Menata Hati Sebelum Berdakwah

Posted on 31 May 2026



Al-Habib Ahmad bin Umar Bin Sumaith dalam majmu kalamnya mengatakan tentang pentingnya berdakwah, dan apa saja yang harus dipersiapkan seorang dai sebelum berdakwah. Beliau rahimahullah berkata:

Kalian harus meyakini bahwa berbagai musibah yang kalian saksikan, seperti berkuasanya orang-orang zalim dan memburuknya keadaan umat, pada hakikatnya merupakan akibat dari kelalaian kita dalam membantu perjuangan dakwah. Karena itu, janganlah kita sibuk menyalahkan orang lain, tetapi hendaknya kita terlebih dahulu mengoreksi diri sendiri. Dalam sebuah doa yang masyhur disebutkan:

وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيَّ بِذَنْبِي مَنْ لَا يَرْحَمُنِي

Dan janganlah Engkau kuasakan atasku, karena dosaku, orang yang tidak menyayangiku

Memang lebih baik untuk menyalahkan diri sendiri. Sebab orang yang tidak pernah menyalahkan dirinya, berarti ia telah terjangkit sifat ujub (yaitu merasa kagum dan puas terhadap dirinya sendiri).

Pendakwah Harus Siap Ditolak

Seorang dai yang mengajak manusia kepada Allah hendaknya mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kemungkinan bahwa dakwah dan nasihatnya tidak diterima dengan baik. Ia harus membiasakan diri menghadapi berbagai penolakan, bahkan membayangkan bahwa orang-orang akan berkata kepadanya:

"Kami akan mempermalukanmu! Kami akan mempermalukanmu! Kami akan mempermalukanmu!"

Dengan sikap seperti itu, apabila kenyataannya mereka hanya mencela atau menyakitinya dengan sesuatu yang lebih ringan, ia akan merasa lapang dan bersyukur.

Sebaliknya, jika sejak awal ia berharap masyarakat akan menyambutnya dengan hangat, memujinya, dan berkata, "Selamat datang!", lalu ternyata yang ia hadapi justru penolakan dan celaan, maka hal itu akan terasa sangat berat baginya serta membuat dadanya sempit.

Keadaan batin seorang pendakwah seolah-olah berkata kepada mereka:

لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih dari kamu. (QS Al-Insan: 9)

Ia hanya mengharapkan balasan dari Allah . Sedangkan jika ia mengharapkan balasan dari mereka, maka ia tidak memiliki alasan (yang dapat dibenarkan).

Memperbaiki Niat Dan Bersikap Lembut

Seorang pendakwah harus memperbaiki niatnya antara dirinya dengan Allah dalam berdakwah. Mudah-mudahan Allah memperbaiki niat dan tujuan-tujuannya. Wahai Dzat Yang Maha Mulia, janganlah Engkau kecewakan orang yang menuju kepada-Mu.

Sayyiduna Al-'Adani berkata:

إذا صفتِ العبودية***وصَحَّ القصدُ والنيَّه

وفَنِيَتْ كلُّ بَشَرِيَّةٍ***فحينئذٍ فَهَنُّوني

Apabila penghambaan kepada Allah telah murni, dan tujuan serta niat telah benar,

dan segala sifat kemanusiaan (yang tercela dan ego diri) telah sirna, maka saat itulah berilah aku ucapan selamat.

Seorang dai juga hendaknya selalu menghadirkan dalam benaknya syair berikut:

رُبَّ رامٍ لي بأحجارِ الأذى *** لم أجد بُدًّا من العطفِ عليه

Betapa banyak orang yang melempariku dengan batu-batu gangguan dan permusuhan,
namun aku tidak menemukan jalan lain selain tetap berbelas kasih kepadanya.

Apabila niatnya benar, Allah akan memberinya pahala. Seperti kisah orang yang melihat gundukan pasir dari kalangan Bani Israil (lantas ia berniat seandainya gundukan pasir itu adalah gandum, maka ia akan mensedekahkannya kepada kaum Bani Istrail yang sedang tertimpa kelaparan), ketika Allah mengetahui ketulusan niatnya, Allah menerima amalnya. Padahal yang dilakukan orang itu berkaitan dengan kebutuhan jasmani, sedangkan dakwah ini berkaitan dengan kebutuhan ruhani.

Walaupun dalam waktu yang sangat panjang hanya sedikit orang yang menerima dakwahnya, hal itu tidaklah mengurangi nilai dakwah. Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihis salam:

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

Dan hanya sedikit orang yang beriman bersama dengan dia (Nuh). (QS Hud: 40)

Jumlah mereka yang beriman kepada Nabi Nuh alaihissalam hanya sekitar delapan puluh orang. Namun meskipun sedikit dari segi jumlah, mereka banyak dan besar nilainya dari segi makna dan kedudukannya di sisi Allah . Padahal Nabi Nuh tinggal dan berdakwah di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun, yaitu sembilan ratus lima puluh tahun. RA(*)