْبِ السَّلِيمِ إِلا المَعْنَى المُسْتَقِيمَ
"Tidak akan keluar dari hati yang bersih kecuali niat yang lurus."
Beliau berkata:
إِذَا أَحَبَّ اللهُ سُبْحَانَهُ عَبْدًا رَزَقَهُ قَلْباً سَلِيماً وخُلْقاً قَرِيماً
"Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai seorang hamba, Dia akan mengaruniakannya hati yang bersih dan akhlak yang lurus."
Beliau berkata:
أَشْعِر قَلْبَكَ الرَّحْمَةَ لِجَمِيعِ النَّاسِ والإِحْسَانَ إليهم، ولا تَنَلْهُم حَيفَاً ولا تَكُن عَلَيْهِم سَيْفاً
"Tanamkanlah di dalam hatimu rasa kasih sayang dan kebaikan kepada seluruh manusia. Janganlah engkau menzalimi mereka dan jangan pula menjadi pedang (penindas) bagi mereka."
Beliau berkata:
أَحْيِ قَلْبَكَ بِالمَوعِظَةِ ، وأَمِتْهِ بالزَّهَادَةِ، وقَوِّهِ بِاليَقِينِ، وذَلِّلْهُ بِذِكْرِ الموتِ، وقَرِّرْهُ بِالفَنَاءِ ، وَبَصِّرْهُ فَجَائِعَ الدُّنيا
"Hidupkanlah hatimu dengan nasihat, matikanlah (hawa nafsunya) dengan sikap zuhud, kuatkanlah dengan keyakinan, tundukkanlah dengan mengingat kematian, tetapkanlah ia dengan kesadaran akan kefanaan, dan perlihatkanlah kepadanya berbagai kekejaman dunia."
Beliau berkata:
إِنَّ النَّاظِرَ بِالقَلْبِ العَامِلَ بِالبَصَرِ يَكُونُ مُبْتَدَأُ عَمَلِهِ أَنْ يَنْظُرَ عَمَلَهُ عليهِ أمْ له ؟ فَإِنْ كانَ له مَضَى فيه، وإِنْ كانَ عليهِ وَقَفَ عنه
"Sesungguhnya orang yang melihat dengan hati dan bertindak dengan mata, langkah pertama amalannya adalah melihat apakah perbuatan itu menguntungkan atau merugikannya. Jika menguntungkan, ia akan melanjutkannya, dan jika merugikan, ia akan meninggalkannya."
Beliau berkata:
طُوبَى لمن خَلا مِن الغِلَّ صَدْرُهُ وَسَلِمَ مِن الغِشَّ قَلْبُهُ
"Beruntunglah orang yang dadanya bersih dari kedengkian dan hatinya selamat dari kecurangan."
Beliau berkata:
قُلُوبُ العِبَادِ الطَّاهِرَةُ مَوَاضِعُ نَظَرِ اللهِ سُبْحَانَهُ، فَمَنْ طَهَّرَ قَلْبَهُ نَظَرَ إِليه
"Hati hamba-hamba yang suci adalah tempat pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa yang menyucikan hatinya, niscaya Allah akan memandangnya."
Beliau berkata saat memberikan perumpamaan tentang hati:
إنَّ لله في الأَرْضِ آنِيَةً، أَلَا وَهِيَ القُلُوبُ، فَخَيْرُها أَصْفَاهَا ، وأَصْلَبُها وأَرَقُّها. أَصْفَاها في اليَقِينِ ، وأَصْلَبُها في الدِّينِ، وأَرَقُّها على المُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana di bumi, ketahuilah bahwa itu adalah hati. Yang terbaik di antaranya adalah yang paling jernih, paling kokoh, dan paling lembut. Paling jernih dalam keyakinan, paling kokoh dalam beragama, dan paling lembut terhadap orang-orang mukmin."
Beliau berpesan kepada putranya, Al-Hasan:
وَإِنَّما قَلْبُ الحَدَثِ كَالْأَرْضِ الخَالِيَةِ، ما أُلقي فيها مِن شَيْءٍ قَبِلَتْهُ ، فَبَادَرْتُكَ بِالأَدَبِ قَبْلَ أَنْ يَقْسُو قَلْبُكَ وَيَشْتَغِلَ لُبُّكَ
"Sesungguhnya hati seorang anak muda itu ibarat tanah yang kosong, apa saja yang ditaburkan ke dalamnya pasti akan diterimanya. Maka aku bergegas mendidikmu dengan adab sebelum hatimu menjadi keras dan pikiranmu tersibukkan."
Hati yang Tercela
Beliau berkata:
انْتِبَاهُ العُيُونِ لَا يَنْفَعُ مع غَفْلَةِ القُلُوبِ
"Mata yang terjaga tidak akan memberikan manfaat jika hatinya lalai."
Beliau berkata:
خُلُو القَلْبِ مِن التَّقْوَى يَمْلأُهُ مِن فِتَنِ الدُّنيا
“Kosongnya hati dari ketakwaan akan membuatnya penuh dengan fitnah-fitnah dunia."
Beliau berkata:
شَرَّ القُلُوبِ الشَّاكُ فِي إِيمَانِهِ
"Seburuk-buruk hati adalah yang ragu akan keimanannya."
Beliau berkata:
عِظَمُ الجَسَدُ وطُولُهُ لا يَنْفَعُ إِذا كَانَ القَلْبُ خَاوِياً
"Tubuh yang besar dan tinggi tidak akan bermanfaat jika hatinya hampa."
Beliau berkata:
مَن مَاتَ قَلْبُهُ دَخَلَ النَّارَ
"Siapa yang hatinya mati, ia pantas masuk ke dalam neraka."
Pentingnya Niat
Beliau berkata:
إذا طابَقَ الكَلامُ نِيَّةَ المُتَكَلَّمِ قَبِلَهُ السَّامِعِ، وَإِذا خَالَفَ نِيَّتَهُ لم يَحْسُنْ مَوقِعُهُ مِن قَلْبِهِ
"Jika perkataan sejalan dengan niat pembicaranya, pendengar akan menerimanya. Namun, jika bertentangan dengan niatnya, perkataan itu tidak akan mendapat tempat yang baik di hati pendengar."
Beliau berkata:
على قَدْرِ النَّيَّةِ تَكُونُ مِنَ اللهِ العَطِيَّةِ
"Pemberian dari Allah itu sesuai dengan kadar niat seseorang."
Beliau berkata:
صَلاحُ السَّرَائِرِ بُرْهَانُ صِحَّةِ البَصَائِرِ
"Kebersihan batin adalah bukti akan benarnya mata hati."
Niat Buruk dan Dampaknya
Beliau berkata:
إِذا فَسَدَتِ النَّيَّةُ وَقَعَتِ البَلِيَّةُ
"Jika niat telah rusak, maka musibah akan terjadi."
Beliau berkata:
عِنْدَ فَسَادِ النَّيَّةِ تَرْتَفِعُ البَرَكَةُ
"Ketika niat menjadi rusak, keberkahan akan dicabut."
Beliau berkata:
سُوءُ النِّيَّةِ دَاءٌ دَفِينٌ
"Niat yang buruk adalah penyakit yang tersembunyi."
Beliau berkata:
مَنْ لم يُقدِّمْ إِخْلاصَ النَّيَّةِ فِي الطَّاعَاتِ لَم يَظْفَرُ بِالمَثُوبَاتِ
"Barangsiapa yang tidak mengedepankan keikhlasan niat dalam ketaatannya, ia tidak akan meraih pahala."
Nasihat
Beliau berkata:
مَنْ قَبِلَ النَّصِيحَةَ أَمِنَ مِنَ الفَضِيحَةِ
"Barangsiapa menerima nasihat, ia akan aman dari aib (kejatuhan)."
Beliau berkata:
مَن أَقْبَلَ على النَّصِيحَ، أَعْرَضَ عَنِ القَبيح
"Barangsiapa menerima nasihat, ia akan berpaling dari keburukan."
Beliau berkata:
يا أيُّها النَّاسُ اقْبَلُوا النَّصِيحَةَ مِمَّنْ نَصَحَكُم، وَتَلَقَّوها بِالطَّاعَةِ مِمَّنْ حَمَلَهَا إِلَيْكُم ، واعْلَمُوا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ لم يَمْدَحْ مِن القُلُوبِ إِلا أَوْعَاهَا لِلْحِكْمَةِ، وَمِنَ النَّاسِ أَسْرَعَهُم إِلى الحَقِّ إِجَابَةً ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الجِهَادَ الأَكْبَرَ جِهَادُ النَّفْسِ، فَاشْتَغِلُوا بِجِهَادِ أَنْفُسِكُم تَسْعَدُوا، وَارْفُضُوا القَالَ وَالْقِيلَ تَسْلَمُوا، وأَكْثِرُوا ذِكْرَ اللهِ تَغْنَمُوا، وَكُونُوا عِبادَ اللهِ إِخْوَانَا تَسْعَدُوا لديه بِالنَّعِيمِ المُقِيمِ
"Wahai manusia, terimalah nasihat dari orang yang menasihati kalian, dan sambutlah dengan ketaatan dari orang yang membawanya kepada kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak memuji hati kecuali yang paling mampu menampung hikmah, dan tidak memuji manusia kecuali yang paling cepat menerima kebenaran. Ketahuilah bahwa jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Sibukkanlah diri kalian dengan menundukkan nafsu niscaya kalian akan bahagia, tinggalkanlah perdebatan (desas-desus) niscaya kalian akan selamat, perbanyaklah mengingat Allah niscaya kalian akan beruntung, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara niscaya kalian akan bahagia di sisi-Nya dengan kenikmatan yang kekal."
Beliau berkata:
لا خَيْرَ في قَوْمٍ لَيْسُوا بِنَاصِحِينَ، وَلا يُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ
"Tidak ada kebaikan pada suatu kaum yang tidak memberi nasihat dan tidak pula menyukai orang-orang yang memberi nasihat."
Beliau berkata:
انْظُر إلى المُتَنَصِّحِ إِلَيْكَ، فَإِنْ دَخَلَ مِنْ حَيْثُ يُضَارُّ النَّاسُ فلا تقبَلْ نَصِيحَتَه وتَحَرَّزْ مِنهُ، وَإِنْ دخَلَ مِنْ حَيثُ العَدْلُ والصَّلاحُ فَاقْبَلْهَا منه
"Perhatikanlah orang yang memberimu nasihat. Jika ia masuk melalui jalan yang membahayakan orang lain, jangan terima nasihatnya dan waspadalah terhadapnya. Namun, jika ia masuk melalui jalan keadilan dan kebaikan, maka terimalah nasihatnya."
Sifat Orang Mukmin
Beliau berkata dalam mendeskripsikan sifat orang mukmin:
المُؤْمِنُ بِشرُهُ فِي وَجْهِهِ، وَحُزْنُهُ فِي قَلْبِهِ ، أَوْسَعُ شَيْءٍ صَدْراً ، وأَذَلُّ شَيْءٍ نَفْساً ، يَكْرَهُ الرِّفْعَةَ ، وَيَشْنَؤُ السُّمْعَةَ ، طَوِيلٌ غَمُّهُ ، بَعِيدٌ هَمُّهُ ، كَثِيرٌ صَمْتُهُ ، مَشْغُولٌ وقتُهُ ، شَكُورٌ صَبُورٌ ، مَغْمُورٌ بِفِكْرَتِهِ، ضَنِينٌ بِخَلَّتِهِ ، سَهْلُ الخَلِيقَةِ ، لَيِّنُ العَرِيكَةِ ، نَفْسُهُ أَصْلَبُ مِنَ الصَّلْدِ ، وَهُوَ أَذًلُّ من العَبْدِ
"Seorang mukmin itu keceriaannya tampak di wajahnya, sedangkan kesedihannya tersimpan di dalam hatinya. Dadanya paling lapang, dan egonya paling rendah. Ia membenci peninggian diri (kesombongan) dan membenci popularitas. Kesedihannya panjang, cita-citanya jauh, banyak diamnya, waktunya selalu sibuk (dengan hal bermanfaat). Ia sangat bersyukur dan penyabar, tenggelam dalam perenungannya, menahan diri dari kebutuhan pribadinya. Tabiatnya mudah bergaul, pembawaannya lembut, jiwanya lebih keras daripada batu karang, namun (di hadapan Allah) ia lebih merendah dari seorang budak."
Sifat Orang-Orang Munafik
Beliau berkata dalam mendeskripsikan sifat orang munafik:
أُوصِيكُم عِبَادَ اللهِ بِتَقْوَى اللهِ، وَأُحَذِّرُكُم أَهْلَ النِّفَاقِ، فَإِنَّهُمُ الضَّالُّونَ المُضِلُّونَ، وَالزَّالُّونَ المُزِلُّونَ، يَتَلَوَّلُونَ أَلْواناً، يَفْتَنُّونَ افْتِنَانَا، وَيَعْمَدُونَكُم بِكُلِّ عِمَادٍ، وَيَرْصُدُونَكُم بِكُلِّ مِرْصَادٍ، قُلُوبُهُم دَوِيَّةٌ، وصِفَاحُهُم نَقِيَّةٌ، يَمْشُونَ الخَفَاءَ، وَيَدُبُّونَ الضَّرَّاءَ، وَصْفُهُم دَوَاءٌ، وَقَولُهُم شِفَاءٌ، وفِعْلُهُم الدَّاءُ العَيَاءُ، حَسَدَةُ الرَّخَاءِ ، وَمُوَكِّدُو البَلاءِ، وَمُقَنِّطُو الرَّجَاءِ، لهم بِكُلِّ طَرِيقٍ صَرِيعٌ ، وإلى كُلِّ قَلْبِ شَفِيعٌ ، ولِكُلِّ شَجْوٍ دُمُوعٌ، يَتَقَارَضُونَ الثَّنَاءَ، وَيَتَرَاقَبُونَ الجَزَاءَ، إِنْ سَأَلُوا أَلْحَفُوا ، وإِنْ عَذَلُوا كَشَفُوا، وَإِنْ حَكَمُوا أَسْرَفُوا، قد أَعَدُّوا لِكُلِّ حَقٌّ بَاطِلاً، ولِكُلِّ قَائِم مَائِلاً ، ولِكُلِّ حَيٍّ قَاتِلاً، وَلِكُلِّ بَابٍ مِفْتَاحَاً، ولِكُلِّ لَيْلٍ مِصْبَاحَاً، يَتَوَصَّلُونَ إِلى الطَّمَع باليَأْسِ لِيُقِيمُوا بِهِ أَسْوَاقَهُمْ، وَيُنْفِقُوا أَعْلاقهم، يقولُونَ فَيُشَبِّهُونَ، وَيَصِفُونَ فَيُمَوِّهُونَ، قد هَوَّنَوُا الطَّرِيقَ، وَأَضْلَعُوا المَضِيقَ ، فَهُم لمَّةُ الشَّيطانِ، وحمَّةُ النِّيرَانِ، ﴿ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾
"Aku wasiatkan kepada kalian, wahai hamba-hamba Allah, untuk bertakwa kepada Allah. Dan aku peringatkan kalian dari orang-orang munafik. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sesat dan menyesatkan, yang tergelincir dan menggelincirkan. Mereka berubah-ubah dalam banyak warna, membuat berbagai macam fitnah. Mereka menyusup kepada kalian dari setiap tiang penyangga, dan mengintai dari setiap titik pengintaian. Hati mereka penuh penyakit, namun wajah mereka tampak suci. Mereka berjalan dalam bayang-bayang, menyelinap bagaikan penyakit yang diam-diam menggerogoti. Sifat yang mereka tampilkan seolah obat, perkataan mereka seolah penyembuh, namun tindakan mereka adalah penyakit mematikan. Mereka dengki terhadap kemakmuran orang lain, selalu memperburuk musibah, dan memupuskan harapan. Mereka selalu menemukan dalih untuk setiap jalan, menjadi perantara bagi setiap hati, dan memiliki air mata (palsu) untuk setiap kesedihan. Mereka saling meminjam pujian dan saling menunggu balas budi. Jika mereka meminta, mereka memaksa; jika mereka mencela, mereka membuka aib; dan jika mereka memutuskan, mereka melampaui batas. Mereka telah menyiapkan kebatilan untuk menghadapi setiap kebenaran, kepincangan untuk setiap yang tegak, pembunuhan untuk setiap yang hidup, kunci untuk setiap pintu, dan lampu untuk setiap malam (untuk memperdaya). Mereka mencapai keserakahan dengan cara memutus asa (orang lain) agar pasar (kepentingan) mereka tetap berjalan dan barang dagangan mereka laku. Mereka berbicara namun menyamarkan makna, mereka mendeskripsikan sesuatu namun menipu. Mereka meremehkan jalan yang benar dan membengkokkan jalan yang sempit. Mereka adalah kelompok setan dan api neraka. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang merugi."
Dunia
Beliau berkata:
أَوَّلُها عَنَاءُ، وآخِرُها فَنَاء، في حَلالِها حِسَابٌ، وفي حَرَامِها عِقَابٌ، مَن صَحَّ فيها أَمِنَ ، ومَن مَرِضَ فيها نَدِمَ ، وَمَنِ اسْتَغْنَى فِيهَا فُتِنَ، وَمَنِ افْتَقَرَ فيها حَزِنَ، وَمَنْ سَاعَاهَا فَاتَتْهُ، ومَن قَعَدَ عنها أَتَتْهُ، ومَنْ نَظَرَ إِلَيْهَا أَعْمَتْهُ، وَمَنْ أَبْصَرَ بها بَصَّرَتْهُ
"Awal (dunia) adalah kepayahan, dan akhirnya adalah kebinasaan. Pada perkara halalnya ada hisab (perhitungan), dan pada perkara haramnya ada azab. Siapa yang sehat di dalamnya merasa aman, yang sakit di dalamnya akan menyesal, yang kaya di dalamnya akan terkena fitnah, yang miskin di dalamnya akan bersedih. Siapa yang mati-matian mengejarnya, dunia akan luput darinya; siapa yang menjauhinya, dunia justru akan mendatanginya. Siapa yang sekadar memandangnya (dengan takjub), dunia akan membutakannya; tetapi siapa yang melihat dengan mata batin (mempelajarinya), dunia akan memberinya pencerahan."
Beliau berkata:
الدُّنيا والآخِرَةُ ضَرَّتَانِ، فَبِقَدْرِ مَا تُرْضِي إِحْدَاهُمَا تُسْخِطُ الأخرى
"Dunia dan akhirat itu ibarat dua istri (yang saling cemburu). Sejauh mana engkau menyenangkan salah satunya, sejauh itu pula engkau membuat marah yang lainnya."
Beliau berkata:
إذا كانَ يومَ القيامَةِ أَتَتِ الدُّنيَا بِأَحْسَنِ زِينَتِهَا، ثُمَّ قَالَتْ: يَا رَبّ هَبْنِي لِبَعْضِ أَولِيائِكَ، فَيَقُولُ اللهُ عزَّ وجلَّ: اذْهَبِي بِلا شَيْءٍ فَلَأَنْتِ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ أَهَبَكِ لِبَعْضِ أَوْلِيَائِي، فَتُطْوَى كَمَا يُطْوَى الثَّوبُ الخَلِقُ
"Jika hari kiamat tiba, dunia akan datang dengan perhiasannya yang paling indah, lalu ia berkata: 'Ya Tuhanku, berikanlah aku kepada sebagian wali-Mu.' Maka Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Pergilah tanpa nilai sedikit pun, engkau terlalu hina untuk Aku berikan kepada sebagian wali-Ku.' Lalu dunia itu dilipat sebagaimana dilipatnya baju yang usang."
Beliau berkata:
إِنَّمَا الدُّنيا سِتَّةُ أَشْيَاءَ : مَطْعُومٌ، وَمَشْرُوبٌ، وَمَلْبُوسٌ، ومَرْكُوبٌ، وَمَنْكُوحٌ، وَمَشْمُومٌ ، فَأَشْرَفُ المَطْعُومَاتِ : العَسَلُ وَهُوَ مَذْقَةُ ذُبَابٍ، وأَشْرَفُ المَشْرُوبات : الماءُ ويَسْتَوِي فيهِ البَرُّ والفَاجِرُ، وَأَشْرَفُ المَلْبُوسَاتِ: الحَرِيرُ وهو نَسْجُ دُودَةٍ ، وأَشْرَفُ المَرْكُوبَاتِ الفَرَسُ وعَليهِ يُقْتَلُ الرِّجَالُ، وَأَشْرَفُ المَنْكُوحَاتِ المَرْأَةُ وَهِيَ مَبَالٌ فِي مَبَالٍ ، وإِنَّ المَرْأَةَ لَتُزَيِّنُ أَحَسَنَ شَيْءٍ مِنْهَا وَيُرادُ أَقْبَحُ شَيْءٍ مِنْهَا ، وَأَشْرَفُ المَشْمُومَاتِ : المَسْكُ وَهُوَ دَمٌ
"Sesungguhnya dunia itu hanya berputar pada enam hal: yang dimakan, yang diminum, yang dipakai, yang dikendarai, yang dinikahi, dan yang dihirup baunya. Semulia-mulianya makanan adalah madu, dan ia hanyalah liur lalat (lebah). Semulia-mulianya minuman adalah air, di mana orang baik dan orang jahat sama-sama meminumnya. Semulia-mulianya pakaian adalah sutra, dan ia hanyalah tenunan ulat. Semulia-mulianya kendaraan adalah kuda, dan di atas punggungnyalah para pria terbunuh. Semulia-mulianya yang dinikahi adalah wanita, dan ia hanyalah tempat keluarnya air kencing ke tempat keluarnya air kencing, sungguh wanita memperindah hal terbaik darinya sementara yang diinginkan (oleh hawa nafsu) adalah bagian terburuknya. Dan semulia-mulianya wewangian adalah kesturi, dan ia hanyalah darah."
Beliau berkata:
أُوصِيكُم بتقوى الله، والتَّرْكِ لِلدُّنيا التَّارِكَةُ لَكُم وَإِنْ كُنتُم لا تُحِبُّونَ تَرْكَها، المُبْلِيَةِ أَجْسَامَكُم وأَنْتُم تُرِيدُونَ تَجْدِيدَهَا، فَإِنَّمَا مَثَلُكُم وَمَثَلُها كَمَثَلِ قَومٍ فِي سَفَرٍ سَلَكُوا طَرِيقاً وكَأَنَّهُم قد قَطَعُوهُ، فَلا تَجْزَعُوا لِبُؤْسِهَا وَضَرَّائِها فَإِنَّهُ إِلى انقطاع ، ولا تَمْرَحُوا لِمَتَاعِها وَنَعْمَائِهَا فَإِنَّهُ إِلَى زَوَالٍ، عَجِبْتُ لِطَالِبِ الدُّنيا والمَوْتُ يَطْلُبُهُ ، وغَافِلٍ وَلَيْسَ بِمَغْفُولٍ عنهُ
"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan meninggalkan dunia yang pada akhirnya akan meninggalkan kalian, meskipun kalian tidak suka meninggalkannya. Dunia yang menghancurkan tubuh kalian sementara kalian terus berusaha memperbaruinya. Perumpamaan kalian dan dunia ini hanyalah seperti sekelompok musafir yang menempuh suatu jalan, dan tiba-tiba mereka sudah mencapai ujungnya. Maka janganlah kalian berkeluh kesah atas penderitaan dan kesusahan dunia karena ia pasti akan berakhir, dan jangan pula terlalu bergembira dengan kesenangan dan kenikmatannya karena ia pasti akan sirna. Aku heran kepada orang yang memburu dunia sementara kematian memburunya, dan heran pada orang yang lalai sementara dia tidak pernah dilupakan (dari pengawasan Allah)."
Beliau berkata:
الدُّنْيا جِيفَةٌ، فَمَنْ أَرَادَ مِنْهَا شَيْئاً فَلْيَصْبِرْ على مُخالَطَةِ الكلاب
"Dunia itu bagaikan bangkai. Barangsiapa yang menginginkan bagian darinya, maka hendaklah ia bersabar untuk bergaul dengan anjing-anjing."
Beliau berkata:
الدُّنْيا تَفِرُّ وتَضُرُّ وتَمُرُّ ، إِنَّ الله تعالى لم يرَ فيها ثواباً لأوليائه، ولا عِقَاباً لأَعْدَائِهِ، وَإِنَّ أَهْلَ الدُّنيا كَرَكْبٍ بَيْنَمَا هُمْ حُلُولٌ إِذْ صَاحَ بِهِم صَائِحُهُم فَارْتَحَلُوا
"Dunia itu melarikan diri, membahayakan, dan berlalu begitu saja. Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menjadikannya sebagai tempat pahala bagi para kekasih-Nya, dan tidak pula sebagai tempat siksaan bagi musuh-musuh-Nya. Penduduk dunia itu ibarat rombongan musafir; di saat mereka sedang asyik singgah, tiba-tiba terdengar seruan (untuk berangkat), lalu mereka pun pergi meninggalkan tempat itu."
Dan di antara bait-bait syair beliau:
إنَّا الدُّنْيا فَنَاءٌ ***لَيْسَ لِلدُّنْيا ثُبُوتُ
Sesungguhnya dunia itu fana – tidak ada kekekalan bagi dunia
إنما الدنيا كَبَيْتٍ*** نَسَجَتْهُ العَنْكَبُوتُ
Dunia hanyalah seperti rumah – yang ditenun oleh laba-laba
وَلَقَدْ يَكْفِيكَ مِنْها*** أَيُّها الطَّالِبُ قُوتُ
Cukuplah bagimu darinya – wahai sang pencari, sekadar makanan untuk bertahan hidup
وَلَعَمْرِي عَنْ قَرِيبٍ *** كُلَّ مَنْ فِيها يَمُوتُ
Demi umurku, dalam waktu dekat – setiap orang di dalamnya pasti akan mati.
Gambaran Menakjubkan Tentang Dunia
Suatu hari, seorang pria mendatangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku telah membeli sebuah rumah, dan aku ingin engkau menuliskan akad pembeliannya untukku dengan tanganmu sendiri." Amirul Mukminin menatap wajah pria tersebut dan melihat bahwa kecintaan terhadap dunia telah bertahta di hatinya. Beliau ingin memberinya pelajaran untuk mengingatkannya kepada Allah Ta'ala. Beliau mengambil pena dan menulis:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ أَمَّا بَعْدُ فقد اشْتَرَى مَيْتٌ مِن مَيِّتٍ داراً تَقَعُ في بَلَدِ المُذْنِبِينَ وَسِكَّةِ الغَافِلِينَ، لها أَرْبَعَةُ حُدود : الحَدُّ الأَوَّلُ : يَنْتَهِي إِلى المَوتِ والحَدُّ الثَّانِي: يَنْتَهِي إِلى القَبْرِ، وَالحَدُّ الثَّالِثُ : يَنْتَهِي إِلى الحِسَابِ، والحَدُّ الرَّابِعُ : يَنْتَهِي إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Amma ba'du. Telah membeli seorang yang mati dari orang mati lainnya, sebuah rumah yang terletak di negeri orang-orang berdosa dan di jalan orang-orang yang lalai. Rumah ini memiliki empat batas: batas pertama berujung pada kematian, batas kedua berujung pada kuburan, batas ketiga berujung pada hisab (hari perhitungan), dan batas keempat berujung pada surga atau neraka."
Beliau berkata:
مَن رَضِيَ مِن الدُّنيا بما يُجْزِيهِ كَانَ أَيْسَرُ مَا فِيها يَكْفِيهِ، وَمَن لم يَرْضَ مِن الدُّنيا بما يُجْزِيهِ لم يَكُن فيها شيء يَكْفِيهِ
"Barangsiapa yang rida dengan bagian dunia yang mencukupinya, maka hal yang paling sederhana di dalamnya pun akan terasa cukup. Namun, barangsiapa yang tidak rida dengan bagian yang mencukupinya, maka tidak ada satu pun di dunia ini yang akan bisa memuaskannya."
Beliau melihat seorang sahabatnya telah membangun rumah yang sangat besar, lalu beliau berkata kepadanya:
لقد اتَّخَذْتَ داراً وَاسِعَةً فما تَصْنَعُ بهذه الدَّارِ في الدُّنيا، أَمَا أَنْتَ إِلَيْهَا فِي الْآخِرَةِ كُنْتَ أَحْوَجَ؟
"Engkau telah membangun rumah yang sangat luas. Apa yang akan engkau lakukan dengan rumah ini di dunia? Padahal bukankah engkau lebih membutuhkannya di akhirat kelak?"
Sahabatnya menjawab dengan rasa malu dan penyesalan: "Benar, wahai Amirul Mukminin."
Imam Ali pun berkata:
إِنْ شِئْتَ بَلَغْتَ بها الآخِرَةَ: تُقْرِي بها الضّيفَ وتَصِلُ فيها الرَّحِمَ ، وتَطْلُعُ منها الحُقُوقُ مَطَالِعَها
"Jika engkau mau, engkau bisa mencapai akhirat dengan rumah ini: jamulah tamu di dalamnya, sambunglah tali silaturahmi di dalamnya, dan tunaikanlah hak-hak (kewajiban agama) dari rumah tersebut ke tempat yang semestinya."
Kemuliaan Seseorang
Beliau berkata:
مِنْ كَرَمِ المَرْءِ خَمْسُ خِصَالٍ: ۱ - مِلْكُهُ لِلِسَانِهِ. ٢ - وإِقْبَالُهُ على شَأْنِهِ. ٣ - وبكاؤه على مَا مَضَى مِن زَمَانِهِ. ٤ - وحَنِينُهُ إِلَى أَوْطَانِهِ. ٥ - وحِفْظُهُ لِقَدِيمِ إِخْوَانِهِ
"Di antara tanda kemuliaan seseorang terdapat pada lima hal:
Akal
Beliau berkata:
قَبِيحٌ بِذِي العَقْلِ أَنْ يَكُونَ بَهِيمَةً، وَقَد أَمْكَنَهُ أَنْ يَكُونَ إِنْسَاناً، وأَنْ يَكُونَ إِنْسَاناً وقَدْ أَمْكَنَهُ أَنْ يَكُونَ مَلَكاً ، وأَنْ يَرْضَى لِنَفْسِهِ بِقُنْيَةٍ مُعَارَةٍ وَحَيَاةٍ مُسْتَرَدَّةٍ وَلَهُ أَنْ يَتَّخِذَ قُنْيَةً مُخلَّدَةً وحياةً مُؤَبَّدَةً
"Sangatlah buruk bagi orang yang berakal jika ia bersikap seperti binatang, padahal ia bisa menjadi manusia seutuhnya. Dan betapa buruknya jika ia hanya menjadi manusia biasa, padahal ia bisa mencapai kemuliaan malaikat. Sangat tercela jika ia rela terhadap dirinya dengan harta pinjaman dan kehidupan yang akan diambil kembali (dunia), padahal ia berkesempatan meraih harta abadi dan kehidupan yang kekal."
Beliau berkata:
العَقْلُ خَلِيلُ المُؤْمِنِ ، والحِلْمُ وَزِيرُهُ، وَالرِّفْقُ وَالِدُهُ، وَاللِّينُ أَخُوهُ
"Akal adalah kawan karib seorang mukmin, kesabaran adalah menterinya, kelembutan adalah ayahnya, dan keluwesan adalah saudaranya."
Beliau berkata:
لا غِنَى مِثْلَ العَقْلِ، وَلا فَقْرَ أَشَدَّ مِن الجَهْلِ
"Tidak ada kekayaan yang sebanding dengan akal, dan tidak ada kemiskinan yang lebih parah dari kebodohan."
Beliau berkata:
إِذا تَمَّ العَقْلُ نَقَصَ الكَلامُ
"Jika akal telah sempurna, maka berkuranglah bicaranya."
Dan di antara bait-bait syair beliau:
فَلَو كَانَتِ الدُّنْيا تُنَالُ بِفِطْنَةٍ ***وفَضْلٍ وعَقْلٍ نِلْتُ أَعْلَى الْمَرَاتِبِ
Andai dunia ini bisa diraih dengan kecerdasan, keutamaan, dan akal sehat, niscaya aku telah meraih tingkatan tertinggi.
ولَكَنَّما الأَرْزَاقُ حَقٌّ وقِسْمَةٌ*** بِفَضْلِ مَلِيكٍ لا بِحِيْلَةِ طَالِبِ
Namun rezeki itu adalah kepastian dan pembagian, berkat karunia Sang Raja (Allah), bukan karena siasat para pencarinya.
Pentingnya Berpikir dan Anjuran Melakukannya
Beliau berkata:
الفِكْرُ عِبَادَةٌ
"Berpikir adalah ibadah."
Beliau berkata:
الفِكْرُ في الخَيْرِ يَدْعُو إِلى العَمَلِ به
"Memikirkan kebaikan akan mendorong seseorang untuk mengamalkannya."
Beliau berkata:
ما ذلَّ مَنْ أَحْسَنَ الفِكْرِ
"Tidak akan hina orang yang membaguskan pikirannya."
Beliau berkata:
التَّفَكَّرُ في مَلَكُوت السَّمَواتِ وَالْأَرْضِ عِبَادَةُ المُخْلِصِينَ
"Tafakur (merenungkan) kerajaan langit dan bumi adalah ibadahnya orang-orang yang ikhlas."
Beliau berkata:
تَفَكَّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ ، وشَاوِرْ قَبْلَ أَنْ تُقدِمَ، وَتَدَبَّرْ قَبْلَ أَنْ تَهْجُمَ
"Berpikirlah sebelum memantapkan tekad, bermusyawarahlah sebelum melangkah, dan renungkanlah sebelum bertindak."
Beliau berkata:
طُوبَى لِمَن شَغَلَ قَلْبَهُ بِالفِكْرِ وَلِسَانَهُ بِالذِّكْرِ
"Beruntunglah orang yang menyibukkan hatinya dengan pemikiran (tafakur) dan lisannya dengan zikir."
Wasiat Beliau untuk Putranya, Al-Hasan Radhiyallahu 'Anhu
Beliau menulis wasiat kepada Al-Hasan radhiyallahu 'anhu dari daerah Hadhirain saat kembali dari Shiffin:
مِنَ الوالد الفانِ المُقرِّ للزَّمانِ ، المُدْبِرِ العُمْرِ ، المُسْتَسْلِم لِلدَّهْرِ ، الذَامّ الدُّنيا، السَّاكِنِ مَسَاكِنَ المَوتَى الظَّاعِنِ عَنْها غَداً، إلى الوَلَدِ المُؤمِّلِ ما لا يُدْرِكُ، السَّالِكِ سَبِيلَ مَنْ قَدْ هَلكَ، غَرَضِ الأَسْقَامِ، وَرَهِينَةِ الأَيَّامِ، وَرَمِيَّةِ المَصَائِبِ، وَعَبْدِ الدُّنيا، وتاجرِ الغُرورِ، وغَريمِ المَنايا، وأَسِيرِ المَوتِ، وَحَلِيفِ الهُمُومِ، وَقَرِينِ الأحزانِ، ونَصَبِ الآفاتِ، وصَرِيعِ الشَّهوات، وخليفة الأموات
"Dari seorang ayah yang fana, yang tunduk pada zaman, yang usianya telah surut, yang menyerah pada waktu, yang mencela dunia, yang akan menghuni tempat orang-orang mati dan akan pergi darinya esok hari... Kepada seorang anak yang mengharapkan apa yang tidak bisa diraihnya, yang menempuh jalan mereka yang telah binasa, yang menjadi sasaran penyakit, tawanan hari-hari, target berbagai musibah, hamba dunia, pedagang kesombongan, tawanan kematian, sekutu kesedihan, kawan duka cita, sasaran bencana, korban syahwat, dan penerus orang-orang yang telah mati."
Beliau berwasiat kepada Al-Hasan:
يا بُنَيَّ ، إِنَّ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَكُونَ بَيْنَكَ وبينَ اللهِ ذُو نِعْمَةٍ فَافْعَلْ ، ولا تكُن عَبْدَ غَيْرِكَ وقد جَعَلَكَ اللهُ حُرَّاً، فَإِنَّ اليَسِيرَ مِنَ اللهِ تَعَالَى أَكْرَمُ وَأَعْظَمُ مِن الكَثِيرِ مِن غيرِهِ وَإِنْ كَانَ كُلُ منه كثيراً
"Wahai anakku, jika engkau sanggup agar tidak ada seorang pun yang menjadi perantara (pemberi nikmat) antara dirimu dan Allah, maka lakukanlah. Janganlah engkau menjadi budak orang lain padahal Allah telah menciptakanmu merdeka. Sesungguhnya pemberian yang sedikit dari Allah Ta'ala itu jauh lebih mulia dan lebih agung daripada pemberian yang banyak dari selain-Nya, meskipun pada hakikatnya semua pemberian (dari-Nya) itu adalah banyak."
Beliau berkata kepada Al-Hasan:
يا بُنَيَّ ، اِحْفَظْ عَنِّي أَربعاً وأربعاً لا يَضُرُّكَ مَا عَمِلْتَ مَعَهُنَّ : أَغْنَى الغِنَى العَقْلُ ، وأَكْبَرُ الفَقْرِ الحُمْقُ، وَأَوْحَشُ الوَحْشَةِ العُجْبُ، وَأَكْرَمُ الحَسَبِ حُسْنُ الخُلُقِ
"Wahai anakku, hafalkanlah dariku empat hal dan empat hal lagi, di mana perbuatan apa pun tidak akan membahayakanmu jika disertai dengannya: Kekayaan yang paling kaya adalah akal, kemiskinan yang paling besar adalah kebodohan, kesepian yang paling buruk adalah ujub (bangga diri), dan kemuliaan yang paling mulia adalah akhlak yang baik."
Beliau melanjutkan:
يابني ، إِيَّاكَ ومُصَادَقَةِ الأَحْمَق : فَإِنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَنْفَعَكَ فَيَضُرَّكَ، وَإِيَّاكَ ومُصَادَقَةَ البَخِيلِ، فَإِنَّهُ يَبْعُدُ عَنْكَ أَحْوَجَ ما تَكُونُ إليه ، وإِيَّاكَ ومُصَادَقَةَ الفَاجِرِ : فَإِنَّهُ يَبِيعُكَ بالتَّافِه، وإِيَّاكَ ومُصَادَقَة الكَذَّابِ ، فَإِنَّهُ كالسَّرابِ يُقرِّبُ عَلَيكَ البعيد ويُبعَِدُ عليكَ القَرِيبَ
"Wahai anakku, jauhilah berteman dengan orang bodoh, karena ia berniat menolongmu tetapi justru akan mencelakakanmu. Jauhilah berteman dengan orang bakhil (pelit), karena ia akan menjauhimu di saat engkau sangat membutuhkannya. Jauhilah berteman dengan orang fasik (pendosa), karena ia akan menjualmu dengan harga yang sangat murah. Dan jauhilah berteman dengan pembohong, karena ia seperti fatamorgana; ia mendekatkan hal yang jauh bagimu dan menjauhkan yang dekat darimu."
Beliau berkata kepada Al-Hasan:
أَلا أُعَلِّمُكَ أَرْبَعَ خِصَالٍ تَسْتَغْنِي بها عن الطب ؟ فقالَ : بَلَى يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ ، فقال كرم الله وجهه : (۱) لا تَجْلِسْ على الطَّعَامِ إِلا َوأَنْتَ جَائِعٌ ، (۲) ولا تَقُمْ عن الطَّعَامِ إِلَّا وَأَنْتَ تَشْتَهِيهِ، (۳) وَجَوِّدِ المَضْغَ، (٤) وإِذا نِمْتَ فَاعْرِضْ نَفْسَكَ على الخَلاءِ، فَإِذَا اسْتَعْمَلْتَ هَذَا اسْتَغْنَيْتَ عن الطب أبداً
"Maukah aku ajarkan kepadamu empat hal yang akan membuatmu tidak lagi membutuhkan ilmu kedokteran?" Al-Hasan menjawab: "Tentu, wahai Amirul Mukminin." Imam Ali berkata: "(1) Janganlah engkau duduk menyantap makanan kecuali engkau sedang lapar. (2) Janganlah engkau beranjak dari makanan kecuali engkau masih berselera. (3) Kunyahlah makanan dengan sempurna. (4) Jika engkau hendak tidur, buang airlah terlebih dahulu. Jika engkau mengamalkan hal-hal ini, engkau tidak akan membutuhkan dokter selamanya."
Pentingnya Menulis dan Mengarang serta Keutamaannya
Beliau berkata kepada Al-Mufadhdhal bin 'Amr:
اكتُبْ، وبُثَّ عِلْمَكَ فِي إِخْوَانِكَ، فَإِنْ مُتَّ فَأَوْرِثْ كُتُبَكَ بَنِيكَ ، فَإِنَّهُ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانُ هَرْجٍ لَا يَأْنَسُونَ فِيهِ إِلَّا بِكُتُبِهِم
"Tulislah, dan sebarkan ilmumu di kalangan saudara-saudaramu. Jika engkau mati, wariskanlah buku-bukumu kepada anak-anakmu. Karena sungguh akan datang kepada umat manusia suatu masa kekacauan, di mana mereka tidak akan menemukan ketenangan kecuali bersama buku-buku mereka."
Benteng Perlindungan Diri
Beliau berkata:
حَصَّنْ عِلمَكَ من العُجْبِ، وَوَقَارَكَ من الكِبْرِ، وَعَطَاءَكَ من السَّرَفِ، وَصَرَامَتَكَ من العَجَلَةِ، وعُقُوبَتَكَ من الإِفْرَاطِ، وَعَفْوَكَ مِن تَعْطِيلِ الحُدُودِ، وصَمْتَكَ من العِيَّ ، واسْتِمَاعَكَ من سُوءِ الفَهْمِ، وَاسْتِئنَاسَكَ من البَذَاءِ، وخَلَواتِكَ من الإِضَاعَةِ، وغَرَامَاتِكَ من اللَّجَاجَةِ، وَرَوْعَاتِكَ من الاسْتِسْلَامِ، وحَذَرَاتِكَ مِن الجُبْنِ
"Bentengilah ilmumu dari sifat ujub (bangga diri), kewibawaanmu dari kesombongan, pemberianmu dari pemborosan, ketegasanmu dari ketergesa-gesaan, hukumanmu dari sikap berlebihan, pemberian maafmu dari mengabaikan batasan hukum Allah, diammu dari ketidakmampuan berbicara, pendengaranmu dari kesalahpahaman, keakrabanmu dari ucapan kotor, kesendirianmu dari kesia-siaan, tebusanmu dari keras kepala, rasa takutmu dari keputusasaan, dan kewaspadaanmu dari kepengecutan."
Qiyamullail (Shalat Malam)
Beliau berkata:
مَن كثُرَتْ صَلَاتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ
"Barangsiapa yang banyak shalat malamnya, niscaya akan cerah wajahnya di siang hari."
Beliau berkata:
صَلاةُ اللَّيلِ بَهَاءُ النَّهَارِ
"Shalat malam adalah cahaya kehidupan di siang hari."
Beliau berkata:
احْذَرْ دَمْعَةَ المُؤْمِنِ فِي السَّحَرِ، فَإِنَّهَا تَقْصِفُ مَن دَمَّعها ، وتُطْفِيءُ بُحُورَ النِّيرَانِ عَمَّنْ دَعَا بها
"Waspadalah terhadap air mata seorang mukmin di waktu sahur, karena ia akan menghancurkan (musuh) yang membuatnya menangis, dan ia akan memadamkan lautan api bagi orang yang berdoa dengannya."
Al-Asytar An-Nakha'i pernah masuk menemui Amirul Mukminin Ali yang sedang berdiri menunaikan shalat malam. Ia bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, engkau berpuasa di siang hari, terjaga di malam hari, dan terus kelelahan di antara keduanya?" Setelah selesai shalat, Imam Ali menjawab:
سَفَرُ الآخِرَةِ طَوِيلٌ فَيُحْتَاجُ إِلَى قَطْعِهِ بِسَيرِ اللَّيلِ
"Perjalanan menuju akhirat itu sangat panjang, maka ia perlu ditempuh dengan perjalanan malam."
Beliau sering membaca doa ini setelah selesai shalat malam:
أَشْهَدُ أَنَّ السَّمَوَاتِ والأرض وما بَيْنَهما آياتٌ تَدُلُّ عليكَ ، وشَوَاهِدُ تَشْهَدُ بِمَا إِلَيْهِ دَعَوْتَ ، كُلُّ مَا يُؤَدِّي عَنْكَ الحُجَّةَ وَيَشْهَدُ لكَ بالرُّبُوبيَّة مَوسُومٌ بآثارِ نِعْمَتِكَ ومعالم تدبيركَ، عَلَوْتَ بها عَن خَلْقِكَ فَأَوْصَلْتَ إلى القُلُوبِ من مَعْرِفَتِكَ ما أَنسَها من وحشة الفكر، وكَفَاهَا رجم الاحتياج فهي - معَ مَعرِفَتِها بِكَ وَوَلَهِها إِلَيْكَ - شاهِدَةٌ بِأَنَّكَ لَا تَأْخُذُكَ الأوهام ، ولا تُدرِكُكَ العُقُولُ ولا الأبصَارُ، أعوذُ بِكَ أَنْ أُشِيرَ بِقَلْبٍ أَو لِسَانٍ أَو يَدٍ إلى غَيْرِكَ، لا إلهَ إلا أنتَ واحداً أحَداً فَرْدَاً صَمَداً، ونحنُ لَكَ مُسْلِمُون
"Aku bersaksi bahwa langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya adalah tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan kepada-Mu, dan saksi-saksi yang membenarkan segala yang Engkau serukan. Semua yang menyampaikan hujah dari-Mu dan bersaksi atas ke-Tuhanan-Mu, telah ditandai oleh jejak-jejak nikmat dan pengaturan-Mu. Engkau Maha Tinggi dari makhluk-Mu, sehingga Engkau sampaikan pengenalan tentang-Mu ke dalam hati yang menghilangkan kesunyian pikirannya, dan melindunginya dari kerasnya rasa butuh (kepada selain-Mu). Hati itu—dengan pengenalannya kepada-Mu dan kerinduannya pada-Mu—bersaksi bahwa khayalan tidak akan bisa menjangkau-Mu, serta akal dan pandangan mata tidak akan bisa melihat-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari mengisyaratkan dengan hati, lisan, atau tangan kepada selain-Mu. Tidak ada Tuhan selain Engkau yang Maha Esa, Maha Tunggal, dan Tempat Bergantung Segala Sesuatu. Dan kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada-Mu."
Pilar Kesehatan
Beliau berkata:
مَنْ أَكَلَ الطَّعَامَ على النَّقَا ، وأَجادَ الطَّعَامَ تَمضُّغا، وَتَرَكَ الطَّعَامَ وَهُوَ يَشْتَهِيهِ ، ولم يَحْبِسِ الغَائِطَ إذا أتى ، لم يَمْرَضُ إِلَّا مَرَضَ المَوتِ
"Barangsiapa yang makan dalam keadaan perut benar-benar bersih (lapar), mengunyah makanan dengan sangat baik, menghentikan makan saat ia masih berselera, dan tidak menahan buang air jika saatnya tiba, niscaya ia tidak akan sakit kecuali penyakit kematian."
Beliau berkata:
من أَرادَ أن لا يَضُرَّهُ الطَّعَامُ فَلا يَأْكُلْ حَتَّى يَجُوعَ وَتَنْتَقِي مَعِدَتُهُ، فَإِذا أَكَلَ فَلْيُسَمِّ اللهَ وَلْيُجِدِ المَضْغَ، ولْيَكُفَّ عَنِ الطَّعَامِ وَهُوَ يَشْتَهِيهِ وَيَحْتَاجُ إليه
"Barangsiapa yang ingin agar makanannya tidak membahayakan dirinya, janganlah ia makan sampai ia merasa lapar dan lambungnya bersih. Jika ia makan, hendaklah ia menyebut nama Allah, mengunyahnya dengan baik, dan menahan diri dari makanan (berhenti) saat ia masih berselera dan membutuhkannya."
Dalam wasiatnya kepada Kumail, beliau berkata:
لا تُوقِرَنَّ مَعِدَتَكَ طَعَاماً، ودَعْ فيها للماء موضعاً، وللرِّيحِ مَجَالاً ، يا كُميل : لا تَرْفَعَنَّ يَدَكَ من الطَّعَامِ إِلَّا وَأَنْتَ تَشْتَهِيهِ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ تَسْتَمْرِئُهُ، يَا كُمِيلُ : صِحَّةُ الجَسَدِ مِن قِلَّةِ الطَّعَامِ وَقِلَّةِ المَاءِ
"Janganlah engkau membebani lambungmu dengan makanan. Sisakan tempat untuk air dan ruang untuk udara. Wahai Kumail, jangan angkat tanganmu dari makanan kecuali engkau masih berselera; jika engkau melakukan itu, makanan itu akan terasa lezat bagimu. Wahai Kumail, kesehatan fisik itu berasal dari sedikitnya makanan dan sedikitnya air."
Kekenyangan dan Dampaknya
Beliau berkata:
البِطْنَةُ تَمْنَعُ الفِطْنَةَ
"Perut yang terlalu kenyang akan menghalangi kecerdasan."
Beliau berkata:
التُّخْمَةُ تُفسِدُ الحِكْمَةَ
"Kekenyangan akan merusak kebijaksanaan."
Beliau berkata:
إِذا مُلِئَ البَطْنُ مِن المُبَاحِ عَمِيَ القَلْبُ عَنِ الصَّلاحِ
"Jika perut dipenuhi oleh sesuatu yang mubah (halal sekalipun), hati akan menjadi buta terhadap kebaikan."
Beliau berkata:
الشَّبَعُ يُفْسِدُ الوَرَعَ
"Kekenyangan itu merusak sifat wara' (kehati-hatian dalam beragama)."
Beliau berkata:
إِيَّاكُم والبِطَنَةَ ، فإِنَّها مَقْسَاةٌ للقَلْبِ، مَكْسَلَةٌ عنِ الصَّلاةِ، ومَفْسَدَةٌ للجَسَدِ
"Jauhilah kekenyangan, karena hal itu mengeraskan hati, membuat malas mendirikan shalat, dan merusak kesehatan tubuh."
Beliau berkata:
أَمْقَتُ العِبَادِ إلى اللهِ سُبْحَانَهُ مَنْ كَانَ هِمَّتُهُ بِطْنَهُ وَفَرْجَهُ
"Hamba yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah orang yang seluruh ambisinya hanya terpusat pada perut dan kemaluannya." RA(*)
*Sumber: Al-Shiddiq Al-Akbar Wal Imam Al-Abarr, karya Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur